Dandelion Motel

Dandelion Motel
Pria Dari Masa Lalu


__ADS_3

Namanya Theo. Ia polos, manis dan blak-blakan dengan cara yang sopan. Ia dan Rosaline bagai 2 sisi mata angin.


Ketika Rosaline dapat meluluhlantakkan dunia dengan ucapannya yang terdengar polos namun kadang menyakitkan, keblak-blakan Theo dalam berbicara lebih mirip dengan sepoi angin musim semi yang sejuk dan menentramkan.


Ia adalah tipikal pria yang kau tahu, tak akan menyakitimu.


Ia ceria, berbeda dengan Leon yang misterius, sedikit angkuh dan arogan.


Ia berbicara apa adanya berbeda dengan Leon yang sedikit suka membual, tapi itu dulu. Sekarang Leon sudah benar-benar berubah!


Ia terang-terangan menunjukan kasih sayang kepada Rosaline dengan cara menjaganya dari awal, berbeda dengan Leon yang pernah begitu memaksa dan mengintimidasinya.


Namun cinta adalah cinta!


Faktanya, Rosaline mencintai Leon.


Sungguh, waktu adalah teman atau lawan abadi.


Theo muncul begitu terlambat setelah perpisahan mereka di sebuah awal musim dingin - bersama selarik janji, bahwa saat mereka bertemu kembali, ia akan memastikan Rosaline membayar hutangnya.


Apa itu?


Ciuman pertama mereka yang tertunda!


Rosaline benar-benar tak tahu ia harus memasang ekspresi seperti apa melihat si manis dari masa lalunya itu kini telah menjelma menjadi pria dewasa yang tampan dan gagah.


"Ini sungguh kau kan, Rosa?" tanya Theo lagi dengan mata berbinar dan ketakjuban luar biasa karena mendapati Rosaline di tempat terpencil ini.


"Ya." jawab Rosaline masih kaget.


"Sudah ku duga!" tiba-tiba Theo memeluknya.


Ia merindukan Rosaline melebihi apapun di dunia ini, masih tak percaya bisa berjumpa dengannya kembali.


"Eh!" Rosaline buru-buru mendorong tubuh Theo dengan canggung. Ia merasa berdosa pada suaminya.


"Maaf! Maaf! Aku terlalu lama tinggal di luar negeri jadi sudah terbiasa dengan sapaan seperti itu! Kau beruntung, aku tidak tinggal lama di Tavalu!"


Rosaline terlihat tak mengerti membuat Theo tersenyum gemas.


"Orang-orang di sana mengucapkan salam dengan menekan wajah menggunakan pipi dan mengendus dalam-dalam."


Theo menunggu Rosaline tertawa seperti yang selalu ia lakukan dulu pada setiap leluconnya.


Namun berbeda dengan dulu, kini Rosaline hanya diam dan terlihat dingin.


"Wah! Ku rasa selera humorku tak sekeren dulu. Aku sudah tidak lucu lagi, ya? Dulu, meski kau selalu galak tapi sesekali kau akan menertawakan leluconku."


"Apa yang kau lakukan di sini?" ceplos Rosaline tanpa basa-basi dan terlihat tak nyaman.


Pertanyaannya terdengar seperti sebuah interogasi dari pada sebuah ungkapan kerinduan.


"Aku bekerja! Kau?"


"Aku..." belum selesai Rosaline menjawab, seseorang memanggil Theo dari belakang.

__ADS_1


"Iya, sebentar!" Theo menjawab teriakan itu.


"Begini saja! Ini nomorku! Kau harus menghubungiku sebelum aku mendatangimu sendiri! Kau tahu? Aku mengenal baik orang-orang di sini dan menemukanmu akan sangat mudah! Jika aku menemukanmu terlebih dahulu, kau harus membayar hutangmu saat itu juga! Hehe..." Theo menyerahkan kartu namanya dengan terburu-buru.


"Hutang?" Rosaline ingat itu, tapi mendengarnya tetap saja membuatnya terkejut.


"Jangan pura-pura lupa! Ah, aku sangat merindukan tatapan galakmu. Sudah berapa belas tahun kita tidak bertemu? Baiklah, sampai bertemu Rosa gadis penyihir!" Theo mengedipkan matanya sebelum pergi, sementara Rosaline menatap kartu namanya dengan ekspresi tidak terbaca.


Di mata Rosaline, Theo cukup istimewa. Ia adalah satu-satunya makhluk di sekolah yang berani mendekatinya ketika semua orang menjaga jarak dengannya dan melihatnya sebagai seorang gadis kasar yang menakutkan.


"Kau di sini? Mencariku?" seseorang tiba-tiba memegang pundak Rosaline hingga membuatnya agak tersentak.


Leon!


Rosaline langsung menyambunyikan kartu nama Theo dalam genggamannya.


Insting menyuruhnya melakukan itu. Ia tak mau suaminya cemburu dan merusak suasana di sesi foto prawedding mereka.


"Kenapa kau lama sekali? Aku bosan di kamar sendirian!" Rosaline kembali ke sifat yang asli setelah dibuat canggung dan agak mati gaya sekian menit tadi.


"Kau merindukanku?" tanya Leon menggoda.


"Hmm, sangat merindukanmu!" Rosaline memeluk pinggang suaminya.


"Manja sekali ibu hamil yang satu ini!" Leon mengusap gemas rambut istrinya.


Mereka bergandengan kembali ke villa.


.


.


.


Wanita itu langsung tercekat merasa tersindir tanpa sebab.


"Hah?" ia mendongak.


"Tenang saja! Temanku itu bukan seorang wanita! Kami bertemu saat sama-sama kuliah di luar negeri, kami cukup dekat. Ia cucu pemilik restaurant yang cukup terkenal di sana. Keluarganya sangat baik." terang Leon.


Rosaline mengangguk padahal di dalam benaknya masih berkelebat sosok Theo dengan senyum manisnya.


Mendadak ia merasa tak nyaman seolah ia telah mengkhianati Leon, padahal sungguh tak ada apa-apa di antara mereka.


Apa karena hutang itu belum ia lunasi?


Tapi kenapa Theo menagihnya sekarang dengan sok polos?


Setelah yang ia lakukan belasan silam, berani benar ia menagihnya selugu ini?


Rosaline tak paham. Ia agak marah tapi ditahannya sebab Leon akan bertanya-tanya.


Dan jika Theo benar menagihnya, tentu saja Rosaline berencana untuk menolaknya mentah-mentah.


Ia tak bisa dan jelas tak mau mencium pria lain!

__ADS_1


Bagaimana bisa ia yang sudah menikah dan bahkan sedang hamil bisa mencium pria lain?


Tak bermoral!


Rosaline mendadak merasa aneh.


Sangat aneh.


Bertemu dengan Theo di tempat seperti ini setelah belasan tahun lamanya.


Menemukannya tersenyum dengan polos seolah yang dilakukannya dulu hanya igauan semata.


Apakah ini hanya sebuah kebetulan?


Dan kenapa dengan entengnya pria itu membahas soal hutang?


Menagih sebuah ciuman tanpa rasa canggung?


Rosaline tahu ia pria yang blak-blakan dan sering menggodanya dari dulu, tapi tidakkah itu terlalu berlebihan untuk sebuah perjumpaan pertama setelah perpisahan panjang yang menyisakan banyak pertanyaan?


"Kau bilang tadi lelah, kan? Kita pesan makanan lewat layanan delivery saja atau..." tanya Leon membuyarkan lamunan Rosaline.


"Hah?"


"Kenapa sejak kita kembali ke villa gelagatmu jadi aneh? Ada apa?"


"Aneh? Aneh apanya?" Rosaline pura-pura bodoh.


"Kau membunyikan sesuatu, hah?" mata Leon memicing curiga.


"Menyembunyikan apa maksudmu? Jangan memancing-mancing keributan! Aku lelah!" Rosaline merebah dan memunggunginya di ranjang.


"Lihat! Kau aneh! Biasanya kalau aku berbicara seperti itu, kau akan balas menggodaku. Jangan-jangan kau benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku, ya? Apa? Katakan apa! Jangan bilang kau selingkuh dariku! Jawab aku! Jawab aku, Rosaline!" Leon mengguncang-guncang lengan istrinya.


Rosaline merasa tertangkap basah dan ingin mengatakan yang sejujurnya, namun belum sempat ia bicara, Leon memeluknya dari belakang dan tertawa.


"Kau sepertinya benar-benar lelah, ya? Tidak asyik sama sekali! Padahal aku sedang menggodamu tadi, haha...."


Rosaline seketika berbalik memelototi suaminya yang sedang asyik terbahak.


"Aish, dasar bajingan! Ku bilang jangan memancing-mancing! Aku sedang tidak mood untuk bercanda! Aku lelah!"


Mendengarnya, Leon seketika tutup mulutnya. Ia beringsut menjauh perlahan sambil menelan ludah takut-takut.


"Eh, kita belum makan malam. Jangan tidur dulu! Aku keluar sebentar mencari makanan!"


Leon buru-buru bangun, ia mengambil dompet dan ponsel lalu pergi secepat mungkin sebelum memancing pertikaian.


Melihat tingkahnya, Rosaline yang kesal mendadak menggeleng dan tertawa. Ia mengelus perutnya dan berbisik pada janin kecil mereka.


"Lihat kelakuan konyol ayahmu itu! Ckckck...."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2