Dandelion Motel

Dandelion Motel
Mimpi Buruk


__ADS_3

Rosaline masih syok dengan mimpinya, lalu melihat darah di selimutnya.


"Aaarrrgghhh.....darah! Leon...! Bayi kita, selamatkan bayi kita!!!" Rosaline berteriak-teriak seperti orang gila sambil menunjuk-nunjuk selimut mereka yang bersih.


"Tidak ada darah, Rosaline! Kau aman, bayi kita aman! Apapun itu, itu hanya mimpi, sayang..." Leon tak henti menenangkannya.


Demi mendengarkan ucapan suaminya, Rosaline langsung melihat kembali selimut mereka yang bersih dan seketika ia sadar bahwa ia sedang berilusi.


Ia kembali memeluk Leon dengan tangis yang tak kunjung berhenti.


Sekujur tubuhnya menggigil ketakutan, nafasnya memburu, detak jantungnya tak terkendali.


"Tenanglah...itu hanya mimpi....semua hanya mimpi...kau aman sekarang! Bayi kita baik-baik saja!"


Leon mengusap-usap punggung Rosaline dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia tak tahu seburuk apa mimpi Rosaline. Tapi dari caranya mengigau, ia tahu mungkin dalam mimpinya sesuatu yang buruk terjadi pada bayi mereka. Apalagi ketika Rosaline berilusi seolah ia melihat darah.


Belasan menit berlalu. Akhirnya tangisan Rosaline mereda, ia sudah lebih tenang.


Leon melepaskan pelukannya, mengusap pipi dan menghapus air matanya.


Wajah Rosaline basah dengan keringat, wajahnya pucat.


Ia demam!


Tidak!


Jangan lagi!


Jangan sakit lagi!


Leon mendesah sedih.


.


.


.


"Apapun itu, jangan dipendam sendirian. Kau punya aku! Kau bisa berbagi segala hal denganku!" Leon mengompres dahi Rosaline dengan sedih.


5 menit yang lalu Leon memberi Rosaline paracetamol berdosis rendah untuk meredakan demamnya.


Rosaline terdiam, matanya nanar, bibirnya gemetar menahan segala sesak yang menjeratnya bagai belukar.


Setelah menghela nafas panjang beberapa kali akhirnya dia buka suara dengan sedikit getar pada setiap kalimatnya.


"Awalnya aku hanya merindukan ibuku tapi tiba-tiba aku ingat peristiwa itu lagi. Kau tahu? Dulu di pengadilan pria itu bilang kalau dia tidak akan melepaskanku dan akan selalu mengikutiku seperti bayangan. Aku takut, Leon! Aku takut pria gila itu kembali."


Pria itu memegang tangannya dan membelai lembut wajahnya.


"Dengarkan aku baik-baik! Seperti yang kita tahu, baji***n itu sudah mendekam di penjara. Dia sudah pernah 1 kali melarikan diri dan itu akan membuat penjaga di sana lebih berhati-hati dan waspada. Lagipula ada aku di sini yang akan selalu melindungimu. Siapapun dia, Baji***n manapun tidak akan bisa menyentuhmu walau 1 helai rambutmu, tidak akan ku biarkan!" yakin Leon.


"Apa kau yakin dia tidak akan kembali?"


"Tentu saja! Apa kau tidak percaya padaku?"


"Aku percaya."


Rosaline menguntai senyum tipis mendengar itu. Setidaknya perasaannya mulai terasa lebih baik, walau masih ada sedikit yang mengganjal.


"Emmh, soal ibumu. Maaf aku belum bisa menemukannya. Tapi kau tak perlu cemas! Kita akan terus mencari sampai ibumu bisa ditemukan. Aku berjanji!" ucap Leon penuh penyesalan.


"Hmmm, aku yakin di manapun ibuku berada. Dia pasti akan baik-baik saja." Rosaline menunduk sambil menitikan air mata.


Dia berbohong, sebenarnya dalam hatinya ia tidak tenang dan akan selalu mencemaskan ibunya.


"Lihat dan dengarkan aku!" Leon menangkup wajah Rosaline dan mengarahkannya untuk menatap wajahnya.


"Mulai sekarang apapun itu kau harus berbagi denganku! Dan jangan pernah memikirkan hal yang buruk! Ingat kata dokter kau tidak boleh stres, itu bisa berpengaruh pada bayi kita. Aku yakin di suatu tempat di manapun itu, ibumu juga pasti ingin kau bahagia dan dia akan sedih jika tahu keadaanmu seperti ini!."


Rosaline merenungi kalimat Leon perlahan keceriaan di wajahnya kembali.


Ia merasa bersyukur memiliki suami seperti Leon, memilikinya sebagai ayah dari calon anaknya.


"Aku mencintaimu." ucap Rosaline lirih.


"Aku tahu! Bukankah itu alasan kau mengandung anakku?" canda Leon seraya mencubit gemas hidung bangir Rosaline, lalu mereka tergelak bersama.

__ADS_1


.


.


.


Keesokan harinya.


Rosaline keluar dari kamar mandi dan menatap heran suaminya yang sedang bermalas-malas sambil memainkan game di ponselnya.


"Bukannya hari ini perusahaanmu mengadakan acara amal? Kenapa belum siap-siap?" tanyanya.


"Aku akan mewakilkannya pada Bobby." sambil terus asyik bermain dengan ponselnya.


"Kenapa?" Rosaline duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang semakin panjang.


"Aku tidak bisa dan tidak mau meninggalkanmu!" jawab Leon dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya.


Rosaline tergelak mendengar itu, ia memutar posisi duduknya mengahadap Leon.


"Kau yakin?"


"Hmm"


"Tapi ini acara amal pertama perusahaanmu. Kau wajah dari perusahaan itu, apa kau benar-benar yakin tidak akan datang?"


Leon mendongak mendengar ucapan Rosaline, konsentrasinya buyar dan permainannya game over.


"Kau serius? Tapi siapa yang akan menjagamu?"


"Memangnya aku kenapa? Aku sudah sembuh!"


"Tapi tetap saja, di sana aku tidak akan tenang. Aku di sini saja!"


"Aiisshhh, manusia ini!" Rosaline berdiri dan menghampiri suaminya, lalu duduk di sisi ranjang.


"Ada bibi Ema dan William. Sudah sana pergi! Sebelum aku berubah pikiran! Setidaknya kau harus banyak berkontribusi untuk perusahaanmu di tahun ini, karena tahun depan kita akan sibuk dengan bayi ini." Rosaline mengusap perutnya.


Leon terdiam memikirkan ucapan istrinya. Benar juga pikirnya.


"Sungguh kau mengijinkanku?" tanya Leon tak percaya.


Seketika Leon tersenyum lebar dan memeluk istrinya itu.


Wajah Rosaline mendadak berubah.


"Jangan begini! Cepat mandi sana! Badanmu bau, huueekk...!" Rosaline menutup mulut dan hidungnya.


Leon tidak peduli, ia menciumi pipi Rosaline dengan sangat riang.


"Yakk, Leon! Kau....huueekkk...!" ternyata wanita itu tidak bercanda. Ia benar-benar muntah di pundak suaminya.


.


.


.


"Sayang, aku pergi sekarang!" ucap Leon yang sudah menyelesaikan sarapannya lengkap dengan setelan jas rapih yang menambah aura ketampanannya.


"Ingat pesanku kan?" tanya Rosaline.


"Menelepon mu saat perjalanan, meneleponmu saat sampai di kampus dan meneleponmu saat acara selesai."


"Kurang 1 lagi!"


"Ah ya, tidak boleh berbicara dengan wanita yang berumur di bawah 60 tahun."


"Bagus!" Rosaline tersenyum.


"Aku berangkat sekarang!" Leon siap melangkah.


"Tunggu! Kau lupa sesuatu!"


"Apa?" Leon menatap bingung dan Rosaline menunjuk ke perutnya.


"Ah, ya! Bagaimana bisa aku melupakannya!" Leon tersipu malu.


Ia mendekat dan menundukan kepalanya ke arah perut Rosaline.

__ADS_1


"Sayang...ayah berangkat kerja dulu! Kau jaga ibumu, jangan sampai dia berbuat yang aneh-aneh!"


"Yakkk...!" Rosaline merenggut seketika sementara William cekikikan di sampingnya.


Leon tersenyum, lalu mengecup perut dan dahinya.


"Aku sungguh-sungguh! Jangan berbuat yang aneh-aneh dan istirahat saja di rumah." pesan Leon sebelum meninggalkan meja makan.


"William, kau jaga bibimu ya!" seru Leon sambil mengacak rambut bocah itu.


"Baiklah, paman!" jawabnya.


Rosaline menggeleng dan mengusap-usap perutnya.


"Orang-orang benci bekerja, tapi ayahmu kegirangan karena akan bekerja. Ckckck...!" ucapnya


.


.


.


Rosaline menutup ponselnya dengan kesal, baru saja Leon menolak panggilannya.


"Aisshhh...jangan-jangan ada banyak semut yang menggangunya saat ini!"


Rosaline keluar dari kamar menghampiri Dante yang sedang numpang makan siang di rumahnya.


"Antarkan kakak ke sini!" Rosaline menunjukan peta GPS universitas tempat perusahaan Leon mengadakan acara amal dengan seenaknya.


Dante yang masih mengunyah makan siangnya mendongak bingung.


Di saat yang sama William muncul dari ruang tv.


"Bibi mau pergi?" tanyanya.


"Iya, sayang."


"Apa aku boleh ikut?" dengan wajah yang penuh harap.


Rosaline menatap William yang sedang tersenyum lebar ke arahnya, ia pun membalasnya dengan senyuman yang sama.


.


.


.


Rosaline langsung menggandeng William masuk ke halaman universitas begitu Dante menurunkannya di depan gerbang.


Di dalam universitas yang luas dan ramai, Rosaline kebingungan sendiri mencari aula tempat dilaksanakannya acara amal tersebut. Sampai akhirnya dia menyerah dan bertanya ke salah satu mahasiswa di sana.


Di perjalanan menuju aula, Rosaline mencoba menelepon Leon kembali namum tidak diangkatnya.


"Aaiiisshhh, sebenarnya sedang apa dia? Dasar baji***n! Berani-beraninya dia mengabaikan telepon dariku! Awas saja kalau ada semut-semut sialan di sekitarnya!" Ia mengomel-ngomel sendiri sambil terus menggandeng William menyusuri lorong kampus.


Sementara itu di aula universitas, Leon yang baru selesai memberikan arahan dan motivasi bagi para mahasiswa terpilih yang mendapat beasiswa dari perusahaannya tengah duduk menyendiri sambil membuka ponselnya hendak menelepon.


Namun sebelum itu 3 orang mahasiswi menghampirinya.


"Permisi, maaf kami mengganggu! Kami sangat termotivasi dengan apa yang anda sampaikan tadi. Kami berharap kelak kami bisa sukses seperti anda." ucap salah seorang dari mereka.


Leon hanya merespon mereka dengan senyuman sopan.


"Ngomong-ngomong, kami baru saja lulus. Apa mungkin di perusahaan anda kebetulan sedang mencari pegawai magang?." tanya gadis yang lain, yang memakai baju merah dan berdandan paling feminim di antara kedua temannya.


"Oh itu..." Leon mulai bingung untuk menjawab, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ah ya, perkenalkan nama saya...." si gadis berbaju merah mengulurkan tangannya.


Namun belum juga selesai bicara, seorang anak kecil tiba-tiba menyerempetnya dari belakang, membuatnya terpelanting dan nyaris jatuh ke arah samping, beruntung temannya langsung memegangi.


"Ayah....." William memeluk Leon yang nampak kaget dan kebingungan.


Ayah?!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2