
"Kau masak ?" tanya Leon was-was pada Rosaline yang ikut berkutat di dapur bersama bibi Ema sepagi ini.
Biasanya selagi ada bibi Ema, Rosaline menyerahkan urusan masak padanya dan ia hanya akan membantu menata meja saja.
"Bibi Ema sedang mengajariku memasak. Hari ini kau harus istirahat! Wajahmu masih pucat, apa kau demam?" Rosaline memegang dahi suaminya dengan cemas.
Leon menggeleng.
Leon sebenarnya terharu atas perhatian istrinya, tapi tidak usah dengan cara memasak juga! Rasanya ia bingung harus bersyukur atau mengeluh.
"Kau mau membuat apa? Apa kau sudah tidak mual lagi dengan aroma dapur?" Leon berdiri di belakang Rosaline yang sedang mencuci sayuran.
Ia mendekat perlahan dan meletakan dagunya di pundak Rosaline dengan mesra.
"Bayi kita sepertinya sedang berbaik hati mengijinkan ibunya membuat bubur sayur untuk ayahnya."
"Ya, bubur sayur. Pinggang bibi sampai encok mengaduknya sejak 30 menit yang lalu." gurau bibi Ema.
Leon tertawa.
"Sini! Biar aku bantu mengaduknya, bi!" Leon mengulurkan tangannya.
"Jangan! Kau duduk saja! Biar kami yang membuat sarapan!" cegah Rosaline.
"Baiklah! Apapun katamu, nyonya!" Leon mengecup pipi istrinya membuat asisten rumah tangganya menutup mata dengan 1 tangan. Ia belum terbiasa melihat kemesraan mereka.
.
.
.
Leon kembali beristirahat di kamar sambil menunggu sarapannya siap.
Ia mengeluarkan surat ancaman yang ia temukan kemarin.
Ia sudah meminta Dante untuk merahasiakannya dari Rosaline, sebab ini bisa membuat Rosaline kembali stres dan membahayakan bayi mereka.
Dante setuju untuk berkomplot dengannya, ia tidak mau kakak dan calon keponakannya sakit lagi.
Hari ini, Leon berencana untuk menemui pria psikopat itu di penjara. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria itu masih di dalam penjara.
Mimpi buruk itu benar-benar menakutinya, mengingatnya saja sudah membuatnya merinding.
"Sayang...kau sedang apa?" Rosaline membuka pintu.
"Mmh? Tidak sedang apa-apa! Apa sarapannya sudah siap?" Leon buru-buru menyembunyikan kertas itu di saku celananya.
Ia menyambut Rosaline dengan sumeringah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sudah, tapi buburnya masih panas. Apa kau sudah tidak apa-apa?" Rosaline menatap suaminya, mengusap lembut dahi dan pipinya.
Leon tersenyum.
"Aku baik-baik saja." jawabnya.
"Sungguh?" Rosaline masih tak percaya.
"Hmm" gumam Leon.
"Syukurlah kalau begitu! Aku mau mandi dulu. Memasak membuat tubuhku berkeringat." Rosaline pergi menuju kamar mandi, tapi baru sesaat masuk, ia sudah melongok keluar.
"Kau mau ikut?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Mmh, boleh?"
"Memang siapa yang melarang?"
"Maksudku, kau mau.....? Benar tidak apa-apa? Bayi kita....?"
"Tidak apa-apa. Ayo, ikut!"
Leon tersenyum lebar, ia menyongsong lambaian Rosaline dengan semangat. Tapi baru juga selangkah...
"Ikut ? Ikut ke mana?" tanya Dante polos berdiri di depan pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Ikut ke dalam." jawab Leon santai.
"Ke dalam? Ke kamar mandi? Memangnya ada apa di sana?"
(Gak paham sama si Dante! Dia ini beneran polos apa pura-pura polos. Bikin author gemes sendiri!)
"Ada aku! Memang ada apalagi?" Rosaline tersenyum santai menggoda ke arah Leon dan beralih menatap tajam ke arah Dante.
__ADS_1
"Kau mandi saja duluan! Aku mau memeriksa sesuatu dulu." Leon buru-buru keluar dan menarik Dante pergi.
"Aiiissshhh....dasar bocah itu! Pagi-pagi begini dia sudah di sini, mengganggu saja!" omel Rosaline, namun Dante tak mendengar karena keburu digeret Leon ke ruang tamu.
.
.
.
"Aku tidak bisa tidur semalam, kak. Aku terus memikirkan surat ancaman itu." ucap Dante dengan wajah gelisah.
"Tenanglah! Aku akan mengurusnya. Aku akan menjaga kakakmu. Kau tidak usah cemas! Semua akan baik-baik saja!" Leon menenangkan.
Sebenarnya Leon juga tidak bisa tenang.
Pengirim surat itu datang ke rumahnya tanpa ketahuan, bisa saja ia datang lagi ketika Rosaline sedang sendirian.
Bagaimana jika ia menyusup ke dalam rumah saat semua orang sedang tidur.
Haruskah ia mulai menyewa penjaga?
Tapi, apa yang akan dikatakannya pada Rosaline? Sementara ia merahasiakan perihal surat itu darinya.
Pikiran Leon terpecah saat mendengar teriakan Rosaline dari dalam, dari balik kamar mandi.
"Aaaaaakkkkk! Leon! Tolong aku! Leon, cepat kemari! Tolong aku!!!"
Teriakan Rosaline menggema seantero sudut rumahnya, menyentak Leon dan Dante di ruang tamu.
Mereka melotot kaget, dan seketika berlari masuk ke dalam kamar mandi yang tak terkunci.
"Rosaline, kau kenapa? Kenapa?" tanya Leon panik, di belakangnya Dante memberi ekspresi yang sama.
Mereka mencari ke seluruh sisi kamar mandi, tak ada apapun, siapapun, hanya Rosaline seorang yang bahkan belum melepas pakaiannya.
Wanita itu mematung dan ketakutan di pojok dengan tangan memegang botol shampo.
"Di situ! Dia di situ!" tunjuk Rosaline heboh.
"Apa?" Leon celingukan bingung.
"Kecoa! Aku melihat kecoa di sana!" teriak Rosaline, dan legalah seketika hati Leon dan Dante.
"Hanya kecoa?"
"Yakk...hanya? Itu kecoa! Kau tahu, hewan baji***n itu suka terbang tanpa arah?! Dan memangnya kenapa kalau aku takut kecoa?!" Rosaline mendadak marah.
"Kakak lebih menyeramkan dari kecoa, harusnya kecoa itu yang takut pada kakak!" ceplos Dante polos.
"Yakk!! Apa katamu? Katakan lagi! Katakan lagi kalau berani!!!" Rosaline emosi.
Leon langsung menepok jidatnya.
Perang dimulai lagi?
"Dante, ku mohon!" Leon memberi isyarat pada Dante untuk mengalah. Ia mendorongnya dengan pelan, lalu menutup pintu kamar mandi.
"Biar aku yang menangkap kecoanya, kau sarapanlah duluan!"
Di dalam kamar mandi Leon mencari kecoa yang sudah membuat gaduh itu.
Ia berjanji akan menyincangnya jika ketemu, karena sudah membuatnya jantungan sepagi ini.
Rosaline masih berdiri di pojok, sesekali ia melongok-longok aksi heroik suaminya dalam misi mencari kecoa itu.
"Sudah ketemu?"
"Belum. Kau yakin melihat kecoa?"
"Yakk...mataku belum rabun! Aku yakin itu benar-benar kecoa! Aiiisssh, dasar kecoa sia**n!!! Kalau katemu, kau akan ku....." belum selesai Rosaline bicara, hewan yang dibicarakannya muncul.
Kecoa itu terbang tanpa arah dan nyaris hinggap di kepalanya.
Refleks Rosaline melemparkan botol shampo yang ada ditangannya sambil menjerit.
Cetaaaakkkkk!!!
Botol itu hinggap di hidung Leon dengan telak.
Pria itu terhuyung kesakitan, kepalanya mendadak berkunang-kunang. Sementara Rosaline menghampirinya dengan panik.
"Leon....kau...kau..." Rosaline bingung sendiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku...." Leon merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya dan membasahi bibirnya.
Ia menyekanya.
Darah?
Ia mimisan.
.
.
.
"Angkat dagumu terus! Jangan kau turunkan sampai mimisannya berhenti!" perintah Rosaline.
Leon hanya bisa menurutinya dengan pasrah.
"Aiiiiissshhh, ini gara-gara kecoa sia**n itu!" omelnya.
Ia mondar-mandir di depan Leon yang jadi pusing melihatnya.
"Duduklah! Duduk! Kepalaku pusing melihatmu!"
Rosaline menurut, ia duduk di tepi ranjang, di samping suaminya.
Ditatap dan dibelainya paras Leon dengan lembut.
"Pasti sakit, ya? Shampo itu masih baru, isinya masih penuh. Dasar kecoa sia**n! Gara-gara dia kau jadi...."
Leon menurunkan dagunya dan memeluk Rosaline.
"Sssstttt...jangan marah-marah terus! Kau mengomel dari tadi pagi. Apa kau tak lelah, hah? Bayi kita ikut pusing mendengar omelanmu." ia mengelus-elus punggung istrinya.
Rosaline jadi lebih tenang sekarang.
"Jawab aku! Apa sekarang kepalamu pusing? Apa kita perlu ke rumah sakit? Coba! Berapa satu ditambah satu?"
Leon tertawa melihat itu.
Kepolosan Rosaline selalu membuatnya gemas.
"Kenapa tertawa? Hidungmu berdarah banyak! Aku takut kau kenapa-kenapa, bayi kita membutuhkan ayahnya!"
Mendengar itu Leon tertawa makin keras.
"Tidak apa-apa. Sungguh! Aku baik-baik saja, sayang...." Leon mengusap lembut pipi istrinya.
"Sungguh?"
"Iya! Lagipula aku tidak perlu ke rumah sakit kalau kau bisa mengobatiku."
Rosaline bengong, ia tak paham.
Leon menunjuk bibir Rosaline, lalu menunjuk hidungnya. Melihat itu Rosaline seketika tersenyum.
"Aiiissshhh, rupanya kau pintar mencari kesempatan dalam kesempitan!"
"Hmm, kenapa? Memangnya tak boleh? Kau harus bertanggung jawab!"
"Dasar kau! Baiklah! Baiklah, tuan Leon! Aku akan bertanggung jawab." Rosaline mengecup hidung suaminya.
"Sudah?"
"Belum, kepalaku pusing!" Leon merengut.
Rosaline tersenyum, lalu mengecup keningnya.
"Yang mana lagi yang sakit?"
"Ini!" Leon menunjuk bibirnya.
"Bibirmu kenapa memangnya?"
"Merindukanmu."
"Aiiissshhh!" Rosaline tertawa gemas lalu melu**t bibir suaminya.
Ah, ia juga merindukannya.
Keduanya lantas tertawa bersama. Kejadian pagi ini terasa konyol, sangat konyol!
.
__ADS_1
.
.