
Leon keluar dari sebuah toko pizza dengan menenteng 1 kotak di tangannya.
Hujan!
Ia buru-buru masuk ke mobil.
Perjalanan dari kantor ke rumah biasanya hanya memakan waktu 15 menit, tapi karena tadi sedikit mengantre di toko pizza ditambah hujan deras yang membuat jalanan jadi banjir dan mengakibatkan lalu lintas agak macet, sehingga membutuhkan hampir 1 jam perjalanan untuk sampai di halaman rumahnya yang gelap gulita.
"Pasti listriknya sedang bermasalah!" gumamnya.
Ia bergegas keluar dari mobil sambil menunduk melindungi pizza yang dibawanya agar tidak basah.
Dingin....udara begitu dingin, anginnya juga sangat kencang. Mungkin sebentar lagi akan terjadi badai.
"Sayang...aku membawa pizza pesananmu!" Leon mencari istrinya dalam keremangan rumah yang hanya diterangi cahaya lilin.
"Rosaline....sayang....kau di mana?" ia menyusuri lorong demi lorong.
Leon mencari ke setiap tempat, mulai dari dapur, hingga basement namun tak ada.
Di mana istrinya?
"Rosaline.....Rosaline....jangan bercanda! Aku sedang tidak mau main petak umpet sekarang!" teriak Leon, namun tetap tak ada jawaban.
Ia mulai resah.
Leon menelepon nomor istrinya. Terdengar suara dering ponsel di kamar. Ia buru-buru ke sana, tapi yang ia temukan hanya ponsel Rosaline yang tergeletak di atas nakas tanpa pemiliknya.
Di mana Rosaline?
Ia melirik jam di tangannya, sudah menunjukan hampir pukul 11 malam. Rasanya aneh jika istrinya berkeliaran sendirian di jam begini, walaupun kelakuannya kadang tidak bisa ditebak.
Tiba-tiba Leon mendengar suara teriakan keras menggema dari arah luar.
Rosaline?
Leon melepaskan begitu saja kotak pizza yang sedari tadi ditengtengnya dan berlari keluar.
Di luar hujan semakin lebat dan petir tak henti menyalak. Tubuh Leon terombang-ambing disapu badai yang tiba-tiba datang.
"Rosaline....Rosaline....!" teriaknya tanpa lelah.
Matanya terus mencari-cari di sekitar halaman rumahnya yang cukup luas dari mana asal suara itu, berharap bisa menemukan istrinya.
Ia basah kuyup dan kedinginan.
Suara teriakan itu terdengar kembali, kali ini lebih keras.
"Leon.....Leon...!" kali ini teriakan itu berubah memanggil namanya.
"Rosaline...! Kau di mana?" mata Leon mencari ke semua sudut halaman dengan bingung.
Kilat menyentak dan untuk sesaat membuat tempat itu terang benderang, sebelum petir datang menyambar sebuah pohon di dekatnya.
Blaaarrrrr.....
Pria itu melompat kaget dan jatuh terguling, meski sempat mengaduh kesakitan dan syok setengah mati menyaksikan pohon di depannya hangus terbakar, namun ia berhasil bangkit kembali.
"Rosaline....! Kau di mana?"
Ia melanjutkan pencarian dengan tertatih. Kakinya terkilir dan pipinya sobek tergores ranting.
Setelah beberapa lama ia melihat sesuatu di atas, tepatnya di lantai atap rumahnya.
"Rosaline! Apa kau di sana?" teriaknya.
Kilat kembali menjala langit, cahayanya yang terang membantu Leon melihat lebih jelas.
Dan benar, istrinya ada di atas sana!
Ia bersama seorang pria berpakaian dan bertopi serba hitam dengan senyuman yang familiar.
Jason!!!
Apa yang dilakukannya kepada Rosaline?
Tiba-tiba tulisan dalam surat ancaman yang ditemukannya beberapa hari yang lalu terngiang kembali.
...Selamat atas pernikahan kalian!...
__ADS_1
...Semoga kebahagiaan kalian terenggut!...
...Seperti kau merenggut milikku!...
Leon tersentak!
Benaknya berkelana ke mana-mana.
...Rupanya maksudnya seperti ini?!...
...Surat itu untukku?...
...Yang dimaksud 'milikku' dalam surat ancaman itu adalah Rosaline!...
...Karenanya ia ingin menghabisi anakku!...
...Psikopat gila itu bahkan tidak peduli jika harus menyakiti Rosaline?!...
Leon tercekat panik!
Otaknya kelabakan mencerna semua kegilaan ini.
Ia hendak berlari menyusul ke atap tapi sudah terlambat, tubuh Rosaline telah terjun bebas didorong psikopat gila itu.
Wanita hamil itu terjatuh mengantam tanah, berguling sampai akhirnya sampai di bawah kaki suaminya yang baru beberapa meter melangkah.
Tubuh Leon gemetar.
Ia spontan menutup matanya karena takut, kaget dan syok luar biasa.
"Leon...." panggil Rosaline terbata.
Sekujur tubuhnya penuh luka, ia berlumuran darah!
Jemarinya yang koyak meraih ujung sepatu Leon.
"Rosaline....Rosaline...!!!" seketika ia bersimpuh memeluk tubuh istrinya.
Di atas atap, suara tawa Jason melengking keras. Ia puas dan sangat bahagia.
"Ba...bayi kita...." nafas Rosaline tersenggal, ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Pria itu berteriak histeris sambil mendekap erat tubuh lemah istrinya.
Ia masih bisa merasakan detak jantung dan desah nafas Rosaline yang tipis mengkhawatirkan.
Tidak bisa!
Tidak bisa seperti ini!
Ia tidak mau kehilangan Rosaline dengan cara seperti ini.
"Rosaline....Rosaline....! Dengarkan aku! Buka matamu, sayang....! Ayo buka matamu! Aku tidak bisa seperti ini...! Aku tidak mau seperti ini...! Ayolah, jangan seperti ini! Jangan.....!" Leon menangis.
Ia menangis sambil menepuk-nepuk pipi istrinya, namun siapa ia yang bisa menentang takdir?
Rosaline telah pergi, ia telah tiada.
Jantungnya berhenti, nafasnya menghilang.
"Yakk, Rosaline! Jangan bercanda! Ku bilang bangun! Bangun! Kau mau kabur? Ku mohon jangan kabur! Kau jangan seperti ini.....aku bisa mati...aku bisa mati jika kau....jika...." Leon tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Ia tahu istrinya tak mungkin kembali.
Segalanya mendadak gelap!
Benar-benar gelap!
Leon mendongak penuh amarah ke atas sana, matanya berkilat menatap wajah pria jaha**m yang tengah tergelak bahagia.
Kilat kembali singgah lalu petir menerjang pepohonan di sekitarnya.
Api besar membungbung tinggi ke angkasa.
Nyalanya melahap segala hal yang ada.
Leon terkepung dan ia tak punya tenaga lagi untuk berlari atau sekedar menyelamatkan diri, sebab Rosaline telah tiada.
Rosaline telah pergi bersama calon anak mereka untuk selamanya.
__ADS_1
.
.
.
"Leon!!! Bangun!!! Bangun!!! Yakk, kau kenapa?" Rosaline mengguncang-guncangkan bahu bahkan menampar pipi suaminya yang mengerang dan menangis dalam tidurnya.
"Rosaline...Rosaline....!" Leon akhirnya membuka matanya dengan nafas tersenggal tak karuan.
"Tenanglah! Itu hanya mimpi, semuanya baik-baik saja!" Rosaline memeluk raga suaminya yang menggigil dan basah oleh keringat.
Ia menepuk dan mengusap-usap punggung suaminya sekitar 10 menit sampai ia berangsur tenang.
Rosaline mengambil segelas air di nakas dan memberikannya pada Leon yang langsung meneguknya tanpa tersisa.
"Ada apa?" Rosaline mengelus pipi suaminya yang tampak pucat.
Leon menggeleng, tapi jarinya tidak bisa berbohong. Ia memegang gelas di tangannya dengan gemetar.
Rosaline mengambil gelas itu kembali meletakannya di atas nakas, lalu menggenggam erat kedua tangan suaminya.
Ia menatap matanya yang tampak kalut.
"Katakan padaku! Kau mimpi apa? Jangan dipendam sendiri! Seburuk apa sampai kau seperti ini?" tanyanya perhatian.
Alih-alih menjawab, Leon malah memeluknya dengan sangat erat sampai Rosaline merasa agak kesakitan.
Sadar istrinya kesakitan, Leon segera melepaskan pelukannya dan meminta maaf.
Leon menunduk, jantungnya masih berdebar tak terkendali.
Mimpi itu begitu nyata.
Sangat nyata!
"Sayang, jangan buat aku penasaran! Ceritakan padaku! Bagi bebanmu! Kau tidak biasanya seperti ini!" Rosaline mulai tak sabar.
Ia cemas setengah mati melihat kondisi suaminya.
Perlahan Leon mendongak, dipandanginya wajah Rosaline lalu beralih ke perutnya yang mulai terlihat tak rata.
Ia mendesah lega dan bersyukur sebab yang dialaminya barusan hanyalah mimpi.
"Aku mimpi sesuatu yang buruk menimpamu....Kau meninggalkanku....bersama bayi kita....maaf...maafkan aku tidak bisa menyelamatkan kalian..." Leon bercerita dengan suara parau. Ia gemetar dan tak kuasa menahan air matanya.
Pria itu bersimpuh, ia meletakan kepalanya dipangkuan Rosaline seraya terus meminta maaf.
Rosaline semakin bingung dan penasaran. Seburuk apa mimpi suaminya sampai ia seperti ini?
Rosaline mengelus lembut kepala Leon.
"Sudah...tenanglah! Kau baik-baik saja, bayi kita baik-baik saja. Semuanya hanya mimpi! Dengarkan aku! Lihat aku! Lihat aku!" Rosaline mengangkat wajah suaminya yang basah oleh air mata.
Matanya sembab, hidungnya merah.
"Ku dengar jika kau bermimpi seseorang mati, itu berarti dia akan berumur panjang. Jangan cemaskan apapun! Aku akan hidup selama seribu tahun! Aku tidak akan meninggalkanmu! Bahkan jika aku mati, aku akan terus mendatangimu sebagai hantu. Bagaimana?" hibur Rosaline. Dan mau tak mau, sebersit senyum merekah diujung bibir suaminya.
Mereka kembali berpelukan, Leon mengecup dan membelai lembut perut istrinya.
"Sekarang kita tidur lagi ya!" Rosaline mengajak Leon kembali berbaring dan menepuk-nepuk lembut dadanya.
"Apa perlu ku nyanyikan lagu nina bobo?" tanya Rosaline polos.
"Jangan! Aku bisa mimpi buruk lagi nanti."
"Yakk!!" Rosaline merenggut.
Leon tersenyum dan mengecup kening istrinya.
"Kau harus janji, tidak boleh mati lebih dulu dariku!"
"Tenang saja, kau tidak akan kesepian! Jika aku mati, aku akan jadi hantu dan mengajakmu bersamaku." kata Rosaline serius dan membuat Leon sedikit kaget dan takut.
Hening sejenak, lalu keduanya tertawa.
.
.
__ADS_1
.