Dandelion Motel

Dandelion Motel
Penyusup


__ADS_3

'Julian' memanggil.....


Leon menatap Rosaline dengan tajam.


"Siapa Julian?" tanyanya.


Rosaline tidak kalah melotot, ia mengangkat bahunya dan menggeleng.


"Jangan bercanda! Ini ponselmu, kalau bukan kau yang menyimpan kontaknya lalu siapa? Hantu?" Leon tersenyum sinis dan menggeleng tak percaya.


"Cepat angkat sebelum terputus! Aku penasaran sebenarnya siapa dia." gerutu Leon.


Tanpa menunggu lama Rosaline langsung menerima panggilan tersebut. Sebelum Rosaline membuka mulutnya seseorang sudah nyerocos di sebrang sana.


"Kak, maaf aku tidak bisa ikut menjemputmu dari rumah sakit. Sore nanti aku akan datang melihat keadaanmu."


"Dante? Apa ini kau?" tanya Rosaline kaget karena ternyata adiknya yang yang menelepon.


"Kau pakai ponsel siapa? Julian? Siapa Julian? Kenapa kontaknya ada di ponselku?" Tambahnya.


"Anu...Julian itu temanku. Apa kakak lupa, kakak sendiri yang menyimpan nomor kontaknya di ponsel kakak."


Rosaline tiba-tiba ingat insiden beberapa bulan lalu.


Flashback.


Seorang karyawan club malam menelepon Rosaline di pagi buta. Pasalnya Dante bersama ke 3 temannya mabuk berat sampai tak sadarkan diri, sementara club malam itu akan segera tutup.


Rosaline yang murka menyiram keempat pemuda itu dengan air dingin sampai mereka benar-benar tersadar.


Tidak puas dengan hanya menyiram mereka dengan air dingin, wanita itu menyeret paksa dengan menjewer telinga mereka semua.


"Mana berikan nomor ponsel kalian! Kalau Dante tidak pulang sampai larut malam, aku akan meneror kalian semua! Apa kalian mengerti?" ancamnya membuat para pemuda itu ketar-ketir.


Flashback berakhir.


"Ah ya, aku lupa. Lalu ke mana ponselmu?"


"Ponselku mati, kak."


"Yakk... Dante, sepagi ini kau sudah bersama teman-temanmu? Apa semalam kau tidak pulang lagi, huh?" gerutu Rosaline.


Tidak ingin mendengar omelan kakaknya, Dante langsung memutus saluran telepon di seberang sana.


Bip


"Dasar bocah beren***k, sia**n! Berani-beraninya dia memutus saluran teleponnya!" mulutnya tidak berhenti mengutuk.


"Berhentilah mengomel! Kau sedang hamil sekarang, kau tidak boleh mengutuk di depan calon anak kita!" ucap Leon tiba-tiba.


"Ah ya aku lupa. Ini salahnya sudah membuatku emosi pagi-pagi begini."


Leon yang sudah melajukan mobilnya hanya tersenyum gemas melihat kelakuan istrinya.


Seketika mereka lupa kalau sebelumnya mereka sedang berdebat.


"Apa kau lelah?" tanya Leon yang melihat wajah istrinya sedikit pucat.


"Perutku masih sedikit tidak nyaman." jawab Rosaline sambil mencari-cari posisi duduk yang nyaman.


"Istirahatlah. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai." ucap Leon sambil mengusap lembut pipi Rosaline dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain di atas setir.


"Baiklah." Rosaline mulai memejamkan matanya.


.


.


.


Seminggu berlalu setelah kepulang Rosaline dari rumah sakit.


Hari ini tepat hari pelaksanaan grand opening perusahaan baru Leon setelah mengalami penundaan selama 1 minggu.


"Sayang, apa kau benar-benar tidak ingin ikut?" tanya Leon pada Rosaline yang tengah memasangkan dasi untuknya.


"Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi kondisiku saat ini benar-benar sedang tidak baik. Kau lihat sendiri sudah berapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi pagi ini. Kehamilan ini sangat melelahkan!" ujar Rosaline.


"Baiklah, tidak masalah. Untuk kali ini kau istirahat saja di rumah." Leon mengusap lembut pipi Rosaline dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Aku berjanji setelah acaranya selesai, aku akan langsung pulang dan menemanimu." ucap Leon dengan senyuman manis yang mangurkir di bibirnya.


"Tidak usah terburu-buru! Habiskan waktu mu dengan teman-teman bisnismu. Sudah 2 minggu ini kau selalu menemaniku. Sepertinya akan ada banyak hal yang harus kalian diskusikan." Rosaline meraih jas yang sudah menggantung rapih dan membantu Leon untuk memakainya.


Leon benar-benar menepati janjinya. Sejak Rosaline di rawat di rumah sakit, ia lebih memprioritaskan Rosaline di atas pekerjaannya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya merawat istrinya, walau terkadang harus bolak-balik ke kantor dan kemudian akan segera kembali saat urusannya sudah selesai. Leon tidak pernah mengeluh bahkan dengan senang hati melakukannya.


"Apa perlu ku telepon Dante atau Nora untuk menemanimu?" ucap Leon belum yakin untuk meninggalkan istrinya sendirian.


"Tidak perlu, sayang. Ibu Anna akan menemaniku di sini, sementara ayah menghadiri acaramu." ujar Rosaline meyakinkan suaminya.


"Benarkah? Kalau begitu bagus, aku jadi lega mendengarnya."


"Sudah selesai, pergilah! Tapi jangan pulang terlalu larut, aku akan sangat merindukanmu." sambil mengusap dada bidang Leon yang sudah terbalut jas.


"Baiklah, nyonya. Aku akan segera pulang saat semuanya sudah selesai. Aku juga akan sangat merindukanmu."


Leon menarik pinggang Rosaline dan saling menempelkan tubuh mereka, mengecup lembut kening dan bibir istrinya lalu bertukar senyuman bahagia sesaat sebelum ia benar-benar pergi.


.


.


.


Siang itu Rosaline tengah berbaring saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuklah." ujarnya.


"Nona, nyonya Anna sudah datang." ucap bibi ART disusul ibu Anna yang langsung masuk ke kamarnya dengan menggandeng seorang anak laki-laki.


"Sayang, maaf ibu baru bisa mengunjungimu." sambil berhambur memeluk Rosaline yang sudah terduduk bersandar di sandaran ranjangnya.


"Tidak apa-apa, bu. Aku sudah lebih baik." menyambut pelukan hangat ibu mertuanya.


"Tolong ambilkan teh hangat untuk ibu, ya." pinta Rosaline pada ART-nya dan ia pun mengiyakan, lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Kau tahu, ibu sangat senang saat Leon memberitahu bahwa kau sedang mengandung. Itu artinya cucu ibu akan bertambah, dan itu membuat ibu lebih bersemangat." ujarnya sambil mengelus rambut Rosaline dan tak henti-hentinya tersenyum.


Rosaline membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis untuk menunjukan kebahagiaannya.


"Anak tampan ini siapa, bu?" tanya rosaline sambil meneliti.


"Ah, ibu hampir lupa. Ini keponakanmu, anaknya Daniel. Namanya William. Kalian belum sempat berkenalan, kan? Ayo beri salam pada bibi Rosaline."


"Halo, sayang. Bibi juga senang berkenalan dengan mu."


"Bermainlah di luar! Nenek mau mengobrol dengan bibimu sebentar." pinta bu Anna yang langsung dituruti William.


"Ah, Leon bilang nafsu makanmu sedang menurun. Jadi ibu membawakan beberapa lauk dan biskuit gandum untuk mu. Itu sangat baik untuk ibu hamil dan akan mengurangi rasa mual mu." tambahnya.


"Terima kasih, bu. Kenapa ibu repot-repot?" ujar Rosaline.


"Tidak sama sekali. Ibu senang bisa melakukan sesuatu untuk menantu ibu." jawabnya dengan tatapan penuh kasih.


"Ibu masih tidak percaya Leon akhirnya menikah dan akan segera memiliki anak. Sebenarnya dulu sedikit khawatir, mungkin kau sudah tahu sebelumnya Leon seperti apa. Tapi sekarang ibu sudah merasa lega. Terima kasih kau sudah hadir di kehidupan Leon. Ibu sangat-sangat bersyukur." ucap ibu Anna dengan mata berkaca-kaca.


"Aku lebih bersyukur karena memiliki Leon, bu." balas Rosaline sambil memegang tangan ibu mertuanya.


1 jam berlalu setelah asyik berbincang di sofa kamar Rosaline.


"Ibu sebenarnya masih ingin mengobrol denganmu, tapi ibu harus pergi. Mendadak ada masalah di yayasan, ibu harus mengunjunginya sebelum pulang." ujar bu Anna.


"Ah, sayang sekali. Padahal aku masih merindukan ibu." Rosaline mengerucutkan bibirnya dengan manja.


"Ibu jadi tidak enak, padahal ibu sudah berjanji akan menemanimu sampai Leon kembali. Apa tidak masalah kalau kau ibu tinggal sendirian?"


"Tidak masalah, aku tidak sendirian, ada bibi ART di sini. Jadi ibu tidak perlu khawatir." ucap Rosaline.


"Kalau begitu ibu pergi sekarang. Jangan lupa habiskan lauk yang ibu bawa, ya." ucapnya sebelum berpisah dengan menantunya.


"Pasti, bu." balas Rosaline.


.


.


.


Tidak berapa lama Leon sudah ada di rumahnya. Selama di acara ia tidak tenang dan terus mengkhawatirkan Rosaline. Jadi begitu selesai acara dia langsung ijin untuk pulang dan menyerahkan segala urusan pada Bobby.

__ADS_1


Leon masuk ke kamarnya menemukan Rosaline sedang tertidur di ranjangnya.


Perlahan dia mendekati istrinya, merangkak naik ke ranjang. Leon ikut berbaring dan memeluk Rosaline dari belakang.


Tentu saja Rosaline kaget dan membuka matanya seketika dan segera membalikan badannya menghadap Leon yang sedang memandanginya dengan tersenyum.


"Kau sudah kembali? Bukankah ini masih siang?" tanya Rosaline dengan wajah terheran-heran.


"Aku sudah merindukanmu." jawab Leon menggoda.


"Ishhh..." Rosaline memicingkan tatapannya lalu tersipu.


"Aku mau bermain." ucap Leon dengan tatapan menggoda.


"Sekarang?" tanya rosaline dengan tatapan tak kalah menggoda.


Leon membalas pertanyaannya dengan anggukan


Tanpa menunggu, Rosaline beringsut mendekat dan mulai menurunkan tangan jahilnya ke pusat 'kelemahan' Leon dan menyingkap apa saja yang menghalanginya.


Wajah Leon tiba-tiba berubah. Dia menegang, merasakan sensasi yang tak terkatakan di bawah pusarnya.


"Kau suka?" Rosaline tersenyum penuh arti.


Tak berhenti di sana, kini bibirnya bermain di telinga Leon lalu turun ke lehernya. Ia menyesap, membasahi dan mengigit pria itu hingga kepayahan.


Untuk kesekian kalinya Leon terengah. Kali ini dia mencengkram wajah Rosaline dan memagut bibir merahnya dalam-dalam.


Sungguh ia tak tahan lagi!


Bagaimana bisa hanya lewat sebuah sentuhan, ia bisa menjajah, menaklukan dan menghilangkan kewarasan Leon.


Leon mendesah, tak kuasa menahan ledakan dalam dirinya.


Ia melepas semuanya, membiarkan segala hal dalam dirinya terbang bebas.


Dibenamkannya wajahnya di atas dada rosaline yang menggumpal indah. Diendus tubuh wanita itu seperti macan kelaparan.


Detak jantung mereka beradu, lantas perlahan menyatu.


Leon siap landas, terbang tinggi dan menghamburkan bagian dari dirinya saat tiba-tiba terdengar suara.


"HAATCHUIIIING...." keras dari bawah ranjangnya.


Seketika ia dan Rosaline terlonjak bangun.


Dan Leon kehilangan momentumnya.


Kehilangan nirwananya.


Kehilangan kegilaannya yang telah jauh mengangkasa.


Dan ia buru-buru merapihkan celananya yang telah porak-poranda.


Hening.


Sepasang suami-istri itu saling lirik dan melempar kode tanpa kata.


..."Hantu?"...


..."Jangan bicara sembarangan! Mungkin tikus."...


..."Tikus bisa bersin?"...


..."Eh...benar juga! Tapi hantu juga tidak bisa bersin!"...


..."Turunlah! Periksa!"...


..."Aku?"...


..."Cepat!"...


..."Baiklah."...


Leon memberanikan diri untuk turun, ia berjongkok dan mulai membungkukan badannya untuk melihat apa gerangan di bawah ranjangnya.


Dan taraaaaa.....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2