
Hari itu Leon menjemput Rosaline pagi-pagi sekali.
"Kita mau ke mana?" tanya Rosaline.
"Ayo kita temui ibuku." jawab Leon dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Ke kota? Ke rumah orang tuamu?" selidiknya.
"Tidak perlu ke kota, dia ada di sini, di dekat pantai." dengan tatapan fokus mengemudi.
"Ibu Anna sedang ada di kota ini? Di pantai? Sejak kapan? Apa dia sedang berlibur?" Rosaline memberondong Leon dengan banyak pertanyaan.
"Bukan ibu Anna, tapi ibu Mary. Ibu kandung ku."
"Ah, baiklah! Ayo kita temui ibu Mary." Rosaline tersenyum dan menatap Leon penuh haru.
.
.
.
"Ibu...." Leon dan Rosaline kini berdiri di depan makam Mary.
"Sebenarnya aku merasa malu karena baru sekarang aku menemui ibu. Tapi aku tak bisa menahannya, aku tahu ibu akan sangat bahagia mendengar berita ini." Leon merangkul Rosaline lebih rapat.
keduanya bertukar senyum dengan mata berkaca-kaca.
"Kami akan segera menikah." Leon tak bisa menahan air matanya.
Rosaline membantu mengusapnya.
"Doakan kami, bu! Berdoa lah untuk kebahagiaan kami! Aku tahu ibu pasti selalu mengiringi setiap langkah kami dan memperhatikan kami dari surga dengan penuh cinta."
Rosaline ikut berlinang air mata melihat kekasihnya menangis.
Dia kini tahu sisi lain dari seorang Leon, ternyata kekasihnya itu sebenarnya berhati lembut dan mudah tersentuh.
Leon memeluk Rosaline dan mengecup keningnya.
Tiba-tiba keinginan itu datang begitu saja dalam benak Rosaline.
Ia ingin melakukannya hari ini, di tempat ini, sekarang juga!
"Leon, ayo kita menikah sekarang!
.
.
.
Bobby sedang antre tiket di taman hiburan bersama Nora saat ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari Leon.
Ia membacanya dan matanya membelalak seketika.
"Ada apa?" tanya Nora.
"Leon dan Rosaline...."
__ADS_1
.
.
.
Dante menghadang 2 orang tamu yang baru saja masuk ke motelnya.
"Maaf, hari ini kami tidak menerima reservasi."
"Bukankah di depan ada tanda masih buka." sela salah seorang tamu.
"Ada urusan penting. Sekali lagi saya mohon maaf!"
.
.
.
Siang itu kursi-kursi putih mulai ditata. Dengan mimbar berhias bunga magnolia, bunga kesukaan Rosaline.
6 deret karangan bunga bunga besar ditata memanjang dalam dua baris. Tiga di kiri dan tiga lagi di kanan membentuk jalan sang mempelai.
Tak jauh dari lokasi pengucapan sumpah, dua tenda berwarna putih tegak berdiri. Di dalamnya tertata sederet meja dan kursi yang akan menyuguhkan berbagai hidangan makan malam yang istimewa bagi para tamu undangan.
Ini akan menjadi pesta pernikahan yang sederhana namun terasa mewah dan meriah.
.
.
.
Lilin-lilin dalam kotak kaca dipatik dengan cinta dan doa.
Debur ombak yang akan menjadi saksi bersama pasir putih pantai yang nyaman menyelip di sela jemari kaki.
Leon mengenakan tuxedo berwarna putih dengan padanan warna hitam di kerahnya.
Sangat gagah seperti kepribadiannya.
Rambutnya tersisir rapih ke belakang dengan senyuman yang tak henti menghiasi wajah.
Angin sepoy-sepoy membelai, memainkan rambut sang mempelai wanita yang digelung ke belakang dihiasi dengan taburan mutiara.
Rosaline mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan padanan motif bordir hitam yang menekan kepribadiannya: gotik, misterius namun elegan dan memikat.
Ia melangkah memasuki altar digandeng Dante sang adik kesayangan yang mengenakan jas berwarna hitam.
Keduanya berjalan menuju mimbar di mana sang mempelai pria telah menunggu dengan gugup dan bahagia.
Di sisi kanan dan kiri mereka duduk para tamu undangan istimewa.
Ada ayah Sam dan ibu Anna yang duduk berdampingan setelah menempuh 4 jam perjalanan untuk bisa sampai di sana. begitu pun Nora yang duduk di samping Bobby. Para karyawan kantor Leon yang dijemput paksa saat tengah bekerja juga beberapa karyawan motel. Sedangkan Daniel bersama istrinya tidak bisa datang karena sedang berada di luar negeri.
Tak banyak, seperti keinginan Rosaline. Hanya orang-orang yang pasti turut bahagia bersama mereka.
Seseorang dari catatan sipil berdiri di belakang mimbar untuk mengambil sumpah pernikahan Leon dan Rosaline di senja yang indah ini.
Dante menyerahkan Rosaline pada Leon yang langsung menyambutnya dengan sumeringah.
__ADS_1
Keduanya bertukar senyum bahagia.
Rosaline merasakan jantungnya berdetak keluar dari irama, ia tak pernah menyangka moment seperti ini akan terjadi dalam hidupnya yang suram.
Leon pun demikian, memiliki Rosaline seperti memiliki sesuatu yang selama ini dia cari untuk melengkapi kekosongan dalam hidupnya. Rosaline bagaikan bulan. Tidak, bukan hanya bulan tapi ia semesta bagi Leon.
Pria dari catatan sipil menyambut mereka dengan senyuman. Lalu mengucapkan sepatah dua patah kalimat sebagai pembuka.
Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan yang telah berkenan untuk hadir dalam ketergesaan waktu.
Semua orang tertawa saat ia mengatakannya. Mereka menyindir kedua mempelai secara terbuka
atas undangannya yang super mendadak. Tentu saja Leon dan Rosaline hanya bisa tersipu malu.
Leon mengambil mikrofon saat pria itu mempersilahkannya mengucap sumpah terlebih dahulu.
Ia meraih tangan Rosaline dan membelainya lembut dengan tatapan penuh cinta.
"Rosaline, wanita dengan tatapan dingin, angkuh dan pemarah." suaranya
menyela debur alunan ombak, membaur bersama desau angin utara.
Angkuh, hah?
Rosaline tergelak kecil dan tersipu malu.
"Jika kebahagiaan bisa dinamai, maka aku ingin menamainya dengan namamu. Jika keindahan bisa dinamai, maka aku ingin menamainya dengan dirimu. Jika kesetiaan bisa dinamai, maka aku ingin menamainya hanya untukmu." ucap Leon dengan lantang, namun terlihat semburat malu di wajahnya.
Ia memang tidak terbiasa mengucapkan hal sepuitis itu, ia lebih terbiasa blak-blakan dan to the point.
Tapi bukankah ini hari yang istimewa?
Maka...
"Rosaline, seperti janjiku dulu. Aku ingin berada di sisimu sampai ajal menjemputku dan akan terus mencintaimu seumur hidupku!"
Semua orang berkaca-kaca, terutama Rosaline. Ia gemetar dalam bahagia.
Pria di mimbar mengusap air matanya dan memberi isyarat pada Rosaline untuk mengucapkan sumpah.
Leon memberikan mikrofonnya.
"Leon, anak lelaki pemurung yang tumbuh menjadi pria beren***k, baji***n yang kini kucintai." umpatan Rosaline membuat Leon tergelak dan tersipu malu.
"Terimakasih telah menjadi warna dalam hidupku, jangkar bagi kegilaanku, cahaya di hidupku yang gulita, tawa di duniaku yang menyedihkan dan cinta dalam hidupku selamanya. Kau harus menepati janjimu! Jangan pernah mencoba untuk kabur! Atau aku akan mengejarmu dan mematahkan kakimu!"
Semua orang tertawa.
"Leon, kau adalah pria paling pemberani dan mengagumkan yang pernah aku temui. Aku bersyukur kau mencintaiku. Leon, kau tak boleh mati lebih dulu! Sampai ajal menjemputku kau harus tetap bersamaku! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Semua orang terutama Dante bertepuk tangan sambil menyeka air matanya.
Pria di mimbar melirik Leon dan Rosaline seraya berbisik, "Waktunya memakai cincin, siapa pembawa cincinnya?"
Rosaline dan Leon saling melempar pandangan,
"Mana cincinnya? Jangan bilang kalau kau lupa membelinya!"
.
.
__ADS_1