
Leon dan Rosaline berganti pakaian. Mereka bergeser tempat dan background agar terlihat berbeda ruangan.
Kini rambut Rosaline digerai setelah tadi digelung rendah.
Ia memakai gaun putih panjang yang menunjukan sisi kalem nan keibuan, sementara Leon memeluknya dari belakang.
Mereka duduk di atas karpet dengan pandangan ke samping.
Hujan merintik tipis di luar sana. Kilat dan petir sesekali singgah.
Setelah beberapa kali jepretan, sang fotografer meminta tim penata rias mengecek ulang dandanan mereka.
Dua orang wanita yang tadi bergibah langsung mendekat.
Satu menangani dandanan Rosaline, mengusap beberapa bulir keringat di pelipisnya, menyisir dan merapihkan rambutnya. Sementara yang satunya (tampak lebih modis dan cantik) mengurus Leon.
Rosaline menatap tak suka melihat tangan wanita lain menyentuh-nyentuh wajah suaminya. Mereka bahkan mengobrol dan sesekali tertawa bersama dengan sok akrab.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti kedekatan mereka tidak bisa dibiarkan.
"Aaaiiiissshhh" Rosaline tak bisa menahan diri. Ia memang tak berbakat memendam cemburu.
Bagaimana bisa seharian ini Leon bersikaf dingin padanya tapi tertawa-tawa bersama wanita lain di hadapannya?
"Sialan, kau sungguh bermain-main denganku, Leon!"
Rosaline meninggalkan penata riasnya dan menghampiri suaminya dengan mata melotot dan nafas yang memburu
Jemarinya lalu mencengkram tangan si penata rias yang sedang merapihkan alis Leon sambil berhaha-hihi sok akrab.
"Sudah cukup! Singkirkan tanganmu dari wajah tampan suamiku!" sergah Rosaline datar namun tegas dan menakutkan.
Penata rias itu tentu saja kaget. Ia seketika menarik tangannya dengan salah tingkah.
"Eh..." Ia kebingungan.
Rosaline melotot galak dan memberinya isyarat untuk enyah.
"Eh, iya..ma..maaf...permisi!" penata rias itu berpamitan pergi.
"Aish, wajah tampanmu ini hanya milikku! Cuma aku yang boleh menyentuhnya!"
Rosaline merapihkan alis suaminya, namun Leon mengibas tangannya, menolaknya mentah-mentah.
Ia berdiri dan pergi meninggalkan Rosaline menuju depan kamera disaksikan semua orang yang nampak kebingungan melihat ketegangan di antara mereka.
Diperlakukan seperti itu, tentu saja Rosaline meradang. Dan jangan memanggilnya Rosaline jika tak mengeluarkan jurus bar-barnya.
"Yakk, Leon! Dasar baji***n! Kepa**t! Aku tahu kau cemburu, tapi apa harus mengacuhkanku begini? Kau tidak ingat tadi menggerayangi tubuhku sesukamu di kamar mandi? Kenapa seka....."
Leon mendelik seketika. Ia berbalik dan langsung menggeret istrinya pergi menjauh dari semua orang yang terperangah menyaksikan 'drama mereka' terutama 2 penata rias merangkap tukang gibah.
Keduanya saling pandang dan tersadar tak ada yang menang taruhan!
Ya, semua tebakan mereka salah!
Pria itu marah karena sangat mencintai pasangannya dan mereka jelas menikah karena cinta.
Bukankah kau tak mungkin cemburu jika tak cinta?
Sekali lagi cinta memang zat yang berbahaya!
Ia membutakan, namun juga menajamkan naluri di saat bersamaan.
Ia mengurung namun juga membebaskan.
__ADS_1
Ia mengikat namun juga melepaskan.
Ia...ialah cinta!
Kalian pernah jatuh cinta sedalam Rosaline pada Leon dan sebaliknya?
Pernah cemburu buta segila mereka?
Ayolah!
Jujur saja!
.
.
.
Rosaline menatap suaminya dengan tenang seolah teriakannya tadi adalah hal lumrah.
Ya, tentu saja itu sangat lumrah bagi otaknya yang sedikit miring.
Di depannya, Leon melotot geram. Ia malu setengah mati dan frustasi menghadapi kelakuan istrinya yang selalu bar-bar.
"Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?"
"Salahmu! Kenapa mengacuhkanku? Lihat, sekarang kau memperhatikanku kan?" Rosaline bersandar ke dinding dengan siku terlipat santai.
"Dasar gila! Apa kau tidak bisa bersikaf normal sebentar saja, hah?"
"Gila kau bilang? Apa kau mau mati? Aku tidak bisa dan tidak mau bersikaf normal! Kau mau apa? Marah?" Rosaline menjawab lantang, sengaja untuk menantang.
Leon ingin marah tapi ia urungkan saat melihat perut istrinya yang mulai membuncit. Ada Baby Love mereka di sana.
Ia tak menyangka suaminya akan semarah ini. Didekatinya Leon yang sibuk mengatur emosi.
Dipegangnya tangan itu dengan cemas.
"Kau tidak apa-apa? Pasti sakit, ya?" tanyanya polos seraya meniup-niup tangan suaminya.
Melihat perhatian Rosaline, perlahan Leon mulai luluh. Ia ingin melupakan kecemburuannya, namun pertanyaannya soal Theo masih belum terjawab.
"Hutang itu! Katakan padaku apa maksudnya dan aku akan melupakan semuanya! Aku akan berhenti marah!" Leon menatap serius.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti cemburu dan marah asal istrinya mau jujur.
Rosaline terdiam.
Ia bingung, haruskah menjawabnya sekarang juga?
Tidakkah suaminya akan bertambah marah mengetahui jika hutang itu adalah sebuah ciuman?
"Apa kau semiskin itu? Kenapa tidak langsung membayarnya saja? Kenapa kalian harus bertemu lagi untuk membahasnya?"
"Hmm...aku tidak berhutang uang." jawab Rosaline dengan agak ragu.
"Lalu???"
"Ciuman." jawab Rosaline lirik seraya menghindari tatapan suaminya.
"Ciuman? Dia ingin menagih ciuman darimu? Sekarang? Dan kau akan menurutinya? Kalian akan bertemu lagi???" suara Leon meninggi.
Ia mengibas tangan istrinya dengan kesal.
Kecemburuannya meledak ribuan kali lipat.
__ADS_1
Rosaline benar-benar tak waras, pikirnya.
Bagaimana bisa ia berniat mencium pria lain?
Leon tahu istrinya memang eksentrik, nyeleneh dan tak terprediksi.
Tapi sebuah ciuman???
Bukankah itu keterlaluan???
Leon menggeleng tak percaya.
Ia pergi meninggalkan studio dengan marah. Masa bodoh dengan pemotretan yang belum selesai.
"Yakk, Leon! Kau mau ke mana?"
Rosaline mencoba mengejar.
Ia mengangkat gaun panjangnya dengan kewalahan tapi suaminya telah menghilang di ujung jalan, di bawah lebatnya hujan.
.
.
.
Dua jam berlalu dan Rosaline masih mencari ke mana suaminya pergi.
Sungguh, Rosaline tak menyangka suaminya akan secemburu ini.
Dengan payung berwarna merah yang ia pinjam dari pemilik studio, wanita hamil itu terus mencari dan mencari.
Ia memanggil-manggil nama suaminya dan mencoba menelepon setiap 2 menit sekali tapi tak diangkat, bahkan sesekali ponselnya hilang sinyal.
Ini wajar, mengingat lokasi pemotretan mereka yang dikepung hutan, pegunungan hingga derasnya air hujan.
Lama-kelamaan, Rosaline merasa lelah. Tak hanya itu, kepalanya juga terasa pusing.
Daripada pingsan tak jelas, ia memutuskan untuk berhenti sebentar di dekat sebuah perkebunan.
Wanita hamil itu duduk di sebuah batu besar, di bawah pohon sembari memijat-mijat kakinya yang sakit karena terlalu lama berjalan.
"Aaah..., dasar Leon sialan! Kepa**t!" makinya kesal.
Tak jauh darinya seseorang tengah memperhatikan dari balik jas hujan berwarna gelap.
Sosok itu memegang sabit dengan ujung yang mengkilap tajam.
Petir mengangkasa, suaranya menggelegar menjajah cakrawala.
Rosaline tersentak kaget. Alih-alih menutup telinganya, ia reflek menunduk dan memegangi perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkram pegangan payung dengan erat.
"Kau kaget ya, sayang?" bisik Rosaline sambil mengelus perutnya.
"Ayahmu itu.... Aish!!! kalau ketemu, ibu akan mencincangnya! Beraninya dia meninggalkan kita! Dasar kekanakan! Seenaknya saja dia kabur! Kau jangan meniru kelakuan ayahmu! Awas kalau kau menirunya, ibu akan memasukanmu lagi ke dalam perut!" Rosaline mengancam calon bayinya yang tak berdosa karena kesal pada Leon.
Diam-diam si sosok berjas hujan yang sedari tadi memperhatikannya bergerak mendekat.
Ia memegang bahu Rosaline tanpa kata hingga membuat wanita hamil itu menjerit kaget dan spontan menutupi tubuhnya dengan payung.
.
.
.
__ADS_1