
"Tenanglah... tenanglah, sayang..." ucap Leon berulang-ulang sembari mengusap bahkan mencium kening Theo.
Rosaline bengong.
Ia terlalu kaget sampai tak tahu harus memasang ekspresi seperti apa.
"Yakk... Leon... Theo... bangun! Ayo bangun!!! Cepat bangun!!!" Rosaline mengibas pergi selimut mereka.
Perlahan suami dan sahabatnya itu terbangun.
Dan terkejutlah keduanya mendapati posisi mereka yang masih saling peluk bahkan cium.
"Yakk...!!!" teriakan itu menggema dengan lantang dan spontan dari mulut Leon maupun Theo.
Leon buru-buru melepas pelukan dan bibirnya dari kening Theo, sementara Theo buru-buru menjauh hingga hampir terjatuh dari atas tempat tidur.
Keduanya tampak kebingungan, terlebih setelah mendapati Rosaline melotot di samping ranjang.
"Apa yang kalian lakukan???" wanita itu melipat sikunya di atas dada.
"Kami... eh, tunggu! Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Theo pada Leon yang masih di sampingnya.
Ia buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut seperti seorang perawan yang tak sengaja terjebak cinta satu malam.
"Eh... aku... aku tidak melakukan apapun! Hei, aku tidak melakukan apapun padamu!!! Aaaakkk..." Leon memegangi ujung bibirnya yang sobek dam perih karena berteriak.
"Lalu kenapa kau menggerayangiku? Gadis penyihir, suamimu menggerayangiku!" adu Theo heboh.
"Meng... gerayangi? Yakk... aku... aku... aku... tidak... meng... " Leon kesulitan untuk menjelaskan karena Bibirnya terlalu sakit.
Rosaline menatap tajam suaminya. Bayangannya saat mengusap-usap punggung Theo, memanggilnya 'sayang' dan menciumi keningnya terus berputar di benaknya.
Ia bergidik geli.
"Leon... katakan yang sejujurnya! Apa kau..."
"Yakk... Rosaline!!! Aku... aaaakkk... uhuuukkk... uhuuukkk...." Leon meringis menahan sakit seraya memegangi luka sobek d ujung bibirnya sambil batuk-batuk.
Semalam ia baik-baik saja, tapi kenapa begitu bangun bibirnya jadi begitu sakit saat berbicara?
Aiiissshh!
Ia jadi tak bisa menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
Sementara itu, kini pandangan Rosaline beralih pada Theo. Ia mengamati pria itu dari atas sampai bawah.
"Yakk... kenapa kau memandangiku seperti itu? Suamimu yang mendatangi dan menggerayangiku saat tidur!" protes Theo tak terima.
Ia bahkan merasa 'ternodai! mengingat pelukan dan kecupan Leon di keningnya.
Hiiii....
Theo menyeka kening dengan punggung tangannya yang berbalut perban seolah air liur Leon berbisa dan berbahaya.
Leon yang melihatnya tentu saja menjadi kesal.
"Mengge.... aaakk... uhuuuukkk... uhuuukkk...." Leon tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Selain karena batuk, sakit di bibirnya juga tak bisa diajak kompromi.
Rosaline yang tahu segera pergi dan kembali dengan tablet yang biasa digunakan Leon untuk mengecek pekerjaannya.
"Gunakan ini!" disodorkan benda itu pada Leon.
__ADS_1
"Jadi katakan sejujurnya, apa kau... menyembunyikan penyakit parah dariku?" tanya Rosaline dengan mata mendelik serius.
Leon dan Theo sama-sama memasang wajah bingung.
"Pala???" tanya Leon cadel.
Rosaline dan Theo mendadak jadi ingin tertawa mendengar suaranya.
"Yakk... kalian... aaa... " Leon memegangi bibirnya dengan sewot.
"Sudah kubilang, pakai itu untuk menjawab!" Rosaline menahan tawa seraya menunjuk tablet di tangan suaminya.
Leon dengan kesal menulis sesuatu dan menunjukannya.
'APA MAKSUDMU???' tulisnya agak merengut.
"Kau marah padaku?"
'TIDAK!'
"Kau menulis menggunakan huruf besar! Bukankah itu artinya kau sedang membentakku?" Rosaline melotot tak terima.
Theo menatap mereka dengan bingung.
Kenapa ia harus terjebak di sini? pikirnya.
'Aku tidak marah, sayang! 😊 ' tulis Leon kemudian.
Ia bahkan menambahkan emoticon tersenyum sebab tidak mau menyulut pertikaian tak penting sepagi ini.
Rosaline langsung tersenyum melihatnya, hingga membuat Theo bergidik ngeri.
Wah, ternyata si gadis penyihir bertampang galak yang seolah tak tertarik pada hubungan percintaan dan suka mempermainkan lelaki di masa lalu itu bisa sebucin ini sekarang.
Apa Leon seistimewa itu?
Ia memandangi Leon dengan wajah penasaran.
'Penyakit parah apa yang kau maksud, sayang? 😊 ' tulis Leon, masih dengan emoticon tersenyum.
"Kau berjalan sambil tidur, kan? Lalu karena gelap malah tersesat ke kamar ini?" tebak Rosaline penuh percaya diri.
'Tidak! Aku tidak sengaja kemari karena tidak mau menularimu dan baby Love kita ❤ ' - Leon menambahkan emoticon love diujung kalimatnya dan mata Rosaline seketika berbinar cerah.
Theo makin merinding.
"Ah, karena itu! Hehe... tapi kenapa kau memeluk bahkan menciuminya?" Rosaline menunjuk Theo yang sekali lagi merasa telah 'ternodai' oleh ulah Leon.
"Iya! Kenapa kau mengegerayangiku?"
'Kubilang, aku tidak mengegerayangimu!!!' tulis Leon berapi-api.
"Kenapa kau marah? Kau yang mendatangi dan seenaknya menciumku!!! Hiii... jangan-jangan kau melakukan hal lain saat aku tidur?!" Theo spontan melirik bagian bawah tubuhnya.
Leon mendelik melihatnya.
Apa coba maksudnya???
Memangnya dia penyuka sesama jenis???
'Kau menangis!!! Dan ku kira kau istriku!!! Jadi aku menenangkanmu! Kau yang menjebakku!!!' tulis Leon tak terima.
__ADS_1
Ia menyodorkan tablet itu begitu dekat ke muka Theo hingga pria itu menutup matanya seketika karena silau.
"Aku... aku tidak menangis... mataku berkeringat... eh... menjebakmu??? Kau yang naik ke ranjangku saat aku tidur!!!"
"Ranjangmu??? Kau tamu tak diundang!!! Uhuk... uhuuukkk... " teriak Leon tak tahan.
Ia bahkan tak peduli bibirnya nyut-nyutan.
"Tamu tak diundang??? Aku datang karena ingin menolong Rosa!!!"
"Menolong??? Dia istriku!!! Aaaa... " ucapan Leon terhenti sejenak karena memegangi bibirnya yang makin terasa sakit.
"Aku yang akan menjaganya!!!" lanjutnya.
"Sebelum jadi istrimu, dia gadis penyihirku!!! Sahabatku!!!" Theo mencondongkan wajahnya.
"Sahabat macam apa yang meninggalkan sahabatnya kedinginan di tengah salju???" Leon mencondongkan wajahnya juga hingga kening mereka nyaris berbenturan.
Keduanya saling melotot dengan urat wajah yang bertonjolan tegang.
Setelah 10 menit lalu berpelukan, kini emosi mereka kembali mendidih.
Rosaline bengong, ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.
Tak bisa begini, ia harus melakukan sesuatu.
"Yaakkk....!!!" bentaknya tiba-tiba.
Suaranya yang melengking keras berhasil membubarkan bibit pertikaian mereka.
Baik Leon maupun Theo langsung tersentak ke belakang dan kaget setengah mati.
"Sabar! Tenang! Tarik nafas! Hitung sampai tiga!" Rosaline memegang bahu suami dan sahabatnya dengan serius dan agak kesal.
Wanita itu baru tahu jika rasa cemburu bisa menyihir dua pria dewasa menjadi sekekanakan ini.
"Leon!" seru Rosaline dengan suara yang tegas dan berwibawa.
Leon spontan menatap istrinya dengan jantung berdebar tak karuan.
Entah kenapa ia merasa gugup.
"Aku suka melihatmu cemburu. Cemburu tandanya cinta! Aku tahu itu! tapi kau sedang sakit, sayang...!" Rosaline memainkan rambut suaminya dengan santai dan nyaris tanpa ekpresi.
"Lagipula aku dan bedebah ini tidak ada hubungan apa pun!" Rosaline melirik Theo yang langsung melotot tak terima dikatai bedebah.
"Yakk... bedebah? Kau tidak ingat aku pernah menyelamatkanmu hingga babak belur berdarah-darah dari para pria hidung belang di club malam dulu? Belum lagi ini! Lihat kedua tanganku!"
"Aiiiissshhh! Ssstttsss!!!" Rosaline memelototi Theo dengan tajam seraya menaruh telunjuk di atas bibirnya.
Pria itu langsung diam. Ia seolah tersihir dan menurut begitu saja.
"Berisik sekali! Kalau tidak ikhlas jangan dilakukan! Dasar bajin**n! Setidaknya kita impas! Kau lupa pernah tiba-tiba menghilang dan membuatku menggigil kedinginan? Karenamu aku jadi... ah sudah, diamlah! Kau juga masih sakit! Aku akan berbaik hati padamu untuk saat ini!"
'Diamlah!' tulis Leon di atas tablet lalu menunjukannya pada Theo seolah sedang mengejek.
Theo menggeram dan Leon melotot. Mereka mulai lagi.
.
.
__ADS_1
.