Dandelion Motel

Dandelion Motel
1 Bulan berlalu


__ADS_3

Leon menggandeng tangan Rosaline untuk menaiki sebuah kapal pesiar.


Senyuman wanita itu merekah ketika matanya dimanjakan dengan pemandangan yang indah saat kapal itu mulai berlayar.


Satu hal yang baru dia sadari beberapa menit setelah puas melihat keindahan malam di atas pesiar.


"Sejak tadi aku tidak melihat penumpang yang lainnya, apa kau....? Kau tidak menyewa kapal ini secara pribadi kan?"


Leon menggaruk tengkuknya yang tak gatal. " Rosaline, apa kau lupa ini sudah 1 bulan sejak kita mulai berkencan?"


"Aku ingin mengakhirinya." lanjut pria itu.


Wanita itu mematung, jantungnya berdegup lebih kencang ketika Leon menyebutkan kata 'mengakhiri'. Pikirannya berkelana memikirkan bahwa pria itu memang hanya ingin bermain-main dengannya.


"Aku tak ingin berkencan lagi."


Leon tiba-tiba berlutut di hadapannya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah dengan cincin indah di dalamnya.


"Aku ingin menjadi suamimu. Rosaline, menikahlah denganku."


Rosaline menitikan air matanya, ia tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan benar-benar melamarnya.


"Mau kah kau menerima baji***n seperti ku menjadi suamimu?" tanyanya kembali dengan penuh harap menanti jawaban dari kekasihnya itu.


"Yakk, apa kau benar-benar tahu arti sebuah pernikahan?" dengus Rosaline di sela tangisannya.


Leon kembali berdiri dari posisi berlututnya "Kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya." jawab pria itu.


"Mencobanya? Apa bagimu pernikahan hanya untuk bahan percobaan?" dengusnya lagi.


"Maksudku, kita harus melakukannya baru kita akan tahu artinya." Leon mulai salah tingkah, dia tidak menyangka lamarannya akan mendapat respon seperti itu dari Rosaline.


"Apa kau tahu ketika kau memutuskan untuk menikah sama artinya dengan kau hanya boleh memakan satu macam makanan saja sepanjang hidupmu? Selama ini kau menjalani hidup dengan bebas, apa kau tidak akan bosan?" jelas Rosaline.


"Aku melamarmu tapi kau malah menakutiku?" ucap Leon.

__ADS_1


"Apa kau takut? Lihatlah belum apa-apa kau sudah merasa takut. Bagaimana kalau nanti kau melarikan diri?"


"Kalau begitu tarik aku kembali." jawab pria itu.


"Jadi kau sudah berniat untuk kabur?" tanya wanita itu lagi dengan air mata yang terus mengalir.


"Rosaline dengarkan aku! Hanya kau satu-satunya wanita yang ku inginkan." Leon meraih kedua pundak kekasihnya itu mencoba untuk menenangkannya.


"Aku tahu kau sedang merasa ragu. Tapi aku bersungguh-sungguh ingin menikahimu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. Dan sebelum aku berjanji padamu aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga dan mencintaimu seumur hidupku." ucap Leon dengan raut wajah yang benar-benar tulus sambil menyeka air mata di pipi wanitanya.


"Jadi apa kau akan menerimaku atau tidak?" tanya Leon sekali lagi.


"Ayo jawab aku, apa aku perlu belutut lagi seperti tadi?" pria itu hendak berlutut tapi tangan Rosaline mencegahnya.


"Ayo pakaikan cincinnya sebelum aku berubah pikiran." ucap Rosaline sambil menyodorkan jari-jari indahnya ke arah Leon.


"Apa itu berarti kau menerima lamaranku?" Leon memastikan.


"Ya, aku menerimanya." jawab Rosaline mantap dengan senyuman yang terulas di bibirnya.


"Terima kasih, Rosaline. Aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu seumur hidupku." bisik pria itu kemudian memeluk wanitanya dengan sangat erat.


Malam itu mereka berdua benar-benar terhanyut dalam kebahagiaan. Seolah semua kemirisan dalam hidup mereka menguap begitu saja.


.


.


.


Entah sudah berapa lama Leon terduduk di meja kerjanya sambil terus menatap layar ponselnya dengan penuh keraguan sebelum akhirnya dia benar-benar merasa yakin untuk menelpon seseorang.


Pria itu merasa sedikit gugup menunggu sampai panggilan telponnya terhubung. Matanya berbinar saat seseorang diseberang sana mulai menjawab.


"Hallo, Leon anakku." ada kebahagiaan dalam nada suaranya.

__ADS_1


"Ibu, ada yang harus aku sampaikan kepada ibu dan ayah." ucap Leon.


"Ya, katakanlah." dengan antusias


"Mari bertemu di rumah akhir minggu ini." ujar Leon.


"Baiklah, ibu akan menunggumu."


Leon mengakhiri panggilan telponnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Setelah sekian lama akhirnya dia berbicara lagi dengan ibu yang membesarkannya. Tiba-tiba pria itu merasa telah durhaka dan berdosa kepadanya.


Bulir air matanya terjatuh, Rasa rindu itu hinggap kembali setelah sekian lama dengan susah payah dia tahan.


Di tengah tangisnya Bobby masuk ke ruangannya tanpa aba-aba.


"Aishhhh, biasakan mengetuk pintu sebelum masuk!" gerutu pria itu, kesal bercampur malu karena terpergok sedang menangis.


"Wah....kau bisa menangis juga rupanya." ujar Bobby mengejek.


"Yakk...kalau tidak ada yang penting keluar lah! Kau sangat mengganggu." dengus Leon.


"Kalau kau ingin menangis, menangis lah jangan malu-malu. Siapa bilang pria tidak boleh menangis? Apa pria bukan manusia, kita juga sekali-kali harus menangis untuk me...."


"Aishhhh, berhenti mengoceh. Aku tidak menangis, bodoh! Aku hanya kelilipan." elak Leon.


"Apa kau yakin? Sepertinya kau memang menangis." tanya Bobby dengan tatapan meneliti.


"Yakkk, keluar sekarang atau ku lempar kau!" Leon tidak terima diejek.


Lalu Bobby keluar sambil cekikikan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2