
Keesokan harinya Leon mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa mereka sudah menemukan tempat persembunyian Jason.
Leon memutuskan untuk pergi memastikannya terlebih dahulu, dan benar saja Jason memang ada di sana. Kemudian pria itu menelpon Dante dan memintanya datang bersama polisi.
Leon hendak memberi pria itu pelajaran sebelum menyerahkannya ke polisi dan perkelahian sengit di antara mereka berdua pun tidak bisa terelakan.
Leon membuat Jason benar-benar babak belur. Tapi di saat-saat terakhir perkelahian mereka, Jason menembakan beberapa peluru ke arah Leon sebelum dia benar-benar ambruk.
Dante dan polisi yang datang setelahnya menemukan mereka berdua tergeletak tak sadarkan diri. Jason dengan luka lebam karena perkelahiannya dengan Leon, sementara Leon tak sadarkan diri karena beberapa peluru tengah bersarang di tubuhnya.
.
.
.
1 minggu berlalu, Leon yang sedang dirawat di rumah sakit berangsur pulih.
Tapi di tempat lain Rosaline benar-benar gelisah, sudah 1 minggu berlalu setelah pertemuan terakhir mereka. Leon tak pernah datang ke rumah atau ke motelnya.
Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat pesan singkat, bahkan panggilan telepon darinya tak pernah dijawab. Pria itu hanya bilang sedang sibuk dengan bisnis baru yang sedang dirintisnya.
Ya, Leon memang sengaja tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Bahkan dia meminta Dante dan Bobby untuk tutup mulut. Pria itu tak ingin membuat kekasihnya cemas, dan merasa bersalah.
Rosaline benar-benar tidak tenang, otak dan hatinya sedang berperang. Dalam otaknya berpikir kalau Leon sedang sibuk bersenang-senang dengan wanita lain dan sengaja menjauhinya, sementara hatinya berkata lain. Dia masih percaya pada janji pria itu dan tidak mungkin mengkhianatinya.
Bukan Rosaline kalau dia hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Malam ini dia datang ke apartement Leon dan menunggunya hingga larut malam, tapi kekasihnya itu tak kunjung pulang.
Keesokan harinya dia mendatangi kantornya dan Leon memang tidak ada di ruangannya, bahkan anehnya para karyawan di sana tidak ada yang tahu pasti di mana keberadaan pria itu.
Rosaline baru saja keluar dari kantor Leon saat melihat Bobby yang tadinya berjalan menuju kantor malah berbalik arah seolah sedang menghindarinya.
"Tuan Bobby!" teriak wanita itu.
Bobby yang sadar Rosaline sudah terlanjur melihatnya tadi akhirnya membalikan badannya ke arah wanita itu.
"Hallo Miss Rose, apa kabar?" sapa pria itu dengan nada canggung.
"Tak perlu berbasa-basi! Kenapa anda tadi seperti mau menghindari saya?" tanya wanita itu dengan nada tegas.
"Aku menghindarimu? Ti-tidak, kenapa aku harus msenghindarimu? Itu tidak mungkin." jawab pria itu dengan nada kaku dan senyuman yang dibuat-buat.
"Saya tahu anda sedang menyembunyikan sesuatu. Sekarang beritahu saya di mana Tuan Leon?" tanya wanita itu dengan nada seolah sedang menginterograsi.
Bobby yang memang tidak pandai berbohong akhirnya tersudut.
"Ah itu, sebenarnya......"
.
__ADS_1
.
.
Dante sedang berada di rumah sakit menemani Leon.
"Kak Leon, apa sebaiknya kita jujur saja pada kak Rosaline? Jujur aku tidak tega melihatnya terus gelisah memikirkan kakak, dia bahkan tidak fokus dengan pekerjaannya." ucap Dante tiba-tiba.
"Tunggu sebentar lagi sampai aku benar-benar pulih." jawab Leon.
"Sebenarnya yang lebih membuatku menderita, dia jadi lebih sering melampiaskan kemarahannya padaku. Kau tahu betapa menakutkannya dia ketika marah?" ujarnya sambil bergidik.
Leon terkekeh menanggapi curhatan calon adik iparnya itu.
Dante menunjukan layar ponselnya ke arah Leon. "Panggilan dari kak Rosaline." ujarnya sambil bangkit dari kursinya.
"Aku akan menerimanya di luar." tambahnya. Leon hanya meresponnya dengan anggukan.
Tapi saat Dante membuka pintu, Rosaline sudah berada di hadapannya dengan ponsel di tangannya.
Dante dan Leon sama-sama terkejut dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba.
Wanita itu menarik tangan Dante dan membawanya menjauhi ruang itu dengan ekspresi benar-benar marah.
"Kau berani membohongi kakakmu,hah? Kau tahu seberapa aku mencemaskannya dan kau hanya diam?"
"Itu karena kak Leon yang melarangku. Maafkan aku,kak." rengek Dante.
"Maafkan aku, kak." ucapnya sambil memelas.
"Sekarang pulang lah! Aku akan memberimu perhitungan sesampai di rumah." ucap wanita itu sambil berlalu.
.
.
.
Rosaline masuk ke ruangan Leon sambil menghela nafas panjang.
"Jangan marahi Dante, aku yang memintanya untuk merahasiakan ini darimu." ucap Leon.
Rosaline masih belum memberi respon, matanya meneliti keadaan Leon dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Apa kau sungguh ingin mati?" ucap wanita itu dengan suara bergetar menahan tangis.
"Bagaimana kalau kau tak bisa selamat,hah?" air matanya mulai turun membasahi pipinya.
"Aku tidak apa-apa." jawab pria itu.
__ADS_1
"Sudahlah, kau tidak akan benar-benar mengerti bagaimana perasaanku." ujarnya hendak berlalu meninggalkan Leon.
Tapi pria itu bangkit dan mencabut infusnya kemudian menarik tangan Rosaline. "Tetaplah di sini, aku sangat merindukanmu."
"Lihatlah, aku sungguh baik-baik saja. Jangan marah, kau menakutiku." ucap pria itu lagi.
"Apa kau tahu? Sejak bertemu denganmu, setiap hari aku seperti sedang menaiki roller coaster. Kau membuatku tersenyum dan juga menangis secara bersamaan." ujar Rosaline sambil menyeka air matanya yang terus jatuh.
"Kenapa kau membahayakan nyawamu hanya demi aku? Siapa aku, kebaikan apa yang sudah ku lakukan hingga aku begitu berarti bagimu?!" tangisnya benar-benar meledak.
Leon dengan segera merengkuh tubuh kekasihnya itu, mencoba menenangkan tangisannya.
"Itu karena aku benar-benar mencintaimu, Rosaline. Aku hanya ingin melindungimu." jawab pria itu sambil terus memeluknya.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Apa yang harus aku lakukan? Dasar baji***n!"
Leon melepas pelukannya lalu menuntun Rosaline untuk duduk di tepi ranjang. Pria itu meraih pipinya dan menyeka air matanya.
"Aku mohon berhentilah menangis. Semua sudah berakhir, pria baji***n itu sudah ditangkap polisi dan aku baik-baik saja. Bukankah itu yang terpenting?" jelas Leon dan tangis Rosaline pun mulai mereda.
"Aishhh, pria ini benar-benar...." wanita itu memukul dada kekasihnya dengan tangan yang mengepal.
"Ahhh,sakit!" pria itu pura-pura meringis.
"Sakit? Kau bilang sakit? Itu hanya sebuah pukulan kecil. Bagaimana denganku yang sudah tega kau bohongi, hah? Lihat kulit wajahku sampai kering karena terus menangisimu. Aku sampai mengalami dehidrasi karena terus mengeluarkan air mata." dengus Rosaline menandakan emosinya sudah kembali normal.
"Baiklah, baiklah, aku minta maaf." ucap Leon dengan lembut.
"Kenapa kau harus minta maaf? Kau sudah mengorbankan nyawamu demi aku." bisik wanita itu hampir tak terdengar.
"Berhenti menggerutu dan cium aku!" pinta pria itu sambil memejamkan mata dan mengerucutkan bibirnya.
"Aishhh, dalam situasi seperti ini kau masih saja....." kata-katanya mengambang karena tangan Leon sudah meraih pipinya dan mendekatkannya dengan wajahnya.
"Aku sedang sakit, tolong cium aku!" pintanya lagi dengan nada manja.
Rosaline mengerjap-ngerjapkan matanya masih malu untuk memenuhi permintaan kekasihnya itu, tapi akhirnya perlahan bibir mereka semakin mendekat dan menempel.
Wanita itu berniat memberikan Leon kecupan singkat tapi bibir pria itu tiba-tiba mengambil alih ciuman itu.
Bibir mereka saling berpagutan, membuat nafas mereka memburu.
Ciuman yang didominasi rasa rindu setelah 1 minggu tak bertemu membuat perasaan mereka semakin membuncah dan ingin terbayarkan sekarang ini juga.
Perlahan Leon membaringkan Rosaline di tempat tidur sambil terus berpagutan, tangan Leon dengan leluasa mulai meraba tubuh Rosaline dan membuat kekasihnya itu mendesah.
"Aku menginginkanmu, Rosaline." bisik pria itu.
.
__ADS_1
.
.