Dandelion Motel

Dandelion Motel
Milikku


__ADS_3

Leon meringis kesakitan sambil meniup-niup punggung tangan kananya yang kini telah berhias tato berbunyi 'Milik Rosaline'.


"Aku suka ekspresi kesakitanmu! Kau terlihat sangat seksi saat mengaduh!" puji Rosaline dengan mata berbinar dan bibir yang tersenyum lebar.


Ah, dasar psikopat!


Leon hanya bisa menggeleng mendengarnya, lalu kembali meniup luka di tangannya.


Sekitar 2 jam lalu istrinya yang gila memaksanya membuat tato.


Rosaline bahkan menyaksikan prosesnya dengan terkagum-kagum seakan suaminya hanya potong rambut dan bukan disiksa selama berjam-jam di bawah tajamnya jarum.


Apakah dia benar-benar menikahi wanita psikopat?


Wanita itu memang agak tidak waras, dan kehamilan membuat kesintingannya bertambah berkali lipat.


"Ah, aku senang hari ini! Tatomu sangat keren!" Rosaline menaruh kepalanya di atas pundak Leon yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


Leon menatap senyum manis isrtinya dan perlahan ia lupa akan rasa sakitnya. Wajah bahagia Rosaline ternyata adalah hal terpenting dalam hidupnya.


Ia sepertinya rela ditato di seluruh tubuh jika itu membuat istrinya bahagia.


Dicuri darinya kecupan dengan cepat hingga istrinya sedikit tersentak.


Leon tertawa melihat ekspresi kaget wanita favoritnya itu.


"Kenapa mencurinya? Aku akan memberikannya secara sukarela!" Rosaline ******* bibir suaminya tanpa basa-basi.


.


.


.


Pukul 2 malam Dante menuruni tangga dengan mata setengah mengantuk, ia terbangun karena haus.


Di luar hujan deras, petir menyambar dan mengagetkan pria itu, membuatnya terjaga 100% dan berlari dengan panik menuju dapur.


Sayangnya kejutan lain menanti di sana. Sebuah kepala tiba-tiba muncul dari kolong meja dan mambuatnya berteriak kencang.


Kaget dengan teriakan Dante, si pemilik kepala itu pun ikut berteriak.


Mereka berteriak bersama diiringi suara petir yang meledak di angkasa.


Lampu dapur tiba-tiba menyala, Leon berdiri di samping tombol lampu sambil mengucek matanya.


"Kalian sedang apa malam-malam begini?" tanyanya pada Dante dan Rosaline yang sedang memungut beberapa bungkus roti di atas lantai.


Ya, kepala itu milik Rosaline.


Ia kelaparan di tengah malam dan pergi ke dapur untuk makan.


.


.


.


Leon masih tertawa membayangkan kekagetan istri dan adik iparnya malam ini.

__ADS_1


"Kenapa kalian selalu melakukan hal-hal yang aneh saat bersama? Hahaha...."


Rosaline naik ke atas ranjang dengan sebal.


"Itu karena aku tidak bisa membangunkanmu! Bayimu ingin makan terus dan aku terpaksa ke dapur sendirian. Harusnya kau menemaniku! Di mana tanggung jawabmu sebagai suami?" Rosaline mengomeli suaminya yang langsung bungkam.


"Hmm, baiklah! Mulai besok aku akan mengisi kamar ini dengan banyak makanan!" Leon berusaha meredam omelan istrinya.


"Lihat! Kau mencoba mencari jalan pintas untuk merayuku, kan? Masalahnya bukan di sana! Tapi di kebiasaanmu yang susah bangun itu! Bagaimana jika aku melahirkan di tengah malam, lalu kau tak bisa dibangunkan? Aku bahkan tadi menamparmu berkali-kali tapi kau tetap asyik tidur!"


Mendengar itu, Leon langsung memegang pipi dan rahangnya. Memang rasanya agak aneh dan sedikit sakit.


"Memangnya kau tadi mimpi apa? Apa yang kau lakukan di alam mimpi sampai kau tersenyum-senyum tak jelas? Kau memimpikan siapa, hah?" emosi Rosaline tiba-tiba meledak.


"Su...sudah malam, se...sebaiknya kita kembali tidur!"


Leon buru-buru menarik selimut lalu memejamkan matanya.


Tadi, sebenarnya ia bermimpi menonton konser penyanyi wanita favoritnya. Tak hanya itu, ia bahkan mendapat kesempatan untuk berduet dan lebih dekat dengannya.


Jenis mimpi yang akan membuatnya terbunuh jika Rosaline sampai tahu.


"Yakk, Leon! Jawab aku! Jawab aku!" Rosaline mengguncang-guncang tubuh suaminya tapi ia tak merespon.


"Aishhh, aku tahu kau pura-pura tidur! Dasar Serigala licik sialan!!!" Rosaline menarik bantal Leon dan melemparnya ke lantai tapi pria itu benar-benar tidak berkutik.


Ia memang aktor yang luar biasa!


.


.


.


Dan menurut buku yang dibacanya, segala mual dan mood yang naik-turun akan berkurang setelah usia janin berada di trimester kedua.


Rosaline menatap perutnya di depan cermin. Sudah mulai tampak membuncit dan yang terlintas di benaknya adalah ia harus cepat-cepat melakukan foto prawedding yang selalu tertunda.


Ia mengambil ponselnya, membuka-buka sesuatu lalu kemudian keluar dari kamarnya.


Di ruang tv Leon dengan santai menonton sambil meniup-niup cangkir berisi kopi panas kesukaannya.


"Kita harus melakukannya hari ini!" seru Rosaline tegas dan lantang, membuat Leon kaget dan tanpa sengaja menyicip kopi itu dengan spontan dan berteriak kepanasan.


"Aaaa....aaaa...panas! Panas! Ada apa???"


.


.


"Dante, sesekali tengoklah rumah kami!" kata Leon sambil menenteng 2 koper besar di tangan kanan dan kirinya.


"Kalian hanya pergi 1 minggu kan? Kenapa membawa koper sebesar itu?" tanya Dante bingung.


Leon menjawab dengan isyarat. Ia melirik Rosaline yang baru keluar kamar, tapi tentu saja Dante tak paham.


"Hah?" ia melongok bingung.


"Apa kalian sedang membicarakanku di belakang?" Rosaline memicing curiga.

__ADS_1


"Tidak! Dante, kami berangkat dulu!" Leon memeluk adik iparnya dan buru-buru keluar.


"Dante, aku berangkat dulu. Jaga dirimu, nenek juga motel baik-baik, oke! Dan jangan banyak keluyuran!" pesan Rosaline lalu memeluk adik satu-satunya itu.


"Iya, bersenang-senanglah!" ucapnya sambil melambaikan tangan.


"Sampai jumpa lagi, jaga diri kalian baik-baik juga! Dan jangan lupa belajar sopan santun!" pesan Dante lagi-lagi dengan keisengannya.


Aaaiiiissshhh!


Sopan santun lagi! Keluh Rosaline.


.


.


.


"Aku sebenarnya ingin kita melakukan foto prawedding di luar negeri, tapi dokter tidak berani mengijinkanmu naik pesawat sebelum bayinya berusi 5 bulan. Huufttt....!" Leon mendengus kesal di dalam kereta api kelas eksekutif.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat yang cukup terkenal dengan keindahan alamnya dan sering dijadikan lokasi untuk foto prawedding.


Rosaline menemukan tempat itu saat berselancar di media sosial. Ada yang menyarankannya ke sana dan tampaknya boleh juga.


"Lagipula kenapa kau terburu-buru sekali? Kita bisa menunggu sampai usia kandunganmu 5 bulan dan pergi ke tempat indah mana pun yang kau inginkan!"


"Apa kau sudah gila? Masih 13 minggu saja perutku sudah terlihat menonjol begini, bagaimana jika 5 bulan? Aish, untung saja kau tampan. Pola pikirmu kadang membuatku kesal!"


Leon tersipu malu.


"Lihat! Kau tersenyum seperti orang bodoh sekarang!"


"Yakk, bagaimana bisa kau mengatai suamimu bodoh?"


Rosaline tersenyum.


"Tenang saja, aku sudah berjanji akan menerima semua kekuranganmu, seperti tingkahmu yang aneh dan kebodohanmu yang sering membuatku geram! Aku tetap mencintaimu, Leon!" ucapnya.


Leon yang gemas menjulurkan tangannya, seakan ingin menyentil dahi istrinya.


"Apa yang mau kau lakukan? Menyentilku, hah? Aku sudah bilang itu KDRT!"


"Lalu ini apa, hah?" Leon menunjukan bekas gigitan kali ini bukan hanya di tangannya tapi di beberapa bagian tubuhnya yang tak terlihat.


"Itu namanya tanda cinta!" bisiknya dengan nada menggoda.


"Aish, kau pintar menjawab rupanya!"


"Tentu saja, sebagai seorang calon ibu aku harus pintar! Kau tahu kan, jika kecerdasan seorang anak menurun dari ibunya? Jadi bersyukurlah anak kita pasti akan jadi anak yang pintar!" ucap Rosaline penuh percaya diri membuat Leon semakin gemas.


Ia memeluk dan menciumi seluruh pipi Rosaline, hingga wanita itu tergelak kegelian.


"Yakk...Leon! Hahaha...."


"Apa? Kenapa? Sini ku cium lagi!"


Keduanya tertawa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2