
2 jam kemudian.
"Kami akan memanggil anda lagi nanti setelah kondisi anda lebih baik untuk dimintai keterangan secara lebih rinci di kantor polisi!" kata seorang detektif pada Theo di salah satu ruang inap rumah sakit.
Pria itu mendapatkan banyak jahitan di kedua tangannya, belum lagi luka lebam di sekujur tubuh.
"Baik, pak!" jawab Theo kooperatif sambil meringis menahan sakit.
Seorang polisi lain datang, ia baru meminta keterangan dari kamar sebelah, tempat Leon dan Rosaline dirawat bersama.
Selepas kedua polisi itu pergi, Theo menengok kamar tersebut.
Rosaline tampaknya tak bisa tidur, ia bangun dan duduk menatap suaminya yang terbaring di ranjang lain di sampingnya.
Dibelainya wajah Leon yang sedang terlelap dalam pengaruh obat.
Semua lebam dan lukanya telah diobati. Beruntung ia tak perlu diinfus.
Kata dokter, ia hanya perlu menurunkan demam dan memulihkan tenaga. Besok jika sudah merasa lebih baik, ia diizinkan pulang.
"Jangan cemas! Suamimu baik-baik saja, Rosa! Kau juga harus istirahat! Tubuhmu pasti lelah sekali. Kasian bayi kalian." Theo masuk ke dalam kamar perawatan mereka dengan tertatih.
Rosaline seketika mendongak.
Meski masih agak pusing dan sempoyongan, ia berdiri dan menghampiri Theo dengan tatapan tajam.
"Jangan berlagak sok baik! Ini ulahmu, kan?!"
"Ulahku? Apa maksudmu?" Theo kebingungan.
Rosaline menggeret Theo keluar.
Mereka berdiri berhadapan di lorong tangga darurat.
"Jangan berlagak bodoh apalagi sok pahlawan! Kau yang merencanakan semuanya, kan? Kau mengundang kami dan diam-diam menyusupkan bajin**n gila itu!" tuduhnya.
"Apa maksudmu? Kenapa aku melakukan itu?" Theo tergagap tak paham.
"Sebaiknya kau tanya pada dirimu sendiri!" ucap Rosaline geram.
Rosaline memojokkan Theo ke tepi tangga dengan tatapan liar memburu.
Dan tiba-tiba saja, tanpa aba-aba ia menampar keras pria itu hingga membuatnya nyaris jatuh terjungkal dan mengalami cedera fatal andai tak cepat-cepat meraih pegangan tangga.
"Nikmati hidup bahagia kalian sebelum aku merenggutnya!" pekik Rosaline lantang dan penuh amarah.
"Aku menerima surat ancaman dengan jenis kertas dan gaya tulisan yang sama seperti yang kutemukan di salah satu lacimu! Katakan padaku, kenapa kau melakukannya, bajin**n?!" Rosaline mencengkram kerah Theo.
Dengan tatapan seolah ia ingin membunuhnya sekarang juga.
"Rosa... Rosa... aku.... aku.... bisa menjelaskannya..."
"Menjelaskan apa? Aku bahkan menemukan foto-fotoku yang kau ambil diam-diam! Kau menguntitku, hah?"
"Dengarkan aku, Ros...." belum selesai Theo bicara, sesuatu kaburu menghantamnya - sebuah kepalan tangan.
Pria itu jatuh bergulingan sebanyak 3 anak tangga.
"Bajin**n!!!" teriak Leon murka.
Ia sudah bangun dan menyaksikan semuanya.
Tak cuma Theo, Rosaline pun kaget melihat kehadiran suaminya.
"Kepa**t!!!" Leon menghampiri Theo dengan sempoyongan dan menghadiahinya pukulan bertubi-tubi.
Petaka lain memang telah diakhiri, namun petaka yang satu ini baru saja dimulai.
__ADS_1
Bukankah ini malam yang panjang dan penuh darah?
Seolah iblis tak pernah puas.
Seolah badai enggan berlalu.
Lalu kita?
Di mana kita?
Kita di sini, menjadi saksi dari sebuah pertunjukan besar yang akan segera memulai tajinya.
Sanggupkan Rosaline dan Leon..., oh tunggu! Bukan mereka tapi kalian!
Sanggupkah kalian bertahan menyaksikan akhir kisah ini?
.
.
.
Beberapa saat yang lalu.
Leon terjaga dari tidurnya dan tak menemukan Rosaline di sampingnya.
Ia tahu istrinya baik-baik saja. Dokter sudah memeriksanya namun setalah kejadian beberapa jam lalu, rasanya ia tak tenang jika tak melihat wajah Rosaline atau minimal tahu di mana ia berada.
Maka, meski masih merasa lemas dan agak pusing, Leon memaksakan diri turun dari ranjang untuk mencarinya.
Ia keluar dari kamar dan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi pada malam hari.
Lantas di sana, ya, di sana!
Langkahnya tiba-tiba berhenti.
Ia mendengar sesuatu!
Ia sedang berbicara dengan seseorang lebih tepatnya menuduhnya melakukan sesuatu.
Leon yang masih agak sempoyongan bergegas mendekat dengan berpegangan pada dinding rumah sakit.
Ia menguping dengan jeli dan tampak sangat terkejut.
Ya, ia mendengar semuanya!
Tentang segala kecurigaan Rosaline, foto-foto dan sederet surat ancaman yang ditemukannya di villa Theo.
Dengan emosi mendidih, pria itu mendobrak pintu tangga darurat dan langsung melayangkan tinjunya ke arah Theo.
Ia kesetanan mendapati siapa dalang di balik teror kepa**t yang menghantui keluarganya selama ini.
"Bajin**n!!! Aku akan membunuhmu!!! Beraninya kau mengganggu keluargaku!!!"
Leon murka!
Ia tak peduli lagi pada rasa sakit di sekujur tubuhnya. Energinya seolah terisi kembali oleh amarah.
Theo yang malang berusaha menjelaskan dan menahan pukulannya namun tak bisa.
Leon gelap mata!
Merasa ucapannya tak mungkin didengar, maka Theo tak punya pilihan lain selain memukul balik.
Rasanya miris namun juga menggelikan melihat dua orang pria dewasa itu baku hantam bagai siswa SMA yang berebut pacar.
Rosaline mematung menyaksikan perkelahian mereka.
__ADS_1
Sesuatu tengah berkecamuk dalam benaknya.
Bagaimana bisa Theo sahabatnya melakukan hal sekeji ini??!
Kenapa ia melakukannya setelah belasan tahun raib tanpa kabar?
Apa yang sebenarnya terjadi???
Begitu tersadar, dilihatnya Leon dan Theo sudah babak belur penuh darah.
Perkelahian mereka rupanya berlangsung sangat sengit.
Keduanya kini saling dorong dan saling cekik.
Rosaline bergegas turun.
"Theo!!!" teriaknya tegas nan lantang.
Suaranya yang dalam menggema mengisi keheningan.
Perkelahian Leon dan Theo seketika berhenti.
Suara Rosaline memang mengandung magnet tersendiri, membuat mereka yang mendengarnya seakan terhipnotis.
Rosaline memegang lengan Theo dan menariknya menjauh dari suaminya.
Leon yang masih emosi berusaha kembali maju dengan terhuyung, namun Rosaline menahannya.
"Cukup!!!" teriaknya.
Leon tiba-tiba terjatuh.
Ia terengah dan meludahkan darah. Pukulan Theo rupanya berhasil merobek sudut bibirnya.
Theo duduk dan bersandar pada dinding dengan susah payah. Ia mengusap darah segar yang mengucur deras dari salah satu lubang hidungnya.
Tak hanya itu, luka jahitan di kedua telapak tangannya jadi koyak dan kembali menganga.
Pukulan Leon bukan omong kosong meski ia tengah sakit dan sempoyongan.
Rosaline menoleh dan menatap Theo dengan tajam.
Jenis tatapan yang sanggup menguliti siapa pun hidup-hidup.
"Kita belum selesai, bajin**n! Tidurlah dengan nyenyak malam ini karena besok aku akan membunuhmu!" seru Rosaline tajam dan dingin.
Ia memapah suaminya kembali ke ruang perawatan.
"Rosa.... biar aku...." Theo ingin berdiri dan mengejar, namun ia terlalu lelah dan kesakitan.
.
.
.
Setelah sampai di dalam kamar, Rosaline segera memanggil perawat untuk kembali mengobati Leon dan kemudian mereka meninggalkan rumah sakit dengan taksi.
Sesampai di penginapan, Rosaline langsung membantu suaminya berganti baju kemudian pergi mencuci muka dan mengganti bajunya juga.
Leon tak bisa tidur, ia menunggu Rosaline kembali sebab mereka perlu membahas ini.
Ternyata setelah semua kegilaan yang terjadi, masih ada kegilaan lain yang tak terduga.
Apa benar Theo, sahabat Rosaline ternyata dalang di balik semua teror gila itu?
.
__ADS_1
.
.