
"Aku hanya ingin satu anak laki-laki sebenarnya, tapi melihatmu ingin sekali anak perempuan, aku akan bermurah hati."
"Bermurah hati, hah? Seakan-akan aku yang selalu menggodamu!Kau ingat malam pertama kita? Aku yang bermurah hati saat itu, nyonya!" Leon menyindir istrinya.
Rosaline tergelak sinis mendengarnya.
"Kau bermurah hati saat itu? Kau lupa apa yang terjadi? Kau yang memangsaku, tuan Leon!"
"Memangsa? Kau yang memangsaku! Kau yang menggiringku masuk perangkapmu! Kau bilang tidak ingin pulang malam itu."
"Apa yang salah? Aku hanya bilang tidak ingin pulang karena itu sudah terlalu larut. Kau yang salah mengartikannya!"
"Aku sudah tahu maksudmu yang tersembunyi dan aku bermurah hati!"
"Jika semua orang bermurah hati dengan caramu, angka kelahiran akan melonjak drastis!"
"Yakk, kau mengedipkan matamu saat itu!"
"Aku berkedip setiap hari, kenapa kau mempermasalahkannya? Lihat, aku berkedip!" Rosaline mengedip-ngedipkan matanya.
"Bukan berkedip seperti itu, kau berkedip seperti ini!" Leon mengedipkan sebelah matanya menirukan Rosaline kala itu.
"Sejak kapan berkedip artinya menggoda? Aku mungkin kelilipan saat itu. Lagipula kau yang menginginkannya! Kau bilang tidak berniat berhenti malam itu!"
"Kelilipan? Kelilipan apa maksudmu? Tapi kau juga bilang tidak berniat menghentikanku!"
"Sudah ku bilang itu karena aku berbaik hati, tuan Leon! Apa kau lupa, kau sampai merobek gaunku? Apa kau jadi gila karena terlalu lama menahan?"
Leon tak bisa membantah.
"Ah, apa sekarang kau masih menganggap dirimu yang bermurah hati saat itu?"
"Kau membuka kacing kemejaku duluan!"
"Aku hanya membukanya sedikit dan kau melanjutkannya, bahkan melepas celanamu dengan tergesa seolah kita berada di ujung kehancuran dunia!"
"Kau menarikku berbaring di sofa!"
"Aku tidak menarikmu! Kau yang mendorongku!"
"Kapan aku menarikmu? Kau yang melingkarkan tanganmu seperti ini di leherku!" Leon memeragakannya.
Ia melingkarkan tangannya di leher Rosaline.
"Karena kau menarik pinggangku, kau bahkan mencium leherku seperti ini!" Rosaline tak mau kalah memperagakan.
Ia mencium leher Leon hingga pria itu agak mendesah.
"Kau menjatuhkan tubuhku seperti ini, tuan Leon!" Rosaline mendorong tubuh suaminya hingga terbaring.
"Lalu kau...."
Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar. Makan malam mereka telah datang.
"Aish, sialan!" keduanya menoleh dan memaki bersamaan.
"Kita abaikan saja!" seru Leon.
Rosaline mengangguk setuju.
"Lalu aku apa?" tanya Leon.
"Lalu kau..."
TING TONG TING TING....
"Aiiiissshhh!!!"
.
.
.
Setelah menyelesaikan makan malam, di depan nyala perapian yang hangat menentramkan, sepasang suami-istri yang saling mencintai itu duduk dengan dengan mesra.
Tubuh keduanya bersembunyi di balik selimut berwarna putih.
__ADS_1
Leon, ya... pria itu enggan melepaskan lengannya dari raga sang istri yang bersandar nyaman di atas dadanya yang bidang.
Ia menghirup aroma strawberry dari rambut belahan jiwanya itu dalam-dalam dan mencecap pipi, leher, serta pundaknya yang beraroma manis memabukan.
Ah... Leon merindukannya.
Ia merindukan Rosaline bahkan saat wanita itu di sampingnya.
Dirabanya kulit wanita itu yang sehalus porselen cina, dilum*tnya bibirnya yang kenyal dan menawarkan racun paling berbisa - racun cinta.
Ditawannya seluruh raganya di antara 2 lengan.
Leon menggilainya.
Ia menggilai Rosaline.
Disesapnya perut istrinya yang terlihat membuncit.
Hatinya menceplos bahagia membayangkan kelahiran bayi mereka suatu hari nanti.
Leon mencintainya.
Ia sangat mencintai istri dan calon anaknya.
Tapi tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya. Ia masih penasaran akan satu hal, penyebab pertengkaran mereka - pria yang sudah membuatnya dibutakan api cemburu.
"Ceritakan padaku soal kau dan pria itu! Aku lelah merasa cemburu dan bertanya-tanya soal hubungan kalian di masa lalu."
"Benarkah kau sungguh mau mendengar ceritanya?" Rosaline tersenyum menggoda seraya membelai pipi suaminya.
"Ya, ceritakan padaku! Aku ingin mendengarnya. Aku tak mau salah paham lagi." Leon menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung istrinya dengan mesra.
Dipandanginya mata rupawan itu, kedua manik yang selalu membuat jantungnya berdetak keluar irama.
Ia masih tak menyangka dapat memilikinya. Leon tak henti bersyukur istrinya kembali utuh tanpa luka, mengingat surat ancaman itu begitu lugas dan nyata.
"Kau yakin tak akan cemburu, tuan Leon?"
"Hmm... mungkin akan sedikit cemburu, tapi bukankah itu bagian dari masa lalu? Lagipula sekarang dan selamanya kau adalah milikku, nyonya Rosaline! Bukan begitu, anak ayah?" Leon menunduk dan berbisik pada baby Love dalam perut istrinya.
"Hahaha...mengacuhkanmu, hah? Bagaimana bisa aku mengacuhkan ibu dari anakku? Kau lucu sekali! Ibu macam apa yang cemburu pada anaknya sendiri? Kalau bayi kita sungguh laki-laki, jangan-jangan kau yang akan mengacuhkanku, berhenti menggilaiku dan terobsesi pada anakmu! Bukankah darah lebih kental daripada air, nyonya?" Leon mencubit gemas hidung istrinya.
"Tidak akan! Tidak akan begitu! Kau akan tetap jadi favoritku. Rosaline akan selalu menggilai dan terobsesi pada bajing*n tampan bernama Leon!"
"Yakk... kau mengejekku, mengataiku bajing*n, hah?" Leon pura-pura marah.
Ia menggelitik istrinya hingga wanita itu tergelak kepayahan.
"Yakk, Leon! Hentikan! Hentikan! Hahaha...." Rosaline tak tinggal diam dan ingin membalasnya, tapi Leon keburu berdiri dan menghindar.
Ia berlari ke balik sofa.
"Yakk, dasar bajing*n! Sini!" Rosaline berdiri dengan berkacak pinggang.
Leon menggeleng dengan ekpresi mengejek.
"Kau tidak bisa menangkapku?" ledeknya kepedean.
Rosaline menggeleng dan tersenyum santai.
"Kau mau aku berlari dan menangkapmu, hah? Baiklah, aku bisa melakukannya! Aku akan berlari menangkapmu, menggekitikmu dan membuatmu tertawa sampai menangis!" ancam Rosaline.
Ia meregangkan jemari hingga berbunyi seperti ranting yang patah.
Tak ayal, Leon menelan ludah dan buru-buru mengangkat kedua tangannya.
"Jangan! Jangan berlari! Baby Love kita tidak boleh diajak berlari! Aku menyerah! Aku menyerah!" ujarnya.
"Sungguh?"
"Iya, aku menyerah!"
"Kemari kalau begitu!" Rosaline memainkan telunjuknya dengan santai.
Leon kembali menelan ludah. Entah kenapa tatapan santai istrinya terasa begitu menakutkan.
"Kemari kubilang!" kata Rosaline agak tak sabar dan Leon mendekat perlahan.
__ADS_1
Ia ketakutan sendiri tanpa alasan.
Rosaline menarik kerah suaminya dengan secarik senyuman licik.
"Berjanjilah untuk diam, apapun yang kulakukan!" bisiknya penuh arti.
Leon mendelik, kenapa perasaannya tidak enak?
Rosaline membuka kancing kemeja suaminya perlahan, dari yang paling atas hingga bawah.
Ia menyentuh dada yang bidang menggiurkan dan didorongnya pria itu kembali ke kamar, ke atas ranjang yang masih kusut dan basah.
Jantung Leon berdebar tak karuan.
Desah nafasnya pun jadi tak berpola.
Apa yang akan Rosaline lakukan???
Tunggu!
Wanita itu mengeluarkan seutas tali dari laci?
Leon mendelik kaget.
Hei, itu tali apa?
Kenapa bisa ada di sana?
Rosaline mau apa??
Leon bertanya-tanya, namun ia pasrah. Otak liarnya kini mulai bertamasya.
Ia pernah menonton hal seperti ini.
Dulu, suatu malam di apartementnya. Mereka berdua menonton film berjudul Mr. Grey apalah.
Leon tiba-tiba tersenyum penuh arti.
Dibiarkannya Rosaline mengikat kedua tangannya pada celah di kepala ranjang.
Dari ketakutan, kini Leon justru tak sabar.
Rosaline naik ke atasnya perlahan.
Tenang, Leon... tenang!!!
Rileks!
Santai saja!
Wah, Leon merasakan sesuatu mulai tegang di antara pangkal pahanya.
Di luar, hujan mulai mengendurkan rintiknya.
"Pejamkan matamu!" bisik Rosaline.
Leon tersenyum dan menurut.
Eh, tapi tunggu!
Ini tak seperti yang ada dalan pikirannya!
Alih-alih sebuah 'serangan berlabur kenikmatan', jemari Rosaline malah 'menyiksanya' dengan leluasa tanpa ampun.
"Rasakan! Ini yang kau lakukan tadi, hah! Rasakan sendiri!" Rosaline terus menggelitik suaminya yang tertawa kepayahan dan menggelinjang kegelian sembari memohon ampun.
"Yakk...Ros...hahaha...sa....hahaha...line...hentikan! Ampun! Ampun! Hahaha...."
Salah siapa kau jatuh hati pada wanita psikopat, wahai Leon?
Beginilah resiko punya istri psikopat!
.
.
.
__ADS_1