
Leon dan Rosaline memasuki ruangan di mana sesi wawancara akan dilaksanakan. Mereka di sambut lampu kilatan kamera dari puluhan wartawan yang sudah menunggu mereka.
Rosaline tak percaya bahwa ia benar-benar menikahi pria yang sangat populer bahkan kepopulerannya setara dengan aktor papan atas tentu saja di dunia perbisnisan.
Setelah berbagai artikel yang banyak membahas tentang seberapa sering pria ini dirumorkan berkencan dengan wanita yang berbeda-beda dan kebanyakan dari mereka adalah pesohor ternama, semua orang tampak penasaran dengan cerita di balik pencapaiannya yang luar biasa di usianya yan terbilang masih muda.
Ditambah lagi desas-desus bahwa Leon baru melangsungkan pernikahan membuat semua orang lebih penasaran sosok wanita seperti apa yang membuat seorang playboy cap kapak seperti Leon akhirnya melabuhkan hatinya.
"Apa kau baik-baik saja?" bisik Leon pada Rosaline yang nampak sedikit gugup melihat banyaknya wartawan di depannya.
"Hmm" wanita itu mengangguk pelan.
"Beritahu aku jika kau mulai merasa pusing atau tidak enak badan!" kata Leon.
"Iya."
Leon mendesah, ia masih cemas dan was-was sebenarnya tapi sudahlah, toh istrinya bilang kalau ia baik-baik saja.
.
.
.
Hingga sesi ke-3 acara berjalan lancar tanpa hambatan. Semua pertanyaan berhasil dijawab Leon dengan gaya khasnya, santai, elegan dan tajam tanpa basa-basi.
Kehadiran Rosaline yang tengah duduk di sampingnya pun semakin menyemarakan suasana. Leon dengan terang-terangan memperkenalkannya sebagai istrinya yang secara tidak langsung membagikan kabar pernikahannya kepada seluruh awak media.
Tak berhenti di sana, ia juga membagi kabar kehamilan Rosaline saat salah seorang wartawan bertanya kapan ia ingin memiliki momongan.
Di sampingnya, Rosaline tersenyum melihat Leon memamerkan statusnya sebagai suami.
Bayangkan berapa banyak wanita yang akan patah hati?
"Baiklah, silahkan 1 pertanyaan terakhir sebelum mengakhiri sesi tanya jawab ini!" host mempersilahkan.
Seorang wartawan pria dengan wajah yang tampak familiar bagi Rosaline berdiri di antara para wartawan lainnya.
Jantung Rosaline seakan menceplos saat melihatnya.
Ia kenal pria itu.
SI WARTAWAN BAJI***N!!!
Wartawan yang dulu sangat terobsesi pada insiden yang menimpa keluarganya.
Dengan artikel-artikelnya ia mengekspos bahwa ayah dan ibu Rosaline adalah tangan kanan si pemimpin aliran sesat Ferdinan.
Ayahnya mungkin iya,
Tapi ibunya?
Sumpah demi apapun ibunya tidak terlibat sedikitpun dengan aliran itu.
kenapa ia ada di sini?
Baiklah! Mungkin karena ia juga seorang wartawan.
Tapi apa ia tengah merencanakan sesuatu?
Rosaline menatap tajam, terang-terangan menunjukan kebencian.
"Selamat siang semuanya! Selamat siang nona Rosaline!" baji***n tengik itu berbasa-basi. Rosaline menanggapinya dengan dingin.
__ADS_1
Tidak!
Kenapa pria itu justru menyapanya? Bukankah ini acara Leon?
Leon yang duduk di sampingnya tampak bingung dan agak panik karena Rosaline menunjukan wajah ketidakramahannya di depan wartawan, ia berusaha menebak siapa sebenarnya pria itu.
"Baiklah tuan Leon! Saya sebagai seorang wartawan dan juga salah satu penggemarmu yang selalu mengikuti kisahmu, izinkan saya bertanya pada sosok yang membuat semua orang penasaran yakni istrimu. Mendengar nama dan kota kelahiran yang sama aku jadi teringat satu kisah suram dan memilukan yang menimpa satu keluarga dengan sederet pembunuhan dan penipuan berkedok agama yang dilakukan oleh pasangan suami-istri sekitar 9 tahun lalu yang berakhir dengan kematian si suami di tangan istrinya dan si istri yang mendekam di balik jeruji penjara. Tidak, tidak! Aku dengar si istri belum lama ini sudah dibebaskan. Apakah itu benar, nona Rosaline? Apa ibumu benar-benar sudah bebas dari tahanan?"
Rosaline melotot!
Apa-apaan ini?
Kenapa membawa-bawa ibunya dalam pertanyaan?
"Kesimpulan ku mengatakan kalau anda memang 'Rosaline' anak dari wanita yang aku maksud. Apakah aku salah, nona?"
Sia**n!
Bagaimana caranya menghentikan pria jaha**m ini?
Wajah semua orang terutama Leon seketika berubah.
Rosaline tidak menyangka akan diserang selicik ini di acara penghargaan suaminya sendiri.
Ia menoleh ke arah Leon dengan ekspresi bingung dan tak percaya.
Matanya berkaca-kaca.
"Rosaline...." seru Leon. Ia bingung harus mengatakan apa dan bagaimana.
Rosaline mulai menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Rosaline...." Leon berlutut dan langsung memeluknya. Sementara si wartawan bang**t digiring keluar atas perintah Bobby yang marah-marah kepada pihak pengatur acara karena telah meloloskan baji***n sepertinya.
Wanita itu mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya yang mendadak tidak nyaman.
Leon yang mengejarnya bergegas membantunya berdiri dan membawanya menjauh dari tempat acara yang sudah tak terkendali.
"Leon...aku..." bibirnya gemetar.
Situasi begitu kacau, para wartawan gaduh karena digiring keluar dengan paksa.
Leon membawa Rosaline ke sebuah ruangan yang sepi lalu segera mendudukannya.
"Rosaline, apa kau terluka? Katakan padaku mana yang sakit? Perutmu baik-baik saja? Katakan Rosaline! Katakan...!" Leon berlutut kebingungan bercampur panik melihat Rosaline meringis memegangi perutnya.
Rosaline tidak bisa menjawab, perutnya sangat tidak nyaman. Kepalanya mendadak pusing, dan dadanya sesak.
"Rosaline, aku mohon jawab aku! Apa perutmu baik-baik saja?" Leon menggenggam tangan istrinya yang gemetar dan basah oleh keringat dingin.
"Acaramu berantakan gara-gara aku!" ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Jangan kau pikirkan! Itu bukan hal yang penting, sayang! Yang lebih aku cemaskan adalah kau." Leon membelai pipi Rosaline begitu khawatir.
"Perutmu! Aku lihat tadi kau terjatuh, apa terasa sakit?" tangan Leon beralih memegang perut istrinya.
Rosaline menggeleng.
"Sudah tidak apa-apa." jawabnya.
Tiba-tiba pintu terbuka keras dan Bobby berlari masuk dan ikut bersimpuh di samping Leon.
"Rosaline apa kau baik-baik saja?" tanya Bobby dengan wajah sama khawatir.
__ADS_1
Sayangnya pertanyaan Bobby justru memancing kemarahan Leon, ia berdiri dan mengomelinya dengan penuh amarah.
Setelah Bobby memarahi para staf pengatur acara, kini giliran dia yang gelagapan.
Rosaline mendongak ke arah mereka berdua, stresnya bertambah berkali lipat.
.
.
.
Di salah satu ruangan di dalam rumah sakit Leon menemani istrinya.
Perut Rosaline kram lagi, tubuhnya lemas, nafasnya terasa sesak. Masalah yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya stres dan itu berbahaya untuk kehamilannya, ditambah lagi ia mengalami anemia.
Dokter memberinya infus termasuk suntikan penenang, ia akan tidur selama beberapa jam ke depan.
Leon mengenggam tangan istrinya. Ia tidak berani meninggalkannya barang sedetik pun.
Rasanya sangat aneh!
Seolah hari ini mimpi atau kemarin lah yang ilusi.
Bagaimana bisa setelah kebahagiaan sebesar itu, kini mereka harus menghadapi badai segila ini?
Leon membelai perut Rosaline dengan mata sembab, meski dokter bilang kondisi istrinya akan membaik, namun keresahan tetap menjelaga.
"Ayah mohon kau harus kuat dan bertahan di sana. Bantu ayah menjaga ibumu." bisik Leon dengan suaranya yang parau oleh tangis.
Beberapa jam berlalu dalam keheningan.
Rosaline mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat.
Bibirnya kering dan tenggorokannya terasa pahit, namun kepalanya sudah tidak terasa pusing dan kram di perutnya sudah menghilang.
"Leon...." panggilnya begitu membuka mata.
Leon yang tertidur sambil terduduk di sampingnya seketika terbangun.
"Leon...." panggil Rosaline lemah.
"Iya, ini aku sayang." kembali mengeratkan tangannya ke tangan Rosaline.
"Maafkan aku, Leon..." Rosaline berkaca-kaca.
"Tidak, tidak! Harusnya aku yang minta maaf padamu."
"Leon, acaramu berantakan karena aku. Reputasi perusahaanmu juga mungkin akan menjadi buruk karena masa lalu keluargaku."
"Tidak, sayang! Itu bukan salahmu. Kejadian seperti ini tidak bisa kita duga. Aku bahkan lebih merasa bersalah karena acara itu kau harus melalui semua ini." Leon menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Leon..." Rosaline terisak.
Dan Leon memeluk istrinya, memeluk Rosaline sambil mengusap-usap kepalanya, menenangkannya.
"Jangan menangis....! Jangan menangis! Nanti bayi kita ikut menangis."
.
.
.
__ADS_1