
William mematung dalam bingung saat desah nafas Leon, decit suara ranjang dan posisi tangan Rosaline yang tak biasa menghampar di hadapannya malam itu.
"Kalian sedang apa?" tanya bocah itu melongo.
Rosaline yang terkejut pun mendorong tubuh Leon mundur dan buru-buru mengeluarkan tangannya dari dalam celana dalam Leon.
"William!" Rosaline yang panik segera merapihkan handuk kimononya yang sudah berantakan dan segera menghampirinya.
Sementara Leon memperlihatkan ekspresi sok lugu seolah-olah ia hanya penonton dan bukan tokoh utama dari kegaduhan ini.
"William sayang, ayo ikut bibi! Kau belum makan malam kan?"
Rosaline segera menutup pintu kamar, meninggalkan Leon yang kini sibuk merapihkan celananya.
Rosaline menuntun William untuk turun menuju ruang makan masih menggunakan handuk kimononya dengan salah tingkah.
.
.
.
Rosaline kembali ke meja makan setelah berganti pakaian. Ada Leon dan William yang sudah menunggunya untuk makan bersama.
Hening, tidak ada satupun yang berbicara selain suara alat makan yang beradu.
"Paman, bibi, apa kalian bertengkar lagi?" tanya William tiba-tiba.
"Hah?" Rosaline mendongak mendengar pertanyaan polos dari keponakannya.
Leon yang juga kagetpun hanya membulatkan matanya tanpa buka suara.
"Tidak, kami tidak bertengkar. Kenapa kau bertanya?" ucap Rosaline sambil menyeka sedikit cemot di mulut William.
"Tadi aku lihat kalian berkelahi, paman sampai menyerang bibi. Apa bibi baik-baik saja?" katanya polos.
"Uhuk...uhuk..." Leon yang tengah asyik melahap makan malamnya tiba-tiba tersedak.
"Ah ya, tentu saja bibi baik-baik saja." jawab Rosaline sedikit terbata.
Rosaline mendadak haus, ia meneguk minumannya demi menyembunyikan kegugupannya.
Rosaline menyenggol lengan Leon memberi isyarat agar pria itu membantunya menjawab pertanyaan bocah itu.
Leon menaruh alat makan yang di pengangnya di atas piring.
Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkanya perlahan sembari memikirkan sederet jawaban yang sudah tersusun rapi diotaknya dan bisa dengan mudah dimengerti oleh anak seusianya.
Namun belum juga mulutnya berucap, William memecah ketegangan dengan sebuah kalimat yang menohok.
"Bertengkar itu tidak baik! Paman dan bibi harus berbaikan, oke!" ucapnya seperti orang dewasa membuat Rosaline dan Leon saling menoleh dan tergelak bersama.
"Baiklah, pangeranku. Kami akan segera berbaikan, kau tenang saja!" ujar Rosaline.
"Tadi kami berkelahi karena sayang." timpah Leon.
Bocah itu hanya mengangguk-angguk seolah mengerti ucapan kedua orang dewasa itu.
"Ah bibi, aku mengantuk. Apa aku bisa langsung tidur?"
"Oke! Tapi selesaikan dulu makan malam mu!" kata Rosaline sambil mengacak gemas poni William.
"Bacakan aku dongeng sebelum tidur!" pinta William.
"Baiklah, pangeran. Nanti bibi bacakan untukmu. Ayo habiskan makanmu, setelah itu menyikat gigi!"
William mengangkat tangannya membentuk huruf "O" tanda setuju.
"Kau juga makanlah yang benar!" ujar Leon sambil mengusap sedikit cemot di bawah bibir Rosaline yang langsung tersenyum lebar dan manja.
Ketiganya melanjutnya makan malamnya terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Emmh, lusa aku ada acara amal di salah satu kampus." kata Leon di sela makan malam mereka.
"Kenapa harus di kampus? Aish, pasti akan ada banyak semut yang mengincarmu nanti."
Leon tersenyum dan menggeleng gemas mendengarnya.
"Apa kau takut aku tergoda dan berpaling?"
"Itu mustahil! Aku terlalu sempurna untukmu. Bahkan kau rela meninggalkan predikat playboy mu untuk menikahiku."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak suka orang lain memandangi milikku! Itu membuatku ingin mencongkel mata mereka lalu..." Rosaline tidak meneruskan perkataannya sadar ada William yang sedang mendengarnya dengan terpana.
__ADS_1
"Aku harus datang, ini acara amal pertama perusahaanku."
"Aishh, belum apa-apa aku sudah merasa dikhianati! Bagaimana nanti saat perusahaanmu bertambah besar dan sukses sementara kau sedang sibuk bekerja dan aku mendadak mulas ingin melahirkan?"
"Ada Dante yang akan menemanimu." jawabnya santai.
"Aish,dasar bereng....!" lagi-lagi umpatannya tertahan karena ada William yang sedang memperhatikannya.
Tapi jawaban Leon yang santai benar-benar membuat emosinya meledak dan tidak bisa lagi ditahan.
"Yakk, ini perbuatanmu, spermamu! Kenapa adikku yang harus menemaniku melahirkan?" omel Rosaline dengan frontal.
Peduli amat ada anak William yang ikut mendengarkan di sana, toh dia tidak akan mengerti.
"Aku cuma bercanda, kenapa kau berbicara sekeras itu?" ujar Leon salah tingkah sendiri.
"Aku tidak peduli! Kau sudah berjanji untuk selalu memprioritaskan kami. Jadi kau harus selalu ada saat ku butuhkan! Ini bayimu!"
"Aduh, tenanglah! Sudah ku bilang aku hanya bercanda."
.
.
.
Malam itu William sudah tertidur pulas, sementara Leon ijin keluar sebentar menemui Bobby untuk membahas agenda meetingnya besok karena setelah jam makan siang tadi Leon tidak kembali ke kantor.
Niat hati hanya ingin menghabiskan waktu makan siangnya untuk membawa William ke arena permainan anak, tidak diduga ada insiden perut Rosaline yang kram membuat Leon harus terus menjaga dan menemaninya seharian ini.
Rosaline merasakan perasaan sepi yang menyeruak. Bukan karena dia sedang sendirian, tapi hatinya yang tiba-tiba mengingat dan merindukan ibunya.
9 tahun tidak bertemu membuat kerinduannya mengendap dan berkarat. Ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah ibunya sekarang.
Dia atas tempat tidur Rosaline mengelus perutnya dengan tatapan nanar.
Wanita itu mendesah, sedih sendiri terutama saat mengingat alasan ibunya masuk penjara karena ingin melindunginya.
Di tengah kegamangannya terdengar derit pintu terbuka.
Leon sudah kembali?
Ia buru-buru menghapus kesedihan di wajahnya.
"Sayang, kau sudah pulang?"
Apa William yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya?
"William?"
Tak ada jawaban dan malah
suara tawa yang samar dan familiar.
Rosaline tercekat, merinding seketika.
Hening, lalu suara langkah kaki.
Rosaline berdiri, meraih garpu di atas piring cake di sampingnya.
Ia berjalan ke ruang tamu.
Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan hitam berlari di lorong menuju ke arah basement.
Rosaline menelan ludah, hatinya masih gamang antara mengikutinya atau tidak.
Suara pintu yang dibanting membuatnya tersentak.
"Rosaline...." seseorang memanggilnya di kegelapan dan melambaykan tangan dengan seringai yang menyeramkan.
Rosaline mendadak susah bergerak. Kakinya bagai terpancang di tanah dan kakinya menjadi sangat kaku.
"Kekasihku...calon istriku..." suaranya menggema.
Tanpa sadar mata Rosaline berkaca-kaca.
"Rosaline, kekasihku...." suara itu terdengar semakin dekat, begitu dekat, amat dekat.
Rosaline menahan nafasnya, memejamkan matanya, melindungi perutnya.
Ia berbalik perlahan ingin kabur keluar rumah atau bersembunyi di mana saja, namun tepat saat wajahnya berbalik ke arah lain sosok wajah orang yang paling ditakutinya itu muncul se-inci dari hadapannya.
Sontak Rosaline berteriak histeris. Ia kehilangam keseimbangan dan nyaris jatuh ke belakang.
Ya, Jason berdiri di hadapannya!
__ADS_1
Pria itu kembali dengan senyuman liciknya.
"Kekasihku...calon istriku..." pria itu membelai rambut dan pipinya.
Bagaimana bisa Jason ada di sini?
Rosaline kebingungan sendiri, gemetar tak karuan.
Kini pria itu menatap ke bawah, ke perutnya.
Pria gila itu menunjukan lagi seringainya yang menyeramkan.
"Kau akan menjadi seorang ibu, hah?" bisiknya sembari membelai perut Rosaline.
"Ja....jangan menyentuhku, ja... jangan....!" Rosaline menangis memohon belas kasihan namun pria itu malah tertawa.
Rosaline menggenggam erat-erat garpunya di balik punggung.
Haruskan ia menancapkannya ke leher pria itu? Tak peduli jika ia berakhir sebagai pembunuh?
Ya!
Rosaline memutuskan untuk melakukannya.
Namun pria itu menangkap garpunya dengan mudah, kini sorot matanya berubah merah, ia sangat marah.
"Kau telah mengkhianatiku! Tapi aku akan memaafkanmu jika saja bayimu tidak ada. Dan untuk itu aku harus membunuhnya!" Jason berteriak kesetanan.
Tangan pria itu menjambak rambut Rosaline dan menyeretnya ke basement.
Rosaline dilemparkan ke dalamnya, ia dikurung dalam kegelapan dan lembab yang menakutkan.
"Tolong...keluarkan aku! Aku mohon tolong keluarkan aku!" Rosaline menggedor pintu dengan histeris.
"Leon, tolong keluarkan aku dari sini!" ia berteriak dan menggedor tanpa putus asa.
Beruntung pintu itu terbuka lebar seketika.
Rosaline segera berlari keluar dengan sempoyongan sambil memegangi perutnya yang terasa kram.
"Rosaline...! Rosaline...!" Suara Leon menyapanya di tengah lorong.
Rosaline tersenyum lebar, akhirnya ia mendapatkan bantuan.
Wanita itu berlari menyongsongnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
Apa ia berhalusinasi?
Itu bukan Leon, melainkan Jason yang tengah menatap tajam kepadanya.
Rosaline tercekat, ia menggeleng.
Wanita malang itu terjebak, ia tak tahu harus ke mana.
Perutnya semakin tak nyaman. Ia merasakan mulas tak karuan, lalu terjatuh dan mengerang kesakitan.
"Aaaaaarrgghhh...."
Darah segar mengucur deras dari selangkangannya.
Janinnya....
Ia tak mau kehilangan janinnya!
Jason mendekat dengan penuh kesombongan, langkah kakinya berhenti tepat di depan wajahnya.
"To...long..!" ia memegang kaki pria itu namun kaki itu meninggalkannya.
Rosaline terus mengerang dan meminta tolong tetapi sia-sia, tetap tak ada yang datang untuk menolongnya.
Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil meminta maaf kepada bayinya.
"Rosaline... Rosaline...Rosaline..!"
Rosaline tersentak kembali ke dunia nyata dalam pelukan Leon yang berusaha keras menenangkannya.
"Pria gila itu...! bayi kita...bayi kita! Aaaaargghh!" Rosaline menangis histeris.
Ia merasa mulas, kram itu datang lagi. Kali ini rasanya berbeda, seolah ada yang tak beres pada bayinya.
Darah, ia melihat darah membasahi selimutnya...
.
.
__ADS_1
.