
"Tempat ini punya tiga bangunan utama. Satu digunakan sebagai sekolah, sementara sisanya adalah asrama murid putra dan putri." kepala sekolah memberi penjelasan.
Rosaline mengangguk santai, sementara matanya memperhatikan sekeliling.
"Permisi, bapak memanggil saya?" seorang guru wanita berdiri di ambang pintu.
"Bu Viona, silahkan masuk! Ya, saya memanggil anda. Kenalkan ini pak Billy dan anaknya Rosaline, murid baru di sekolah kita. Tolong antar ia ke kamarnya di asrama!"
Guru matematika bernama Viona itu segera mengajak Rosaline ke asrama wanita.
Di lorong, mereka bertemu dengan si murid lelaki yang tadi dilihat Rosaline dari jendela.
Murid itu digiring ke ruang kedisiplinan, sementara kamera videonya disita.
Aneh, ia tak merasa takut atau menyesal sama sekali dan malah haha-hihi seolah hukuman adalah kawan baiknya.
"Hai, bu Viona!" murid lelaki itu bahkan sempat-sempatnya menyapa si guru matematika yang berjalan beriringan bersama Rosaline dengan cengengesan.
"Ckckck...dasar bocah nakal! Kali ini kenakalan apa lagi yang kau lakukan?"
"Hehehe...." murid lelaki itu terkekeh santai.
Ia juga tersenyum pada Rosaline yang menatapnya datar, tak tertarik sama sekali.
.
.
.
Rosaline menatap kamar asramanya tanpa ekspresi. Ada 2 ranjang dan 2 meja serta lemari. Meski demikian, ia akan tinggal sendiri sebab ayahnya membuat permintaan khusus pada sang kepala sekolah.
Ia sudah tahu benar sifat Rosaline dan segala kelakuan di luar nalarnya.
Daripada berbuat yang aneh-aneh dan menakuti teman sekamarnya, maka lebih baik ia memiliki kamar sendiri. Tak masalah jika harus membayar lebih.
Sekolah Menengah Atas itu adalah sekolah yang kesekian. Tak terhitung lagi yang keberapa saking sering Rosaline pindah.
Alasannya selalu sederhana, memaki guru dengan kata-kata kasar, mengganggu teman hingga ketahuan membawa rokok.
Klise!
Sederhana!
Seolah ia yang salah, padahal selalu ada cerita di balik itu semua.
Contohnya di salah satu sekolah, Rosaline pernah memergoki 2 gurunya berbuat asusila.
Ia yang memang sebal dengan kelakuan mereka pun mengumpat dan membongkarnya dengan lantang saat salah satu dari guru itu menegurnya di kelas karena ketahuan tak mendengarkan.
"Orang-orang tak disiplin dan gemar melanggar peraturan seperti ini harus dibuang saja daripada membebani masyarakat! Kau tahu, tak mengindahkan aturan itu salah satu bentuk penyimpangan moral?" sindirnya.
Rosaline yang benci manusia-manusia munafik bermuka dua seketika terpelantuk dan tak tahan lagi, ia akhirnya membongkar kelakuan guru baji****n itu secara terang-terangan.
Tentu saja terjadi kegaduhan.
Peristiwa itu menjadi sebuah skandal besar sebab ternyata tak cuma Rosaline yang pernah memergokinya berbuat amoral.
Murid-murid lain tahu, tapi mereka terlalu penakut dan bungkam.
__ADS_1
Kedua guru itu lantas dikeluarkan, tapi posisi Rosaline pun tak aman. Ia dianggap sebagai ancaman oleh guru-guru lain karena sifatnya yang ceplas-ceplos.
Rosaline akhirnya ikut dikeluarkan.
Alih-alih protes, gadis penyihir itu justru senang bukan kepalang.
Ia bahagia karena tak perlu repot-repot lagi pergi ke sekolah dan berkumpul dengan para manusia munafik yang manis di depan tapi suka menggunjing di belakang.
Kita tahu Rosaline tipikal yang apa-adanya, tak kenal takut dan langsung mengumpat saat tak suka.
Setelah belasan kali pindah sekolah, Billy tak pernah menyerah seolah tak kenal putus asa. Ia terus mencarikan sekolah baru.
Rosaline ingat betul petuah andalan ayahnya setiap kali mendapatinya dikeluarkan dari sekolah.
"Bahkan orang pintar perlu berjejalan dan saling membunuh untuk menemukan tempatnya di dunia, lalu kau pikir akan ada tempat bagi orang bodoh? Jangan jadi orang bodoh! Harta akan habis, tapi ilmu akan abadi, Rose!"
Rosaline selalu mengangguk-angguk santai tiap kali kalimat itu memutari gendang telinganya. Ia memang nakal, tapi tak pernah menyela saat orang tuanya yang bicara.
Ia tak ambil pusing.
Cuek!
Dingin!
Dan masa bodoh!
.
.
.
Ini adalah malam pertama Rosaline di asrama, ia tak bisa tidur karena kamar itu masih masih baru untuknya dan belum terbiasa. Ia sudah coba minum obat tidur tapi tetap tak membantu.
Pukul 1 dini hari, semua orang pergi tidur sejak jam 9 tadi.
Gadis belia berambut ikal panjang itu berjalan menyusuri lorong sendirian.
Ia naik tangga menuju loteng.
Dengan santai ia duduk di atas tembok pembatas dengan kaki terjuntai ke bawah
Jemari lentiknya lantas mengeluarkan sebatang rokok dan korek api.
"Apa aku harus mencobanya?" gumamnya.
Karena walaupun selalu membawa kedua benda itu setiap saat, tapi ia tidak pernah benar-benar menghisapnya.
Bagi Rosaline itu hanya senjata saja, semacam baju besi baginya.
Aneh?
Memang!
Itulah Rosaline kita, kelakuannya nyeleneh dan tidak terprediksi.
Sebenarnya bukan tanpa alasan.
Dulu saat di Sekolah Dasar, ia pernah jadi korban bully yang dilakukan teman sekelasnya.
__ADS_1
Dan saat masuk Sekolah Menengah pertama ia bertekad untuk melindungi dirinya sendiri dengan bersikap dingin dan berusaha untuk tidak mudah terintimidasi.
Dicap nakal dan dijauhi teman-temannya bukan masalah bagi Rosaline, malah ia lebih nyaman dengan itu karena memang ia tidak pandai dan tidak suka berbasa-basi.
Dipantiknya benda koleksinya itu.
Dihisapnya si gulungan nikotin beracun kuat-kuat dan dihembuskan perlahan bak seorang perokok ulung.
Ah.....rasanya....tidak buruk!
Rosaline tersenyum melihat gumpalan asap beracun melayang tipis mengitari wajahnya dan menghilang dalam pelukan atmosfer.
Di atas, langit begitu cerah. Gemintang bertaburan indah menghias angkasa.
Suara binatang malam bersahutan. Tak heran, tempat ini berada di dekat hutan dan pegunungan.
Ia kini berdiri di atas tembok pembatas. Di bawah dunia terasa kecil dan tak nyata.
Ia merentangkan tangannya, menikmati semilir angin yang datang menyapa wajah.
Dan tiba-tiba saja sesuatu menarik lengannya, membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh ke belakang.
Rokok yang baru beberapa kali di sesapnya terpelanting pergi sementara tubuhnya mendarat di atas sesuatu.
Oh, tunggu!
Bukan sesuatu, tapi seseorang!
Rosaline berteriak kaget, ia mengaduh namun sosok yang menariknya itu membekap mulutnya dan berguling mengubah posisi mereka.
Kini ia membuat Rosaline berada di bawahnya.
Rosaline terbelalak. Ia mengenali si baji****n yang sudah mengganggu kemesraannya bersama si gulungan nikotin.
Ia adalah bocah berandal itu.
Si murid cengengesan yang digiring ke ruang kedisiplinan.
Terdengar suara orang berlari menaiki tangga dengan tergopoh.
Murid berandal itu langsung menarik Rosaline dan menyeretnya ke sebuah sudut gelap tak terlihat.
Ia membekapnya dari belakang.
Mereka berdiri tanpa jarak dengan desah nafas menggaung pelan penuh ketegangan dan seakan berkompromi untuk tetap diam agar tak ketahuan.
"Siapa di sana?" teriak petugas keamanan seraya memeriksa loteng dengan senternya.
Tadi ia berlari kemari karena mendengar suara teriakan Rosaline, namun ternyata saat diperiksa tak ada apa-apa.
"Apa jangan-jangan hantu?" gumamnya merinding.
"Kenapa pintu ini tidak dikunci? Berbahaya! Bisa dibuat bunuh diri lagi seperti dulu!"
Ia buru-buru mengunci pintu loteng dan pergi dengan ketakutan.
Tak ia tahu jika ada dua manusia yang akan terjebak di sana.
.
__ADS_1
.
.