Dandelion Motel

Dandelion Motel
Joker & Harley Quenn


__ADS_3

Ada apa?


Leon bergegas ke sumber suara dan di sanalah William berada, berdiri di dekat ayunan bersama seekor anak kucing dalam gendongannya.


Di depannya ada seorang anak kecil seusianya dan seorang wanita.


Leon mendekat dengan mata memicing curiga. Ia melirik dingin pada 2 manusia yang berdiri di depan William.


"Ada apa?" tanyanya.


Belum juga William menjawab, wanita di depannya sudah membombardir Leon dengan segudang omelan.


Ia berbicara tentang sopan santun, kenakalan William dan bagaimana William mengotori baju putranya.


Leon hanya melirik datar bahkan terkesan tidak peduli.


"Ceritakan versimu!" perintah Leon pada William.


"Ia mewarnai tubuh anak kucing ini dengan cat air. Aku melarangnya karena kasihan, tapi dia tidak mau mendengarkan ku. Jadi aku siram saja bajunya dengan cat air itu." jawabnya lugu.


Leon tidak memberi ekspresi yang berarti hanya melipat kedua tangan di dadanya dengan santai.


"Ini salahmu! Kenapa kau repot-repot menolong kucing jelek? Cepat minta maaf!" ujar Leon membuat wajah William merengut seketika.


Apa dia sungguh tidak dibela?


William menatap kesal, sementara bocah lelaki dan ibunya itu tersenyum kegirangan.


"Aku tidak mau! Aku ti...." William membantah lalu dengan segera Leon menyuruhnya untuk diam.


"Sssttttt!"


Lalu Leon melempar tatapan pada sepasang ibu dan anak tidak tahu diri yang masih tersenyum dengan lebar dan penuh kemenangan.


"Kau tuli? Atau terlalu bodoh untuk memahami maksud kata-kataku? Aku bilang cepat minta maaf." ujar Leon kesal.


"Kenapa jadi kami yang harus minta maaf? Anakmu yang berulah. Lagipula itu hanya kucing liar yang luntang-lantung, berkeliaran ke mana-mana dengan bulu yang kotor dan penuh debu. Ini hanya cat air yang tidak berbahaya dan bisa luntur sendiri kalau terkena air. Sedangkan baju anakku? Kau lihat! Kotor sekali karena ulah anakmu!"


Leon tersenyum miring mendengar perkataan wanita itu, lalu sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah.


Tatapannya menajam, langkahnya maju dengan pelan namun mengancam.


"Benarkah? Sungguh tidak berbahaya? Akan luntur sendiri? Oh..!" lalu ia mengamati wadah berisi sisa cat air yang ada di dekat kakinya.


"Baiklah! Tidak perlu minta maaf!" Leon tersenyum lalu tangannya dengan seketika mengambil wadah cat air itu dan menyiramkannya ke atas kepala si wanita.


Cairan berwarna merah meluber membasahi rambut, wajah dan bajunya.


"Yakk...apa-apaan ini? Apa kau sudah gila?" teriak wanita itu, namum Leon malah tersenyum seperti seorang psikopat.


"Kenapa? Kepalamu kan sudah berkeliaran ke mana-mana dengan rambut yang kotor dan penuh debu. Lagipula Cat air itu kan tidak berbahaya dan bisa luntur sendiri." ucap Leon menyindir santai.


Lalu ia menggandeng William pergi.

__ADS_1


"Yakk...dasar pria sinting!!" wanita itu mencoba menyerang Leon dari belakang namun sesuatu menghalanginya.


Menahannya dengan kuat!


Sebuah tangan.


Milik Rosaline!


"Yakk...siapa kau?" tanya wanita itu tidak terima.


Ia mencoba menyerang Rosaline dengan tangan yang satunya tapi sekarang giliran Leon yang menahannya.


Ia bertukar senyum dengan Rosaline.


Mereka seperti sepasang gangster yang hendak merampok, Joker dan Harley Quinn.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya wanita itu sambil melirik bocah pria di sampingnya untuk memberi bantuan, tapi bocah itu hanya terdiam takut dengan Leon yang kini sedang melotot ke arahnya.


"Aku penasaran kalau perilaku anakmu diunggah di internet, sekolah mana yang mau menerima seorang anak yang suka merundung hewan sepertinya?" Rosaline menatap tenang namun mengancam.


Rosaline mengeluarkan ponselnya seolah-olah sedang merekam, padahal ia tidak merekam apapun.


Wanita itu tak punya pilihan selain melotot marah dan melemaskan ototnya- menyerah!


Rosaline tersenyum dan mulai melepaskannya bersamaan dengan Leon.


Mereka hendak pergi namun sesuatu mengusiknya.


Rosaline berbalik dan berbisik pada anak dari wanita itu, "Kau tahu? Kucing juga ciptaan Tuhan! Mereka punya perasaan dan tidak akan suka jika disentuh oleh tangan kotormu! Dan untukmu nyonya..." pandangan Rosaline beralih pada si ibu.


Rosaline menggandeng Leon dan William pergi dengan penuh kemenangan.


"Kau keren, sayang!" ucap Leon sambil mengedipkan sebelah matanya disambut tawa renyah Rosaline.


Leon menatap istrinya dengan penuh kekaguman, sementara William menatap Leon dengan ekspresi yang sama.


Ketiganya melangkah bergandengan tangan seperti sebuah keluarga kecil nan bahagia.


.


.


.


Oh, pagi yang indah!


Leon bergegas keluar kamar setelah bersiap pergi bekerja dengan penuh semangat hingga matanya menangkap sesuatu, Rosaline tengah berkutat sendirian di dapur. Sementara William sudah duduk di kursi makan terlebih dulu dengan roti di tangannya.


Oh, tidak!


Apa Rosaline memasak lagi?


Semangat paginya mulai runtuh tiba-tiba.

__ADS_1


"Selamat pagi, sayang!" sapa Rosaline dengan mesra.


"Kau yang memasak? Sejak kemarin aku tidak melihat bibi Ema, apa dia sakit?" tanya Leon was-was, lalu duduk di samping William yang asyik mengunyah rotinya.


"Tidak, anaknya baru saja melahirkan jadi dia cuti sampai besok." jawabnya dengan senyuman manis.


"Kau masak apa?" tanya Leon sambil menelan ludah.


"Semur daging kesukaanmu." jawabnya sambil menyajikan semangkuk semur daging di atas meja makan tepat di hadapannya.


Leon mendadak memegangi perutnya, masih terbayang rasa nasi goreng buatan Rosaline yang rasanya tidak karu-karuan.


"Aku sengaja bangun pagi sekali dan menanyakan resepnya pada bibi Ema, beruntung kita punya beberapa bahan-bahannya di kulkas." kemudian duduk saling berhadapan dengan Leon.


Leon menelan ludah, ia tahu penderitaannya akan kembali dimulai.


"Kau tidak ikut makan?" tanya Leon pada Rosaline yang asyik menggigit roti sandwich.


"Gaya breakfast ku adalah roti." jawabnya dengan senyuman anggun nan elegan.


"Kau mau coba semur dagingnya? Aku akan berbagi denganmu." kini giliran William yang Leon tawari.


Bocah itu tersenyum ke arahnya dan menggeleng mantap.


Leon kembali menelan ludah. Seharusnya dia sudah tahu bahwa peperangan dan penderitaan ini hanya miliknya sendiri.


Ditatapnya semur daging ala Rosaline yang bentuk dan rasanya tidak bisa dipertanggung jawabkan.


Rasanya ia ingin sekali menangis.


"Ini apa?" sambil menyendok parutan keju dan kismis di mangkuknya.


"Oh itu, karena ada beberapa bahan yang tidak ada jadi aku menggantinya dengan bahan yang ada." ucap Rosaline santai dan penuh percaya diri.


"Hmm" gumam Leon dengan senyum yang dipaksakan.


Ya Tuhan, sejak kapan semur daging pakai toping parutan keju dan kismis?


Ia komat-kamit berdoa dan mulai menyantap makanannya.


Benar kata orang, mencintai itu butuh pengorbanan!


Masalahnya, Leon tidak tahu bahwa ia akan berkorban semacam ini.


Oh, Leon...


Sungguh malang nasibmu!


Salahmu sendiri mencintai wanita yang bar-bar dan kepedean!


Cekakakkak.....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2