Dandelion Motel

Dandelion Motel
Insan-Insan yang Tengah Kasmaran


__ADS_3

"Jadi siapa ciuman pertama mu?"


Rosaline berhenti mengunyah dan melotot seketika.


Sungguh Leon masih penasaran akan hal itu?


Rosaline tak kuasa menahan tawanya hingga hampir saja tersedak roti sandwich yang sedang dimakannya.


"Yakk, kenapa kau tertawa?" tanya Leon salah tingkah.


Ia tak mau terlihat cemburu, apalagi pada masa lalu, meski membayangkan siapa pemilik ciuman pertama Rosaline memang agak mengganggunya.


Rosaline tersenyum santai dan licik menatap pria itu dengan binar menggoda.


"Apa kau sungguh penasaran?" Ia mencondongkan wajahnya pada Leon yang sedikit gugup namun pura-pura biasa saja.


"Tidak juga, aku hanya iseng bertanya lagi."


Rosaline tersenyum sambil menggeleng, dia tahu kekasihnya sedang berbohong.


"Tidak ada. Hanya kau yang menyentuhku dari bibirku dan....seluruh tubuh ku."


"Sungguh?" Leon mencoba menyembunyikan rona bahagianya.


"Ya, lagipula menurutku yang terjadi pada kami bukan sebuah ciuman. Meski dia menganggapnya begitu." Rosaline kembali menggigit Roti sandwichnya sebelum menyadari kalau dia sudah keceplosan.


Leon terdiam mencerna ucapan Rosaline.


Tunggu sebentar!


"Kami? Siapa kami itu?"


"Ya kami, aku dan dia."


"Dia itu siapa?"


"Kami."


"Aishhh, maksudku dia itu siapa? Kau kenal di mana? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi pada kalian? Kapan itu?"


Alih-alih menjawab, Rosaline malah tertawa.


"Aiiihhh, Leon ku yang menggemaskan! Kau sungguh cemburu dan ingin tahu, hah?" goda Rosaline sambil mencubit hidung Leon yang mancung.


"Yakkk, Rosaline!" Pria itu mengibaskan tangan Rosaline dari hidungnya.


"Kau marah? Aku suka melihatmu marah karena cemburu kepada ku. Saaangaat suka." bisik Rosaline dengan nada menggoda.


"Yakkk...kau!" teriak Leon.


"Sudah lah, aku tidak mau membahasnya. Itu tidak penting! Dan kenapa kau heboh sekali?Memangnya kau belum pernah berkencan sebelum bertemu dengan ku, hah?" sindir Rosaline dengan tatapan sinis membuat Leon kembali salah tingkah.


Leon yang gugup langsung sok sibuk membereskan piring-piring di atas meja dan membawanya ke wastafel sebelum Rosaline membahas masa lalunya lebih lanjut dan memicu peperangan di pagi yang cerah ini.


.


.


.


"Jadi hanya ada Leon di hatimu?" Leon memeluk Rosaline dari belakang dan meniup telinganya hingga ia bergidik kegelian.


"Jangan mengganggu ku! Aku sedang mencuci piring!" kata Rosaline sok jual mahal namun Leon tak mau menyerah.


"Kau terlihat sangat seksi saat sedang kesal. Ekspresi mu itu sungguh menggemaskan sampai aku ingin memakan mu dari ujung kepala sampai ujung kaki."


Leon sudah tak bisa menahan dirinya lagi.


Ia mengangkat Rosaline dan mendudukannya di atas meja dapur.


"Kau sungguh berani menerima akibat karena menggoda ku sepagi ini, tuan Leon?" bisik Rosaline.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau mau menghukum ku? Kalau begitu hukum saja aku! Hukum aku!"


"Baiklah, aku akan menghukum mu dengan ini....." ucap Rosaline seraya mengalungkan tangannya di leher Leon.


Saat wajah mereka semakin dekat dan dekat.....


"Ekhem"


Keduanya tercekat dan kompak melirik ke arah suara.


Ada Perawat yang hendak memandikan neneknya sedang berdiri di ambang pintu.


Keduanya mematung menyaksikan pemadangan di dapur.


Leon dan Rosaline pun sama!


.


.


.


Akhir minggu ini mereka semua pergi ke bioskop bersama, tidak terkecuali Dante yang mendadak ingin selalu mengekori kakaknya.


Setelah selesai menonton mereka mampir ke foodcourt untuk makan siang yang tadi mereka lewatkan.


Dante melirik dua pasangan di dekatnya yang terlihat sekali sedang kasmaran. Ia merasa nelangsa. Harusnya ia berkencan juga, pikirnya.


"Nora, maaf...di bibir mu itu ada..."


Nora yang sedang makan langsung mendongak.


"Permisi, ya." Bobby mengusap sedikit cemot di bibir Nora, lalu mereka berdua tersipu.


"Cihh" Dante memicing malas dan menggeleng jijik.


Ia memalingkan wajahnya ke pasangan kedua: Leon dan Rosaline.


Kakaknya yang dulu dingin dan sok jual mahal, sekarang sedang sibuk bermanja-manja dengan kekasihya.


Leon menyibak rambut Rosaline dan mengipasinya dengan penuh perhatian.


"Iiishhhhh" Dante memberi reaksi yang sama.


" Mereka benar-benar tidak peka!" makinya sambil terus menjejal makanan ke mulutnya dengan serampangan.


"Kau mau makan apa?" tanya Rosaline pada Leon.


Matanya menatap Rosaline dengan secarik senyuman menggoda.


"Kau!" dengan lantang tanpa sungkan hingga semua orang di dekatnya menoleh.


Rosaline pun tersenyum dan balik menggoda, "Benarkah? Kau mau dengan toping apa?" hingga orang-orang di sekitarnya menatap kaget.


Nora bahkan tidak menyangka jika si angkuh Rosaline yang dulu selalu terlihat dingin dan sulit ditaklukan bisa mengatakan hal sevulgar itu. Leon benar-benar telah meracuninya.


Sementara itu Dante yang sedang makan mendadak ingin muntah mendengarnya.


Haruskah mereka sekejam ini di depan seorang jomblo?


"Aishhhh, aku tak tahan lagi." batinnya.


"Aku sudah selesai! Aku permisi. Kalian benar-benar membuatku malu." ia bangkit dan pergi tanpa ada yang menggubrisnya.


.


.


.


"Kalian sudah jadian?" tanya Rosaline pada Nora yang sedang minum dan nyaris membuatnya tersedak.

__ADS_1


Mereka hanya berdua sebab Leon dan Bobby sedang memesan makanan.


Ia tak berani menatap Rosaline dan jadi salah tingkah sendiri.


"Pria itu benar-benar lamban, aishhh! Bukankah dulu kau minta saran dariku, tak apa kalau wanita yang memulai duluan. Apa belum kau lakukan?"


"Mmhh, sebenarnya Bobby sudah menyatakan cintanya duluan." beber Nora tersipu malu.


"Benarkah? Baiklah! Ternyata


si pria licik itu boleh juga." Rosaline tersenyum ringan tanpa dosa, seolah umpatan dari mulutnya adalah panggilan yang lumrah.


"Bahkan dia sudah membawaku ke rumahnya dan mengenalkan ku pada orang tuanya." tambah Nora.


"Wah, aku benar-benar salut pada kemajuan kalian." ucap Rosaline sambil tepuk tangan.


"Cepat desak dia untuk segera menikahi mu!" usul Rosaline.


"Tunggu! Apa kalian sudah berciuman?" timpahnya tiba-tiba membuat Nora jadi sedikit canggung.


"Tidak usah dijawab! Aku sudah bisa menebaknya" Rosaline tersenyum melihat reaksi sahabatnya itu.


Nora langsung mendongak.


"Terlihat sekali kalau belum ya ?"


tanyanya keceplosan dan membuat Rosaline tersenyum lebih lebar.


Nora yang baru sadar sedang dikerjai langsung menutup mulutnya.


.


.


.


Sementara itu tak jauh dari mereka Leon dan Bobby sedang mengantri di salah satu stan makanan.


"Kapan kalian menikah?" bisik Bobby penasaran.


"Kurang dari 1 bulan lagi."


jawab Leon santai.


Bobby tersenyum, "Baiklah aku akan mulai mengatur jadwal mu dari sekarang."


"Wah, kau sungguh tak terduga! Playboy seperti mu akhirnya akan menikah." bisiknya sambil menyenggol lengan sahabatnya itu dan membuatnya jadi sedikit salah tingkah.


"Ku lihat hubunganmu dan Nora lancar." Leon dengan cepat menyela sebelum Bobby melancarkan komentar-komentar konyol lainnya.


Mendengar itu Bobby tersipu malu, persis seperti bocah remaja yang sedang dimabuk cinta.


"Dia menyatakan cintanya padaku duluan." katanya bangga sambil menggoyangkan bahunya ke kiri dan ke kanan.


"Itu malam yang mendebarkan, malam yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidup ku!


Setelah permainan truth or dare di rumah Miss Rose waktu itu, aku mengantarkannya pulang. Nora yang mabuk memak-maki ku sambil menarik kerah bajuku. Sangat romantis!


Katanya dia kesal karena aku belum juga menyatakan perasaanku padanya dan dia sangat tidak sabar untuk mengakuiku sebagai pacaranya, hehehe....


Jadi besoknya aku membawanya ke rumah ku untuk menemui orang tua ku dan memperkenalkannya sebagi kekasih ku." jelasnya panjang lebar sambil tersipu malu ala anak SMA yang baru mengenal cinta.


Leon hanya menggeleng, tak menyangka kalau kelakuan sahabatnya itu akan sangat menggelikan saat tengah kasmaran.


Dan ia tak mengira kalau Nora yang di kenal sebagai wanita yang kalem akan sebrutal itu ketika jatuh cinta.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2