
1 bulan berlalu setelah kepulangan mereka dari Jerman. Leon benar-benar disibukan dengan pekerjaan.
Dia mulai mempersiapkan segala hal untuk Grand Opening perusahan propertinya yang akan digelar kurang lebih 1 minggu lagi.
Dia bahkan selalu pulang hingga larut malam saat Rosaline yang selalu menunggu kepulangannya telah tertidup lelap.
Lalu kemudian di pagi harinya mereka hanya menghabiskan waktu sebentar, karena setelah selesai sarapan Leon dengan terburu-buru pergi ke tempat kerja.
Hal itu terus terjadi berulang selama hampir 2 minggu ini dan mulai membuat Rosaline kesal. Terlebih Leon yang selalu santai menanggapi keluhannya membuat emosi Rosaline semakin meluap.
Malam ini bahkan Rosaline menunggu Leon hingga pukul 2 dini hari, dan Leon pulang dalam keadaan mabuk.
"Kau mabuk?"
Leon hanya menatapnya dengan senyuman manis menyeringai.
"Aishhh...baji***n ini!" dengus Rosaline sambil memapah Leon menuju kamar.
Dia membantu Leon untuk berbaring di tempat tidur, melepas sepatu dan kaos kaki hingga dasinya.
Dia menatap suaminya dengan tatapan kesal dan ingin sekali memarahinya, tapi percuma saja omelannya tidak akan benar-benar didengar oleh orang yang sedang mabuk. Akhirnya dia hanya bisa menelan amarahnya sendiri.
Rosaline lebih memilih membiarkannya untuk saat ini dan berencana akan memarahinya esok hari.
.
.
.
Pagi ini Leon bangun dari tidur dan merasakan pusing di kepalanya. Dia tidak mengingat bagaimana dia bisa pulang ke rumah dan baru tersadar saat sudah ada di tempat tidurnya.
Semalam dia memang mengadakan acara minum-minum dengan koleganya.
Usai membersihkan diri, dia bersiap untuk pergi bekerja. Seperti biasa dia akan menyapa dulu Rosaline yang sedang membantu asisten rumah tangganya menata sarapan di meja makan.
"Selamat pagi, sayang." sapa Leon.
Rosaline bungkam dan mengabaikannya. Melihat tingkah kesal Rosaline malah membuat Leon semakin gemas.
Dia menghampiri Rosaline yang sedang membelakanginya lalu memeluknya dari belakang dan memberikan kecupan di pipi kirinya, namun Rosaline menepisnya dengan kasar.
"Berhenti bersikaf seolah-olah tidak terjadi apa-apa!" bentak Rosaline.
Pria itu menatap aneh pada Rosaline, tidak biasanya dia kasar seperti itu.
"Hilangkan kebiasaan pulang malam mu, tuan Leon!" dengan nada penuh penekanan.
Leon menghela nafasnya dan mulai berbicara, "Aku sibuk. Kau tahu sendiri perusahaan akan mulai beroperasi minggu ini. Tolong bersabarlah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan tak akan pulang malam lagi."
Ia meraih tangan Rosaline untuk mencoba meluluhkannya, tapi dengan segera Rosaline menepisnya dan berlalu dari hadapan Leon.
Leon memilih untuk membiarkannya dan tak mau memaksanya. Ia hanya berharap Rosaline bisa memahaminya.
__ADS_1
.
.
.
Siang ini Rosaline menemui Nora di luar untuk menghilangkan emosinya tadi pagi. Ia pun ingin sedikit bersenang-senang bersama sahabatnya.
"Kau sudah membelinya?" tanyanya dengan antusias.
"Ya, berkat mu aku disangka sedang hamil." kata Nora sedikit kesal.
Rosaline hanya nyengir tanpa dosa, bahkan ia merasa terhibur melihat wajah kesal sahabatnya itu.
"Apa kau yakin sedang hamil?" tanya Nora penasaran.
"Entahlah, aku hanya telat datang bulan saja. Lagipula aku belum merasakan tanda-tanda kehamilan." ucapnya sambil menyeruput minuman Ice Americano kesukaannya.
Nora terbahak mendengar ucapan Rosaline, "Wah, sekarang kau bahkan sudah tahu mengenai tanda-tanda kehamilan."
"Kau pikir lucu? Apa aku masih terlihat seperti anak di bawah umur? Aku wanita dewasa dan sudah menikah, sudah sepantasnya aku tahu!" jelasnya panjang lebar dengan suara yang tinggi hingga membuat orang di sekelilingnya menoleh.
Nora mulai panik dan salah tingkah melihat respon orang-orang yang memandang mereka dengan tatapan aneh.
.
.
.
Ia yakin setelah ini Leon tidak akan lagi mementingkan pekerjaan dan akan lebih memperhatikannya.
Jarum jam menunjukan angka 12 saat terdengar suara mobil Leon yang tengah parkir di halaman rumahnya.
Rosaline segera bangkit dari tempat tidurnya hendak menyambut kepulangan Leon. Bersiap dengan senyuman manis dan sebuah hadiah kecil di belakangnya.
"Kau sudah pulang." suara Rosaline terdengar sangat manis saat menyambut suaminya.
"Ya." jawab Leon singkat, kemudian berlalu melewatinya begitu saja tanpa menghiraukan Rosaline yang moodnya sudah lebih baik di banding pagi tadi.
Merasa diabaikan, emosi Rosaline benar-benar meledak dan sudah tidak dapat ditahan lagi. Ia melepar sandal ke arah Leon dan tepat mengenai punggungnya.
"Apa itu sopan santun seorang suami?" teriak Rosaline.
Leon berbalik dan menatap Rosaline dengan tajam. Wajahnya memang terlihat sangat lelah dan sepertinya ada masalah di kantornya.
"Aku tidak ingin bertengkar, Rosaline. Kembalilah ke kamar dan tidurlah lebih awal. Aku akan mandi dulu." ucap Leon berusaha untuk tidak marah.
Rosaline yang sedang sangat sensitif itu menitikan air mata sebelum akhirnya buka suara.
"Apa kau tak peduli denganku? Apa dulu kau benar-benar berniat menikahiku? Aku tidak meminta apa-apa, aku hanya ingin sentuhanmu di setiap malam yang ku rindukan." Rosaline berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya meski isak tangis sudah tak dapat ia tahan lagi.
Dengan hati-hati, Leon menghampirinya mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku rindu kecupan darimu sebelum tidur, aku rindu belaianmu saat kita sama-sama mencoba untuk tertidur, aku rindu saat kau membimbingku masuk ke dalam duniamu, aku merindukan semuanya, semua hal yang selama ini sudah kau abaikan." ucapnya diiringi isak tangis.
"Rosaline...." ucap Leon.
"Sudahlah, saat ini aku tak ingin mendengar apapun! Aku juga tak ingin melihatmu!" masih dengan nada marah.
Rosaline langsung pergi dari hadapan Leon menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras lalu menguncinya.
Leon hanya bisa menghela nafas. Pikirannya memang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, dua masalah datang secara bertubi-tubi.
Ia lebih memilih menenangkan diri di kamar tamu dan merenung.
.
.
.
"Rosaline di mana?" tanya Leon pada bibi pembantu.
"Nona baru saja masuk kamar, tuan. Sepertinya nona sedang sakit. Dia hanya minum segelas air dan kembali ke kamarnya." ujar bibi pembantu.
Leon mencoba menetralkan pikirannya. Mungkin Rosaline masih marah dengan masalah semalam, terlebih lagi ia tidak berusaha membujuknya dan malah tidur di kamar tamu.
Tak lama Dante datang, ia tampak panik dan segera menghampiri Leon yang tengah bersiap pergi ke tempat kerja.
"Apa kak Rosaline baik-baik saja?" tanya Dante dengan nafas terengah-engah.
"Semalam kakak meminta ku untuk mengantarnya ke rumah sakit dan tadi dia menelepon dan bilang kalau perutnya sakit." lanjutnya.
Leon langsung panik dan segera berlari menuju kamarnya untuk menemui Rosaline.
"Rosaline!"
Ia mencari ke semua sudut ruangan di kamarnya namun Rosaline tidak ada.
"Rosaline, kau di mana?" rasa panik benar-benar telah mengacaukan pikirannya.
"Sayang!" panggilnya lagi.
Hanya satu tempat yang belum ia jumpai, yaitu kamar mandi.
Dengan penuh harap Leon langsung membukanya dan didapatinya Rosaline yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang
keluar dari pangkal paha hingga mengucur ke betisnya.
"Rosaline!"
.
.
.
__ADS_1