
30 menit berlalu, dan perburuan dahsyat yang hadir tanpa rencana itu harus diakhiri sebab keduanya telah merasa puas dan lelah.
Leon mengecup keringat di dada dan leher istrinya, lalu membelai lembut keningnya di atas ranjang yang tak lagi bergoyang namun sangat berantakan.
Rosaline memulihkan tenaganya, ia menormalkan nafas dan detak jantungnya yang lejar dipermainkan Leon sekian menit yang lalu.
Riasannya pasti telah musnah.
Wanita itu tergelak melihat lipstik merah yang menghiasi bibirnya kini berpindah ke wajah dan sekujur tubuh suaminya.
"Kenapa kau tertawa?" Leon menaruh dagunya di atas bahu istrinya.
"Jika kita sering mencuri waktu saat akan pergi seperti ini, ku rasa lipstik dan semua alat makeupku akan lebih cepat habis."
Leon tertawa mendengar itu.
"Aku akan membelikanmu lipstik, bedak dan apapun itu. Jangan khawatir!" bisiknya.
"Aish, tuan miliyader! Gunakan saja uangmu untuk investasi masa depan keluarga kecil kita! Aku bisa mengurus kebutuhanku sendiri!"
"Yakk... aku bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanmu, membahagiakanmu dan calon anak kita! Aku sudah menanam banyak investasi, dan kau akan terkejut jika melihat jumlah saldo dalam tabunganku!"
"Sungguh? Wah... aku masih belum percaya sudah menikahi pria kaya raya!" Rosaline memainkan jemarinya di atas dada Leon.
"Hmm... kau mau ku belikan apa, nyonya?"
"Mmm... bagaimana kalau sebuah pulau?"
"Ehm... pulau?" Leon tampak sedikit terkejut.
"Lihat, wajahmu langsung berubah! Kau sadar rupanya jika akan bangkrut!" Rosaline tertawa.
"Bukannya begitu! Jangankan sebuah pulau, aku bisa..."
"Iya... aku tahu! Aku hanya bercanda! Kau bisa membeli apapun. Dan bahkan kau sudah memberi banyak untukku." Rosaline menangkup gemas pipi suaminya dan menciumnya.
"Sekarang giliranku, kau mau apa? Aku ingin membelikanmu sesuatu. Aku merasa belum pernah memberikan hadiah apapun selama ini."
"Siapa bilang? Kau sudah memberiku hadiah paling indah di muka bumi!" Leon menaruh tangannya ke atas perut Rosaline.
Rosaline mendadak tersipu malu.
"Kau yang memberikanku hadiah istimewa ini!" ia mengecup kening dan perut Rosaline dengan penuh cinta.
Mereks bertukar senyum haru. Tak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan mereka saat ini.
'Terimakasih' dan 'Aku cinta padamu' akan terdengar sangat biasa, bahkan terasa tak cukup untuk menunjukan perasaan mereka.
Keduanya hanya saling bersitatap, lalu perlahan Leon mendekatkan wajahnya kembali dan Rosaline menyambutnya dengan penuh suka cita.
Sedetik kemudian mulut mereka telah saling memagut.
.
.
__ADS_1
.
Theo berlari menyambut Rosaline dan Leon yang akhirnya tiba.
"Terimakasih sudah datang! Pameran fotoku akan diadakan sebentar lagi dan pesta ini ku buat khusus untuk menunjukan foto-foto yang nanti akan kupajang di sana! Aku hanya mengundang orang-orang terpilih dan salah satunya kalian!" bisik Theo manis.
Ia mengajak teman istimewanya itu ke halaman belakang tempat pesta diadakan.
Di sana sudah ada banyak tamu yang mana sebagian besar adalah kru pemotretan yang Rosaline dan Leon kenal, seperti Linda dan si penata rias yang sempat membuat Rosaline cemburu.
"Kalian terlambat 1 jam! Aku sudah takut kalian tidak jadi datang!" Theo memandu Rosaline dan Leon untuk berkeliling menyusuri deretan pigura besar tempatnya memamerkan belasan karya.
Rosaline berhenti dan menatap salah satu foto yang dipamerkan Theo.
Sesosok gadis berambut panjang yang tampak dari belakang.
"Bukankah ini aku?" tanyanya cukup terkejut.
Leon segera mengamati foto itu dengan seksama. Dan benar, itu foto istrinya saat masih sekolah.
"Kau akan memamerkan dan menjualnya tanpa izinku?" Rosaline terlihat terganggu.
"Bukankah kau yang memaksaku dulu? Kau lupa, Gadis Penyihir?"
Rosaline mencoba mengingatnya tapi ia lupa dan Leon mulai merasa cemburu.
"Sudah belasan tahun, wajar jika istriku lupa!" Leon memberi penekanan pada kata 'istri', seolah ingin mengingatkan Theo jika 'gadis penyihirnya' adalah milik orang lain.
"Tentu saja! Hanya aku yang mengingatnya! Bukankah bagimu janji adalah tisu bekas yang harus dibuang setelah digunakan?"
Ia mengait lengan Rosaline rapat-rapat hingga istrinya agak terhenyak.
"Hei, gadis penyihir! Kau sungguh tak ingat? Saat itu di gedung kosong belakang sekolah, saat kita sedang... hmm.... " Theo tak nyaman membahas perihal skandal kepala sekolah itu.
Beruntung Leon sudah mendengar cerita tentang masa lalu mereka dari Rosaline, atau ia akan salah paham saat Theo mengatakan 'Hmm....'
"Kau memergokiku memotretmu dari belakang dan kau bilang bahwa jika aku berhasil menjadi fotografer dan membuat pameran foto, maka aku harus memajang fotomu. Lantas jika fotomu laku, aku harus memberikan uangnya padamu! Bagaimana, sudah ingat? Ngomong-ngomong kau masih ingin mendapat uang hasil penjualannya? Bukankah uangmu sudah banyak, nona Rosa?!" sindir Theo dengan tawanya yang manis dan renyah.
Ia jelas tahu Rosaline yang dikenalnya saat sekolah telah menjelma menjadi pengelola sekaligus pewaris motel yang cukup terkenal di kotanya sekarang.
"Kau memata-mataiku?"
"Memata-matai? Hahaha... ayolah, aku hanya menulis nama motelmu di internet dan BOOOMMM!!! Wajah cantikmu muncul di mana-mana!" puji Theo terang-terangan.
Wajah Leon memerah, ia merasa kepanasan. Entah karena demamnya tak jua reda atau rasa cemburu yang tiba-tiba menggelagak membabi buta.
Ia tak suka istrinya digombali pria lain.
Ia tak tahu bahwa bagi Theo pujian bukan berarti rayuan, sebab jika pujian pria ke wanita adalah rayuan, maka dunia akan dipenuhi perselingkuhan.
"Kau laparkan? Ayo kita makan!" Leon menyela. Ia menggandeng Rosaline pergi.
Ia tak mau rasa cemburunya semakin menjadi, meski sikap Rosaline begitu dingin dan biasa saja pada Theo.
Apapun yang dikatakan pria itu, seolah tak menarik perhatiannya.
__ADS_1
Theo mengikuti mereka.
Leon mencari tempat dan menarik kursi untuk istrinya.
"Kau sedang hamil, tidak boleh berdiri lama-lama! Baby Love kita nanti akan protes!" Leon sedikit mengeraskan suaranya agar Theo mendengarnya.
Ia risih pada keramahan dan gaya sok manis pria itu serta segala topiknya tentang masa lalu.
"Ambilah makanan yang banyak! Bukankah ibu hamil harus banyak makan? Ah, kau terlihat makin cantik saat hamil! Ternyata benar kata orang, kehamilan membuat wanita terlihat lebih bercahaya." Theo kembali memuji Rosaline.
Leon langsung melotot dan terang-terangan menunjukan perasaan tak sukanya.
Benar-benar cari mati! Pikirnya.
"Baiklah! Aku pergi menyapa yang lain dulu ya? Semoga kalian menikmati pestanya!"
"Kau cemburu lagi?" goda Rosaline pada suaminya setelah Theo pergi.
"Apa dia memang begitu? Seenaknya merayu istri orang seperti itu?" Leon duduk di samping Rosaline sambil mengomel.
Rosaline tersenyum lalu memegang tangan suaminya.
"Dia memang begitu! Dulu di sekolah, dia biasanya mengerjai guru-guru wanita dengan mulut manisnya. Jangan dipikirkan! Aku hanya mencintaimu, tuan Leon!" Rosaline menyeringai licik dan mengecup tangan suaminya.
Ia mencoba mengingatkan Leon pada kegilaan mereka di atas ranjang satu jam lalu.
Leon tergelak.
"Tentu saja, kau hanya boleh mencintaiku! Kalau tidak, aku akan menculikmu!"
"Wah, jadi sekarang tuan Leon sudah jago urusan culik-menculik, hah?"
"Aku hanya tertarik untuk menculik satu wanita saja, mungkin kau mengenal siapa wanita itu!" bisik Leon.
Rosaline tergelak mendengar itu, setelah menikah ia jadi tahu kalau suaminya ternyata bisa melucu.
Leon yang tegas, berwibawa dan selalu mengintimidasi kini bisa melucu, hah?
Betapa cinta sanggup mengobrak-ngabrik sifat seseorang.
"Ya, aku mengenalnya dan wanita itu bilang bayinya lapar!" Rosaline berbisik balik.
Leon tersenyum gemas.
"Baiklah, aku akan mengambil makanan yang banyak untuk kalian! Kalau perlu sampai tamu lain tidak kebagian!"
Dan keduanya tergelak bersama, begitu mesra dan bahagia.
Diam-diam Theo memperhatikan mereka disela obrolannya dengan para tamu.
.
.
.
__ADS_1