
3 hari berlalu, polisi masih mencari jejak Jason. Khawatir Jason kembali lagi ke motel, Leon mengirim orang-orangnya berjaga di sekitar motel.
Sikap protective Leon semakin menjadi, pria itu benar-benar tidak bisa fokus bekerja. Seharian dia habiskan bersama dengan kekasihnya dan membuat Bobby si sekertaris kewalahan di kantor.
.
.
.
"Aishhh...Pergilah bekerja! Jangan hanya berdiam di sini." dengus Rosaline yang sedari tadi kegiatan menjemurnya diperhatikan sang kekasih.
"Tidak-tidak, aku tidak mau sebelum si beren***k itu tertangkap." ucap Leon.
"Tapi sampai kapan? Kau harus menjalankan perusahaanmu. Lagipula orang-orang yang kau suruh untuk berjaga di sini sudah lebih dari cukup." timpah wanita itu.
"Aku bilang 'tidak' berarti 'tidak'." ucap Leon.
"Aishhhh...." dengus wanita itu lagi.
Pria itu terus membututi Rosaline di siang hari dan tidak henti menelpon di malam hari hanya untuk memastikan kekasihnya baik2 saja.
Wanita itu selesai dengan pekerjaannya lalu kembali ke dalam rumah diikuti Leon di belakangnya, ke manapun Rosaline pergi pria itu terus mengekorinya hingga mereka sering bertabrakan.
"Berhenti mengekoriku seperti itu, itu sangat mengganggu!" wanita itu mulai kehabisan kesabarannya.
Leon mematung seketika melihat tatapan kekasihnya yang tajam dan sudah tidak bersahabat.
Melihat reaksi Leon yang seperti itu akhirnya Rosaline melembut, "Maksudku duduklah di sofa itu. Aku harus mandi, apa kau akan mengikutiku sampai ke kamar mandi?"
"Tentu saja kalau kau mengijinkan." ucapnya dengan nada menggoda sambil memeluk kekasihnya dari belakang.
"Aishhh...dasar mesum!" wanita itu mulai kegelian dan mencoba melepaskan pelukan dari Leon.
"Mesum? Pikirkanlah dari sudut pandang yang berbeda! Pikiranku ini selalu mengacu ke arah yang romantis." sangkal pria itu.
"Chhh...Baiklah tuan romantis saya mengerti maksud anda, tapi ini bukan tempat dan waktu yang tepat." mata Rosaline langsung melirik ke arah neneknya yang duduk di kursi goyang dan asik menonton tv.
.
.
.
Leon menunggu kekasihnya yang sedang berganti pakaian setelah selesai mandi.
Pria itu mulai melangkah ke arah photo-photo yang terpajang di ruangan keluarga. Pria itu menelisik satu-persatu photo keluarga itu, kebanyakan itu photo masa kecil Rosaline dan Dante.
Lalu matanya tiba-tiba tertarik pada satu photo.
"Ini? Kenapa bisa?" ucapnya bermonolog dengan ekspresi penasaran.
.
__ADS_1
.
.
"Kenapa photoku ada di sini?" tanya Leon sesaat setelah Rosaline keluar dari kamarnya.
"Photomu?" dengan dahi yang berkerut. "Apa ini benar-benar kau?" tanya wanita itu mencoba memastikan.
"Iya ini aku, kapan photo ini diambil? Kenapa aku bisa berphoto denganmu?" Leon menghujani Rosaline dengan pertanyaannya.
Wanita itu mencoba mengingat kembali. "Sepertinya ini sudah lama sekali, sekitar 20 tahun yang lalu atau lebih. Aku tidak bisa mengingat pasti."
Rosaline benar-benar tidak percaya bocah laki-laki yang berphoto bersamanya saat kecil ternyata adalah Leon dan sudah berevolusi menjadi pria setampan ini.
"Lalu kenapa aku bisa berphoto bersamamu?" tanya pria itu lagi.
"Apa kau benar-benar sudah lupa? Ayahku yang membawamu ke sini dan kau menginap di sini selama 1 hari." jelas Rosaline.
"Tapi aku benar-benar tidak ingat." ucap pria itu dengan dahi berkerut dan masih berusaha memutar ingatannya.
"Ikut aku!" ujar Rosaline sambil meraih tangan kekasihnya dan menuntunnya ke suatu tempat.
.
.
.
Mereka berdua tiba di sebuah gudang tempat barang-barang lama di simpan. Wanita itu mengambil kursi dan menaikinya hendak mengambil sesuatu dari atas rak.
"Buku itu." ujar Rosaline sambil menunjuk satu buku yang terselip di antara deretan buku-buku dongeng yang sudah usang.
"Ini saja?" tanya Leon yang sudah berhasil menggenggam buku itu di tangannya.
"Ya." jawab wanita itu singkat.
.
.
.
Setelah keluar dari gudang, Rosaline mengajak kekasihnya duduk di gajebo dengan menenteng buku berjudul "Harry Potter dan Tawanan Azkaban" yang tadi mereka ambil dari gudang.
"Kau mau membacakanku dongeng?" tanya Leon dengan senyuman manis tapi mengejek.
"Tidak." Wanita itu mengambil sesuatu yang terselip di buku itu.
"Ini." dia memberikan sebuah pesawat kertas ke tangan Leon.
"Ini apa?" tanya pria itu tak mengerti.
"Itu milikmu." jawab Rosaline.
__ADS_1
"Milikku?" tanyanya lagi masih belum paham maksud dari perkakataan kekasihnya.
Leon terus meneliti dan mulai membuka lipatan-lipatan pesawat kertas itu. "Ya, aku ingat sekarang." mendadak senyumannya mengembang.
.
.
.
Hari itu tepat saat ayah Rosaline menjemput Leon yang masih berusia 9 tahun untuk pertama kalinya dari panti asuhan atas suruhan Om Sam.
1 hari itu Billy membawa mereka berdua ke taman bermain dan memotretnya.
Leon kecil membuat pesawat kertas dan menerbangkannya di halaman belakang motel bersama Rosaline kecil, tepat di mana Leon dan Rosaline dewasa tengah duduk sekarang.
Tapi seseorang menjemput Leon, dan bocah itu pergi meninggalkan pesawat kertasnya di tangan Rosaline kecil.
Kebersamaan mereka hanya 1 hari tapi Rosaline tidak pernah lupa karena bocah laki-laki itu teman pertamanya.
.
.
.
"Aku ingat gambar ini. Ini gambarku." sambil menunjukan gambar 3 orang yang sedang makan eskrim pada kekasihnya.
"Kau tidak ingat padaku tapi ingat dengan gambar jelek itu." wanita itu merengut kesal.
"Mungkin karena dulu kau sangat jelek jadi aku tak bisa mengingatmu." goda Leon.
"Aku selalu cantik bahkan saat aku kecil semua anak pria di sekolah menyukaiku. Aishhh...jelek apanya?" dengusnya kesal.
"Benarkah? Aku jadi cemburu." goda pria itu lagi. Mereka berdua akhirnya tergelak bersama.
"Kau tahu kenapa aku masih mengingat gambar ini?" tanya Leon.
"Kenapa?" selidik kekasihnya.
"Kata orang kalau kita menggambar harapan kita di pesawat kertas lalu menerbangkannya, maka harapan kita akan terwujud." ujar pria itu dengan ekspresi yang berubah sendu.
Ya, saat itu harapan Leon kecil sangat sederhana. Ia hanya ingin moment kebersamaan bersama kedua orang tuanya. Makan es krim dengan ayah dan ibunya yang tidak pernah bisa dia wujudkan.
"Wah...Tuan Leon, ternyata kau percaya hal konyol semacam itu. Lalu apa harapanmu terwujud?" tanya Rosaline.
"Dulu aku percaya, tapi sekarang tidak lagi. Lagipula pesawat kertasnya aku tinggalkan bersamamu jadi mana mungkin bisa terwujud." ucap pria itu.
"Karena pesawatnya ada padaku, jadi aku yang akan mewujudkannya. Aku traktir kau makan es krim sepuasnya." ujar wanita dengan senyuman manis.
Senyuman yang telah menjadi candu bagi seorang Leon. Senyuman yang telah meluluh-lantahkan keegoisan dan ambisi dalam dirinya. Senyuman yang membuatnya ingin melindungi seseorang untuk pertama kalinya.
.
__ADS_1
.
.