
Akankah mereka mati bersama malam ini?
Seperti itu?
Tidak!
Ia tidak mau!
Itu tak romantis sama sekali!
Bagi Rosaline, bukan mereka yang mati bersama yang menciptakan suasana romansa indah, tapi mereka yang menua bersama.
Leon beringsut mendekat, ia ingin menangkup Rosaline dalam pelukannya, namun tiba-tiba istrinya dijambak dan digeret pergi.
Tubuh mungilnya dilempar ke dalam kolam, di depan kedua matanya.
Leon mendelik melihat kepala istrinya ditarik dan dihantam oleh Jason si bajin**n ke dalam air. Rosaline mencoba melawan tapi tak bisa.
"Kau mengkhianatiku!!! Kau kejam! Kau jahat!!! Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka siapapun itu tidak akan bisa memilikimu juga! Kau harus mati, Rosaline! Kita akan mati bersama!!!"
Leon meraih pecahan botol di dekatnya dan berusaha sekuat tenaga untuk bangun dengan tatapan murka.
Seseorang tiba-tiba memegang bahunya dan membantunya berdiri. Mereka saling menopang sebelum melompat ke dalam kolam bersama-sama demi menyelamatkan Rosaline yang sudah lemas tak berdaya.
Theo memiting si Jason dari belakang, sementara Leon menancapkan pecahan botol ke lengannya berkali-kali hingga ia melepaskan cengkramannya dari kepala Rosaline.
Kolam yang jernih seketika berubah menjadi lautan darah.
Merah membara!
Tak butuh waktu lama, kerjasama mereka membuahkan hasil. Rosaline akhirnya terbebas.
Theo yang berada lebih dekat dengannya dengan cepat memeluk dan membawanya ke atas kolam.
"Rosa.... Rosa.... kumohon.... bangun! Bangun!" serunya panik seraya menepuk-menepuk pipi Rosaline yang tak sadarkan diri.
Ia bingung harus bagaimana.
Sementara itu, Leon yang dibutakan amarah terus menghajar si gila Jason dengan sisa tenaganya.
"Bajingan!!! Aku akan membunuhmu!!!"
"Rosa... Rosa... sadarlah!!! bernafaslah!!!" teriak Theo yang membuat Leon seketika tersadar dan meninggalkan tubuh lemah Jason yang sudah tak berdaya.
Ia naik dengan gopoh dan langsung memeriksa denyut nadi istrinya.
"Tidak boleh begini! Tidak boleh begini!" Leon menjepit hidung Rosaline dengan tangan gemetar.
Ia mendongakkan dagunya mulai memberinya nafas buatan.
Tak lupa ditekan-tekannya dada Rosaline berulang kali.
Di sampingnya, Theo menunggu dengan mata berkaca-kaca dan kecemasan luar biasa.
"Ayo, sayang! Bangunlah! Jangan seperti ini! Buka matamu! Kumohon buka matamu!" isak Leon disela usahanya.
Tanpa lelah, ia terus memberikan nafas buatan dan menekan dada Rosaline meski wanita itu tak jua merespon.
Rosaline bak sebatang pohon yang membujur tanpa tanda-tanda kehidupan.
Tubuhnya dingin dan wajahnya pucat.
"Ayo, kembali padaku! Kembali padaku, Rosaline!!!" teriak Leon nyaris putus asa.
Ia tak mau kisah mereka berakhir seperti ini.
Dan Leon tiba-tiba teringat pada ucapan istrinya.
__ADS_1
Kala itu mereka baru saja selesai membaca buku berdua di atas ranjang, di kamar mereka.
Mereka membaca kisah Romeo dan Juliet.
Sebuah roman klasik dari masa lalu.
Rosaline berkata bahwa ia tidak setuju jika orang-orang mengatakan kisah Romeo dan Juliet itu romantis.
"Kenapa? Tidakkah sangat romantis mereka mati bersama?" tanya Leon.
Rosaline tersenyum.
"Daripada mati bersama, aku lebih suka menua bersama! Denganmu, tuan Leon!" jawabnya membuat Leon tersipu malu dan mengecup manis bibirnya.
"Mulutmu manis sekali. Sejak kapan kau pintar merayu seperti ini?"
"Aku hanya manis saat bersamamu!"
"Ah, benarkah? Sungguh?" Leon menggelitik istrinya.
"Yakk... Leon! Hahaha.... kau mau mati, hah? Hahaha.... hentikan!!!"
Setelah mengingatnya, Leon berharap Rosaline menepati janjinya.
"Kau harus menua bersamaku! Ingat janjimu, sayang...." Leon tak henti memberikan nafas buatan dan menekan-nekan dada Rosaline.
Perlahan kerja kerasnya membuahkan hasil, kelopak mata Rosaline tampak bergerak. Ia tersadar!
Wanita itu meraba perutnya dengan spontan.
Ia takut terjadi apa-apa pada bayinya.
"Kenapa? Perutmu sakit? Di mana?" Leon melotot panik.
Rosaline menggeleng lemah.
Leon dengan segera memiringkan badannya. Ia mengurut-ngurut tengkuk dan mengusap punggungnya agar memuntahkan air kolam yang mungkin tertelan.
Rosaline batuk dan muntah-muntah hebat sebelum menangis dalam pelukan suaminya.
Melihat itu, Theo memalingkan wajahnya dengan ekspresi tak terbaca.
Di luar, bunyi sirine polisi meraung mengisi senyap udara. Kehadirannya bagai sebuah pertanda bahwa malam ini, satu petaka berhasil diakhiri.
Ya, satu petaka.
Sebab petaka lain mungkin akan tiba.
.
.
.
"Sungguh bayi kami baik-baik saja, dok?" Leon menatap layar USG dengan mata berkaca-kaca.
Ia cemas setengah mati, hingga bernafas pun terasa sesak.
Sedari tadi keringat dingin menuruni tengkuknya. Ia tak bisa tenang hingga dokter memeriksa kondisi istrinya menyeluruh.
Digenggamnya tangan Rosaline yang tampak sama cemasnya dengan erat.
Mereka telah berganti pakaian kering dari rumah sakit.
"Tidak ada luka dalam atau apa pun yang mengkhawatirkan. Anda tidak merasa sesak, kan? Apa terasa tidak nyaman di perut?" dokter memegang perut Rosaline dengan hati-hati.
Rosaline menggeleng.
__ADS_1
"Kalau begitu, tak ada yang perlu dicemaskan. Jangan khawatir, bayi kalian baik-baik saja! Ia anak yang kuat!" tenang dokter.
Rosaline dan Leon seketika mendesah lega dan menitikkan airmata.
Leon menciumi kening dan wajah istrinya dengan penuh sukacita.
Ia sudah sport jantung tak jelas menantikan hasil pemeriksaan Rosaline sejak satu jam lalu.
Istrinya baik-baik saja meski mengalami cedera luar seperti lebam dan lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Keduanya bertukar senyum bahagia terlebih setelah melihat wujud baby Love yang kini telah menyerupai manusia kecil.
Rosaline takjub sendiri menyaksikan sesosok manusia mungil tumbuh di dalam rahimnya.
Bayi mereka telah memiliki kepala, tangan dan kaki.
Ia bahkan terlihat sedang menghisap jempolnya.
"Lihat, ia bergerak!" tunjuk Leon antusias.
Ia lupa pada sakit di sekujur tubuhnya yang belum diobati karena bersikeras menemani Rosaline diperiksa lebih dulu.
"Kenapa aku tidak bisa merasakan gerakannya?" Rosaline memegang perutnya was-was.
"Belum. Usianya masih terlalu kecil. Mengingat ini kehamilan pertama anda, nanti setelah usianya di atas dua puluh lima minggu, anda baru bisa merasakan gerakannya. Jangan cemas!" kata dokter.
Rosaline tersenyum lega. Ia sudah berpikiran macam-macam tadi.
Leon membelai lembut rambutnya.
"Tidak apa-apa... tidak apa-apa, sayang... bayi kita kuat! Dia baik-baik saja!" bisiknya.
Melihat perhatian Leon, Rosaline mendadak tergugu.
Ia menarik suaminya dan menangis dalam pelukannya.
Ini adalah malam yang panjang dan mengerikan bagi mereka.
"Semua baik-baik saja! Aku di sini! Aku akan selalu menjaga kalian!" Leon mengusap airmata Rosaline dan mengecup kedua pipi serta keningnya sekali lagi.
"Uhuuuukkk... uhukkk... " Leon tiba-tiba batuk dan langsung memalingkan wajahnya sambil menutup mulut.
Kepalanya berdenyut tak karuan. Tubuhnya mulai terasa remuk redam
"Sebaiknya anda segera diobati!" saran dokter yang tahu benar Leon sedang melawan rasa sakitnya.
Rosaline menatap dan memegang paras pucat suaminya.
Oh tidak!
Dahinya panas membara!
Demamnya semakin parah, tapi ia menahannya.
Ya, Leon bersusah payah menahan demi menemani Rosaline diperiksa dan memastikan Baby Love mereka baik-baik saja.
Air mata Rosaline meleleh lagi membayangkan pengorbanan suaminya yang teramat besar malam ini.
"Kenapa menangis? Bayi kita baik-baik saja, sayang! Jangan menangis, Rosaline..." Leon kembali mengusap airmata istrinya.
"Maafkan aku... maafkan aku... karena aku kau selalu terluka... "
"Apa salahmu? Kau tidak salah apa pun!" Leon mengusap lembut kepalanya dan mengecup keningnya dengan penuh cinta.
.
.
__ADS_1
.