Dandelion Motel

Dandelion Motel
Makhluk Kecil Menggemaskan


__ADS_3

Leon rasanya masih ingin tertawa membayangkan wajah malu istrinya 1 jam lalu. Ia salah tingkah dan bingung sendiri saat kemesraan mereka tertangkap basah.


"Bagaimana bisa wanita dewasa sepertimu bertingkah seperti bocah?" ucap Leon pada Rosaline sesaat setelah selesai mencuci muka.


"Kapan aku bertingkah seperti bocah?" Rosaline berlagak bodoh.


"Ckckck....tadi saat kau panik sendiri karena ketahuan menciumku! Kita akan punya anak dan sudah berciuman di depan orang-orang saat pernikahan. Tapi kau masih salah tingkah tak jelas, aku benar-benar tak paham!"


"Berciuman saat pernikahan itu berbeda! Yakk, bukannya kau juga tadi mati gaya di depan ayah dan ibu?" elak Rosaline.


"Aku hanya kaget!" bohong Leon.


Ia naik ke atas ranjang, menyelimuti tubuhnya dan Rosaline lalu memeluk ibu dari calon anaknya itu.


Diam-diam Leon bisa merasakan perubahan pada tubuh istrinya. Ia lebih berisi, mungkin sudah naik beberapa kilo tanpa ia sadari. Payudaranya pun terlihat lebih penuh.


Leon tidak perlu menyentuhnya untuk tahu, Rosaline sangat sensitif pada bagian itu akhir-akhir ini. Ia tidak masalah Leon merabanya di bagian manapun asal tidak di sana.


Ia bilang payudaranya terasa nyeri bercampur geli saat disentuh, dan Leon cukup peka untuk tidak mengganggunya.


"Sudahlah, ayo tidur!" Leon mengusap-usap bahu Rosaline, meninabobokannya.


Rosaline tersenyum, memejamkan matanya dan membalas pelukan suaminya dengan mesra.


Biarlah yang terjadi hari ini berlalu. Esok pagi, mereka akan melupakannya. Mereka akan menyongsong hari baru. Mereka akan kembali bahagia.


Rosaline hendak terlelap saat Leon tiba-tiba membuka matanya seraya berkata, "Tunggu! Aku lupa sesuatu!"


"Apa?"


Bukannya menjawab, Leon malah langsung terbangun, menunduk lalu mengecup perut Rosaline.


"Selamat tidur, anak ayah..." ucapnya.


"Aiiisshh, dasar ba...."


"Sssstttt!" dokter bilang bayi kita bisa mendengar perkataan kita sejak dalam kandungan!" Leon membekap mulut Rosaline.


"Ayo tidur lagi!" ia melepaskan bekapannya dan kembali berbaring.


"Kerjai aku sekali lagi dan kau akan tahu akibatnya!" Rosaline melotot kesal.


Sayangnya alih-alih takut, suaminya malah tertawa.


"Yakk, Leon! Aku serius! Aku akan menghukummu!"


"Hukum aku seumur hidupmu!" Leon tersenyum.


Ia mengecup keningnya dan memeluk istrinya kembali dengan lebih erat kali ini.


Perlahan keduanya mengarungi samudra mimpi bersama.


.


.


.


Rosaline terbangun tengah malam, perutnya mulas. Ia ingin ke toilet.


"Leon...! Yakk, Leon...! Bangunlah!" ia mengguncang-guncangkan bahu suaminya.


"Aiiiiisssh, pria ini bisa-bisanya ia tertidur nyenyak di ranjang rumah sakit!" Rosaline mendengus kesal.


Ia duduk dan tiba-tiba sebuah ide jahil terlintas di benaknya.


'Penyihir' itu menjulurkan tangannya dan bersiap-siap untuk menyentil dahi suaminya.


Yup! Inilah ajang balas dendam yang selalu ia inginkan.


1...2...3...ia menyentikan jarinya, namun HAPPP!


Leon menangkap tangannya.

__ADS_1


Matanya terbuka dan secarik senyuman merekah di bibirnya yang merah.


"Kau mau apa, nona penyihir?" tanyanya pada Rosaline yang melotot kaget.


"Yakk! Apa kau pura-pura tidur?"


Leon menyeringai licik, ia menarik tangan Rosaline hingga wanita itu sedikit menunduk.


Diusapnya pipi Rosaline yang halus dan disibaknya beberapa helai rambutnya yang terjatuh.


"Ku tanya, kau mau apa?" tanya Leon dengan lembut hingga Rosaline terpana sendiri dan mendadak bingung harus menjawab apa.


Ah, pesona seorang Leon!


Rosaline benar-benar tidak pernah bisa menolaknya.


.


.


.


"Kau di sana?" teriak Rosaline dari dalam toilet.


"Iya." jawab Leon yang berdiri di depan toilet.


"Ada apa? Apa kau butuh bantuan?"


"Hmm...keluarlah! Aku tidak bisa kalau kau ada di dekat sini!"


"Hah? Kenapa memangnya?"


"Aku bilang keluarlah!" teriak Rosaline memaksa tanpa menyebutkan alasannya.


"Kau malu padaku?" Leon tergelak.


Rosaline terdiam, wajahnya bersemu merah. Ia mulas tapi rasanya aneh karena ada Leon di depan pintu.


Leon tersenyum dan mengeleng gemas.


"Aku ingin menurutimu tapi bagaimana jika kau butuh bantuan saat aku keluar? Kau masih lemas, aku takut kau jatuh dari kamar mandi!"


"Yakk, Leon! Aku bilang keluarlah! Aku akan baik-ba...." belum selesai Rosaline bicara, Leon tiba-tiba membuka pintu toilet.


"Yakk...!" teriak Rosaline kaget.


Beruntung mereka menyewa kamar VIP jadi mereka tidak mengganggu pasien lainnya.


"Kenapa kau malu padaku, hah? Aku suamimu?" Leon tersenyum santai.


"Ini! Panggil aku setelah selesai! Aku akan keluar!" ia menyodorkan sebuah ponsel.


.


.


.


Pukul 11 malam, Leon berjalan sendirian menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Ia merapatkan jaketnya dan mengecek ponselnya. Rosaline belum menghubunginya.


Karena bingung mau ke mana, ia iseng belok ke ruangan bayi yang tak jauh dari ruang perawatan Rosaline


Dari balik kaca, ia bisa melihat para malaikat kecil itu sedang tertidur. Hatinya mendadak berdebar tak karuan. Ia tak sabar untuk melihat buah hatinya.


Bagaimana rasanya menggendong dan memandang wajahnya untuk pertama kalinya?


Akan mirip siapa ia?


Rosaline ataukah dirinya?


Tanpa ia sadari ia tersenyum-senyum sendiri. Seorang bayi terbangun dan menangis. Perawat yang berjaga segera menggendong dan memberinya susu formula.


Ah...menggemaskan!

__ADS_1


Ia membayangkan menimang bayinya, menenangkannya di tengah malam.


Ponsel Leon bergetar, Rosaline menghubunginya.


"Kau di mana? Aku sudah selesai. Cepat kemari! Kau merindukanmu." kata Rosaline.


Terdengar suara tangisan bayi.


"Suara apa itu? Kau di mana?"


"Aku sedang ada di depan ruangan bayi dekat ruanganmu. Tunggu, aku akan kembali sekarang!"


.


.


.


Rosaline menatap bayi-bayi menggemaskan yang tengah terlelap dari balik kaca di hadapannya.


Setelah tadi Leon kembali ke ruangannya, Rosaline memaksa Leon untuk kembali ke ruangan bayi bersamanya.


Karena jaraknya dekat dengan ruangan Rosaline jadi Leon terpaksa menurutinya walaupun dengan resiko diomeli dokter jika ketahuan


Tentu saja! Rosaline harusnya istirahat, bukanya berkeliaran apalagi tengah malam seperti ini.


Wanita itu terlihat takjub, hingga tak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh tanpa terduga bersama senyum yang mengembang di bibirnya.


Leon memeluknya dari belakang, keduanya saling berpandangan dengan haru.


"Lihat, sayang! Bukankah mereka sangat menggemaskan?" ucap Rosaline.


"Hmm" Leon mengangguk dengan tersenyum.


Rasanya begitu ajaib, melihat Leon yang katanya tidak suka anak kecil jadi sebahagia ini.


"Bukannya kau tidak suka anak kecil?" Rosaline menggoda suaminya.


Leon tergelak sedikit tersipu, lalu memegang perut Rosaline.


"Bayi ini mengubahku! Aku juga tidak paham kenapa makhluk-makhluk menjengkelkan itu bisa membuatku terharu dan ingin menimang mereka sekarang."


Rosaline tertawa dan ikut memegang perutnya.


"Aku tidak sabar ingin segera merasakannya menendang." ucap Leon sambil mencium pipi Rosaline yang tergelak kegelian.


"Lihat yang diujung sana! Yang memakai selimut biru! Rambutnya lebat sekali. Apa bayi kita rambutnya akan selebat itu?" Rosaline menunjuk salah satu bayi yang sedang mengemut jempolnya sendiri.


"Entahlah. Yang pasti ia harus mewarisi hidung mancungmu, bibir merahmu yang tipis, dan mata indahmu yang sudah menjeratku." Leon mencubit lembut hidung, mencium mata dan menatap ke dalam mata Rosaline hingga wanita itu jadi tersipu malu.


"Sebaliknya! Justru aku ingin ia sangat mirip sepertimu! Leon junior yang persis seperti ayahnya."


Ah...kalimat Rosaline manis sekali, Leon tersenyum mendengarnya.


Di ujung lorong, Leon melihat seorang perawat datang mendekat hendak mengecek kondisi Rosaline.


"Kita harus kembali secepatnya!" serunya panik.


"Kenapa?" Rosaline menatap belum mengerti.


"Perawat datang untuk mengecek kondisimu! Aku bisa dimarahi kalau ketahuan membiarkanmu berjalan-jalan selarut ini."


Leon sadari ia tak mungkin mengajak Rosaline berlari jadi ia berinisiatif untuk langsung menggendongnya dan tanpa aba-aba hingga membuat Rosaline memekik kaget.


"Pegang tiang impusnya!" seru Leon.


Rosaline menuruti dan menikmati gendongan suaminya yang tergopoh membawanya kembali ke kamar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2