
Suara desahan dan pekik kesakitan menggema dari dalam sebuah villa bernomor 13.
Pemiliknya adalah pasangan suami-istri yang baru satu jam lalu berbaikan setelah ribut besar.
"Aaahhh... jangan keras-keras, Leon!!! Hmm... di sebelah sana! Ya, di sana!"
"Bagaimana? Aku sudah lebih pelan sekarang."
"Nah... nah... di sana! Hmm... lebih keras sedikit! Aduh! Hmm..."
"Enak?"
"Hmm, tetap seperti itu!"
"Kalau begini bagaimana?"
"Aaaahhh, ku bilang jangan keras-keras!"
"Aku sudah pelan ini!"
"Pelan bagaimana? Kau memijatku seperti punya dendam!"
"Ini karena kakimu sedang sakit! Jadi dipijat sedikit sudah terasa sakit! Lagipula sudah tahu sedang hamil, kenapa nekat berjalan jauh? Di bawah hujan pula?"
"Yaaakkk! Salah siapa itu? Ku tanya salah siapa? Itu karena kau kabur! Aish, dasar kepar*t!"
Leon langsung menunduk dan tampak takut-takut agak salah tingkah.
Ia sadar kelakuannya tidak bisa dibenarkan.
Bagaimana ia bisa pergi meninggalkan istrinya seperti itu?
Rosaline memelototinya dengan manyun namun lama-lama ia merasa gemas dan kasihan melihat ekspresi suaminya.
"Aish, ada apa dengan ekspresimu itu? Bahkan aku tak tega mengomelimu sekarang?"
Leon mendongak dan memberikan senyuman sok lugu. Ia pergi ke belakang Rosaline dan memijat pundaknya.
"Ibu hamil memang tidak baik mengomel-ngomel! Ingat, baby Love kita bisa mendengar ucapanmu! Jadi mulai sekarang jangan marah-marah lagi, ya! Wajah cantikmu harus banyak tersenyum!" rayu Leon.
"Aiiissshhh...."
Rosaline melirik sebal mendengar gombalan suaminya.
"Kau dan mulut manismu itu..., dasar tukang gombal!" sindirnya.
"Tukang gombal? Siapa? Aku tak kenal! Aku hanya tahu Leon yang mencintai Rosaline."
Mendengarnya, Rosaline tak kuat menahan tawa.
"Aiiii...suami siapa ini? Kau pintar sekali merayu, seharusnya kau mendapat penghargaan!" Ia menoleh dan memicing gemas.
Leon tersenyum dan berbisik, "Suami Rosaline! Milik Rosaline!" Ia menunjukkan tato di punggung tangannya dan mereka tergelak bersama.
Rosaline menyandarkan punggungnya ke dada bidang Leon yang langsung dibalas dengan pelukan hangat.
"Berjanjilah padaku! Jangan pernah kabur lagi! Apapun yang terjadi, apapun yang kau lihat, jangan pernah kabur! Kau sudah berjanji di hari pernikahan kita, apa kau lupa?"
"Aku berjanji, nyonya Leon! Aku berjanji! Sekali lagi maafkan aku, ya!" Leon mengecup kening istrinya.
"Jangan pernah lelah berada di sisiku, bertengkar denganku dan kembali mencintaiku!"
"Tentu saja, wifey! Maafkan ayah ya, baby Love sayang!"
Leon menunduk. Ia membelai dan mencium perut istrinya dengan gemas, lantas siapa sangka jika saat itu tiba-tiba perut Rosaline berbunyi hingga membuat keduanya bertatapan kaget.
Rosaline terlihat malu tapi Leon malah tersenyum gemas.
"Kau lapar, sayang? Anak ayah lapar, ya?" Leon mencium perut Rosaline hingga istrinya kegelian.
"Yakk, Leon!"
"Hehe... kau ingin makan apa?" Leon menatap dan membelai pipi Rosaline dengan penuh cinta.
"Kau!"
"Sungguh? Mau tangan atau kaki dulu?" Leon mendekatkan wajahnya dengan tatapan menggoda.
Rosaline yang tak sabar langsung menarik lehernya.
Ia mencium bibir suaminya dengan penuh kerinduan.
Mereka berciuman dengan liat nan hangat hingga.... perut Rosaline berbunyi lagi.
"Sepertinya ada yang protes, nyonya!" canda Leon pada Rosaline yang tersenyum malu-malu.
Leon mengecup keningnya dan berdiri menelepon pengelola vila.
__ADS_1
Ia ingin memesan makan malam.
Pria itu berjalan mendekati jendela sambil menunggu teleponnya diangkat.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan yang bergerak di bawah hujan, di antara rimbun pohon.
Leon buru-buru membuka pintu dan keluar untuk memeriksanya tapi tak ada apapun atau siapapun.
Perasaannya mendadak tak enak.
Ia tiba-tiba ingat pada surat ancaman itu.
"Siapa itu?" teriak Leon galak.
Tak ada jawaban, hanya desau angin yang menabrak dedaunan.
"Ada apa, sayang?" Rosaline memeluk dengan cemas.
"Tidak, sepertinya binatang! Ayo masuk, di sini dingin! Kau tidak boleh sakit!" Leon tersenyum menenangkan istrinya.
"Gendong aku!"
"Gendong?"
"Hmm, kakiku sakit karena mencarimu!"
"Aiiii.... istri siapa ini? Mencoba mengerjaiku, hah?"
"Kau sungguh tidak mau menggendongku?"
"Eh, bukan begitu... tapi kau..."
"Aku gendut? Berat?"
"Ti... tidak! Tidak!" Leon buru-buru menggendong istrinya meski sebenarnya seharian ini ia juga lelah mencari Rosaline.
Rosaline tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Leon, disandarkan kepalanya ke atas dada suaminya dengan bahagia.
Masa bodoh Leon akan encok atau pegal linu.
"Kau sudah memesan makan malamnya?" tanya Rosaline begitu Leon menurunkannya di atas karpet, di depan hangat perapian.
"Ah, aku lupa. Sebentar!"
"Aish, untung kau tampan!" Rosaline menggeleng geram.
"Hehe..." Leon kembali menelepon pengelola vila sembari memperhatikan keadaan di luar.
Ia berharap polisi segera menangkap pelaku teror itu dan keluarga kecilnya bisa kembali tentram.
Ia ingin selalu melihat senyuman di wajah Rosaline dan menyambut kelahiran bayi mereka dengan tenang dan sukacita.
Sekitar 6 bulan lagi ia akan jadi seorang ayah.
Ah, Leon sungguh masih tak percaya.
Ia menoleh ke arah Rosaline dan tersenyum bahagia.
Rosaline menatap heran dan memberikan ekspresi seolah ia bertanya 'kenapa?'
Tapi Leon tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
"Lihat! Ayahmu mulai gila!" bisik Rosaline pada calon bayinya.
"Kau bilang apa barusan? Aku mendengarnya!"
"Hmm..."
"Mau ku hukum, hah?" ucapnya lagi dengan tatapan nakal.
"Hukum aku!"
"Aku sungguh akan menghukummu! Baby Love, bolehkah ayah menghukum ibumu?"
Leon tersenyum licik dan menggendong Rosaline ke dalam kamar.
.
.
.
Leon memainkan jarinya di atas kulit Rosaline yang berbaring memunggunginya. Ia menuliskan sesuatu di bawah tengkuknya yang licin oleh peluh hasil permainan mereka 10 menit yang lalu.
"Tebak apa yang ku tulis!" bisik Leon pada istrinya yang menggeliat kegelian.
"Ro... sa... line?" tebak Rosaline.
__ADS_1
"Hmm, lalu ini..." Leon memainkan jarinya lagi, naik dan turun.
"Mi... lik... Leon!" Rosaline tak perlu menunggu suaminya menyelesaikan tulisannya untuk tahu.
Leon tergelak dan mengangguk malu saat Rosaline berbalik dan memegang wajahnya dengan tatapan penuh cinta.
Mereka saling memandang dalam keheningan yang terasa begitu menentramkan.
"Sekarang giliranku!" ucap Rosaline pada Leon yang bergegas memunggunginya.
"Tebak baik-baik! Jangan dijawab sebelum aku selesai menulis!" bisik Rosaline tepat di belakang telinganya, membuat Leon merinding kegelian.
Jari telunjuk Rosaline bergerak naik dan turun di punggung suaminya yang kenyal dan lembab oleh keringat.
"Bagaimana?"
Leon mengangguk, memberi tanda ia bisa menebak sejauh ini.
Rosaline melanjutkan tarian telunjuknya.
Leon mendadak mengernyit, ia merasa asing dengan nama yang ditulis Rosaline.
"Coba tebak!" kata Rosaline begitu selesai menulis.
"Tunggu! Siapa itu?" Leon berbalik dengan bingung.
"Anak kita!" bisik Rosaline seraya menaruh tangan Leon di atas perutnya.
"Itu nama untuk Baby Love kita jika dia laki-laki." jawab Rosaline.
Leon tersenyum, bagus juga pikirnya.
"Kalau perempuan?" tanya Leon antusias.
"Hmm... aku belum mencari nama anak perempuan. Nanti saja jika aku hamil lagi!"
"Kau percaya diri sekali jika Baby Love kita laki-laki?"
"Aku bisa merasakannya!"
"Bagaimana caranya? Memang bisa?"
"Bisa! Aku ibunya! Setiap detik kami bersama."
Leon menggeleng tak percaya.
Ia membungkuk dan berbisik di atas perut istrinya.
"Baby Love ayah... ibumu sedang membual, kan? Kau pasti anak perempuan ayah! Nanti kita akan bermain bersama dan ayah akan menjagamu dari para pemuda hidung belang di luar sana! Kau pasti tuan putri kecilku!"
Rosaline menggeleng tak setuju.
"Ku bilang Baby Love kita laki-laki! Memangnya jika dia perempuan, kau sudah punya nama?"
"Hmm... ada!" jawab Leon malu-malu.
"Apa? Beritahu aku!"
Leon pun menuliskan nama yang ia siapkan di atas perut Rosaline.
"Wah...!"
"Hmm, kau suka?"
"Ya, aku suka!"
"Sebenarnya aku masih ada tiga nama bayi perempuan lagi."
"Tiga? Kau ingin punya anak berapa memangnya?" Rosaline melotot kaget.
"Empat! Dan perempuan semua? Kau ingat film yang pernah kita tonton dulu saat masih berkencan?"
"Film yang mana? Kita menonton banyak film."
"Little Women! Aku ingin punya anak-anak perempuan seperti mereka."
Rosaline menggeleng, ia tak bisa membayangkan harus minum berapa ratus gelas susu jika hamil 4 kali.
Tiba-tiba ia ingin muntah.
Leon yang melihat ekpresi istrinya lagi-lagi hanya tersenyum gemas.
.
.
.
__ADS_1