
Pagi itu setelah dirawat semalam, dokter mengijinkan Rosaline pulang. Tapi ia tidak boleh beraktifitas berat dan stres.
Selain itu pola makannya harus benar-benar dijaga dan tidak boleh telat minum vitamin serta obat yang diresepkan.
.
.
.
"Kita mau ke mana?" tanya Rosaline saat Leon dan Dante mengajaknya menyusuri lorong bukannya menaiki tangga.
"Kak Leon memindahkan kamar kalian." jawab Dante.
"Ha?" menatap suaminya.
"Mulai sekarang kamar kita di bawah. Aku tidak mau kau naik-turun tangga!"
"Tapi aku lebih suka kamar kita yang dulu! Aku bisa melihat pemandangan dari atas balkon!" protes Rosaline.
"Jangan protes atau ku sentil!" gertak Leon.
"Aiiissshhh....dasar baji***n, kenapa kau seenaknya begini?!"
"Kurangi kebiasaan mengumpatmu, kak! Ingat, kakak sedang hamil!" omel Dante.
"Benar kata Dante, kau harus belajar menahan mulutmu! Sudah ku bilang, bayi kita bisa mendengarnya! Lagipula aku tidak seenaknya, aku hanya berusaha menjadi suami dan ayah yang baik!"
"Aiiiiissshhh, kenapa kalian kompak mengomeliku?!" Rosaline merenggut sebal.
"Lagipula kenapa harus pindah kamar? Kau kan bisa menggendongku ke atas!" protesnya lagi.
"Kak Leon harus ke kantor! Dia tidak bisa selalu ada di samping kakak. Ditambah lagi sekarang kakak lebih gendut. Kasian kak Leon, pinggangnya bisa encok!" kata Dante jujur dan polos.
Leon sebenarnya ingin berkata seperti itu juga, tapi ia sadar itu hanya akan memicu peperangan. Jadi dia memilih diam saja. Tapi masalahnya, mulut Dante tidak bisa diajak kompromi.
"Gendut?!" Rosaline mendelik tak terima.
Leon yang bingung harus berkata apa, buru-buru membuka pintu kamar baru mereka.
"Memang tak seluas kamar atas, tapi bukan berarti tidak bagus!" ucapnya agak terbata.
Tangannya membuka jendela kamar yang mengarah ke halaman depan rumah mereka.
"Di sini sejuk, bukan?" Leon berdiri di depan jendela, menikmati sepoy angin yang langsung menerpa kulitnya.
Rosaline tak peduli, ia masih meliriknya dengan tajam.
Kata 'gendut' sangat mengganggunya!
"Istirahatlah! Aku akan menyuruh bibi menyiapkan makan siang." ucap Leon sambil menarik Dante pergi bersamanya.
.
.
.
Rosaline ingin tidur, tapi ucapan Dante sangat mengganggunya.
Gendut, hah?
Ia bangun dan berlenggak-lenggok di depan cermin, kiri-kanan, depan-belakang.
Perutnya memang sudah agak terlihat jika diperhatikan dengan seksama.
Ia menatap wajahnya juga, pipinya memang agak menggembul.
"Kau sedang apa?" tanya Leon di depan pintu.
"Jawab aku! Apa aku terlihat gendut?" tanya Rosaline merenggut.
"Tidak!"
__ADS_1
"Kau bohong! Tatap aku! Tatap aku! Jawab jujur"
"Hmm"
Rosaline menarik suaminya ke depan cermin.
"Lihat! Pipiku terlihat gendut kan? Dan lenganku, sejak kapan jadi sebesar ini? Aiiiissshh, aku pasti jelek sekali! Benar kata Dante, aku sudah tidak cantik lagi!" Rosaline tiba-tiba merasa sangat down.
Ia duduk di tepi ranjang dengan kesal, moodnya berantakan!
"Kata siapa kau tidak cantik lagi?" Leon berlutut dan memegang tangan istrinya.
"Istriku sangat cantik! Kau yang paling cantik! Lagipula memangnya kenapa kalau tubuhmu tidak selangsing dulu? Ada bayi kita di dalam sini." Leon mengusap perut Rosaline.
"Kita harus memberinya makan dan memastikannya mendapat banyak nutrisi. Sayang, dengarkan aku! Semua wanita hamil pasti mengalami kenaikan berat badan. Itu harus! Karena bayi kita butuh makan. Kau tidak mau kan kalau bayi kita kelaparan?" Leon membelai lembut pipi Rosaline.
"Tapi kalau aku gendut, kau pasti jijik padaku!"
"Yakk, bagaimana bisa aku seperti itu? Langsing atau gendut kau adalah istriku! Kau adalah Rosaline ku yang sangat berharga! Ibu dari calon bayiku! Berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang sudah sewajarnya! Bibi sudah menyiapkan makan siang, ayo kita makan!" Leon menggandeng tangan Rosaline menuju ruang makan bahkan menarikan kursi untuknya.
Dante bergabung bersama mereka, ia duduk di depan Rosaline sedangkan Leon di tengah.
Rosaline masih kesal pada adiknya itu karena sudah mengatainya 'gendut'.
Dante tahu Rosaline sangat menyukai salad, ia berinisiatif untuk menyendokan salad. Tapi Rosaline menarik piringnya menjauh saat Dante hendak menaruhnya di piring Rosaline.
"Bukannya kakak sangat suka salad?" tanya Dante tak peka.
"Aku bisa ambil sendiri!" jawab Rosaline ketus.
Dante yang tak peka menaruh salad itu di piringnya dan memakannya sendiri, membuat Rosaline makin kesal.
Ia membanting sendoknya ke lantai. Leon sadar, tapi ia sudah terlalu lelah dan malas meladeninya saat ini. Nasehat dokter dan Daniel kakaknya serta artikel-artikel tentang kehamilan yang dibacanya di internet terngiang di kepalanya.
Kehamilan membuat wanita lebih sensitif dan mudah marah. Tak perlu terlalu diambil pusing. Biarkan ia melampiaskan amarahnya dulu, baru ditenangkan.
Hormon oh hormon!
Tapi kalau terus begini, lama-lama Leon bisa gila!
"Lalu kakak mau makan dengan apa?" tanyanya bingung.
"Tangan!" jawab Rosaline ketus.
"Tangan? Kakak mau makan sup pakai tangan? Apa kakak mau mengoboknya?" Dante masih tak peka Rosaline marah padanya.
"Aiiiissshhh,dasar baji***n! Diamlah, kepalaku pusing!" Rosaline meledak.
"Sebenarnya kakak kenapa? Aku mengambilkan salad dan sendok untukmu, tapi kakak malah marah-marah!"
"Dasar bocah tengik bodoh sia**n! Kau saja yang jelek dan gendut!"
Leon yang pusing, hanya bisa membenturkan dahinya ke meja dengan pasrah, sementara Dante melongo bercampur bingung menatap kakaknya menangis dan terus memakinya.
.
.
.
"Sayang....jangan begini! Ayo buka pintunya....!" Leon mengetuk pintu kamar barunya.
"Kakak.....buka pintunya! Aku minta maaf!" bujuk Dante yang sudah menyadari kesalahannya.
Ia terus mengetuk pintu, berharap kakak satu-satunya itu membukakan pintu dan menerima maafnya.
Setelah 30 menit lebih, akhirnya suara ketukan itu berhenti. Rosaline yang penasaran menguping di balik pintu. Ternyata memang sudah tidak ada suara di luar sana.
Entah kenapa, meski merasa terganggu dengan suara mereka tapi ia sekarang justru lebih kesal karena mereka berdua menyerah membujuknya.
Wanita itu membanting lampu di atas meja dengan marah.
Kalian tentu sudah paham benar. Sebelum hamil saja ia sudah tidak berakhlak apalagi ketika hamil, tentu makin parah!
__ADS_1
Rosaline emosi pada semua hal, bahkan semilir angin dari jendela yang bertiup sepoy-sepoy pun mengganggunya.
Ia bergegas menutupnya. Namun baru juga jarinya menyentuh ujung jendela, sesosok wajah yang sedang ia benci muncul di sana, mengagetkannya!
Sosok itu adalah Dante!
Adiknya!
"Kakakku yang paling cantik..... maafkan aku....maafkan adikmu ini....!" Dante membawa eskrim dan cake kesukaan Rosaline di tangannya.
.
.
.
Leon menggeleng tak habis pikir melihat istri dan adik iparnya duduk dengan akur di ruang tv.
Bahkan mereka saling menyuapi eskrim dan cake ke mulut satu sama lain.
Bagaimana bisa 2 manusia ini berubah drastis setelah pertempuran yang super menghebohkan di meja makan tadi?
Jujur saja Leon takjub sendiri!
"Ckckck...Kalian pasti mengidap bipolar!" sindir Leon pada Rosaline dan Dante yang pura-pura tak mendengar.
Mereka asyik sendiri seolah Leon hanya bayangan.
"Benarkah aku sangat cantik? Kau tidak bohong kan?"
"Tentu saja! Kakakku yang paling cantik! Sungguh aku tidak bohong!" puji Dante sambil mengacungkan jempolnya pada Rosaline.
"Kalian memang benar-benar kakak-beradik! Sama-sama aneh dan tak bisa ditebak! Ckckck...." Leon berlalu ke kamar.
Ia lelah dan ingin istirahat. Namun baru 15 menit memejamkan mata, suara derit pintu dan bantingan keras berulang-ulang mengganggunya.
Ia keluar kamar demi mencari sumber suara.
Ternyata angin sedang mempermainkan pintu ruang tamu yang terbuka.
Siapa yang membukanya? pikirnya.
Ia hendak menutupnya saat menemukan sesuatu teronggok di bawah sana.
Sebuah kotak berukuran kotak sepatu.
Dengan was-was, Leon mengambilnya.
"Itu apa, kak?" tanya Dante yang ikut terpancing ke depan karena suara tersebut.
"Entahlah."
Ia pergi ke halaman berusaha menemukan jejak pengirimnya, namun tak menemukan apapun dan siapapun.
Leon mengajak Dante membuka kotak itu di luar rumah, ia tak mau Rosaline melihatnya sebelum memastikan isinya aman.
Dan benar saja, isinya sebujur bangkai tupai dengan perut robek dan usus terburai bersimbah darah.
Keduanya menutup hidung karena baunya yang menusuk.
Dante bahkan hampir muntah dan berteriak panik, kalau saja Leon tak menahannya.
Tak hanya bangkai, terselip juga selembar kertas bermotif aneh dengan tulisan menggunakan tinta merah.
Isinya:
...Selamat atas pernikahanmu!...
...Ku harap kebahagiaanmu terenggut!...
...Seperti kau merenggut milikku!...
.
__ADS_1
.
.