Dandelion Motel

Dandelion Motel
Bintang


__ADS_3

Petugas keamanan itu pun pergi, Rosaline segera melepas bekapan si murid berandal dari mulutnya.


Ia lalu menginjak kakinya dengan keras dan berbalik untuk menendang *********** dengan dengkul.


Murid berandal itu jatuh bergulingan sembari mengaduh-aduh menahan sakit di selangkangannya.


Ia tak paham, kenapa dihajar seperti ini setelah mencegah gadis itu bunuh diri.


"Dasar Baji****n!!! bereng**k!!! Kepa**t!!! Apa yang kau lakukan???" Rosaline memaki-maki sembari terus menendanginya.


"Aduh, ampun! Tolong hentikan! Aku sudah menyelamatkanmu, kenapa kau malah memukuliku???"


"Menyelamatkan? Kau menarikku hingga jatuh, dasar baji****n mesum!!!"


Rosaline tak peduli pada penjelasan si murid berandal, ia terus menendanginya dengan emosi.


Theo.


Ya, nama murid berandal itu Theo.


Ia akhirnya dapat menangkap kaki Rosaline yang terus menendanginya.


"Dengarkan aku! Aku bukan orang jahat!" jelas Theo.


Rosaline mencoba melepaskan kakinya dari pegangan Theo, namun alih-alih berhasil, ia malah terjatuh.


Melihat Rosaline yang jatuh, Theo bergegas bangun untuk menolongnya tapi lagi-lagi ia malah ditampar dan ditendang.


Rosaline berlari ke pintu, ia hendak turun sebab takut si murid berandal melakukan sesuatu lagi, sayangnya pintu itu terkunci.


"Dasar kepar*t sialan! Kenapa pintunya dikunci?" Rosaline menendang pintu itu dengan marah.


Theo berjalan mendekat dengan kedua tangan diangkat ke atas sebagai tanda jika ia tak akan berbuat macam-macam.


"Tenanglah! Sekali lagi, aku bukan orang jahat!" Theo mencoba meyakinkan untuk kesekian kalinya.


Rosaline menatap wajah Theo dengan jelas untuk pertama kalinya.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Menguntitku? Kenapa menarikku hingga jatuh lalu membekapku?"


"Aku sedang melakukan hobiku!"


"Hobi? Apa hobimu menguntit dan membekap gadis-gadis?"


"Bukan! Tunggu! Tunggu di sini!"


Theo lari ke pojokan. Ia lantas kembali dan menunjukan sebuah tas berisi teropong bintang portable yang tadi ia letakkan begitu saja karena mengira Rosaline ingin bunuh diri.


"Aku kemari untuk ini! Dan aku melihatmu berdiri di atas sana! Ku kira....ku kira kau mau bunuh diri, jadi aku mencoba menolongmu!" jelasnya.


Rosaline tergelak sinis mendengar itu.


"Kenapa tertawa?" Theo menatap bingung.


"Siapa? Aku? Bunuh diri?" sekali lagi Rosaline tergelak.


"Tapi kalau pun aku ingin bunuh diri, apa pedulimu? Aku benci pada mereka yang suka ikut campur pada urusan orang lain! Apa kau punya obsesi jadi pahlawan kesiangan?" Rosaline melipat sikunya dan berjalan mendekat.


Ia akhrinya yakin jika Theo bukan lah ancaman.


Ditatapnya si murid berandal dari atas sampai bawah.


"Sekarang bagaimana? Kau harus bertanggungjawab! Karena ulahmu, kita benar-benar akan mati di sini!"


"Kenapa? Kenapa kita akan mati?"


"Bodoh! Kau tidak dengar tadi aku bilang pintunya terkunci? Aish, sial! Di mana rokok dan pemantikku tadi?"


"Kau mencari apa?"


"Rokok dan pemantik!"

__ADS_1


"Kau merokok?"


"Kenapa? Kau mau ceramah atau melaporkanku?"


"Wah...apa otakmu penuh prasangka buruk?"


"Prasangka buruk jauh lebih melindungimu dari kebusukan dunia! Lagipula bukankah kau juga berprasangka buruk tadi? Kau mengira aku mau bunuh diri!"


"Itu bukan prasangka buruk tapi antisipasi karena tempat ini pernah dipakai seorang siswa untuk bunuh diri!"


Mendengar itu Rosaline langsung melotot.


"Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda!"


Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing hutan yang keras dan panjang. Rosaline yang kaget buru-buru mendekat ke arah Theo.


"Kau takut hantu? Sungguh?" Theo tersenyum.


"Tidak! Aku hanya kaget, kepar*t!" jawab Rosaline galak.


Theo tertawa.


"Aish, dasar Bajing*n! Kenapa tertawa?"


"Lucu saja! Melihat gadis segalak dirimu takut hantu!"


"Ku bilang aku hanya kaget! Lagipula manusia jauh lebih menakutkan dari hantu!"


"Baiklah, siapa namamu?" si murid berandal mengulurkan tangan dengan ramah.


"Rosaline!" jawab Rosaline datar. Ia tak menerima uluran tangan Theo.


"Jika seseorang mengajakmu berkenalan, kau harus menerimanya! Siapa tahu kita akan saling membutuhkan nanti!" Theo meraih tangan Rosaline, menjabat dan menggoyang-goyangkannya dengan ceria.


"Aku Theo, penguasa sekolah ini!" ia tersenyum lebar penuh percaya diri.


"Aish...penguasa, hah?" Rosaline menarik tangannya dan menatap sinis.


"Tidak perlu!" jawab Theo tenang.


"Kau bercanda?"


"Tidak! Percaya padaku! Besok pagi pintu itu akan terbuka sendiri!" Theo tersenyum penuh arti.


"Besok pagi? Apa kau sudah gila?" Rosaline menatap tak percaya pada Theo yang sedang mangatur teropong bintangnya.


"Tidak ada opsi lain! Kita bermalam di sini! kau bisa tidur, sementara aku akan menjelajah langit." lagi-lagi Theo tersenyum manis.


"Sialan! Kepar*t!"


Rosaline yang tak punya pilihan lain, memilih pergi ke sudut dan mengeluarkan rokok yang tersembunyi dalam branya.


Ia lantas memantik dan menyesapnya dalam-dalam, melanjutkan percobaannya yang tertunda.


"Kau benar-benar pelit, ya? Merokok sendiri!" sindir Theo.


Rosaline menoleh dan menawarkan rokoknya dengan santai.


"Tidak! Aku bawa punyaku sendiri!" Theo mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya.


Ia meminjam pemantik Rosaline dan menyesap rokoknya dengan nikmat.


Dua murid pembangkang itu tersenyum, dan mereka merasa akrab tiba-tiba.


"Kau keren!" puji Theo blak-blakan.


"Tentu saja! Aku Rosaline!" sahut Rosaline datar.


"Sejak kapan kau merokok?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau sedang sensus data perokok aktif usia remaja?"


"Aku hanya penasaran."


"Karena aku seorang gadis, maka merokok itu aneh? Sejak kapan merokok menjadi milik kaum adam saja?" Rosaline tersenyum santai dan remeh.


Theo tergelak mendengarnya. ia merasa gemas pada si teman barunya ini. Ia tak tahu saja kalau itu pertama kalinya Rosaline merokok


"Kau tahu, kau gadis pertama yang membuatku kagum?" Theo tak sungkan memuji Rosaline meski mereka baru bertemu.


"Apa kau sedang merayuku?" Rosaline tersenyum sinis.


"Merayu? Yang benar saja!" Theo tergelak dan kembali menyesap rokoknya.


"Jika setiap pujian pria pada wanita artinya merayu, dunia akan penuh dengan perselingkuhan! Kau berbicara soal kesetaraan gender, tapi pikiranmu sepicik itu!" Theo tersenyum.


"Bukan picik, hanya percaya diri! Memang tidak boleh? Apa tidak boleh, tuan penguasa sekolah?" Rosaline mencondongkan wajahnya lebih dekat pada Theo yang jadi agak salah tingkah dan bersemu merah.


Rosaline tersenyum licik.


"Lihat! Kau baru saja menjadi picik juga! Atau terlalu percaya diri? Padahal aku hanya ingin melihat ini!" Rosaline mendorong Theo minggir demi mengintip lubang teropong bintangnya.


Theo tergelak dan tersipu malu mendengar itu.


"Wah! Kau mengerjaiku, hah? Ternyata kau pendendam!"


"Aku tidak paham apa yang kau lihat!" kata Rosaline mengabaikan perkataan Theo sebelumnya.


"Sini! Biar ku atur dulu agar lebih jelas!" Theo memutar-mutar tombol di sisi teropongnya lantas menyerahkannya kembali pada Rosaline.


"Bagaimana?" tanyanya.


Rosaline terdiam. Ia terlalu takjub sampai tak bisa berkata-kata.


Untuk pertama kalinya ia melihat langit dipenuhi cahaya beraneka warna.


Theo tersenyum melihat ekspresi teman barunya. Ia lantas menjelaskan rasi bintang apa sajakah itu, bahkan tanpa ditanya. Ia dengan senang hati berbicara tentang hobinya.


"Kau pernah dengar jika setiap roh orang mati akan jadi rasi bintang dan melihat kita dari atas sana?"


Rosaline menggeleng polos.


"Aku sedang mencari ibuku. Wanita pengecut itu mungkin sedang melihatku."


"Pengecut?"


"Hmm, dia mati bunuh diri. Pengecut, kan?" Theo menyesap rokoknya dengan santai, seolah ucapannya tak mengandung kesedihan. Meski demikian, Rosaline bisa melihat kesedihan di matanya.


"Ibumu pemberani bukan pengecut! Butuh keberanian besar untuk pergi dari dunia ini. Kau lihat, di rumah sakit begitu banyak orang sakit, para dokter punya pasien yang bertambah setiap harinya, itu tandanya lebih banyak orang yang takut mati."


Theo menoleh.


Apa si teman barunya ini sedang menghiburnya?


Jika iya, cara menghiburnya sangat aneh.


Tapi kemudian Theo tergelak.


"Wah, cara berpikirmu sungguh mengejutkan!"


"Ku anggap itu pujian." ucap Rosaline santai.


"Dan rayuan! Kau boleh menganggapnya begitu juga."


Mereka bertukar senyum.


Waktu berlalu, Rosaline perlahan tertidur. Theo yang menyadari itu segera mendekat. Ia menyelimutinya dengan jaket dan menyandarkan kepalanya ke atas bahunya.


Dan tanpa terasa Theo pun ikut jatuh tertidur di sampingnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2