Dandelion Motel

Dandelion Motel
Cinta yang Tak Ingin Diungkap


__ADS_3

"Maafkan aku kak, aku benar-benar minta maaf." ucapnya lagi di tengah tangisannya.


"Dante, berhentilah menangis. Kau itu anak laki-laki, jangan cengeng." ujar Rosaline mencoba untuk tidak ikut menangis.


Dante menatap kakaknya, "Aku tidak akan kuliah di AS."


"Kenapa, Bukannya selama ini kau sangat ingin kuliah di sana? Padahal tabungan kita sudah cukup." selidik Rosaline penasaran.


"Nilaiku tak masuk." jawab Dante sedikit ragu.


Tiba-tiba Rosaline terbahak. Di saat moment mengharukan seperti ini pun Dante masih bisa membuatnya tertawa dengan tingkah konyolnya.


Dante mulai kesal dengan Rosaline karena menertawakannya. "Bisakah kakak berhenti mengejekku?"


Wanita itu mencoba berhenti tertawa, walaupun dari raut wajahnya dia terlihat susah payah untuk menahannya.


"Selain itu aku ingin tetap bersama kakak dan menjaga kakak." kata Dante kembali membuat suasana menjadi sedih.


"Dante, kau telah menjagaku tanpa aku minta. Kakak sudah melihatmu tumbuh dengan baik, bahkan sekarang kau sudah lebih tinggi dari kakak. Tidak perlu pergi kuliah d AS untuk membuat kakakmu bangga. Tugasmu hanya belajar dan menjalani hidup sesuai dengan keinginanmu. Buktikan kalau kau bisa menjadi orang yang hebat, mengerti?" ucapnya sambil mengusap rambut adiknya.


Dante mengangguk pasti dengan senyuman lebar. Mood Dante memang cepat berubah, baru saja dia tersedu di pelukan kakaknya tapi sekarang ekspresinya sudah kembali cengengesan.


.


.


.


"Kak leon..di sini kak..!" seru Dante sambil melambaykan tangan membuat Rosaline menoleh.


Pria itu segera menghampiri mereka berdua setelah melihat Dante melambaykan tangan padanya.


Rosaline melirik ke arah adiknya dengan tatapan sinis. "Yakk..."


"Maafkan aku, kak. Ini akan menjadi kenakalanku yang terakhir. Aku ada tes siang ini. Kakak pulanglah bersama kak Leon, ya!" ujar Dante.


Dante segera berlari masuk ke dalam mobil menghindari amukan dari kakaknya kemudian berlalu dengan mobilnya. Sementara Rosaline masih berdiri menatap Dante dengan wajah kesalnya.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Leon yang kian mendekat.


"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu sambil memegang bahu Rosaline.


"Dante bilang suasana hatimu sedang tidak baik." tambahnya.


"Sudah lebih baik." jawab Rosaline.


"Apa perlu kita melakukan metode hitung mundur lagi?" goda Leon.


"Chhhh..." Rosaline tergelak.


.


.

__ADS_1


.


Mereka berdua mulai berjalan menyusuri pantai.


"Aku penasaran pada satu hal." ucap Rosaline.


"Apa itu?" tanya Leon.


"Aku yakin kau sangat pandai merayu wanita, apa kau selalu menggunakan metode hitung mundur untuk menenangkan mereka?" selidiknya.


"Tidak pernah, aku hanya melakukannya padamu saja." ungkap Leon


"Benarkah?" masih tidak percaya pada ucapan pria itu.


"Tentu saja, aku tidak pernah berbohong." tegasnya.


"Kalau begitu siapa yang mengajarkanmu metode itu?" tanya wanita itu lagi


"Ah, itu rahasia."


"Yakk, baru saja kau bilang tidak pernah berbohong sekarang kau mau main rahasia-rahasian denganku?" dengus Rosaline kesal.


"Setidaknya beritahu aku dia pria atau wanita?" tambahnya.


"Wanita." jawab Leon singkat.


"Aishhh, pasti dia salah satu jala*g yang pernah kau kencani kan? Ayo cepat jawab! Benar kan dugaanku?" emosinya mulai naik.


"Bukan, sayang." ucapnya lembut sambil memegang kedua pundak wanita itu.


"Dia adalah ibuku. Ibu sambungku." jelas Leon sambil menghela nafas. Dan wajahnya kini berubah muram.


"Ah ya, maaf. Seharusnya kau beritahu lebih awal." Rosaline sedikit merasa bersalah karena telah salah mengira.


Leon mengarahkan Rosaline untuk duduk di tepi pantai.


"Rosaline, aku tidak yakin apa kau sudah mendengar hal ini sebelumnya. Ayah Sam memang ayah kandungku tapi ibu kandungku sudah meninggal saat aku masih sangat kecil bahkan aku tidak bisa mengingat wajahnya sama sekali. Setelah aku dibawa dari panti asuhan, ibu Anna yang merawatku." ungkap Leon.


"Saat kecil, aku sering bermimpi buruk dan ibu Anna selalu menangkanku dengan cara itu." tambahnya.


"Ah, kalian pasti sangat dekat." Rosaline berspekulasi.


"Dulu mungkin iya tapi sekarang tidak lagi. Aku membencinya."


.


.


.


Ini rahasia, tapi aku akan memberitahu kalian.


Ada banyak hal yang Leon benci di dunia ini, dia benci ayahnya, ibu kandungnya, terlebih lagi ibu sambungnya.

__ADS_1


Ya, dia membenci Anna


Bukan karena dia memperlakukan Leon dengan buruk, namun karena dia terlampau baik.


Bukankah kebaikan yang tidak bisa kita balas adalah sebuah beban?


Berbeda dengan saat seseorang menjahatimu, kau bisa balas membencinya, mengutuknya, bahkan mendoakan kematiannya pada Tuhan dengan penuh kesombongan.


Karena Leon tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Ibu Anna jadi dia 'membenci' ibu sambungnya itu.


Dia selalu merasa bersalah. Leon masih ingat ketika umurnya hampir genap 10 tahun.


Wanita itu berlari menerjang kobaran api, menerobos reruntuhan dinding dan kepulan asap demi menyelamatkannya yang terjebak dan nyaris tewas saat rumah mereka habis terbakar tak tersisa.


Karena kasih sayang ibu Anna yang besar padanya, Leon menjadi sasaran kebencian Daniel kakaknya yang notabene anak kandung ibu Anna dan ayah Sam.


Mulai sejak itu dia berusaha menjauh dari mereka, sering membuat kekacauan dan hidup semaunya adalah cara Leon untuk membuat keluarganya membencinya.


Walaupun begitu, dalam menjalankan perusahaan dia tetap profesional dan tak mau keluarganya mengalami kerugian bahkan dia cenderung ambisius.


.


.


.


Rosaline tahu pria itu sedang berbohong, ekspresi wajahnya tidak menunjukan kebencian tapi kasih sayang yang tak mau dia ungkap.


"Apa kau merindukannya?" tanya wanita itu seolah tahu apa yang sedang Leon rasakan.


"Omong kosong! Apa rasa benci dan rindu bisa ada secara bersamaan?" sangkal pria itu.


"Tentu saja, ketika kau sangat menyayangi seseorang tapi kau tidak bisa menggapainya dan berusaha mendorongnya jauh dari hidupmu." ucap Rosaline.


Leon hanya mematung, pria itu tidak bisa berkata-kata. Harus dia akui apa yang Rosaline katakan memang benar, selama ini dia sangat merindukan ibu sambungnya.


Di pantai itu Rosaline dan Leon saling mengungkapkan jati diri, masa lalu dan kenangan buruk mereka kepada satu sama lain. Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya bahkan bisa dianggap tabu. Kini mereka sudah membuka semuanya tanpa ada satupun yang ditutup-tutupi.


.


.


.


Sore itu Leon mengantar Rosaline tepat di depan motel.


"Beristirahatlah, hari ini kau banyak menangis. Aku tidak bisa mampir karena masih ada sedikit urusan." ucap Leon.


Rosaline yang hendak kaluar dari mobil hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman manis.


"Nanti malam aku akan menjemputmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang istimewa."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2