
Dan taraaaa......
Sesosok makhluk kecil dengan mata yang jernih dan pipi yang chubby menggemaskan merangkak keluar dari bawah ranjang.
Ia tersenyum polos tak berdosa.
Ialah William.
Tapi sedang apa dia di sana?
Bukankah tadi dia ikut pulang bersama ibu?
Apa dia mendengar semuanya?
Oh, tidak!
Apa yang akan Rosaline dan Leon jelaskan jika bocah lelaki itu bertanya?
Di tengah keterkejutan mereka, tiba-tiba ponsel Rosaline berdering.
"Ibu?" bisiknya. Lalu mengangkatnya tanpa menunggu.
"Sayang, maaf karena lupa tadi ibu meninggalkan William di sana. Astaga, apa yang ibu pikirkan sampai melupakan cucu sendiri. Apa ibu sudah mulai pikun?" ujarnya merasa sangat bersalah.
"Ah iya bu, William sedang bersama kami di sini. Ibu tidak usah khawatir." Rosaline mencoba menenangkan.
"Sebenarnya ibu sedikit kerepotan. Daniel dan Karina menitipkan William di rumah ibu karena kesehatan Karina sedang tidak baik. Penyakit jantungnya sedang kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Sementara Daniel ada pekerjaan di luar negeri yang tak bisa ditinggalkan dan akan pulang beberapa hari lagi. Ibu sebenarnya tidak enak untuk meminta ini, tapi apa bisa kau menjaga William sampai malam ini saja? Besok pagi ibu akan mengirim supir untuk menjemputnya. Ibu mohon ya, sayang."
"Ibu tidak perlu memohon, aku dan Leon akan menjaga William. Tapi bukannya ibu sedang sibuk dengan yayasan? Bagaimana kalau William tinggal di sini bersama kami selama Karina dirawat di rumah sakit?" usul Rosaline.
Leon yang mendengar itu seketika membelalakan matanya ke arah Rosaline tanda tak setuju.
"Tidak, tidak, ibu tidak mau merepotkanmu. Apalagi kau sedang tidak sehat saat ini. Ibu akan menyuruh supir menjemputnya besok pagi."
"Aku hanya hamil, bu. Bukannya sakit. Padahal aku akan senang kalau ibu mengijinkan. Mulai besok Leon akan sibuk mengurus perusahaan barunya, jadi aku akan kesepian di rumah."
"Benarkah kau tidak akan kerepotan? Sebaiknya kau tanya pendapat Leon lebih dulu, mungkin saja dia akan keberatan."
"Tidak sama sekali, bu. Kalau aku yang memintanya, Leon pasti tidak akan keberatan." sambil melirik dengan ekspresi menggoda ke arah Leon.
Leon hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.
.
.
.
__ADS_1
Rosaline memberikan sebotol susu rasa pisang pada William yang tengah duduk di meja makan dan tak berani menatapnya.
Sementara Leon duduk di samping Rosaline melipat sikunya dengan angkuh.
"Jadi, sejak kapan kau bersembunyi di bawah ranjang kami?" tanya Rosaline dengan lembut.
Bocah lelaki itu terlihat takut, tahu apa yang dilakukannya salah.
"Kenapa diam saja? Ayo jawab!" seru Leon dengan dingin dan ketus, membuat bocah itu sedikit terperanjat.
Rosaline menggeleng lembut, memberi isyarat supaya Leon tidak kasar.
Bagaimanapun juga William anak kecil, umurnya baru 6 tahun.
"Aishhhh" dengus Leon sambil memalingkan muka.
"Jawablah, bibi dan paman tidak akan memarahimu." bujuk Rosaline.
"Tadi aku bermain petak umpet dengan bibi Ema (ART di rumah Rosaline dan Leon), karena bibi ema bilang akan pergi keluar sebentar, jadi aku mencari nenek di kamar bibi, tapi nenek tidak ada dan hanya bibi yang sedang tertidur." ujar bocah itu sedikit terbata-bata.
"Lalu kenapa kau ada di bawah ranjang?" tanya Rosaline.
"Tadi ada suara petir. Aku takut suara petir, bi. Jadi aku bersembunyi di bawah ranjang bibi dan ketiduran." masih menundukan kepalanya.
Tadi siang memang sempat hujan besar, tapi karena saking lelapnya tidur Rosaline sampai tidak menyadarinya.
"Baiklah, habiskan susumu." ucap Rosaline sambil meneliti William dengan ekspresi gemas.
"Bukannya dia sangat menggemaskan?" sambil mencubit lembut kedua pipi bocah itu.
Leon yang menyaksikannya hanya berdecak.
"Ayo, kita bicara!" Leon mengajak Rosaline masuk ke kamarnya untuk bicara 4 mata.
"Apa kau yakin akan merawatnya? Kondisimu sendiri sedang tidak baik." ujar Leon meragukan keputusan istrinya.
"Ayolah, sayang. Aku mohon! William ini sudah besar, dia bukan bayi yang harus digendong dan disuapi. Kita hanya perlu menjaganya selama ibunya sakit, setelah itu dia akan kembali ke rumahnya." bujuk Rosaline.
"Tidak, aku tetap tidak setuju!" Leon masih bersikukuh.
"Yakkk....Leon, apa kau tidak kasihan pada ibumu? Di usianya saat ini dan di antara kesibukannya mengurus yayasan, dia harus merawat seorang anak juga!" Rosaline mulai menaikan suaranya.
"Apa Karina dan Daniel jatuh miskin sampai mereka tidak mampu membayar seorang perawat?" balas Leon tidak mau mengalah.
"Kau kejam sekali! Dia itu keponakanmu, kalau kita bisa merawatnya kenapa harus mencari seorang suster?" Rosaline masih mencoba membujuk dan melembutkan suaranya.
"Sayang, aku mohon." rengek Rosaline dengan manja.
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh merawatnya. Tapi awas saja kalau kau mengeluh!" Leon akhirnya luluh.
'Wanita ini benar-benar seorang penyihir licik.' batinnya.
Betapapun kerasnya sifat Leon, ia akan luluh jika itu menyangkut istrinya.
Ya, Rosaline akan selalu menjadi kelemahan sekaligus kekuatannya.
"Tidak akan! Aku janji !" ucap Rosaline lalu memeluk suaminya dengan hangat.
"Chhhhh" Leon berdecak dan membalas pelukan istrinya dengan kehangatan yang sama.
Setelah perdebatan yang sangat alot dan mengahasilkan kemenangan bagi Rosaline, mereka pun kembali menghampiri Willian yang masih duduk di meja makan.
"Kau sudah menghabiskan susu mu?" tanya Rosaline sambil membelai rambutnya dan duduk di sampingnya.
Bocah itu mengangguk, kini ia sudah bisa tersenyum.
"Apa aku akan menginap di sini malam ini, bibi?" tanya William.
"Bagaimana, apa kau mau tinggal sementara bersama bibi dan paman di sini?" tanya Rosaline lagi sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah William.
William mengangguk pelan.
"Anak pintar. Bibi janji kita akan bersenang-senang, oke!"
Lagi-lagi William hanya mengangguk, kali ini lengkap dengan senyuman manis menggemaskan.
"Oh ya, apa bibi tadi sedang bertengkar dengan paman? Tadi aku mendengar paman mengerang kesakitan, apa bibi melukainya?" tanya William tiba-tiba dengan tatapan polosnya.
Seketika wajah Rosaline memerah, ia salah tingkah sendiri bingung harus menjawab apa.
Sementara Leon terkekeh melihat ekspresi kebingungan dari istrinya.
"Tidak, kenapa bibi harus melukai paman? Tadi pamanmu bilang sedang sakit perut." jawab Rosaline asal sambil menyikut tangan Leon yang duduk di sebelahnya.
"Oh iya, tadi paman sakit perut." ucap Leon sambil mencoba menahan tawanya.
"Rumah ini masih asing untuk ku. Apa aku boleh tidur dengan kalian?"
Seketika Leon melirik tajam pada Rosaline yang duduk di sebelahnya.
.
.
.
__ADS_1