
"Kenapa? Apa porsinya kurang? Mau ku buatkan lagi?" tanya Rosaline bersemangat.
Leon hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara.
"Baiklah, tapi jangan sungkan jika kurang aku akan membuatkannya lagi. Sepertinya dengan sedikit belajar aku bisa menjadi koki yang handal." ucapnya dengan penuh percaya diri membuat Leon hampir tersedak.
Leon tak kehabisan akal, dia mengambil potongan semangka di dalam kulkas yang dibeli Bobby di supermarket saat hendak mampir ke apartementnya dan memakannya bersama dengan nasi goreng secara bergantian.
Satu sendok nasi, satu potong semangka.
Rosaline yang tak peka malah menatap kagum.
"Wah, ternyata cara makan mu sangat unik. Tak masalah, makan lah yang banyak karena kau akan butuh banyak tenaga. Bukankah kita harus melanjutkan 'permainan' kita semalam?" dengan nada menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dan kali ini Leon benar-benar tersedak.
.
.
.
Sore hari Rosaline kembali ke motelnya.
"Nora, selama aku tidak di sini apa Dante melakukan tugasnya dengan baik?" selidiknya.
Nora terdiam sejenak. Sebenarnya Dante sudah mengancamnya agar tidak mengadukan kelakuannya kepada Rosaline.
"Apa dia pergi bersama teman-temannya lagi?" tanyanya pada Nora dengan sedikit emosi seolah mengetahui isi pikiran Nora.
Nora mengangguk pelan.
"Bocah tengik itu! Padahal baru kemarin dia membuatku terharu dengan kata-kata manisnya. Aishhhh, dasar bocah sia**n!" gerutunya.
"Lalu siapa yang menemani mu menjaga motel?"
"Tuan Bobby." jawabnya gugup.
Rosaline terkekeh geli mendengar jawaban Nora. "Apa dia menyukaimu?"
"Sepertinya." pipi Nora merona.
Baru kali ini dia bertemu dengan pria sebaik Bobby. Pria itu rela menemaninya menjaga motel setiap kali Rosaline berkencan dengan Leon, padahal dia punya kesibukannya sendiri.
Meski belum menyatakan cinta, tapi sepertinya mereka saling menyukai satu sama lain walaupun belum ada ikatan yang jelas.
"Apa kau menyukainya juga?" selidik Rosaline.
"Entahlah, aku hanya merasa nyaman saja saat dengannya."
__ADS_1
Sama seperti Rosaline ternyata Nora juga masih amatir mengenai masalah percintaan.
"Itu artinya kau suka padanya." ucap Rosaline sok mengerti urusan percintaan.
"Katakan padaku bagaimana cara seorang Leon menyatakan cintanya padamu? Kita tahu dia tidak seperti pria kebanyakan." tanyanya dengan senyuman penuh arti.
"Tidak seperti pria kebanyakan apa maksudmu? Apa kau sedang menghina pacarku,hah?" Rosaline balik bertanya dengan sewot.
"Ti-tidak, maksud ku kau tahu lah pacar mu itu bisa dibilang agak sedikit ekstrim dan blak-blakan. Aku hanya penasaran, kau jangan marah."
"Mmm.... Kau benar juga dia memang sedikit unik. Bayangkan saja dia pertama kali menyatakan cintanya dengan cara berteriak di dalam kantornya di depan para karyawannya seperti orang gila." jelas Rosaline.
Dulu dia berpikir kalau Leon sinting tapi setelah dipikir-pikir yang dilakukannya menggemaskan juga.
"Wah, luar biasa!" ujar Nora dengan wajah kagum.
"Apakah kau juga sudah menyatakan perasaanmu padanya?" tambahnya.
"Tentu saja." jawab Rosaline.
"Wah, aku benar-benar tidak percaya seorang Miss Rose menyatakan cinta. Beritahu aku bagaimana kau mengatakannya?" tanya Nora dengan wajah penasaran.
"Aku mengatakannya begitu saja." jawab Rosaline datar.
"Tidak, maksud ku apa yang harus ku lakukan saat ingin menyatakan cinta?" ucap Nora keceplosan.
"Ow, apa kau berniat menyatakan cinta terlebih dahulu? Wah Nora, ternyata kau punya sisi agresif juga." godanya.
"Yang pasti harus dilakukan di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian, tatap matanya lebih dekat, bisikan pernyataan cintamu setulus mungkin. Maka efeknya akan seperti sihir." ucapnya sambil membayangkan pernyataan cintanya untuk pertama kali pada Leon di room karaoke.
"Aku jadi merinding mendengarnya. Kau sudah lebih berpengalaman daripada aku sekarang, Miss Rose. Aku salut padamu." Nora mengacungkan jempolnya membuat Rosaline tersipu.
"Lalu apa kalian sudah melakukannya? Kau jadi sering ke apartementnya, mustahil kalau kalian belum melakukannya." pertanyaan Nora terus menjurus ke arah yang lebih pribadi.
"Yakkk, kau di sini bekerja sebagai resepsionis apa detektif swasta? Kau terus memberiku pertanyaan seperti sedang menginterogasiku saja. Kerjakan tugasmu dengan baik dan jangan bergosip!" Ujar Rosaline kembali bar-bar.
"Ah, reaksimu yang seperti itu sudah menjawab semua pertanyaanku. Benarkan? Tidak salah lagi."
"Ssstttttt.....tutup mulut mu dan bekerjalah dengan baik atau aku akan memotong gajimu." ucapnya sambil berlalu tidak mau terjebak lebih jauh dengan pertanyaan sahabatnya itu.
.
.
Sungguh manusia itu adalah penonton sejati dan komentator terbaik bagi sesamanya.
Di tempat lain Dante adik kesayangan Rosaline satu-satunya ini sedang memberikan saran bagaimana menyatakan cinta dengan 99% kemungkinan diterima pada Bobby, padahal pacaran saja dia belum pernah.
Menurut Dante yang konon dari film-film romantis yang dia tonton.
__ADS_1
Wanita adalah makhluk yang butuh perhatian tapi gengsi untuk mengatakan.
Ibarat sedang memancing, mereka lebih suka menunggu dan menarik ulur umpan daripada berenang mengerjar si ikan. Bingung?
Sama!
Intinya Dante sedang memberikan tips-tips yang menurutnya spektakuler pada Bobby yang berniat meresmikan hubungannya ke tahap pacaran dengan Nora.
"Bunga? Jangan! Itu terlalu mainstream. Bagaimana kalau memberikan wine? Menurut peribahasa, minuman bisa memberikan kebahagiaan kepada seseorang." ucap Dante sambil menyodorkan sebotol wine yang harganya sangat mahal.
Bobby berpikir sejenak sebelum mengernyitkan dahinya.
"Apa kau sedang promosi? Kalau kau penjual lotre apa kau akan menyarankan ku untuk mengajaknya membeli lotre bersama agar lebih romantis?Kenapa kau tak menyarankan ku untuk menyewa seluruh ruang di motel ini sekalian agar dia terkesan? Dan itu peribahasa dari mana? Aku baru mendengarnya."
Perkataan Bobby membuat Dante nyengir karena akal bulusnya terbongkar.
"Aku benar soal peribahasanya." jawab Dante.
"Tunggu! Apa kau sudah pernah pacaran?" tanya Bobby curiga dan berhasil membuat Dante salah tingkah lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
"Sebaiknya kita minta saran kak Leon saja! Wanita se bar-bar kakak ku saja bisa dia taklukan." ujar Dante sok merinding.
"Kau benar! perihal menyatakan cinta pasti hanya urusan kecil baginya."
Dante dan Bobby manggut-manggut.
"Telepon dia sekarang juga!"
.
.
.
"Sebagai laki-laki, kita tidak boleh hanya diam menunggu! Kalau sudah ada sinyal-sinyal cinta, teriakan saja dengan penuh percaya diri dan berani! Dan lakukan itu di tempat umum dan di hadapan banyak orang. Itu akan membuat mu terlihat lebih keren dan terkesan memperjuangkan cinta itu sepenuh hati." ujar Leon berapi-api.
Bobby dan Dante saling lirik, ragu akan saran Leon yang bar-bar dan tak beradab.
Leon memang berpengalan dalam hal menaklukan wanita, tapi sebenarnya ia juga dangkal dalam urusan menyatakan cinta karena wanita-wanita yang ditaklukannya hanya sebagai selingan saja dan ia tidak pernah benar-benar menyatakan cinta pada mereka.
"Mmh, baiklah aku akan mempertimbangkannya." Bobby mengakhiri panggilan teleponnya sebelum mendengarkan curhatan Leon yang sepanjang rel kereta api.
Ia tahu Leon sedang membual, karena seingatnya dulu pernyataan cinta itu diawali dengan insiden terpergoknya Leon bersama wanita lain di ruang kerjanya dan berakhir dengan pertengkaran hebat sampai membuatnya sakit berhari-hari.
"Jadi bagaimana?" tanya Dante.
"Entahlah." Bobby mendesah bingung.
.
__ADS_1
.
.