
Dandelion adalah bunga yang sering kali terlupakan. Selalu terkubur oleh ilalang tinggi saat dia masih kecil.
Namun, sang angin dengan tega menerbangkan kelopak indahnya menjadi serpihan kecil ketika ia mencapai puncak kemekaran, bahkan sebelum dunia sadar akan keindahannya.
Saat kecil Rosaline selalu penasaran kenapa orang tuanya memberi nama motelnya 'Dandelion', baginya dandelion adalah bunga yang rapuh dan tidak memiliki aroma yang wangi. Bukankah bunga yang lain lebih cantik? Kenapa tidak magnolia saja? Dia sangat suka bunga magnolia.
Ibunya hanya bilang bahwa Dandelion itu memiliki makna pengharapan, cinta, keceriaan dan kesetiaan.
Seiring berjalannya waktu kini dia sadar Dandelion adalah harapan orang tuanya terutama ibunya untuk anak-anaknya.
Setiap serpihan bunga dandelion yang jatuh akan menghasilkan kehidupan yang baru, bisa beradaptasi dengan lingkungannya sehingga dia bisa tumbuh di mana pun.
Mungkin dia rapuh dan mudah terbang terbawa angin, namun ia tetap bisa menjaga keutuhannya. Bahkan dalam keadaan terhempas angin dan bunganya tersebar sekalipun bagian bunganya tidak rusak dan kuat menjaga diri
Ia mampu mengikuti arah angin
dan memberi keindahan kepada siapa saja yang melihatnya, itu artinya ia pemberani.
.
.
.
Malam ini motel tidak terlalu ramai. Rosaline, Leon, Bobby, Dante dan Nora yang baru menyelesaikan sift-nya berkumpul di gajebo untuk makan bersama.
Waktu berlalu dengan sangat menyenangkan. Selesai makan mereka berbincang dengan akrab dan saling bertukar pengalaman lucu satu sama lain.
"Karena kita sedang berkumpul bagaimana kalau kita minum bir sambil memainkan permainan?" usul Dante.
"Truth or dare!" teriak Nora dengan riang.
Semua orang setuju.
"Baiklah! Kita mulai dari yang paling pojok, Miss rose!!!" teriak Dante bersemangat.
"Ayo ajukan pertanyaan! Ayo ajukan pertanyaan!" teriak semua orang penuh antusias.
"Aku! Aku ingin mengajukan pertanyaan." ujar Bobby sambil mengacungkan tangannya heboh.
"Ya?" Rosaline menatap santai.
"Uhmm, aku sebenarnya sangat penasaran tentang sesuatu. Kau kan wanita yang sangat cantik dan keren, pasti kau populer di sekolah dan banyak pria yang menyukaimu. Hmmm, apakah Leon benar-benar ciuman pertama mu?"
Semua orang berteriak heboh mendengar pertanyaan Bobby.
"Ayo jawab! Ayo jawab! Ayo jawab!" teriak semua orang tidak sabar menunggu jawaban dari Rosaline.
Rosaline tersenyum melirik Leon yang terlihat penasaran dan agak cemburu.
"Haruskah aku menjawabnya?" dengan senyum menggoda.
"Jawab saja!"
"Kau tidak cemburu?"
"Tidak masalah! Ayo jawab!"
"Ayo jawab! Ayo jawab! Ayo jawab!" sekali lagi semua berteriak tak sabaran.
"Baiklah...." ingatan Rosaline kembali ke saat dia masih remaja.
Dia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
Musim dingin, tiang lampu dan seorang pria remaja bermantel abu-abu.
__ADS_1
Ah, haruskah ia menceritakannya?
"Kau yakin tidak cemburu?" tanya Rosaline kembali menggoda.
"Tidak." jawab Leon sok santai.
Bicara tentang Rosaline dan ciuman pertama memang agak sedikit aneh kalau wanita sepertinya hanya pernah bercumbu dengan Leon. Mengingat sifatnya yang bar-bar dan suka bergaul dengan banyak pria, kebanyakan orang akan meragukannya.
Apa dia benar-benar belum pernah beromansa selain dengan Leon bahkan di saat masa remajanya sebelum insiden keluarganya terjadi?
Kalian bebas untuk percaya apapun sebab Rosaline memutuskan untuk tidak menjawabnya.
Ia memilih untuk meraih sekaleng bir seraya berkata "Hmm, aku minum saja!"
Semua orang serempak berteriak "Huuuu.....!" karena kecewa.
Leon yang melihat kekasihnya hendak minum langsung mencegahnya dan cepat meraih bir yang ada di tangannya.
"Kau tidak boleh minum, aku saja yang akan menggantikannya!" lalu meneguk bir itu.
"Yaaaa curang! Kenapa kau menggantikannya?" protes Bobby.
Permainan terus berlanjut dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang aneh bin nyeleneh lainnya.
Semua orang sudah mulai mabuk kecuali Rosaline karena Leon selalu menggantikannya minum saat tak ia mau menjawab pertanyaan.
Malam semakin larut, hujan turun dengan deras tanpa pertanda. Dan semua orang kocar-kacir menyelamatkan diri.
Dante kembali ke motel karena dia sudah sepakat dengan kakaknya untuk menjaga motel secara bergantian, lagipula dia memang harus mulai belajar mengelola motel karena Rosaline akan segera menikah.
Sementara Bobby memayungi Nora dengan jasnya dan hendak langsung mengantarnya pulang.
Leon dan Rosaline tentu saja masuk ke dalam rumah. Keduanya agak kuyup.
"Kau bau alkohol! Sana!" barusaha menjauhkan wajah Leon dari punggungnya.
"Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau!" Leon merengek bak anak kecil.
Leon memeluknya lebih erat, lalu mecium pundak juga lehernya.
"Hmmm, aku suka bau mu. Saaangaat suka!" Leon tersenyum seperti orang bodoh.
Rosaline menggeleng melihat ketidakwarasan kekasihnya.
"Akuuu sangat mencintaimu, Rosaline. Saaaangaaat....mencintaimu."
Wanita itu tergelak melihat kelakuan kekasihnya itu saat mabuk.
"Kau mencintaiku juga kan?" Leon merajuk.
"Aishhh, tentu saja. Dasar baji***n bodoh! Kenapa masih bertanya?" Rosaline melepas pelukan Leon, pergi membuka lemari dan membuka pakaiannya.
"Baguslah! Karena jika kau tidak mencintaiku, aku akan menculikmu! Tidak akan ku lepaskan! Kau milik ku, selamanya milikku! Hahaha..."
Rosaline masih tidak menggubrisnya dan masih sibuk memakai pakaian.
Leon tiba-tiba menariknya dan memeluknya. Pria itu bahkan mengecup bibirnya berkali-kali dengan cepat.
"Yakk Leon, ku bilang kau bau alkohol!" Rosaline memegangi bibirnya dan mendorong Leon hingga jatuh terduduk. Pria itu tertawa bodoh.
Lagi-lagi Rosaline menggeleng dan mengambil handuk yang dilemparkannya ke kursi.
"Diamlah! Biar ku keringkan rambutmu." Rosaline mengeringkan rambut Leon sambil berdiri.
"Hahaha...bibirmu milikku! Kau milikku!" Leon tiba-tiba memeluk kaki rosaline.
__ADS_1
"Yakk...aku bilang jangan bergerak! Aku sedang mengeringkan rambutmu!"
Kelakuan pria itu ternyata sangat menggelikan ketika sedang mabuk.
"Minggir! Aku mau tidur."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi!" Leon tidak mau melepaskan pelukannya.
"Yakk Leon, minggir!" mata Rosaline melotot memberi peringatan.
"Kau memang menyeramkan, sangat menyeramkan ketika marah!"
"Yakk...kau mau mati, hah?" teriak Rosaline geram.
"Tidak mau! Aku tidak mau mati! Aku mau hidup lama. Saaangaat lamaaaa....Aku mau hidup bersamamu, memiliki anak denganmu, membesarkannya dan hidup bahagia selamanyaaa dan...." mulut Leon terus meracau dan membuat Rosaline terenyuh.
Rosaline mendesah.
Ia tak jadi marah malah mengusap dan mengecup kepala kekasihnya seraya berkata, "Kau akan jadi suami dan ayah yang baik, aku yakin itu." air matanya terjatuh.
.
.
.
Di tempat tidur Leon terus berguling dan memeluk Rosaline, namun wanita itu terus berusaha mengenyahkannya.
"Jangan dekati aku! Kau bau alkohol!"
"Ayo lah, aku ingin memelukmu."
Rosaline menatap seram dan Leon langsung menutup mulutnya, ia berguling menjauh sebelum terjadi perang ketiga.
Namun tak lama setelah itu, setelah dirasanya Rosaline sudah tertidur pulas dia kembali berguling ke arahnya dan memeluknya dengan senyum kemenangan.
.
.
.
Keesokan harinya.
Leon memandangi Rosaline yang sedang asik menikmati sarapannya.
Ada sedikit cemot di ujung bibirnya. Saat Leon menyekanya tiba-tiba ingatannya kembali ke game semalam.
Meski sedikit ragu dan mungkin akan membuatnya cemburu tapi ia sungguh penasaran, apalagi Rosaline memilih untuk tidak menjawabnya.
Ia meminum segelas air terlebih dahulu lalu menghela nafas dengan dalam sebelum mengajukan sebuah pertanyaan.
"Jadi...siapa ciuman pertama mu?"
Rosaline langsung berhenti mengunyah dan melotot mendengar pertanyaan Leon.
Haruskah ia benar-benar menceritakannya?
Maukah kalian mendengarnya?
.
.
.
__ADS_1