Dandelion Motel

Dandelion Motel
Kesalahpahaman


__ADS_3

Dante terkejut melihat ban mobilnya kempes, bukan hanya 1 tapi 2.


Ah, pasti ulah para berandal itu pikirnya.


"Wah, bagaimana ini? Di sekitar sini tidak ada bengkel. Pasti ulah para pelajar nakal itu! Sekali lagi aku minta maaf!" seru Luna yang kebetulan melihat karena hendak mengantar Dante sampai ke mobilnya.


"Sudahlah tidak apa-apa, aku bisa naik taksi." ujar Dante.


"Tapi di daerah sini jarang ada taksi. Aku akan mengantarmu sampai kampus dengan motor ku saja, bagaimana?" ucap Luna menawarkan.


"Bukannya kau harus kerja?" tanya Dante.


"Ah, yang barusan masuk adalah lawan shif ku. Waktu bekerjaku sudah berakhir, tunggulah sebentar aku akan bersiap dulu!"


Dante masih mematung bingung, apa dia harus menerima tawaran gadis itu atau tidak. Tapi tidak ada pilihan lain, ini sudah hampir telat, sebentar lagi kelasnya akan segera dimulai.


Tak lama Luna yang sudah berganti pakaian keluar dari minimarket dengan tas selempangnya.


"Ayo! Kita pergi sekarang!" ajak Luna.


Dante belum menjawab dan masih melongo.


"Kenapa diam saja? Ayo!" seru Luna lagi.


"Kalau kau tidak nyaman, kau bisa membawa motorku ke kampusmu. Aku akan naik bis saja." tambah Luna membuyarkan lamunan Dante.


"Tidak, ayo kita pergi sama-sama! Tapi aku yang akan mengendarainya, oke!"


Luna mengangguk setuju.


Namun di tengah perjalanan hujan tiba-tiba merabas dengan deras membuat mereka yang tak sempat berteduh menjadi basah kuyup.


Dante menghentikan motor yang dikendarainya di pinggir jalan.


"Wah, bagaimana ini? Hujannya sangat deras! Maafkan aku, gara-gara usulku kau jadi kebasahan." ucap Luna merasa bersalah.


"Sudah, jangan minta maaf terus! Ini bukan salahmu!" kata Dante.


"Aku tidak bisa kembali ke kampus kalau begini." bisik Dante.


Dante menyalakan lagi motor Luna, "Yakk, ini masih hujan!" teriak Luna.


"Kau mau ikut apa mau tinggal di sini sampai masuk angin?" tanya Dante masih ketus.


Tanpa menjawab Luna langsung kembali naik ke motornya.


"Kenapa berbalik arah, kita mau ke mana?" tanya Luna penasaran.


"Kembali ke rumah kakakku saja, aku tidak mau masuk angin!"


Tidak ada lagi komentar, motor mereka terus melaju menerobos hujan yang masih lebat dan jalanan yang sedikit banjir


.


.


.

__ADS_1


Sampai di rumah Rosaline dan Leon.


"Ini rumah kakakmu?" tanya Luna yang tak henti melihat sekeliling rumah bergaya minimalis namun indah itu.


"Aku akan berganti pakaian di kamar. Kau juga basah kuyup, gantilah dengan pakaian yang kering kalau tidak mau masuk angin! Apa kau bawa baju ganti?" ujar Dante.


"Ya, ada di bagasi motorku." jawab Luna.


Luna sudah membawa baju keringnya, Dante mengantarnya ke salah satu kamar tamu.


"Apa aku boleh numpang mandi juga? Setelah ini aku harus bekerja paruh waktu, jadi sekalian saja. Apa boleh?" kata Luna dengan wajah memohon.


"Terserah kau saja! Handuknya mungkin di salah satu laci-laci itu. kau cari saja!" ujar Dante lalu meninggalkan Luna di kamar itu.


Luna tersenyum senang saat membuka laci dan menemukan tumpukan handuk-handuk bersih yang terlipat dengan rapih di sana.


Ditambah lagi setelah masuk kamar mandi sudah tersedia shampo dan sabun mandi yang masih terisi full berjejer rapih di dekat wastafel.


Beberapa menit berselang, Dante yang sudah berganti baju (meminjam baju Leon) asyik menonton TV di temani dengan cemilan.


Hari ini tidak kembali ke kampus bukan masalah besar, pikirnya.


Nah, saat Luna mandi air kran di kamar tamu tiba-tiba mampet padahal ia belum selesai membilas rambut dan tubuhnya yang masih dipenuhi busa. Karena darurat, ia nekat memanggil Dante untuk meminta tolong. Matanya yang pedih karena shampo membuatnya masa bodoh meski hanya menggunakan handuk dan tampak terlihat cukup vulgar.


Saat itulah Leon dan Rosaline memergoki mereka dan terjadilah kesalahpahaman.


Setelah mendengar penjelasan Luna, Rosaline segera meminta maaf dan berterima kasih telah mengantar Dante.


"Seharusnya saya yang berterima kasih karena Dante sudah menolong saya hingga terluka." kata Luna.


Leon tersenyum penuh arti dan melirik ke arah Dante dan Luna secara bergantian.


Rosaline yang ikut mendengarnya segera menyenggol lengan suaminya itu.


"Kak Leon ini bicara apa? Kami baru saling mengenal tadi siang!" jawab Dante salah tingkah.


Drama ini belum berakhir.


Karena nekat menerobos genangan air yang cukup tinggi, motor Luna akhirnya mogok.


Walau malu Luna akhirnya menerima tawaran Rosaline dan Leon untuk makan malam bersama.


Setelah selesai makan malam, Leon memeriksa dan mencoba memperbaiki motor Luna.


"Aku baru tahu kau bisa memperbaiki motor. Keahlian apalagi yang kau sembunyikan dari ku, tuan Leon?" ucap Rosaline genit.


Ia duduk di bangku taman dan melihat Leon mengutak-ngatik mesin motor dengan terkagum-kagum.


"Aku selalu ingin mencoba mengerjakan apapun saat remaja, termasuk otomotif. Dulu aku punya banyak koleksi mobil dan motor." jawab Leon.


Ia sudah selesai memperbaikinya dan mencoba menyalakannya kembali.


Syukurlah motor Luna bisa menyala, dan Rosaline terperangah kagum.


"Wah!" teriaknya sambil bertepuk tangan.


Leon tersenyum bangga sambil memainkan obeng di tangannya.

__ADS_1


Luna, Dante dan William yang sedang nimbrung di ruang TV berlari keluar.


"Wah! Terima kasih." ucap Luna senang.


"Sama-sama." jawab Leon.


Luna pun berpamitan pulang.


Setelah gadis itu pergi, mereka pun bergegas masuk ke rumah.


Di ruang tamu, Rosaline yang mulanya menggandeng mesra Leon tiba-tiba merenggut kesal.


Ia baru sadar kalau tangan suaminya masih berlumuran oli.


"Yakk, Leon!" teriaknya sambil menghempas jijik tangan Leon jauh-jauh dari tangannya.


"Kenapa?"


Rosaline menunjukan tangannya yang jadi ikut berlumuran oli membuat Leon terbelalak.


Ia pun lupa tangannya masih kotor penuh noda.


"Hehe...ku tidak sengaja! Maaf..." ucapnya, tapi Rosaline terlanjur marah.


"Aishh...dasar baji***n! Kau membuatku harus mandi malam-malam begini!" dengus Rosaline emosi bahkan menangis lalu meninggalkan Leon yang masih terbengong di bawah tangga.


Pria itu kaget sendiri atas reaksi istrinya yang berlebihan.


Leon memang pernah membaca, bahwa kehamilan bisa membuat seorang wanita menjadi lebih mudah kesal, labil dan sensitif.


Oh, tapi tunggu!


Bukankah Rosaline memang sudah seperti itu dari dulu?


Tidak!


Ia baru sadar, kegilaan Rosaline kali ini berbeda.


Jika dulu ia bisa dengan mudah menjinakannya dan biasanya Rosaline akan melampiaskan kemarahannya pada adiknya.


Tapi sekarang objek kemarahannya lebih sering tertuju kepadanya.


Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa Rosaline gampang naik darah saat melihatnya.


Tadi siang pun saat ia lupa menelponnya, Rosaline langsung menyusul ditambah melihat 3 orang gadis menghampirinya hampir saja meletupkan perang dunia ketiga.


Aaaah, kehamilan membuat kegilaannya mengangkasa.


Dan siapa yang kerepotan pada akhirnya?


Tentu saja, Leon!


Ayah dari si jabang bayi di rahimnya!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2