Dandelion Motel

Dandelion Motel
What's Going On?


__ADS_3

Aroma gosong!


Sesuatu terbakar!


"Tunggu di sini! Aku akan memeriksa keluar!" kata Leon.


Pria yang sebenarnya masih merasakan sakit dan lemas di sekujur tubuhnya itu menggunakan ponselnya sebagai senter.


Ia menyuruh istrinya menunggu di kamar, namun kita tahubsiapa Rosaline, ia jelas tak mau menurut.


Wanita hamil itu sangat mencemaskan suaminya.


"Tidak! Kau belum sembuh benar! Aku ikut!"


Leon ingin menolak tapi ia tahu ini akan jadi perdebatan panjang yang berlarut-larut, maka ia menggandeng istrinya di belakang. Keduanya berjalan menyusuri kegelapan.


Mereka memeriksa setiap ruangan, termasuk kamar tempat Theo dirawat tapi tak ada apapun.


Ledakan itu tampaknya berasal dari luar.


Terdengar suara berisik dari halaman depan. Leon dan Rosaline melihat beberapa orang melintasi penginapan mereka dengan tergesa.


"Biar ku periksa keluar! Kau jangan ikut, di luar sedang hujan!" kata Leon, namun Rosaline lagi-lagi menggeleng.


Ia menarik lengan baju suaminya.


"Tidak! Ke mana pun kau pergi, aku mau ikut! Aku sudah cukup melihatmu berdarah-darah malam ini! Aku tak mau melihatnya lagi!"


Leon mendesah.


Ia merasa senang karena perhatian istrinya, namun ini bukan saatnya untuk bersikap kekanakan dan keras kepala.


"Dengarkan aku! Tidak akan terjadi apapun! Tidak perlu mencemaskan apapun! Tunggu aku di sini, oke!" Leon mengusap pipi Rosaline.


"Kalau begitu, kau harus membawa senjata! Ah, pisau itu! Di mana kau taruh pisau buahnya tadi? Biar ku cari dulu!" Rosaline bergegas kembali ke kamar namun belum juga 3 langkah, ia menabrak sesuatu karena gelap dan terburu-buru.


"Aaaaakkk..." teriaknya kesakitan dan nyaris jatuh.


Beruntung Leon segera memeganginya.


"Kenapa? Kau kenapa? Apa perutmu menabrak sesuatu?" Leon panik setengah mati.


Sungguh, sudah cukup ia senam jantung malam ini.


Kenapa Rosaline tak henti membuatnya cemas?


"Tidak! Bukan perutku. Jari kelingking kakiku mengenai sesuatu. Aaaah.... sakit sekali!" Rosaline meringis kesakitan.


"Kau ini! Sudah ku bilang diam saja! Tunggu aku! Kenapa pakai mencari pisau sialan itu segala? Bagaimana jika Baby Love kita kenapa-napa? Kau tidak bisa menurut sedikit saja, hah? Kenapa kau senang sekali membantah?" Leon melotot marah dan mendudukan istrinya ke kursi di dekat mereka.


"Aish, niatku baik! Kenapa kau malah mengomeliku? Dasar bajin**n!" Rosaline merengut sebal.


Sekali lagi Leon mendesah.


Ia tersadar jika memarahi Rosaline hanya akan memperkeruh suasana.


Pria itu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


Menghitung sampai tiga.


Ia harus tetap tenang dalam situasi seperti ini.


"Sayang..." Leon berlutut dan memegangi tangan istrinya.


"Kumohon menurutlah kali ini. Diamlah di sini dan tunggu aku kembali, ya?" Leon menatapnya dalam-dalam, meminta pengertian.


Bak terhipnotis, Rosaline mengangguk. Ia tak punya pilihan selain menurut, lagipula kelingkingnya masih sakit.


"Pintar! Gadis pintar!" puji Leon sambil membelai rambut istrinya dengan tersenyum.


Ia memperlakukan Rosaline seperti anak kecil.


"Aku akan diam di sini, tapi kau harus berjanji tidak akan terluka!" Rosaline menahan tangan suaminya sejenak.

__ADS_1


"Tidak akan! Aku tidak akan terluka. Aku hanya memeriksa keluar sebentar. Tunggu aku dan jangan melakukan apapun!"


Leon berdiri, ia mengambil payung di dekat pintu dan keluar.


Sementara itu di ruang tamu, Rosaline menunggu dengan cemas sembari memijit-mijit kelingkingnya yang masih nyut-nyutan.


Mendadak ia merasa ucapan suaminya benar. Bagaimana jika perutnya yang menabrak sesuatu?


Membayangkannya membuat Rosaline bergidik ngeri. Ia mengelus perutnya dan berbisik, " Maafkan ibu karena berkali-kali nyaris mencelakaimu..."


15 menit berlalu, namun Leon belum juga kembali.


Rosaline mulai tak sabar.


Kepalanya terus melongok ke arah pintu.


Ah, sialan!


Ia tak tahan lagi!


Wanita itu bangkit dari kursi.


Ia mengambil payung lain di dekat pintu dan berjalan keluar, namun baru juga satu langkah, sesosok tangan muncul mencengkram daun pintu di hadapannya.


Rosaline tersentak dan tercekat seketika.


"Mau ke mana? Bukankah sudah ku bilang diam di dalam? Kenapa kau senang sekali membuatku ce...."


Rosaline langsung memeluk suaminya, masa bodoh dengan omelannya.


"Syukurlah! Syukurlah! Ku kira...." ia mendekap erat pinggang Leon.


Tentu saja pria itu jadi tak tega untuk meneruskan omelannya.


Ia mengajak istrinya masuk.


"Jadi suara apa itu?" tanya Rosaline begitu mereka sampai kamar.


"Petir menyambar gardu listrik di ujung jalan. Sudah ada orang-orang yang akan mengurusnya, tapi sepertinya malam ini kita harus gelap-gelapan."


Mendengarnya Leon jadi terharu. Ia merasa menyesal karena sudah mengomeli istrinya.


Dipeluknya tubuh Rosaline dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku...." bisiknya.


"Kenapa?"


"Aku sudah mengomelimu. Padahal kau melakukannya karena mencemaskanku." Leon menyibak beberapa helai rambut istrinya ke belakang telinga.


Rosaline tersenyum, meski gelap ia masih bisa melihat wajah tampan suaminya.


"Tidak! Aku memang harusnya diam. Aku baru sadar kecerobohanku bisa mencelakai baby Love kita!"


Leon tersenyum. Ia suka Rosaline yang dewasa dan berani mengakui kesalahannya seperti ini.


Menjadi calon ibu tanpa sadar telah mengubahnya.


Leon ingin mengecup keningnya, tapi tiba-tiba tenggorokannya gatal. Ia buru-buru memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya sambil batuk-batuk.


Badannya kembali meriang.


"Aiiissshhh...ada apa dengan malam ini? Jika tahu akan begini, sebaiknya kita tetap di ranjang saja tadi dan tak perlu pergi ke pesta sialan itu!" Rosaline menggerutu.


Ia membelai lembut wajah suaminya.


Badan Leon kembali demam.


"Kau harus istirahat! Sudah cukup kegilaan yang menghampiri kita malam ini!" Rosaline membantu suaminya berbaring.


"Tunggu di sini! Aku akan mengompres dahimu!"


"Tidak usah! Bukankah dokter sudah mengobatiku tadi? Aku hanya perlu istirahat.... uhuuukkk....uhuuukkk..."

__ADS_1


"Aish, aku benci melihatmu sakit seperti ini! Berjanjilah, kau akan cepat sembuh! Kau tidak boleh mati mendahuluiku!"


Leon tergelak gemas mendengar ucapan polos istrinya.


"Iya, nyonya Rosaline! Aku akan cepat sembuh. Jangan cemaskan apapun! Aku akan hidup lama. Aku tidak akan mati muda seperti ibuku. Aku akan membantumu merawat anak-anak kita! Sekarang tidurlah! Ayo, tidur!" Leon menenangkan istrinya.


Rosaline tersenyum dan berbaring dipelukannya.


.


.


.


Pukul 10 pagi, Rosaline terbangun dan mendapati Leon sudah tak ada di sampingnya.


Apa dia bangun duluan?


Tapi, bukankah sakitnya belum sembuh?


Rosaline mencari suaminya ke kamar mandi, dapur, ruang tamu dan halaman depan, namun tak ada.


Di mana Leon?


"Sayang... sayang..." Rosaline terus memanggil suaminya tapi tak ada jawaban.


Perasaannya jadi tak tenang.


Tak mungkin suaminya pergi keluar saat sakit begini.


Apa kepala sekolah kepa**t itu menculiknya saat tidur?


Ah, yang benar saja!


Tak mungkin!


Kenapa juga menculik Leon? Harusnya ia menculiknya.


Rosaline geleng-geleng sendiri memikirkan isi otaknya yang terbang bebas entah ke mana.


Samar-samar ia mendengar suara tangisan dari kamar Theo.


Rosaline yang mulai penasaran pun bergegas ke sana.


Ia membuka pintu dan mendekati ranjang. Theo sepertinya sedang menangis di bawah selimut.


Kebiasaannya tidak berubah. Ia selalu mengigau dan menangis saat sakit.


Rosaline ingat, dulu saat demam parah akibat kehujanan karena dikejar kepala sekolah bajin**n itu, ia memergoki Theo sedang mengigau sambil menangis.


Pria itu tak memalsukan sakitnya.


Diam-diam Rosaline merasa bersalah.


Jika ucapannya benar, maka mereka harusnya bersekutu demi melawan si bajin**n peneror itu, bukannya saling mencurigai bahkan baku hantam seperti semalam.


Rosaline membuka selimut Theo perlahan, ia berbaik hati mengganti air kompresnya. Namun siapa sangka, pemandangan di bawah selimut begitu mengejutkannya.


Suaminya!


Ya, si Leon yang sedari tadi dicarinya ternyata berbaring di sana. Ia tengah memeluk Theo dengan mata terpejam.


Dua manusia yang sebelumnya baku hantam itu kini sedang saling memeluk.


Theo tersedu-sedu dalam pelukan Leon dan Leon mengusap-usap kepalanya seperti sedang menenangkanya.


Tunggu!


Apa-apaan ini???


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2