Dandelion Motel

Dandelion Motel
Drama


__ADS_3

William menatap aneh Leon dan Rosaline yang duduk berjauhan di meja makan.


Tentu saja itu tidak seperti biasanya, setelah beberapa hari tinggal bersama mereka bocah itu sudah terbiasa disuguhi adegan romantis dari pasangan suami-istri itu.


Dan sekarang melihat mereka duduk berjauhan tentu saja menerbitkan rasa ingin tahunya.


Rosaline duduk di kursi paling ujung dan mereka tidak bertegur sapa sejak dari tadi.


"Apa paman dan bibi sedang bertengkar?" tanyanya lugu membuat Daniel hampir tersedak dan seketika melotot ke arahnya, namun bocah itu tidak mempedulikan tatapan ayahnya.


"Tidak!" jawab Leon dan Rosaline nyaris bersamaan.


"Lalu kenapa kalian duduk berjauhan?" tanyanya lagi, membuat Daniel semakin tidak enak dengan sikap William yang tidak sopan tapi jujur sebenarnya dia juga sedikit penasaran.


"Pamanmu bau!" ucap Rosaline tanpa basa-basi.


"Yakk...aku sudah mandi tadi lagi." protes Leon heboh.


William yang penasaran mengendus Leon yang memang duduk di sampingnya.


"Paman memang sedikit bau!" polosnya.


"Yakkk...aku bau karena tadi setelah mandi aku menyiapkan sarapan untuk kalian."


"Tapi tetap saja sedikit bau!"


Daniel berusaha menahan tawa menyaksikan drama keluarga di depannya.


Trio yang selalu berulah!


"Sayang, kau berlebihan. Ini bukan karena aku bau, tapi karena hidungmu yang sedang sensitif."


Namun Rosaline masih mengerucutkan bibirnya tak mau terima.


"Baiklah, aku memang bau!" ucap Leon dengan lemas lalu bangkit dari kursinya.


"Kau mau ke mana?" tanya Daniel.


"Aku sudah selesai. aku mau mandi lagi untuk menghilangkan bau ini." jawabnya sambil melirik Rosaline yang seakan tak peduli dan asyik menyantap rotinya dengan santai.


"Apa mereka biasanya seperti ini?" bisik Daniel pada William.


"Biasanya lebih parah, ayah!" bisik William sambil cekikikan.


.


.


.


Pagi itu di ruangan kantor barunya, Bobby sedang memeriksa laporan penjualan properti di perusahaan milik Leon yang masih terbilang masih sangat baru tapi sudah mencapai jumlah yang fantastis dan meroket hingga menjadi fenomenal di dunia perbisnisan.


Tentu saja itu tidak terlepas dari hasil kerja kerasnya juga, mengingat Leon tidak bisa selalu berada di kantor karena harus membagi waktunya antara mengurus perusahaan dan merawat istrinya yang tengah hamil muda.


Itu berarti kesuksesan perusahaan Leon sama saja dengan kesuksesannya juga.


Pria itu tengah terbahak kegirangan saat pintu ruangannya mendadak terbuka.


Nora!

__ADS_1


Seketika ia menutup mulutnya dan mendadak bersikap sok cool ala Direktur perusahaan besar yang penuh dengan wibawa.


Ya, setelah sebelumnya menjadi sekertaris pribadi Leon. Kini ia diangkat menjadi direktur pemasaran di perusahaan baru Leon.


"Ah, Nora." Bobby berdiri menyambutnya.


Mereka sudah resmi pacaran jadi Bobby menyapanya dengan lebih akrab.


"Kau sepertinya sedang sangat berbahagia sampai suara tawa mu terdengar keluar." ujar Nora.


"Ah, benarkah? hehehe...." Bobby tertunduk malu lalu mengajak Nora duduk di sofa.


"Ada apa?" tanyanya dengan mata berbinar kasmaran.


"Ibuku membuat ini. Dan aku rasa kau akan menyukainya." Nora meletakan kotak makan di atas meja.


"Wah, ibumu sangat perhatian! Suamimu pasti akan sangat beruntung bisa makan enak setiap hari." ujar Bobby disusul senyuman malu-malu kucing dari keduanya.


"Eh, tunggu sebentar! Ada sesuatu di rambutmu." Bobby menjulurkan tangannya untuk membuang kotoran kecil di rambut Nora.


Keduanya saling pandang dan wajah Bobby mendekat perlahan.


Ekspresi keduanya menegang karena tak pernah berjarak sedekat ini sebelumnya.


Nora menutup mata dan mencondongkan wajahnya, bersiap menerima jenjang selanjutnya dari hubungan mereka - sebuah ciuman.


Mulut Bobby sudah monyong -monyong dam sedikit lagi menuju tujuan namun tiba - tiba pintu terbuka.


Sekertarisnya muncul di ambang pintu.


Kontak saja mereka kelabakan, Bobby kaget tak karuan sampai terjatuh ke lantai.


"Yakk...apa kau tidak bisa mengetuk dulu?" tanya Bobby kesal, sambil berusaha merangkak kembali ke atas sofa.


Nora menahan tawa, ada semburat merah di pipinya.


"Eh, maaf!" sekertaris itu menutup pintu dengan cepat.


Bobby tersenyum pada Nora dan hendak melanjutkan romansa mereka namun suara ketukan pintu kembali menyela, dilanjutkan oleh wajah sekertaris itu yang lagi - lagi muncul dengan senyuman tolol tanpa merasa berdosa.


"Yakkkk....!!!"


"Saya sudah mengetuk pintu barusan."


Ucapanya membuat Bobby benar- benar geram sendiri dan kehabisan kata - kata.


Nora tidak bisa lagi menahan tawanya dan membuat Bobby tak jadi marah, ia luluh melihat tawa renyah kekasihnya.


Sangat menggemaskan!


.


.


.


Seusai makan William bermain dengan Daniel di taman untuk melepas rasa rindunya.


Sementara itu di kamar.

__ADS_1


Leon baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


Hari ini sepertinya ia harus telat pergi ke kantor gara - gara harus mandi dan bersiap - siap 2 kali.


"Kemarilah, biar ku cium baumu! Aku mau pastikan kau sudah wangi atau belum." Rosaline berbaring menggoda di atas tempat tidur.


"Apa kau senang membuatku malu seperti itu?" dengus Leon sedikit kesal sambil bersiap memakai kemeja dan celana bahannya.


" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Bahwa kau BA - U!" ucap Rosaline dengan senyuman santai.


Ia bangun dan duduk bersandar di ranjangnya.


"Sudah ku bilang itu karena hidungmu yang lebih sensitif karena kau sedang hamil."


"Ckckck...ayahmu memang pintar mencari alasan, nak!" Rosaline menunduk sambil mengelus lembut perutnya.


Leon lansung mendekat, ia berlutut di tepi ranjang.


"Jangan percaya ibumu, dia hanya ingin mempermalukan ayah saja." bisiknya sambil memegang perut Rosaline.


"Kau harus percaya ibu!"


"Tidak, kau percaya ayah saja!"


"Kalian sedang apa?" William menatap polos bercampur bingung melihat Leon tengah berbicara pada perut Rosaline.


Leon yang mendengarnya seketika menoleh.


Bocah penggangu ini lagi!


"Sini sayang, pamanmu sedang berbicara dengan bayi di perut bibi."


Dengan segera William berlari menyongsong ke arah mereka dengan wajah antusias.


"Benarkah ada bayi di perut bibi?" tanyanya lugu.


"Iya, sini mendekat! Apa kau mau menyentuhnya?" tanya Rosaline dengan senyuman sama antusiasnya.


"Ya, aku mau!" bocah itu mengangguk lalu berangsur mendekat.


Rosaline meraih tangan William dan meletakannya di atas perut ratanya.


"Mana bayinya, bibi? aku sama sekali tidak merasakannya."


"Belum, sayang! Nanti setelah perut bibi membesar baru kau bisa merasakanya bergerak - gerak." jelas Rosaline.


"Benarkah? Apa nanti aku boleh sering ke sini untuk melihatnya?"


"Tentu saja!" ujar Rosaline.


Leon hanya berdecak melihat kedekatan istri dan keponakannya itu.


"Aku juga ingin memiliki adik bayi. Bahkan dulu sudah ada adik bayi di perut ibu, tapi karena ibu sakit jadi adik bayiku juga ikut sakit. Aku jadi tidak bisa melihatnya lahir ke dunia." William menunduk dengan tatapan sedih membuat Leon dan Rosaline ikut terenyuh.


Keduanya bersitatap sejenak, Leon tahu Rosaline sedang memikirkan bagaimana rasanya kehilangan anak dalam semalam. Rasanya pasti sangat menyakitkan dan tak terbayangkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2