Dandelion Motel

Dandelion Motel
Teror Lagi


__ADS_3

Theo merasakan jantungnya berdebar. Ia memandangi Rosaline dengan terpana.


"Ada orang!" seru Rosaline membuyarkan lamunannya.


Keduanya segera bersembunyi dan mengintip ke lantai bawah di mana 2 sosok manusia itu menghilang di ujung lorong.


Mereka bergegas menuruni tangga dan membuntuti diam-diam.


Rosaline dan Theo sampai di ujung lorong. Mereka mengintip ke sebuah bekas ruang kelas.


Ada siluet bayangan dan suara aneh menggema di dalam.


Theo dan Rosaline sama-sama menatap penasaran.


Dan alangkah kagetnya mereka menyaksikan sang kepala sekolah yang tadi berbicara soal moral hingga etika tengah bersama seorang siswa dalam kondisi telanjang bulat.


Iya, seorang siswa!


Dan Theo mengenalnya!


Namanya Adam, siswa kelas 3B yang terkenal pintar dan pendiam.


"Gilaaaa!!!" Theo membekap mulutnya sendiri yang nyaris berteriak saking kagetnya.


Rosaline langsung memelototinya.


"Sssstttsss!!!"


"Dia... dia... itu si Adam! Dia anak kelas 3! Dia pintar dan sering menjadi perwakilan perlombaan antar sekolah! Waaaah... gila! Ini gilaaaa!!!!" Theo heboh sendiri.


"Aish, dasar bajing*n! Kubilang diam!" Rosaline menjewer telinga Theo dengan geram.


"Aaaa...aaaa... iya iya! Aduh!" Theo meringis sambil mengusap-usap telinganya yang memerah.


Di dalam, kepala sekolah mereka terlihat berbaring di lantai dan menyuruh Adam untuk mencambukinya dengan sabuk.


Pria itu mengaduh kesenangan setiap kali tubuhnya dipecut, sementara Adam tampak gemetar, namun ia menurut dengan pasrah.


Tak lama, posisi berganti. Kini giliran Adam yang berbaring di lantai sama telanjang bulatnya.


Sang kepala sekolah lantas mencambukinya dengan ekspresi penuh kenikmatan, tak peduli jika pemuda itu memekik kesakitan.


"Tidakkah kita harus menyelamatkannya?" tanya Theo.


"Menyelamatkannya? Kenapa?" Rosaline berkedip lugu.


"Dia disiksa!"


"Siapa bilang? Kau polos sekali!"


"Hah?"


"Aish, jangan banyak bicara! Sini, kemarikan kameramu!" Rosaline mengambil paksa kamera dari tangan Theo.


"Tunggu! Kau mau apa?"


"Membuat gencatan senjata!" jawab Rosaline licik.


"Hah?"


Rosaline membidik 2 tubuh bug*l di hadapannya dan menjeratnya dalam mata kamera.


BLARRR!


Sial!!!


Theo belum mematikan lampu blitznya. Sang kepala sekolah dan Adam menoleh seketika.


'Permainan' mereka terhenti.


"Kau gila! Kau gila! kau gila!!!" teriak Theo panik. Ia buru-buru mengambil kameranya dari tangan Rosaline.


"Ssstttsss.... diamlah! Diamlah, bajing*n!!!"


Seumur-umur berbuat onar, baru kali ini Theo merasa panik.


"Siapa itu?" suara sang kepala sekolah menggema dari dalam.


Rosaline segera menarik tangan Theo dan mengajaknya berlari menembus derasnya hujan.

__ADS_1


.


.


.


"Kepala sekolah bajing*n itu buru-buru memakai celananya dan berlari mengejar kami. Kau bisa bayangkan betapa gila dan serunya itu!" cerita Rosaline bangga.


"Lalu, apa kalian tertangkap? Bagaimana dengan hutang ciuman itu? Kenapa bisa kau berhutang ciuman padanya? Apa yang terjadi?" tanya Leon tak sabar pada istrinya yang tersenyum santai dan menguap lebar.


"Sabar! Sabar! Tarik nafas, keluarkan! Hitung sampai tiga! Aku mengantuk. Besok saja kita lanjutkan lagi, ya!"


"Yak.... kenapa kau menggantung ceritanya di sana? Seharusnya kau jadi penulis! Kau benar-benar tahu saat yang tepat untuk membuat penasaran, ya?"


Rosaline tergelak mendengar itu.


"Besok! Besok akan ku lanjutkan ceritanya, suamiku sayang! Sejauh ini apa kau cemburu?" tatapnya menggoda.


"Hmm... sedikit!" Leon menjawab sok cool.


"Hanya sedikit?" Rosaline melotot sewot.


Leon tersenyum. Ia bangun dan memeluknya.


"Baiklah, aku saaaaangat cemburu! Tapi apa yang bisa ku lakukan? Kita belum bertemu saat itu! Setidaknya sekarang dan selamanya kau milikku! Hanya milikku! Kau mencintaiku, kan?" diciumnya pipi Rosaline dengan gemas.


"Tentu saja aku mencintaimu! Kenapa kau bertanya hal yang sudah jelas?"


"Hehe... iya! Aku hanya bercanda! Kau jadi semakin sensitif semenjak hamil! Hmm... karena kau mengantuk dan baby Love kita harus tidur, jadi aku akan menahan rasa penasaranku dan mendengar lanjutan ceritanya besok!" Leon mengusap dan mengecup perut istrinya.


"Selamat malam, baby Love ayah!" bisiknya lalu berbaring dan memeluk Rosaline di bawah hangatnya selimut.


"Dingin! Peluk aku lebih rapat!"


"Dengan senang hati, nyonya...."


.


.


.


Theo tengah menatap hujan di luar dari jendela kamarnya.


Pandangannya menerawang jauh ke masa lalu. Ia menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya dalam-dalam.


Jemarinya meraih sebotol alkohol, dituangkannya air beracun itu ke dalam gelas sloki dan diminumnya dengan sekali tegukan.


Hangat... setelah ditusuk dingin yang mencengkram, ia akhirnya merasa lebih hangat.


Theo memejamkan matanya, menikmati kepulan asap dan sensasi hangat yang dihadirkan alkohol ke dalam aliran darahnya.


Di belakangnya, tepat di atas meja di dekat perapian, secarik kertas bertinta merah teronggok terabaikan.


Bunyinya :


...Nikmati hidup bahagia kalian...


...sebelum aku merenggutnya!...


.


.


.


Leon terbangun di tengah malam, ia mendengar suara gaduh dari luar.


Diliriknya Rosaline yang masih terlelap. Ia bangun perlahan agar tak membangunkannya.


Dengan mata merah menahan kantuk dan badan yang terasa agak menggigil Leon membuka pintu depan.


Gelap sepi dan menyeramkan!


Tak ada siapapun, oh tapi tunggu!


Leon menemukan sebuah amplop di bawah kakinya dan rasa kantuknya mendadak enyah.


Jantungnya berdegub kencang.

__ADS_1


Ia teringat surat ancaman yang ditemukannya dulu.


Penyelidikan polisi masih terbata-bata tak ada hasil selain fakta bahwa Jason bukanlah pelakunya.


Lantas jika bukan Jason lalu siapa?


Dengan was-was Leon mengambil dan membuka amplop itu.


Benar!


Dugaannya tak meleset!


Sebuah teror kembali datang!


Amplop itu berisi secarik kertas bertinta merah dengan tulisan :


...Nikmati hidup bahagia kalian...


...sebelum aku merenggutnya!...


.


.


.


Leon mendadak panik.


Ia juga naik darah.


Diremasnya kertas itu dengan tatapan geram memburu ke segala arah, tapi tak ada siapapun di sana.


Kini batinnya bertanya-tanya, dari mana bajing*n itu tahu ia dan Rosaline berada di sini?


Di tempat terpencil ini???


Perasaannya sungguh tak enak. Ia menutup pintu dengan cepat dan buru-buru kembali naik ke ranjang.


"Ada apa?" tanya Rosaline yang kini ikut terjaga.


"Tidak! Tidak ada apa-apa?" jawab Leon seraya memeluk erat istrinya.


"Kau terlihat pucat."


"Pucat? Mungkin karena aku kedinginan! Ayo tidur lagi!"


"Hmm, peluk aku lebih erat! Aku juga kedinginan!"


"Sini... sini... biar ku hangatkan ibu hamil satu ini!" Leon menggosok-gosok punggung dan lengan istrinya.


"Bagaimana, sudah lebih hangat?"


"Hmm..." Rosaline memejamkan matanya dengan tersenyum.


Leon ikut memejamkan mata seraya membelai kepala istrinya.


Siapapun itu, jika berani mengganggu keluarganya, Leon tak akan tinggal diam.


Ia akan melindungi Rosaline dan calon bayi mereka, tak peduli apapun, ia bahkan siap mengorbankan nyawanya.


YA, NYAWANYA!!!


.


.


.


Jadi bagaimana kesimpulanmu sejauh ini setelah membaca bab 83?


Sudah kebayang siapa pelaku terornya atau masih belum berani menebak karena perlu menimbang ini dan itu?


Cekaka...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2