
Rosaline tengah berbaring di ranjang rumah sakit saat tiba-tiba rasa mual menyerangnya.
Reflek ia melepas infus yang masih terpasang di tangannya lalu kemudian pergi ke toilet dengan setengah berlari.
Leon yang baru kembali ke ruang rawat setelah makan siang mendadak panik karena tidak menemukan Rosaline di tempat tidurnya, bahkan ada ceceran darah di lantai yang berasal dari selang infus yang terlepas.
Menyadari ada seseorang di toilet dengan segera Leon menghampiri dan mengetuk pintunya.
"Sayang, apa kau di dalam?"
"Hmm" guman Rosaline.
"Apa kau baik-baik saja?"
Wajah Leon yang sedikit tegang berubah lega saat Rosaline keluar sambil mengusap bibirnya dengan tissue.
"Kau tak apa?" Leon kembali bertanya sambil meneliti wajah istrinya.
"Ya sayang, aku baik-baik saja. Tadi aku merasa mual." jawab Rosaline sambil berjalan menuju ranjangnya. dengan dipapah Leon.
Belum sampai ranjang, Rosaline melepaskan rangkulan Leon tiba-tiba dan kembali berlari ke toilet membuat Leon seketika berteriak.
"Yakk...Jangan berlari seperti itu! bagaimana kalau kau jatuh?"
Dan,
"Hoeekkk"
Leon langsung menghampirinya ke dalam, dan mengusap pelan punggung Rosaline.
"Bagaimana, apa masih mual?" tanya Leon sambil memberikan beberapa lembar tissue ke tangan Rosaline.
Rosaline menggeleng pelan.
Kemudian Leon kembali memapahnya ke tempat tidur.
"Kalau kau merasa mual lagi, muntahkan saja di lantai. Tidak apa, daripada kau berlari ke toilet seperti tadi. Kau membuat jantungku hampir copot, bagaimana kalau kau jatuh? Ingat, ada anak kita di dalam sini." omel Leon kemudian mengusap perut istrinya.
"Baiklah. Aku minta maaf." ucap Rosaline.
Sudah hampir 1 minggu Rosaline dirawat di rumah sakit dan Leon selalu setia menemaninya setiap saat membuat Bobby kewalahan dan harus bekerja lebih keras dan ekstra di kantor.
"Sekarang beristirahatlah, aku akan keluar sebentar. Tadi perawat bilang dokter ingin bertemu denganku." ucap Leon sambil mengecup kening Rosaline.
Rosaline hanya mengangguk dengan senyuman manis yang terukir di bibir tipisnya.
Tak lama setelah Leon pergi, Nora datang bersama Dante.
"Apa kau sudah baikan?" tanya Nora.
"Iya, aku sudah lebih baik. Terima kasih sudah berkunjung." ucap Rosaline.
"Kapan kakak bisa pulang ke rumah?" tanya Dante.
"Entahlah, kakak iparmu sedang berbicara dengan dokter." jawabnya.
Dante dan Nora membulatkan matanya ketika Rosaline yang tengah terbaring mendadak bangun dan hendak turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kakak mau ke mana?" tanya Dante sedikit was-was.
"Tolong bantu aku berjalan, aku ingin ke toilet." pintanya.
Dante memegang lengan Rosaline sebelah kanan dan Nora memegang lengannya yang sebelah kiri.
"Hoeekkk..."
Rosaline kembali memuntahkan air yang sebelumnya dia minum.
Dante mengelus punggung kakaknya pelan dengan ekspresi jijik.
.
.
.
Keesokan paginya dokter menghampiri Rosaline dan Leon di kamarnya bersama seorang perawat yang mendorong alat USG.
"Ini pemeriksaan terakhir sebelum nona Rosaline pulang." kata dokter.
Rosaline dan Leon menyambut mereka dengan senyum dan mata yang berbinar.
"Mari kita lihat perkembangan bayi kalian hari ini." dokter mengisyaratkan kepada perawat untuk mengoleskan gel dingin ke perut Rosaline.
"Bulatan hitam ini adalah calon bayi kalian. Baru sebesar biji kacang polong." dokter mulai menjelaskan.
Rosaline dan Leon menatap layar komputer dengan ekspresi takjub.
"Apa kami sudah bisa mendengar detak jantungnya, dok?" tanya Leon antusias.
Penjelasan demi penjelasan mereka dengarkan dengan seksama. Rosaline dan Leon sangat bahagia, mereka berdua tidak menyangka Tuhan memberi anugerah menjadi orang tua secepat itu.
.
.
.
Setelah mandi dan mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian miliknya, kemudian rosaline mengemas sedikit barang-barang ke dalam tas.
Karena merasa bosan sendirian di ruangan itu, Rosaline mengambil inisiatif untuk menyusul Leon ke pusat administrasi alih-alih menunggu Leon menjemputnya.
Sementara itu Leon yang baru selesai mengurus administrasi hendak kembali ke ruang perawatan untuk menjemput Rosaline.
Tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Leon?"
Leon yang mendengarnya seketika menoleh ke arah suara.
"Maaf?" ucap Leon sambil mencoba mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya.
"Aku Cindy, kita teman satu kelas saat SMA. Apa kau lupa?" ucap wanita itu.
"Ah maaf aku sedikit lupa dengan namamu. Tapi aku tidak asing dengan wajahmu." ujar Leon.
__ADS_1
"Sudah lama ya. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini." ucap Cindy lagi.
"Ah iya." ujar Leon dengan senyuman canggung.
"Apa aku boleh meminta nomor kontakmu? Aku sering pergi dengan teman-teman sekelas kita yang lain, kapan-kapan kau harus bergabung." Cindy menyodorkan ponselnya kepada Leon.
Leon hendak mengambil ponsel itu saat tiba-tiba seseorang meraihnya lebih dulu.
Rosaline mulai mengetik sebuah nomor ponsel di ponsel Cindy.
"Itu nomor ponselku. Kalau kau mau mengajak ayah dari calon bayiku pergi keluar, kau boleh menghubungi nomor itu. Walau aku jamin 1000% aku tidak akan mengijinkan, tapi kau boleh mencobanya." ujar Rosaline dengan sedikit menekankan di kata 'ayah dari calon bayiku'.
Dengan segera Rosaline menggaet lengan Leon meninggalkan Cindy yang masih melongo.
.
.
.
Leon membukakan pintu mobil untuk Rosaline yanh sedari tadi tak henti menggerutu.
"Aishh...selain ke kantor seharusnya kau memakai topi untuk menutupi wajah tampanmu itu saat keluar rumah." gerutunya.
"Apa kau harus bersikap seperti itu kepada teman SMA ku?" protes Leon yang merasa sedikit tidak enak pada temannya tadi.
"Apa aku harus membelikanmu masker juga agar menjagamu dari semut-semut itu?" dengus Rosaline tanpa menghiraukan perkataan Leon.
"Manusia itu makhluk sosial, siapa tahu suatu saat kita membutuhkan pertolongan mereka." Leon masih mencoba menjelaskan.
"Wajah tampanmu benar-benar kutukan!" Rosaline masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Yakk...apa kau mengabaikanku? Sedari tadi aku bicara kau sama sekali tidak menanggapiku, huh?" Leon mulai kesal.
"Pokoknya kau tidak boleh dekat-dekat dengan wanita lain. Tidak, aku tidak akan membiarkannya."
"Sayang, dia hanya teman. Tidak lebih."
"Semua wanita yang dulu kau kencani awalnya hanya teman. Kau pikir aku bisa kau bodohi, huh?" Rosaline tidak kalah sewot.
"Itu dulu, sekarang aku sudah berubah." sela Leon.
"Sini, berikan ponselmu! Aku akan menghapus semua kontak wanita di ponselmu." tangan Rosaline mulai meraba-raba saku celana bahan yang Leon kenakan.
"Kenapa harus sejauh itu? Kolega ku tidak hanya pria, banyak juga di antara mereka wanita. Kau juga! Apa di ponselmu tidak ada kontak pria, huh?" Leon mulai balas menyerang.
"Aku? Tidak ada rahasia di ponselku. Kalau kau tidak percaya, kau bisa memeriksanya sendiri." ujar Rosaline sambil memperlihatkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Leon.
Dan tiba-tiba ponsel Rosaline berdering, seseorang bernama 'Julian' memanggil.
Membuat Rosaline dan Leon saling beradu pandang seketika.
.
.
.
__ADS_1
Jreng jreng jreng