
Sudah akhir minggu.
Leon dan Rosaline sedang diperjalanan setelah dari rumah sakit memeriksakan kandungannya.
"Aku lapar!" Rosaline merajuk.
"Lapar? Kau mau makan siang apa? Bayi kita ingin makan apa? Aku akan membelikannya!"
"Apapun?" tanya Rosaline dengan mata berbinar.
"Hmm...apapun!"
"Kalau bagitu, Ayo kita ajak Dante dan William." seru Rosaline antusias.
.
.
.
"Aku tidak bisa. Kami sedang di taman hiburan bersama kak Nora dan kak Bobby." jawab Dante di telepon.
"Baiklah kalau begitu, jaga Willian baik-baik!"
"Iya!" Dante menutup telepon dan mencari William yang tadi berkeliaran di sekitarnya.
"Di mana William?" tanyanya pada Nora.
"Bersama Bobby membeli makanan." jawab Nora.
Tak lama kemudian Bobby datang membawa banyak cemilan dan minuman dengan kewalahan karena hanya sendirian.
Ya, sendirian!
"Di mana William?" tanya Nora.
"Bukannya tadi bersama kalian???"
.
.
.
"Mereka tidak bisa, katanya sedang ada di taman hiburan. Kita kencan berdua saja." ucap Leon sambil menutup telepon.
"Bertiga!" sahut Rosaline. Lalu keduanya tersenyum.
.
.
.
Rosaline melongo melihat berbagai menu makanan di mejanya.
Rupanya suaminya tidak main-main saat mengatakan akan membelikan apapun.
"Wow! Apa kau sedang kesurupan membeli makanan sebanyak ini? Aku jadi cemburu pada anak kita, dia baru sebesar biji kedelai kau sudah memberikan makanan sebanyak ini." sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kau tahu? Hanya kau ibu yang cemburu pada anaknya sendiri!" ujar Leon sambil mulai memotong steak di hadapannya.
"Aishhh..." dengus Rosaline sambil memicingkan matanya.
"Buka mulutmu!" Leon menyodorkan sepotong daging ke mulut Rosaline yang langsung digigitnya dengan ekspresi pura-pura kesal.
"Bagus! Makanlah yang banyak, kau dan calon bayi kita harus sehat!" ucapnya sambil membelai lembut kepala Rosaline.
.
.
.
Dante, Nora dan Bobby melapor ke petugas keamanan taman hiburan akan hilangnya William.
__ADS_1
Mereka lantas berpencar agar pencarian lebih maksimal.
Setelah 30 menit mencari dengan kebingungan akhirnya Dante menemukan William di dekat wahana ontang-anting.
Dengan cepat ia bergegas menghampirinya.
"William!" teriaknya.
"Paman!" bocah laki-laki itu berlari menghampiri Dante dan memeluknya.
"Ke mana saja kau? Kami mencarimu! Seharusnya kau tidak menghilang seperti itu! Kami sangat mencemaskanmu!" ujar Dante dengan sisa-sisa kepanikannya.
"Maafkan aku paman, aku sedang menolongnya..." sambil melihat ke arah anak perempuan seusianya yang berada tak jauh dari mereka.
Anak itu mendekat dan menatap Dante dengan polos.Matanya terlihat sembab habis menangis.
"Aku sudah berjanji akan menunggu bersamanya." ucap William.
"Menunggu siapa?"
William menarik Dante untuk duduk di sebuah bangku panjang, lalu menceritakan semuanya.
Bocah laki-laki itu ternyata memang mengikuti Bobby tadi, tapi di perjalanan dia melihat seorang anak perempuan yang menangis sendirian.
Karena memang dasarnya William itu anak yang berjiwa 'penolong' (baca:suka ikut campur urusan orang lain) dengan segera dia berbelok arah dan menghampiri anak perempuan tersebut.
Gadis kecil bernama Rachel itu ternyata ketakutan karena bibinya tak kunjung datang. Padahal dia sudah berjanji hanya akan pergi sebentar.
William yang berhati baik itupun akhirnya memutuskan untuk ikut menemaninya menunggu sambil menghibur Rachel agar berhenti menangis.
"Kenapa kau tidak lapor ke petugas keamanan saja?" tanya Dante.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Dia takut kalau-kalau bibinya kembali saat ia sedang pergi." bisik William.
Dante mengangguk-anggukan kepalanya.
"Benar juga." ucapnya.
Akhirnya ketiganya duduk di bangku taman untuk menunggu.
Dante bahkan lupa mengabari Nora dan Bobby yang masih kelabakan mencari William dan kini ditambah mencarinya juga.
.
.
.
"Aku kenyang sekali." ucap Rosaline yang bersandar di kursi mobil sambil mengelus-elus perutnya.
Di sisinya Leon yang sedang fokus menyetir mobil sesekali menoleh ke arahnya dengan tersenyum.
Mereka menuju perjalanan untuk pulang.
"Hooaaaaam...tiba-tiba aku mengantuk." Rosaline menutup mulutnya yang tengah menguap lebar dengan tangannya.
"Tidurlah! Aku akan membangunkan mu ketika sampai." kata Leon.
Dan tak membutuhkan waktu lama calon ibu dari anaknya itu sudah tertidur dengan pulasnya.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai halaman rumah. Leon memandangi wajah Rosaline sebelum membangunkannya.
Wajah istrinya itu memang cantik, bahkan bisa dibilang sangat cantik.
Leon tiba-tiba merasa sangat beruntung memilikinya. Dia ingat bagaimana usahanya dulu untuk bisa meluluhkan hati seorang Rosaline, sungguh membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
Dan usahanya memang tidak sia-sia. Wanita angkuh pemilik motel dengan tatapan dingin itu kini sudah menjadi istrinya.
Melihat Leon yang sebucin saat ini pun sebenarnya satu hal yang aneh dan mungkin sebagian sahabat yang sudah mengenal Leon sejak lama tidak akan percaya dan menganggap itu sesuatu yang di luar nalar.
Mengingat bagaimana dulu dia memperlakukan wanita hanya sebagai aksesoris yang dengan mudah bisa dia ganti sesuka hatinya.
Tapi setelah bertemu dengan Rosaline, dia seolah menemukan rumah yang selama ini dia rindukan, aroma dan sentuhan yang ia dambakan.
__ADS_1
Sangat berbeda dengan wanita - wanita yang melempar tubuh ke arahnya secara sukarela, bahkan sebagian dari mereka memohon dan saling bersaing untuk mendapatkan ketulusan hati dari seorang Leon.
Tapi penyihir itu,
Ya, penyihir bernama Rosaline itu mampu memporak - porandakan keegoisannya. Menyihirnya menjadi manusia yang lembut dan mampu mencintai sedalam ini.
Sungguh hidup adalah sebuah rangkaian peristiwa tak terduga penuh dengan keajaiban dan misteri.
Dibelainya pipi Rosaline dengan lembut, perlahan wanita itu membuka matanya.
"Sudah sampai?" tanyanya sambil merentangkan tangan dan menguap.
"Ya." jawab Leon sambil membantu melepaskan sabuk pengamannya.
Lalu keduanya tersenyum.
Rosaline berjalan beriringan dengan Leon yang menjingjing 2 keresek berisi makan malam.
Mereka masuk ke rumah.
"Aku mau melanjutkan tidur di kamar." ucap Rosaline.
"Baiklah. Aku akan simpan ini dulu di dapur."
Rosaline berjalan menaiki tangga. Kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali membuatnya hampir tergelincir jatuh.
Beruntung tangannya berpegangan dengan cepat ke gagang tangga.
Leon yang melihat itu dengan spontan menjatuhkan kantong keresek yang dibawanya lalu segera menangkapnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk." jawab Rosaline.
"Aishhh...ini karena kau memakai sepatu hak tinggi! Mulai sekarang kau tidak boleh memakai sepatu seperti itu, berbahaya!" omel Leon.
Leon tiba-tiba berjongkok.
"Lepaskan!" sambil membantu rosaline melepas sepatu hak tingginya.
"Tunggu sebentar." lalu dia mengambil sandal yang biasa dipakai di dalam rumah.
"Pakai ini!" dan memakaikannya.
Rosaline tersenyum melihat itu.
Perhatian Leon tak sampai di sana. Ia mengantarkan Rosaline ke kamar lalu menyelimutinya.
"Tidurlah!"
Rosaline tersenyum. Ia sungguh merasa senang diperhatikan seperti ini.
Leon membelai rambutnya dan mengecup keningnya, lalu hendak keluar menuju balkon untuk menelpon Dante.
"Kalian akan pulang jam berapa?" tanyanya.
"Hallo, kak!"
"Makan malam di rumah, ya! Kakak sudah membeli banyak makanan."
"Tidak tahu. Tadi William hilang, sekarang kami sedang menunggu...."
Tuttt....tuttt....tuttt...
"Hallo Dante! Apa katamu, William hilang? Menunggu? Menunggu siapa? Dante! Hallo!!"
Sambungan teleponnya terputus Karena baterai ponsel Dante rupanya habis.
Rosaline yang belum sepenuhnya tertidur sontak terbangun mendengar ucapan Leon.
"Kau bilang apa tadi? William hilang? Di mana? Bagaimana bisa?"
.
.
__ADS_1
.