
THEO!
Ia muncul tiba-tiba bak seorang pahlawan dan menyelamatkan Rosaline dari insiden tak terduga.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya masih dalam posisi memeluk Rosaline yang gemetar ketakutan.
Leon yang berhasil mengejar seketika melotot melihat itu.
"Yakk, Rosaline!" teriaknya seraya buru-buru menghampiri mereka.
Rosaline mendelik mendengar suara Leon dan langsung melepaskan pelukan Theo tapi ia mendadak oleng, alhasil Theo menangkap dan memeluknya lagi, lebih rapat kali ini.
Wajah mereka bahkan nyaris berbenturan.
Leon seketika naik darah. Ia terbakar cemburu luar biasa.
Dengan segera dilepaskannya pelukan mereka dan dibawanya Rosaline dalam pelukannya.
Theo hanya diam melihat itu. Ia sadar posisinya.
"Kau tidak apa-apa? Perutmu baik-baik saja?" Leon menatap Rosaline dengan cemas.
"Hmm, tidak apa-apa" Rosaline menjawab dengan agak canggung, ia melirik ke arah Theo yang tersenyum lega.
"Syukurlah kau baik-baik saja! Aku mendengar teriakanmu tadi saat sedang foto-foto di sana!" kata Theo.
"Terimakasih!" kata itu keluar begitu saja tanpa terduga dari bibir Rosaline hingga membuat Leon kaget.
Seorang Rosaline mengucapkan terimakasih?
"Sama-sama, gadis penyihir! Hati-hati, kau sedang hamil!" Theo tersenyum manis.
"Ayo pulang!" Leon menggandeng istrinya pergi.
"Eh, tunggu!" Theo menahan lengan Rosaline.
Leon jelas terusik melihat pria itu memegang tangan istrinya.
"Ada apa?" tanya Leon ketus seraya menarik Rosaline ke belakangnya.
"Eh, begini...." Theo mengutarakan niatnya untuk mengundang mereka ke villanya nanti malam.
"Ayolah, kalian berdua harus datang ke pestaku!" rayu Theo.
Leon ingin menolak tapi istrinya lebih dulu menjawab, "Baiklah!"
"Wah, sungguh? Aku senang sekali! Terimakasih! Berapa nomor ponselmu? Biar ku kirim alamatnya lewat pesan!" Theo tersenyum kegirangan bak anak kecil yang baru diberi hadiah.
.
.
.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Rosaline pada Leon dalam perjalanan kembali ke villanya.
"Kenapa kau mengucapkan terimakasih?" tanya Leon dingin dengan tatapan fokus ke depan.
Ia sedang menyetir.
"Hah, terimakasih? Kapan?"
"Tadi pada mantanmu itu!"
"Mantan?"
__ADS_1
"Iya, pada akhirnya kalian pasti berpacaran di sekolah dan membuatmu berhutang ciuman itu kan?" tuduh Leon masih dengan ekspresi dingin.
Rosaline tersenyum melihat kecemburuan suaminya.
Ia bergelayut mesra di bahunya.
"Jangan begini! Aku sedang menyetir! Kita bisa kecelakaan nanti!"
"Kau cemburu? Tuan Leon cemburu lagi?" Rosaline menggoda suaminya.
Leon melirik tajam dan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Iya, aku cemburu! Aku benci melihatmu dalam pelukan pria lain! Aku benci melihatmu mengucapkan terimakasih dan bersopan santun dengan pria lain! Aku juga tidak mau menghadiri pesta apalah itu! Kenapa kau mengiyakannya? Aku tidak mau datang!"
Leon meluapkan emosinya dengan berapi-api.
Rosaline sempat tercengang mendengar kemarahan Leon, namun alih-alih panik ia malah tergelak gemas dan semakin erat menggelayuti bahu suaminya.
"Aiii... Leon cemburu! Manis sekali! Baiklah, kita tidak akan datang! Aku hanya iseng mengatakan iya tadi. Sepertinya aku hanya ingin pamer saja saat mengatakannya."
"Pamer?"
"Hmm, aku ingin memamerkan suamiku yang tampan ini pada orang-orang. Pada Theo juga agar dia berhenti mengganggu kita! Bukankah Rosaline milik Leon?"
"Hmm.... " Leon mendadak bersemu merah mendengar itu.
Rosaline tersenyum licik melihatnya.
"Oh ya, dia bukan mantanku! Jangan curiga dan cemburu begitu! Rosaline hanya mencintai Leon! Sungguh!" bisik Rosaline dengan agak mendesah hingga membuat Leon merinding dan cukup salah tingkah bak seorang perjaka belum berpengalaman yang tengah digoda seorang gadis.
Secarik senyum nan malu-malu merekah di bibirnya.
Ayolah Leon, bukankah dulu kau seorang playboy dan perayu ulung?
Teman seperkumpulannya pasti akan menertawakan jika melihat wajah Leon yang tersipu seperti sekarang ini.
"Delapan! Kenapa? Kau mau datang?"
"Aku... hmm..."
Rosaline tersenyum.
"Kita pakai baju yang senada, ya! Aku ingin memamerkanmu!"
.
.
.
Leon membasuh wajahnya di depan wastafel. Ia baru saja minum obat.
Dipegangnya dahinya yang terasa sedikit demam.
Ia sebenarnya sudah merasa agak meriang sejak pemotretan tadi, namun ditahannya agar tak membuat Rosaline cemas.
"Kau masih lama, sayang?" tanya Rosaline yang baru selesai memulas lipstik ke atas bibir mungilnya. Ia melihat bayangannya di depan cermin dan tersenyum puas.
"Sudah. Sudah selesai." Leon keluar dari toilet dan memeluk istrinya dari belakang dengan manja.
"Tumben? Kau kenapa?" Rosaline heran melihat tingkah suaminya yang hari ini terasa lebih manis dan mesra.
"Memangnya tidak boleh memeluk istriku sendiri?" Leon melepaskan pelukannya dengan manyun.
Seketika Rosaline tergelak gemas.
__ADS_1
"Aiii... ternyata tuan Leon semanis ini ya kalau cemberut?" godanya.
"Benarkah aku manis? Dulu kau selalu bilang aku mesum?" Leon menyindir istrinya.
Rosaline tergelak malu mendengar itu.
Ia juga tak paham, kenapa dulu begitu sok jual mahal.
Kehadiran Leon benar-benar telah mengubah dunianya, menyemarakannya, menghujaninya dengan cinta dan menyelimutinya dengan kebahagiaan.
"Aku curiga diam-diam kau meracuniku dengan ramuan cinta atau memantraiku agar menggilaimu!" Rosaline berlagak sok seperti detektif.
"Wah, apa aku sudah ketahuan?" Leon berakting panik. Ia mengikuti permainan istrinya.
"Ya, kau sudah ketahuan! Bagaimana ini? Kau harus bertanggungjawab! Seumur hidupmu, kau harus di sisiku! Hanya di sisiku!" Rosaline memutar badan ke arahnya dan memeluknya lebih erat.
Leon tersenyum dan membalas pelukan istrinya.
"Kau berdandan secantik ini. Aku jadi takut ada yang menculikmu!"
"Benarkah? Lalu bagaimana? Haruskah aku menghapus makeupku, tuan Leon?"
Leon tersenyum dan mencium gemas pipinya.
"Jika ada yang berani menculikmu, aku akan memotong tangannya, memutus kakinya dan mencabik-cabik tubuhnya!"
"Wah, seram sekali! Aku jadi takut! Apa sebaliknya kita tak jadi pergi? Aku ingin merasakan cabikanmu itu!" bisik Rosaline dengan senyuman menggoda.
"Hmm... ide bagus! Tidak ada hukuman jika datang terlambat, kan?"
"Bahkan jika ada hukuman, siapa peduli?" Rosaline tersenyum licik dan menarik suaminya ke atas ranjang.
Baiklah!
Mereka sudah memutuskan untuk datang terlambat.
.
.
.
Di atas ranjang yang berdecit pelan, pasangan suami-istri itu kembali melakukan perburuan.
Mereka saling memangsa, mencakar dan mencengkram.
Tak ada dialog dalam ritual wajib mereka, hanya desah nafas, bulir keringat, seprei yang kusut dan 2 buah nama : Rosaline dan Leon yang menggaung bergantian.
Leon melontarkan anak panahnya dengan hati-hati dan setiap itu pula, Rosaline akan menggila.
Tubuhnya akan bergerak sendiri dalam sebuah tarian suci yang hanya bisa disaksikan oleh seorang Leon.
Mereka saling mencabik, menggigit dan menjambak sesekali.
Leon membantai Rosaline seperti keinginannya. Ia memangsanya dengan hati-hati dan penuh perhitungan.
Sesekali, ia bahkan akan berhenti dan bertanya. "Kau baik-baik saja? Jika tidak nyaman, katakan saja!"
Dan setiap itu pula Rosaline akan menggeleng dengan tersenyum, kemudian gong perburuan ditabuh kembali.
Leon menanduk, menyerang dan ******* Rosaline sedemikian rupa. Kemudian Rosaline akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih gila.
Sesuatu yang tak terbayangkan dan di luar imajinasi seorang Leon. Ia tak tahu dari mana seorang Rosaline mempelajarinya. Ia hanya tahu, semua yang dilakukan wanita itu melambungkannya ke angkasa, melemparkannya ke nirwana.
.
__ADS_1
.
.