
"Rosa, kumohon dengarkan penjelasanku! Rosa...!!!"
Leon dan Rosaline seketika tersentak.
"Kepa**t itu rupanya!" Rosaline melotot marah.
Ia ingin keluar dan mencincangnya hidup-hidup, tapi Leon buru-buru mencegah.
Ia dalam kondisi tak sehat dan takut tak bisa melindungi Rosaline jika Theo melakukan sesuatu yang gila.
Leon mencoba menelepon petugas villa tapi tak diangkat.
"Bagaimana dia bisa masuk ke area ini? Bukankah di depan sana harusnya ada penjaga?" Leon bertanya-tanya.
"Dia bilang dia kenal orang-orang daerah ini. Mereka pasti mengijinkannya masuk karena mengenalnya dan mengaku teman kita. Dasar kepa**t!!!"
"Tenanglah, kita tunggu saja! Dia pasti kelelahan sendiri dan pergi. Abaikan dia! Kita harus istirahat dan memulihkan tenaga! Ingat kata dokter, kau tidak boleh stres dan kurang tidur! Kasihan bayi kita." Leon memegang perut istrinya.
Rosaline mengangguk.
Mereka mencoba memejamkan mata, namun gedoran Theo tak jua berhenti.
Pria itu begitu gigih.
Ia bahkan tak peduli pada derasnya hujan maupun angin yang bertiup kencang.
"Kumohon! Ini tidak seperti yang kau kira. Surat-surat itu bukan dariku! Siapapun yang menerormu juga mendatangiku! Surat-surat itu darinya!" seru Theo sambil menggedor-gedor pintu.
Ia mengabaikan rasa sakit pada tangan kanannya yang kembali dijahit 30 menit yang lalu.
"Rosa, tolong dengarkan aku!!! Beri aku kesempatan untuk menjelaskan!!! Ayolah buka pintunya, gadis penyihir dan dengarkan aku!!!"
1 jam berlalu
Leon dan Rosaline kira Theo akan menyerah, namun pria itu tetap di sana.
Ia begitu ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terlanjur menjuntai di antara mereka.
Tak dipedulikannya lagi perban di tangannya yang kini koyak dibanjiri darah. Luka jahitannya lagi-lagi kembali terbuka.
Lama-lama Leon dan Rosaline tak tahan. Mereka butuh istirahat dan suara gedoran Theo sangat mengganggu.
Pasangan suami istri itu memutuskan untuk menghadapinya
Mereka akan membuka pintu dan mendengarkan penjelasannya sebelum memutuskan untuk merangkul atau menggiringnya ke kantor polisi.
Entah secarik penjelasan atau sebongkah tipuan.
Setangkai kejujuran atau segenggam dusta.
Apapun yang akan Theo suguhkan, mereka akan merundingkannya bersama.
Sebab mereka kini dua tubuh dengan satu jiwa.
"Tunggu dulu!" Rosaline tiba-tiba membawa sesuatu dari atas meja dan menyodorkan sesuatu pada suaminya.
Leon memandangi pisau buah yang istrinya berikan.
"Pegang baik-baik dan tusukkan ke leher dan matanya jika dia mengancam kita!" pesan Rosaline.
__ADS_1
Leon mengangguk meski ia tak akan sungguh-sungguh melakukan itu.
Digandengnya Rosaline erat-erat di belakangnya.
Dengan hati-hati dan penuh waspada, Leon membuka pintu.
Dan hal pertama yang mereka lihat adalah senyuman lega seorang Theo.
"Akhirnya...."
Ia maju selangkah, namun tiba-tiba ambruk bersama banyak surat ancaman yang terserak jatuh dari genggamannya.
Darah segar merembes dari tangan kanannya yang beberapa jam lalu menyelamatkan Leon dan Rosaline dari tajamnya mata pisau.
Theo terkulai lemah di depan kaki mereka. Bibirnya membiru kedinginan dan tubuhnya menggigil tak karuan.
Dahinya sepanas lahar gunung berapi.
Mau tak mau sepertinya Rosaline dan Leon harus merawatnya malam ini.
Pasangan suami istri itu segera membantunya bangun dan membaringkannya di kamar lain.
Rosaline yang penasaran mencoba menyentuh dahinya, namun belum juga sedetik, ia langsung manarik tangannya kembali dengan tatapan kaget.
"Kenapa?" tanya Leon.
"Dia membara seperti lahar gunung berapi!"
.
.
.
"Sudah, biarkan saja! Jika dia mati, itu bukan salah kita!" kata Rosaline kejam pada suaminya yang sedang mengganti perban di tangan kanan Theo setelah mengompresnya.
Beruntung pengelola penginapan menyediakan kotak P3K di setiap villa.
"Tapi dia membawa surat-surat itu dan berjanji menjelaskan sesuatu. Kita harus mendengarkan dulu!" kata Leon.
Rosaline melirik tumpukan surat di atas meja. Ia mendesah.
"Bajin**n ini! Jika penjelasannya tidak masuk akal, aku akan langsung mencingcangnya! Hei, theo! Bajin**n tengik! Awas kalau kau pura-pura sakit, aku akan memitilasimu hidup-hidup!" Rosaline mengepalkan tangannya.
"Ssstttsss.... pergilah ke kamar! Kau harus istirahat! Ibu hamil tidak boleh bergadang! Aku akan menyusul sebentar lagi." ucap Leon.
Rosaline merengut tapi menurut.
Ia membawa surat-surat itu ke kamarnya dan membacanya satu-satu sembari menunggu suaminya kembali.
Tak lama, Leon datang dan duduk di sampingnya. Ia ikut membaca.
Raut keduanya tampak tegang, sesekali mereka bahkan saling pandang dan menggeleng bersama.
"Bajin**n!"
"Kepa**t!"
"Bede**h"
__ADS_1
Kata-kata itu terus keluar dari mulut Rosaline. Leon tentu tak bisa mencegahnya, sebab ia sendiri merasa sangat emosi saat membaca surat-surat tersebut.
"Nikmati hidup bahagia kalian sebelum aku merenggutnya!" Rosaline membaca salah satu surat dengan geram.
Leon langsung tersentak, ia teringat sesuatu.
Dengan cepat tangannya membuka laci dan mengeluarkan surat ancaman yang disembunyikannya dari Rosaline.
Ia menaruhnya di samping surat yang baru dibaca Rosaline.
Isinya sama!
"Surat ini? Dari mana kau mendapatkannya?" Rosaline melotot kaget.
"Sayang... jika ucapan Theo benar dan kalian berdua mendapatkannya, maka kata 'kalian' dalam surat ini artinya... "
"Aku dan dia? Bukan kau dan aku?" potong Rosaline cepat.
Kita tahu ia wanita yang cerdas.
"Hmm, awalnya ku kira... ancaman itu datang dari si baji**n Jason. Tapi jika surat ini menghampiri Theo juga, maka dalang di balik semua teror gila ini bukan Jason ataupun Theo! Tapi..."
"Seseorang yang mengenal kami! Seseorang dari masa sekolah kami! Tapi siapa yang berani melakukannya?"
"Kau belum menyelesaikan ceritamu tentang kepala sekolah itu. Mungkinkah kalian melaporkannya? Jika iya, hidupnya pasti hancur dan bisa saja dia... "
"Membalas dendam? Setelah belasan tahun lamanya?"
"Hmm... mungkin saja."
"Hmm... dia memang dipenjara setelah skandal itu terkuak. Karirnya hancur, keluarga dan hidupnya berantakan. Aku tidak ingat ia dipenjara berapa lama, tapi jika belasan tahun dan ia baru keluar sekarang, bisa jadi..."
"Dia dalang di balik semua ini..." Leon melanjutkan kalimat istrinya.
Dan Rosaline mendadak gemetar. Ia tak pernah setakut ini pada siapapun, apapun. Tapi sekarang berbeda!
Ada nyawa lain dalam tubuhnya yang harus dijaga.
Rosaline spontan memegangi perutnya - baby Love mereka. Si kecil tak berdosa.
"Kenapa? Perutmu tegang? Atau sakit lagi? Di bagian mana?" Leon memegangi perut istrinya dengan cemas.
Rosaline menggeleng.
Matanya berkaca-kaca.
"Tidak... aku hanya... tidak bisa begini! Kita harus menangkapnya, Leon! Kita harus menemukan bajin**n itu! Ia nyaris mencelakai bayi kita juga!" teriak Rosaline emosi. Ia mencengkram lengan baju suaminya.
"Tenanglah... kita pasti akan menangkapnya! Kepa**t itu...." Leon belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras.
Listrik mendadak padam
Leon spontan merangkul isrinya dalam kebingungan.
Aroma gosong!
Sesuatu terbakar?
.
__ADS_1
.
.