
Leon dan Rosaline tidur di kasur yang sama. Mereka hanya berbaring dan saling menatap satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat berbicara ataupun memejamkan mata. Mereka berdua hanya mempertahankan posisi itu.
"Apa kita akan begini terus sampai pagi?" tanya Leon.
"Aku akan tidur sekarang." jawab Rosaline lalu membalikan tubuhnya membelakangi pria itu.
"Jangan membelakangiku, aku tidak suka!" ucap Leon sambil menarik tubuh wanita itu hingga posisinya menjadi terlentang. Dan dengan segera Leon memposisikan tubuhnya di atas tubuhnya.
Leon menatap Rosaline dengan serius. "Aku ingin bertanya hal yang sangat penting."
"A-apa?" tanya wanita itu dengan suara lantang walaupun sebenarnya dalam hatinya gugup.
"Kapan kau akan mengijinkanku melakukannya?"
"Melakukan apa?" wanita itu pura-pura tidak paham dengan pertanyaan Leon.
"Melakukan ini." Dengan tiba-tiba Leon menindih tubuh kekasihnya itu hingga tak menyisakan jarak 1 inchi pun dan membuat Rosaline mengerjap-ngerjapkan matanya karena kaget. Pipi wanita itu bersemu merah, matanya tak kuasa membalas tatapan Leon. Rosaline hanya terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Dia sudah tahu bahwa cepat atau lambat Leon pasti memintanya, dan sampai kapan dia harus menghindari dan menolaknya? Sedangkan dia sendiri sering hampir tidak bisa mengendalikan diri dan menginginkannya juga.
"Jujur aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku lagi, berdekatan denganmu seperti ini sungguh membuatku gila."
Leon memang tipe orang yang selalu bicara apa adanya bahkan terkesan blak-blakan. Dia tidak suka hal yang berbelit-belit.
"Aku akan bertanya sekali lagi. Jika aku menginginkannya saat ini, apa kau akan mengijinkannya? Jika 'Ya' aku tidak akan berhenti sampai sini, jika 'tidak' aku terpaksa harus menahannya sampai kau benar-benar mengijinkannya." tanya pria itu dengan nada serius dan tatapan yang menghanyutkan.
Rosaline menggelengkan kepalanya perlahan. Ada kekecewaan di mata Leon tapi dia tetap menghargai keputusan kekasihnya.
Leon kembali ke posisi semula sedangkan wanita itu terdiam sejenak sambil menatap langit-langit. Pria itu masih menatap kekasihnya dengan lekat. Rosaline kemudian berbalik dan memberanikan diri untuk mengecup singkat dahi Leon, pipi kemudian bibirnya dengan sangat lembut.
"Maafkan aku, Leon. Aku belum siap memenuhi keinginanmu saat ini." ucap Rosaline penuh dengan rasa bersalah.
Leon memeluk Rosaline dan mengelus-elus kepala wanita itu perlahan.
"Kau tidak melakukan kesalahan. Kau sungguh wanita yang baik, aku hampir saja memaksamu. Maafkan aku." setelah itu Leon mengecup puncu kepala wanita itu.
Hati Rosaline seketika berdesir, dia benar-benar merasa bersalah kepada Leon. Tapi di satu sisi dia masih merasa takut juga harus tetap memegang prinsipnya. Walaupun Rosaline tidak tahu sampai kapan dia bisa mempertahankannya karena setiap berada di dekat pria itu dia merasa lemah dan membuatnya sungguh terpedaya.
Akhirnya mereka berdua tertidur. Leon menumpu kepala wanita itu dengan lengannya dan memeluknya, sama halnya dengan Rosaline. Wanita itu membenamkan tubuhnya dalam rengkuhan tubuh kekar kekasihnya.
.
__ADS_1
.
.
Hari ini Rosaline berdandan rapi, dia menenteng kotak makan di tangannya dan sebuah kado.
"Yakk, kau masih belum siap juga? Ayo bersiap sekarang atau kita akan terlambat." dengus Rosaline pada Dante yang masih asik rebahan sambil memainkan ponselnya.
"Kakak mau pergi ke lapas lagi? Percuma, ibu tidak akan mau menemui kita." ucap Dante putus asa.
Wajah Rosaline berubah sedih. Selama ini ibunya memang selalu menolak kunjungannya. Mereka terakhir bertemu seusai persidangan.
"Jangan terlalu lama bersedih, jalani hidupmu dengan penuh suka cita karena itu yang selalu ibu inginkan. Lupakan kalau kau masih punya seorang ibu karena ibu hanya akan jadi beban dalam hidup kalian. Berjanjilah untuk jangan pernah mengunjungi ibu di sini bahkan jika kalian merindukan ibu."
Itu kata-kata terakhir dari ibunya setelah pengadilan memutuskan vonis 10 tahun penjara atas kecelakaan yang menyebabkan kematian suaminya.
Walaupun ibunya selalu menolak untuk bertemu, Rosaline dan Dante tidak pernah berhenti mengunjunginya di sela waktu luang mereka.
"Apa kau benar-benar tidak mau ikut? Ini hari ulang tahun ibu. Walaupun ibu tidak mau menemui kita, setidaknya kotak makanan ini sampai kepadanya." ucap Rosaline dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, baiklah, ayo kita pergi." jawabnya. Dante memang adik yang sangat iseng dan nakal, tapi dia tidak akan tahan kalau melihat kakaknya bersedih lagipula dia juga sangat merindukan ibunya.
.
.
.
Mereka mulai menyapa petugas lapas. "Kalian? Kenapa masih datang ke sini?" ujarnya.
Rosaline dan Dante saling melempar tatapan dan berusaha memahami maksud dari pertanyaan petugas lapas itu.
"Apa kalian tidak tahu ibu kalian sudah dibebaskan?" tambahnya.
"Kapan?" selidik Rosaline.
"Coba kita lihat." petugas itu meraih buku catatan di atas mejanya dan mulai membuka lembar demi lembar buku itu.
"2 bulan yang lalu." jelasnya.
.
__ADS_1
.
.
Mereka keluar dari lapas dengan wajah sedih, terutama Rosaline. Kondisinya benar-benar tidak terlihat baik-baik saja.
Selama 9 tahun Nancy selalu menolak untuk menemui Rosaline dan Dante, dan tidak pernah sekalipun membalas surat-surat yang mereka tulis untuknya. Kini bahkan setelah mendapatkan grasi karena perilaku baiknya di penjara dia benar-benar memutuskan untuk menghilang dari kehidupan anak-anaknya.
Kali ini Dante yang mengambil alih kemudi. "Ayo kita ke pantai." ajaknya memecah keheningan yang sedari tadi menjelaga di dalam mobil itu. Rosaline hanya menatapnya sekilas tanpa berkomentar.
.
.
.
Kini kakak beradik itu tengah duduk di tepi pantai dengan pandangan mengarah ke laut lepas.
"Apa kakak ingat, dulu ayah dan ibu sering mengajak kita ke sini?" tanya Dante mencoba bernostalgia.
"Mmmh." Rosaline mengiyakan dengan tatapan nanar ke arah ombak yang saling berkejaran.
"Aku tahu kita memiliki banyak kenangan yang buruk. Si beren***k itu telah mengakhiri kehidupan kita yang damai. Ayah meninggal, ibu masuk penjara, lalu kakak harus mengorbankan masa remaja kakak untuk bekerja keras menafkahiku dan nenek. Tapi sekarang aku mengajak kakak ke sini untuk mengenang masa indah kita dulu bersama ayah dan ibu." ucapnya tiba-tiba.
"Apa ibu akan baik-baik saja?" tanya Rosaline dengan wajah sedih.
"Aku yakin ibu akan baik-baik saja, kak. Berikan ibu waktu, saat ibu sudah merasa siap pasti dia akan menemui kita."
"Apa kau merindukan ibu? Aku sangat-sangat merindukannya." ucapnya lagi.
"Bagaimana ya, kakak selama ini merawat dan menjagaku melebihi apa yang bisa seorang ibu lakukan. Jadi aku tidak pernah merasa kehilangan kasih sayangnya." ujar Dante mencoba menghibur kakaknya. Padahal tidak bisa dipungkiri dalam hatinya diapun sangat merindukan ibunya.
"Apalagi hobi mengomel kakak membuat ku terasa seperti diomeli ibu." ejeknya.
"Chhhh, berhenti menyebutku seperti ibu! Aku belum setua itu." Dengus Rosaline menandakan moodnya sudah mulai membaik.
"Mulai dari sekarang kakak jangan memikirkanku lagi, aku akan berusaha belajar menjadi dewasa dan membiarkan kakak bahagia. Maafkan aku karena telah banyak menyusahkan kakak, maafkan aku karena selalu meminta dan menuntut. Maaf atas semua sikaf kekanak-kanakanku selama ini. Maafkan aku,kak...." kata-katanya mengambang dan air matanya terjatuh.
Rosaline menghela nafasnya sebelum akhirnya memeluk adiknya.
.
__ADS_1
.
.