
"Gadis penyihir? Rosa? Apa itu semacam panggilan kesayangan?Menunggu semalaman? Baru menikah? Aku benar-benar tidak percaya ini! Ckckck...."
Leon menyobek bungkus makanannya dengan kesal lalu membantingnya begitu saja ke atas meja, di hadapan Rosaline yang pura-pura bodoh meski tahu suaminya sedang cemburu luar biasa.
"Dia hanya teman sekolah, jangan berlebihan!" ujar Rosaline seolah tidak terjadi apa-apa, karena memang tidak terjadi apa-apa.
"Hanya teman? Chhh, ayolah! Tidak ada persahabatan antara pria dan wanita!"
"Ayolah Leon! Kau tahu aku punya banyak kenalan pria sebelumnya karena bisnis motelku." Rosaline mencoba menjelaskan.
"Ya, aku tahu! Tapi dia bilang dia sahabatmu! Apa Nora tidak cukup untuk jadi sahabatmu? Dan kenapa harus seorang pria?" Leon mendadak tak selera makan.
"Kau cemburu?" Rosaline masih meladeni dengan gaya sok lugu.
"Lebih tepatnya aku merasa kecewa!" Leon emosi.
"Kenapa kau kecewa? Memangnya aku melakukan apa?" Rosaline melotot tak terima.
"Dia bilang dia menunggumu semalaman, jelaskan apa maksudnya itu? Berarti kalian sudah bertemu sebelumnya? Kapan? Di mana? Bagaimana? Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" cecar Leon berapi-api hingga Rosaline tercengang sendiri melihat gaya cemburu suaminya yang menurutnya sangat kekanakan sekali.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mencarimu kemarin."
"Lalu kalimat 'kami baru menikah', apa itu maksudnya?"
"Hah? Ada apa memangnya dengan kalimat itu?" Rosaline tak paham.
"Kenapa harus menyebutnya 'BARU'? Apa kau bermaksud memberinya kode kalau selama ini kau menunggunya?"
"Yakk! Kenapa kau berpikir sejauh itu? Aku mengatakannya tanpa maksud apapun!"
"Aku tidak percaya ini! Ckckck..." Leon menggeleng dan tergelak tak percaya.
Ia membanting sendoknya ke atas meja dan pergi menatap keluar jendela, memunggungi Rosaline yang jadi ikut tak berselera makan.
"Aish! Ayolah, jangan kekanakan! Aku bilang tidak ada apa-apa!"
"Tapi dia memelukmu!" Leon menoleh dan menunjuk-nunjuk dengan emosi.
"Dia juga memelukmu!"
"Tapi kami sesama pria!" Leon semakin emosi.
"Tapi aku hanya temannya!!!" Rosaline tak tahan lagi.
"Haha... Teman macam apa yang saling memeluk? Apa kita kita tinggal di Amerika atau semacamnya? Apa kalian sungguh baru bertemu lagi setelah sekian lama?"
"Yakk! Apa katamu? Apa kau sungguh berpikir aku bermain gila di belakangmu? Apa ini artinya kau curiga juga pada bayi yang ada dalam perutku? Baji***n!!! Beraninya kau!!!"
"Lalu kenapa dia bisa berada di sini? Di tempat ini?"
"Mana aku tahu? Kau pikir aku dukun? Kami juga baru pertama kali bertemu lagi setelah belasan tahun!"
Pasangan suami-istri itu saling tatap dengan emosi yang menggebu-gebu.
Keduanya mengambil nafas sejenak, memberi jeda pada pertengkaran besar mereka yang sialnya terjadi setelah keganasan di bawah shower pagi ini.
"Lalu soal hutang! Tadi temanmu itu menyebut soal hutang! Kau punya hutang apa sampai kalian harus bertemu lagi untuk membahasnya?! Leon tak berhenti mencecar Rosaline yang kini terdiam.
__ADS_1
Menjawabnya akan menimbulkan petaka tapi diam saja juga akan berakibat sama.
Rosaline meletakan sendoknya dengan lelah. Ia tak punya energi untuk berdebat apalagi bertengkar tak jelas begini.
Leon sudah menguras energinya di kamar mandi 1 jam yang lalu.
"Aish, aku tidak punya tenaga untuk meladenimu bertengkar!"
"Kita tidak bertengkar! Kita hanya sedang berdiskusi! Aku bertanya dan kau menjawab!" Leon masih panas.
"Yakk, Leon! Aku suka melihatmu cemburu! Aku saaangat suka! Tapi jika seperti ini, di pagi yang indah ini, setelah apa yang kita lakukan tadi, aku membencinya! Aku saaaangat membencinya!!!" Rosaline melotot kesal.
Hening...
Hanya terdengar desah nafas masing-masing yang berusaha mengendalikan diri dan emosi.
"Ayo cepat makan! Seks menguras tenaga kita pagi ini. Kita butuh energi untuk pemotretan!" ucap Rosaline tegas dan frontal.
Leon terbatuk ketika mendengar kata 'seks'. Haruskah Rosaline menyebutnya di saat seperti ini?
Rasanya aneh, 1 jam yang lalu mereka saling sentuh dengan mesra. Namun kini, saling pandang pun rasanya tak nyaman dan menyebalkan.
"Nafsu makanku hilang!" seru Leon, namun perutnya berkata lain.
Ya, perutnya mendadak keroncongan. Suaranya yang keras membuatnya malu dan salah tingkah sendiri.
"Aish, dasar munafik! Cepat duduk dan makan! Terserah kau mau cemburu atau marah! Asal jangan sakit!" Rosaline mengambil sendok yang tadi dibanting suaminya dan menatanya kembali.
Awww...sungguh istri yang baik!
Perlahan ia mulai makan.
Istrinya benar, seks telah menguras tenaga mereka. Dan pemotretan nanti akan membutuhkan banyak energi.
Tak ada dialog, tak ada 'diskusi'.
Keduanya mengunyah dalam keheningan.
Semua kemesraan di bawah gemerincik air dan kehangatan di atas ranjang semuanya meruap lenyap.
Bukan salah Theo sebenarnya. Jika saja Leon tahu sifatnya memang seperti itu.
Ia ramah, blak-blakan, supel, suka bercanda dan polos.
Begitu polos hingga tak sadar bahwa kehadirannya meniupkan badai, menciptakan petaka.
.
.
.
Seperti hubungan Leon dan Rosaline yang mendung, cuaca di luar pun demikian. Rencana berfoto ria di indahnya alam terbuka seketika banting stir ke dalam ruangan.
Alih-alih berpose dengan berlatarkan pemandangan indah, sepasang pengantin yang masih baru itu harus rela berjejalan di atas sofa.
Di sela pemotretan, Rosaline terus mencoba merayu suaminya, mengajaknya bicara atau melakukan sesuatu yang menarik perhatian seperti pura-pura pusing atau kesemutan tapi Leon tak tertipu sama sekali.
__ADS_1
Ia masih ngambek, seperti bocah yang merengek minta dibelikan mainan.
Salahkan Rosaline dan cintanya yang besar!
Sebab ia yang mengubah Leon menjadi manusia.
Hanya dengannya Leon bisa bebas menunjukan sisi kekanakannya, termasuk mengekspresikan cinta dan kecemburuannya.
Kalian pernah dengan jika, 'Mereka yang paling membuatmu nyaman lah yang akan melihat sisi terburukmu.'?
Sepertinya Leon sedang menunjukannya pada Rosaline sekarang.
Sementara itu, semua kru terutama penata gaya dan juru kamera mencium gelagat aneh mereka.
Leon, pria itu susah tersenyum dan terasa kaku saat menyentuh tubuh istrinya.
"Tolong lebih mesra lagi!"
"Tolong lebih dekat lagi!"
"Tolong sentuh di sebelah sana!"
"Tolong ekspresinya jangan terlalu tegang! Santai saja!"
Kalimat itu mendengung berulang kali sepanjang pemotretan hingga menimbulkan sederet pergibahan dari manusia-manusia kurang hiburan.
"Ku dengar si wanita sedang hamil, tapi kenapa tingkah si pria seperti itu ya? Seperti menikah dipaksa saja!" seseorang bergosip di pojokan.
"Iya, rasanya seperti canggung dan tak nyaman. Apa mereka menikah kontrak seperti di film-film? Jangan-jangan si pria dikontrak agar bayinya memiliki ayah! Woah...keren sekali kalau begitu!" temannya menimpali.
"Eh lihat! Si wanita sepertinya mencintai si pria tapi tidak ditanggapi! Pasti cinta bertepuk sebelah tangan! Mungkin mereka terlibat cinta satu malam, lalu si wanita hamil dan memaksa si pria menikahinya! Wah, sinetron sekali! Tapi si pria memang tampan,sih! Mungkin aku juga akan menjebaknya dan memintanya menikahiku juga kalau aku jadi si wanita, hahaha.... Bagaimana dengan teoriku?"
"Terlalu sinetron, aku lebih suka teoriku."
"Kau pikir teorimu realistis, hah? Mau bertaruh?"
"Boleh, traktir makan siang ya!"
"Siapa takut?!"
"Eh, tapi kau lihat di tangan pria itu ada tato! Ku rasa si wanita posesif sekali dan mengekangnya! Cinta yang terlalu berlebihan memang menyiksa!"
"Kau sedang curhat? Kita jadi taruhan atau tidak nih?"
"Tentu saja jadi!"
"Yakk, kalian! Jangan menggosipkan klien!" tegur seseorang yang jabatan lebih tinggi.
"Iya, pak. Maaf!"
Keduanya segera minta maaf dengan salah tingkah.
.
.
.
__ADS_1