
Ayah?!?
Ketiga gadis di depannya saling lirik sama-sama terkejut.
"Bagaimana bisa kau kemari?" tanya Leon heran kepada William yang tersenyum ceria.
"Dia bersamaku!" Rosaline berjalan ke arahnya dengan tatapan angkuh.
Ia melirik ketiga gadis yang berada di dekat Leon dengan tatapan siap menerkam.
"Anak kedua kita merindukanmu!" kata Rosaline lantang seraya meletakan tangan Leon ke perutnya.
Leon langsung salah tingkah. Ia tahu Rosaline sedang terbakar api cemburu dan daripada memicu perang dunia ke-3 lebih baik Leon segera undur diri.
Ia menggendong William dan menggandeng Rosaline pergi seraya mengucapkan permisi.
.
.
.
"Bukankah sudah ku bilang untuk tinggal di rumah saja? Kau baru sembuh dan dokter melarangmu kelelahan!" ucap Leon setelah sampai di tempat yang cukup sepi.
"Mulai sekarang selain pergi ke kantor kau harus menutupi wajahmu dengan topi! Wajahmu yang tampan itu hanya boleh dilihat olehku!" Rosaline mengomel balik.
"Pakai topi bagaimana maksudmu? Ini kan acara resmi! Jangan bilang kau menyetir sendiri ke sini!" kata Leon mulai geram.
"Tidak! Tadi Dante yang mengantarku." ucap Rosaline santai.
"Syukurlah! Awas saja kalau kau berkendara sendiri!"
"Aku bosan di rumah!" ucap Rosaline dengan nada manja.
"Sebentar lagi aku pulang! Kau seharusnya lebih bersabar!"
"Salah siapa tidak mengangkat teleponku? Kau bilang akan menelepon sebelum dan sesudah acara! Kau yang membuatku repot-repot datang kemari, tuan Leon!" Rosaline berteriak bar-bar.
Leon kalah telak, sementara William cekikikan.
"Jangan tertawa atau paman tidak akan memberikanmu eskrim!" Leon mengancam William dan bocah itu langsung menutup mulutnya dengan kedipan sok polos yang dipelajarinya dari Rosaline.
Sebelum pulang mereka bertiga mampir ke toko cake dan eskrim, namun tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membuat mereka memutuskan untuk menunggu sampai hujan berhenti sambil menyantap cake dan eskrim yang mereka pesan.
.
.
.
William turun dari mobil sambil berlari dan menunggu Rosaline membukakan pintu dengan tak sabar.
Setelah pintunya terbuka bocah itu langsung bergegas ke kamar mandi yang ada di lantai atas.
"Yakk...Hati-hati! Bagaimana kalau kau terjatuh? Dasar bocah itu!" gerutu Leon lalu mengikutinya.
__ADS_1
Rosaline hanya tergelak melihatnya.
William dan Leon, ia akan merindukan moment keakraban mereka berdua setelah Karina sembuh dan dan membawanya pulang ke rumahnya.
Rosaline mendadak sedih.
Ia menyimpan makan malam yang mereka beli saat perjalanan pulang di dapur kemudian menyusul Leon dan William ke lantai atas.
"Ada apa?" tanya Rosaline kepada Leon yang tengah berdiri mematung di depan salah satu kamar tamu yang terbuka lebar.
Ia berlari mendekat dan menemukan seorang wanita yang hanya berbalut handuk sedang bersama adiknya.
"Wow...Dante!" Leon teperangah.
Ia tersenyum penuh arti pada Dante yang gugup dan salah tingkah.
"Dante! siapa...?" Rosaline terlalu kaget untuk berkata-kata.
.
.
.
Dante menatap kedua kakaknya dengan wajah terintimidasi. Ketiganya duduk di ruang makan menunggu seorang gadis yang diakui Dante sebagai temannya yang kini sedang mengganti pakaian.
"Adik iparku Dante sudah dewasa rupanya!" ucap Leon dengan senyuman penuh arti.
"Aku memang sudah dewasa, kak! Tapi ini tidak seperti yang kalian pikirkan" jawab Dante mencoba menjelaskan tapi terhenti karena bingung harus mulai dari mana.
"Kenapa? Dia juga membutuhkan cinta! Dia sudah dewasa! Betulkan, Dante?" Leon tersenyum.
"Ci...cinta? Aduh...sudah ku bilang ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Dante mulai merengek dan mengacak-ngacak rambutnya.
"Di mana kau mengenalnya? Kenapa dia hanya memakai handuk di dalam kamar itu? Apa yang sudah kalian lakukan? Dan di sini, di rumahku?" tanya Rosaline tak sabaran.
"E...e...itu..." Dante bingung karena diberondong dengan banyak pertanyaan.
"Sabar! Hitung sampai tiga! Dante akan menjelaskannya pelan-pelan. Bukan begitu, Dante?" Leon mengedipkan matanya pada Dante yang masih salah tingkah.
"Tunggu! Wajahmu kenapa?" Rosaline baru menyadari kalau ada luka lebam dan lecet di sana.
Seingatnya tadi sampai Dante mengantarnya ke Universitas tidak ada luka seperti itu.
"E....ini karena..." Dante bingung harus menjawab yang mana dulu karena pertanyaan Rosaline yang sudah sepanjang rel kereta api.
"Ekhem...permisi...kenalkan nama saya Luna." si wanita berhanduk telah kembali, kini ia sudah berpakaian lengkap.
Ia berdiri canggung di ambang pintu ruang makan.
"E...silahkan duduk!" kata Rosaline terbata. Ia tidak enak sendiri karena mungkin gadis itu mendengar ucapannya.
Luna duduk di samping Dante.
Ia tersenyum kikuk namun sopan pada Leon dan rosaline.
__ADS_1
"Hmm..maaf sudah mengagetkan kalian. Jadi sebenarnya...."
Dan Luna pun membantu Dante menyudahi kesalahpahaman mereka dengan menceritakan semuanya, mulai dari ia menumpang mandi dan kebersamaannya bersama Dante di dalam kamar.
Dan ya,
Perihal luka lebam di wajah Dante.
Apa kalian siap mendengarnya?
Jadi semuanya dimulai saat Dante selesai mengantar Rosaline dan William ke Universitas itu.
Sebelum kembali ke kampus, Dante menghentikan mobilnya di area parkir sebuah minimarket. Ia hendak membeli minuman dan cemilan juga di sana.
Tapi di dalam minimarket itu 2 orang siswa memaksa si kasir untuk menjual rokok pada mereka padahal mereka masih di bawah umur.
Dante yang sedang mengambil minuman dan beberapa cemilan di pajangan menyaksikan itu lalu tergerak untuk menolong.
Ia menghampiri kasir itu yang ternyata adalah Luna. Entah berapa macam pekerjaan paruh waktu yang gadis itu kerjakan, mulai dari menjadi pelayan di cafetaria lalu sekarang menjadi kasir di sebuah minimarket.
Dante mencoba menegur mereka secara baik-baik, namun kedua siswa berandalan itu tidak terima dan malah menantang Dante untuk berkelahi.
Dante awalnya tidak menanggapi tapi salah seorang dari mereka melayangkan tinju ke arah Dante duluan dan perkelahian pun tidak dapat dielakan.
Akhirnya mereka bertiga berkelahi di dalam minimarket yang sepi.
Kewalahan dengan kemampuan 'gelud' Dante kedua berandalan itupun akhirnya melarikan diri.
Luna mengambil kotak P3K lalu mengobati Dante di kursi yang di sediakan untuk pelanggan di depan minimarket. Karena tidak ada pelanggan akhirnya mereka saling memperkenalkan diri dan mengobrol. Ternyata mereka seumuran jadi mereka bisa saling memanggil dan berbicara dengan bahasa santai.
"Soal kejadian di taman hiburan, aku minta maaf." ucap Luna dengan wajah malu dan juga dipenuhi rasa bersalah.
"Ah itu, sudah lah tidak perlu dibahas lagi. Aku mengerti kau mungkin terkejut." jawab Dante mencoba bersikap santai padahal ia masih malu dan sedikit kesal setiap kali ingat kejadian itu.
"Aku selalu merasa bersalah, harusnya aku mengucapkan terima kasih padamu tapi aku malah menam....." cerocos Luna namun berhenti seketika saat melihat ekspresi Dante yang merasa terganggu karena ia terus membahas masalah itu.
"Ah, maaf. sekali lagi aku minta maaf! Dan juga terima kasih untuk pertolonganmu hari ini." lanjutnya.
"Sama-sama, terima kasih juga sudah mengobatiku!" Dante menjawab singkat dan datar.
Luna mengangguk dengan senyum manisnya.
"Baiklah, aku sudah harus kembali ke kampus." kata Dante lagi seraya bangkit dari kursinya dan mulai melangkah menuju mobilnya.
Namun apa yang dilihatnya membuatnya tersentak.
Sial!
Apa lagi ini?!?
.
.
.
__ADS_1