Dandelion Motel

Dandelion Motel
Penolakan (lagi)


__ADS_3

Dante menatap tak percaya. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga melihat sebuah bangunan rumah mewah di depannya.


Sementara Rosaline hanya menatap datar pada bangunan yang lebih tepat di sebut mansion itu.


"Apa kau suka? Kalau kau setuju, kita akan langsung membayarnya sekarang juga." kata Leon dengan antusias sambil merogoh ponselnya.


"Apa kau mau membuat betisku berotot?" celoteh Rosaline.


Leon menatapnya dengan tanda tanya sementara Dante tidak terima dengan apa yang kakaknya katakan.


"Kenapa? Bukankah rumah ini sangat mewah? Kakak bisa mempekerjakan banyak asisten rumah tangga, jadi kakak tinggal menikmati hidup seperti seorang putri raja."


"Ya, ini memang sebuah istana tapi aku tidak butuh semua ini. Rumah sebesar ini hanya akan ditinggali oleh 2 orang. Apa kau gila? Cari rumah yang lain!" wanita itu langsung mengambil ponsel dari tangan Leon.


Ia memilih-milih beberapa photo rumah di ponsel Leon yang kebanyakan rumah mewah bergaya khas mansion.


"Aku mau yang ini." sambil menunjukan sebuah photo rumah pilihannya.


Photo rumah berlantai 2 yang cantik namun jauh lebihsederhana dari bangunan rumah mewah di depannya.


"Jangan menolak atau kita tidak jadi menikah." tegasnya dengan nada mengancam.


Rosaline masuk kembali ke dalam mobil meninggalkan Leon dan Dante yang masih memandang bingung photo rumah di layar ponselnya.


"Apa kalian akan berdiri terus di sana? Bukankah kita harus memilih baju pernikahan?" Teriaknya dari dalam mobil.


Lalu dengan segera kedua pria itu ikut masuk ke dalam mobil.


.


.


.


Selesai dengan urusan mereka di butik, Leon dan Rosaline mengantar Dante ke kampus.


"Kau mau mampir ke apartement ku sebentar?" ajak Leon karena lokasi mereka sekarang jaraknya berdekatan dengan apartementnya.


"Apa kau tidak akan kembali ke kantor?" selidik Rosaline.


"Tidak akan lama, hanya sebentar saja. Lagipula ini waktunya jam makan siang." jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita ke apartement mu dulu." ucapnya setuju.


"Mmmh, apa nenekmu tidak apa ditinggal sendirian?" tanya Leon.


"Aku sudah mulai menyewa seorang perawat untuk menjaganya, lagipula sebentar lagi kita akan menikah. Dante tidak mungkin bisa merawatnya sendirian." jelas Rosaline.


Leon hanya menanggapinya dengan anggukan pelan tanda setuju dengan pemikiran kekasihnya itu.


.


.


.


"Ah menyenangkan sekali pulang ke apartement bersama denganmu, rasanya seperti kita sudah menikah." ujar Leon sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


Sementara Rosaline hanya tersenyum menanggapinya dan berlalu ke dapur untuk mengambil minumam dingin di dalam kulkas.


Leon yang terduduk mulai bangkit dan menghampiri kekasihnya yang masih berada di dapur dan baru selesai meneguk minumannya lalu pria itu memeluknya dari belakang.


"Aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahimu. Membayangkan kita tinggal di satu rumah yang sama sangat membuatku bahagia." ucap Leon sambil menuntun Rosaline ke ruang tengah sambil terus memeluknya.


"Setelah kita menikah berapa anak yang kau inginkan?" tanya Rosaline lalu membalikan badannya mengahadap ke arah leon dan membuat mereka kini bisa saling memandang satu sama lain.


"Kalau kau sebegitu cintanya dengan negaramu, setidaknya kau harus menyumbankan 10 orang anak." timpahnya dengan nada menggoda.


"10 anak bukan ide yang buruk. Tapi sebelum itu bukankah kita harus membuatnya terlebih dahulu?" ucap Leon dan siap mendaratkan bibirnya di bibir Rosaline.


Namun Rosaline segera menahannya dengan telunjuknya. "Tidak sebelum kita menikah, tuan Leon." membuat ekspresi Leon terlihat sedikit kecewa.


"Baiklah, tapi setidaknya kita bisa melakukan sedikit pemanasan kan, nona Rose?" pria itu kembali menggodanya.


Rosaline terdiam sejenak mencoba memahami apa maksud dari kata 'pemanasan' yang diucapkan kekasihnya.


"Aku sangat ingin menyentuhmu, tapi kau boleh menghentikanku jika kau merasa aku sudah melewati batas. Apa kau mengijinkannya?" tambahnya dengan mata penuh harap.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji akan menurut jika aku bilang berhenti."


"Aku berjanji." ucapnya sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di pusat candunya yang sejak tadi dia tahan.


Dari sebuah ciuman lembut kini berubah menjadi semakin panas. semakin dalam dan lekat, lidah Leon terus menyapu setiap rongga mulut mungil Rosaline begitu sebaliknya.

__ADS_1


Leon melepaskan pagutannya sejenak untuk mengatur kembali nafas mereka yang sudah tak beraturan.


Matanya menatap sayu manik bening kekasihnya, dia mengalungkan tangan Rosaline ke lehernya lalu menuntunnya masuk ke dalam kamar.


Rosaline yang seolah tersihir hanya bisa mengikuti setiap pergerakan pria itu.


Leon menyandarkannya di dinding dan mulai mencium bibirnya kembali, 2 tubuh yang bergesekan membuat nafsu pria itu semakin membuncah.


Dia menurunkan bibirnya ke dagu mungil Rosaline lalu ke lehernya. Leon menyesap dan menjilatinya membuat wanita itu tak berhenti mendesah.


Tangan Leon kini mulai menyingkap dress Rosaline yang setinggi lutut, tangan nya mulai meraba perut wanita itu membuatnya kegelian, lalu kemudian naik ke dadanya.


Rosaline tidak bisa menahan lenguhannya ketika tangan pria itu bermain di sana.


Tak puas dengan permainannya yang masih terhalang oleh bra, pria itu mulai menyusup ke punggung wanita itu mencoba membuka kaitan bra-nya.


Rosaline yang sadar permainan mereka sudah begitu jauh langsung mendorong Leon dengan lembut sehingga membuat jarak diantara tubuh mereka.


"Ini sudah cukup." ucapnya.


Tapi Leon yang masih terburu nafsu masih terus berusaha memeluk dan menciumnya lalu mencoba membuka kaitan bra itu secara paksa.


Rosaline yang mulai tidak nyaman dengan perlakuan pria itu yang terkesan memaksa akhirnya mendorongnya dengan cukup kasar hingga tubuh Leon tersentak dan terlepas dari pelukannya.


"Aku bilang hentikan!" ucapnya dengan nada marah.


"Kenapa? Apa bedanya melakukan sekarang atau nanti? Toh kita akan segera menikah." ujarnya dengan ekspresi masih dipenuhi nafsu.


"Kau pembohong! Kau bilang akan menurut ketika aku menyuruh mu 'berhenti'."


Leon mulai tersadar dengan apa yang telah dilakukannya, karena dikuasai nafsu dia sudah melanggar janjinya sendiri.


Tapi Leon yang notabene sudah sering 'melakukannya' sedikit kesal karena belum bisa memahami jalan pikiran Rosaline yang terlalu keras kepala memegang prinsipnya sampai wanita itu mendorongnya begitu kasar dan membuat harga dirinya sedikit terluka.


"Baiklah aku minta maaf. Aku sudah lepas kontrol. Segara rapihkan dirimu! Aku akan mengantarmu pulang." ucapnya sambil berlalu keluar dari kamar.


Rosaline bisa melihat ada kekecewaan di mata pria itu, dan dia mengerti mungkin caranya menolak Leon tadi terlalu kasar.


Tapi mau bagaimana lagi? Bukan karena dia tidak ingin, tapi dia benar-benar masih merasa takut dan belum siap melakukan hal yang lebih jauh dari yang mereka lakukan tadi.


Rosaline terduduk sejenak di atas ranjang, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia sedikit menyesal dan merasa bersalah, moment romantisnya bersama Leon harus berakhir dengan rasa kecewa dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Sementara itu setelah keluar dari kamar, Leon mengambil air putih di dapur dan meneguknya untuk bisa sedikit lebih tenang.


__ADS_2