Dandelion Motel

Dandelion Motel
Pesta Berdarah


__ADS_3

Leon berlari pergi dan tak lama ia kembali dengan bermacam-macam makanan sesuai janjinya.


Mereka makan bersama.


"Uhuuuukkk.... uhuuuuukk... " di sela makan, Leon agak batuk-batuk.


Rosaline langsung mendongak cemas dan sebelum ia sempat bertanya, suaminya buru-buru menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak! Aku baik-baik saja! Hanya sedikit tersedak!"


Rosaline mengernyit aneh mendengarnya.


"Aku ambil minum dulu!" Leon berdiri dan pergi, tapi ia tak mengambil minum dan malah menuju toilet.


Di sana ia membasuh wajahnya dan menyentuh dahinya.


Ia sudah minum obat tapi kenapa demamnya belum turun juga?


Kepalanya kini bahkan terasa pusing.


Sementara itu sesosok pria misterius menyelinap masuk ke dalam pesta. Ia membaur di antara rombongan tamu yang baru datang.


Ini adalah privat party, para tamu undangan adalah orang-orang terpilih dan tak sembarangan orang tahu diadakan pesta di sini, jadi kehadirannya terasa aneh dan sangat mencurigakan.


Dari mana ia tahu?


Bagaimana bisa ia menemukan tempat ini?


Sosok misterius itu bergerak ke sana- kemari.


Matanya tak henti mencari sementara bibirnya terus bergumam, " Rosaline... Rosaline... di mana dia?"


Tangannya menyibak para tamu dan menatap wajah mereka satu-persatu demi menemukan sosok dalam igauannya itu.


"Rosaline... Rosaline... kau di mana?"


Setelah sekian menit mencari, ia akhirnya menemukan sosok yang dicarinya sedang asyik mengiris dan mengunyah steak.


Bak menemukan harta karun, pria berjaket hitam itu langsung berlari dan menerkam Rosaline dari belakang dengan pelukannya yang sangat kencang.


Tentu saja wanita itu tersentak dan menjerit saking kagetnya. Garpu dan pisau di tangannya terjatuh tanpa sadar.


Semua orang spontan menoleh ke arahnya, terutama Theo.


"Rosaline, akhirnya aku menemukanmu! Kau milikku! Aku akan melindungimu!" pria misterius itu berteriak heboh.


Ia kegirangan sendiri seperti orang gila.


Jason!


Ya, pria misterius itu tak lain dan tak bukan adalah Jason.


Rosaline meronta. Ia menjerit dan memaki.


"Yakk..., bajin**n! Lepaskan aku, kepar*t!" teriaknya.


Rosaline mencoba meraih pisau steak Leon di atas meja tapi mata awas Jason keburu menangkapnya.

__ADS_1


Ia mengambil pisau itu lebih dulu.


Pesta yang semula berjalan menyenangkan mendadak jadi gaduh.


Ketika para tamu termasuk Theo mencoba mendekat, Jason langsung mengarahkan pisau di tangannya ke leher Rosaline yang melotot bingung harus bagaimana.


Ia mengancam akan menusuk Rosaline lalu bunuh diri jika ada yang berani memisahkan mereka.


Ya, Jason kecewa dan menjadi gila saat Leon memberitahunya bahwa ia sudah menikahi Rosaline.


Ia merasa dikhianati dan tersakiti, tapi sebenarnya bukan itu alasan utama Jason melarikan diri dari penjara.


Matanya melotot marah dan pelukannya semakin menguat hingga dada wanita hamil itu terasa sesak.


Leon yang baru keluar dari toilet terlihat bingung bercampur kaget melihat kegaduhan di depan matanya.


Hanya 5 menit ia pergi dan situasi sudah sekacau ini?!?


Ia kembali ke mejanya dengan was-was dan penuh pertanyaan.


Disibaknya gerombolan orang yang menyemut di sekitar mejanya.


Dan Leon melotot seketika mendapati istrinya berada di bawah todongan pisau Jason.


"Rosaline!!!" Ia berlari mendekat, ingin menyelamatkan istrinya, namun Rosaline buru-buru mendelik, memberinya isyarat agar berhenti.


"Siapapun jangan memisahkan kami!!! Dia calon istriku!!! Dia milikku!!! Aku sudah mencintainya sejak belasan tahun lalu! Ayahnya sendiri yang sudah menyerahkannya padaku! Dia milikku! Benarkan, Rosaline? Benarkan? Jawab aku!!! Cepat jawab aku!!!"


"Iya... iya, aku milikmu! Milikmu!" Rosaline menuruti kegilaan Jason sembari terus memegangi perutnya, memastikan calon bayinya baik-baik saja.


Theo menatap Leon.


Bagaimana bisa ada tahanan yang kabur dari penjara datang ke tempat ini?


Siapa yang memberitahunya???


Ah, apa yang harus mereka lakukan?


Detak jantung Rosaline naik berkali-kali lipat dan nafasnya terasa kian sesak.


Di dekatnya, Leon menatap tegang. Ia takut, marah dan kebingungan mencari cara menyelamatkan istrinya.


Keduanya bersitatap dengan perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan. Seolah baru semenit lalu kebahagiaan mengakar kuat dan petaka adalah ilusi. Namun kini, batas antara hidup dan mati terasa begitu tipis.


Leon tak mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari Rosaline. Dalam keheningan ia mencoba meyakinkannya bahwa apapun yang terjadi ia akan menyelamatkannya. Ia pasti menyelamatkannya!


"Rosaline, kenapa kau mengkhianatiku? Kau tahu aku mencintaimu! Kau tahu aku selalu menunggu dan merindukanmu! Kau milikku! Milikku!!!" Jason berteriak dan membuat semua tamu bergidik ngeri.


Theo menjauhi kerumunan.


Ia menelepon polisi diam-diam.


Ya, ini kesalahannya!


Kenapa ia tak memiliki petugas keamanan atau minimal memeriksa para tamunya dengan lebih seksama.

__ADS_1


Ia kira karena banyaknya para tamu yang diundang secara mendadak dan pribadi, maka yang datang pasti orang-orang yang dikenalnya. Namun kenyataannya berkata lain.


"Ya, aku milikmu! Hanya milikmu! Tenanglah, aku akan melakukan apapun yang kau mau!" bujuk Rosaline was-was sembari terus memegangi perutnya.


"Pergilah denganku! Ayo kita melarikan diri! Hiduplah bersamaku! Kita akan bahagia bersama di tempat yang jauh! Tinggalkan suamimu! Aku akan menerimamu dan bayimu! Aku akan mencintainya seperti anakku sendiri!" kata Jason serius sambil mengendus-ngendus leher Rosaline.


Ia merasa melayang ke angkasa karena telah berhasil menghidu aroma impiannya - aroma Rosaline, sosok wanita yang sangat dia rindukan.


Melihat itu, tentu saja Leon naik darah.


Ia mendidih luar biasa dan sudah bersiap maju namun Theo mendadak menahan pundaknya dari belakang.


"Rosa bisa mengatasinya! Aku yakin dia bisa! Tetap tenang! Jangan gegabah! Polisi akan segera datang!" yakinnya.


Leon yang sudah mengepalkan tangan demi menghajar pria gila itu pun berusaha keras menahan amarahnya dan mengembalikan kewarasannya.


Benar!


Ia tak boleh gegabah!


Pisau itu bisa menusuk leher Rosaline dalam sekejap jika ia salah langkah.


Sialan!


Kenapa ia tak berfikir panjang?


Sungguh aneh!


Ia yang terbiasa bermain tak-tik dan jago menghadapi kelakuan-kelakuan para preman bahkan gangster pembuat onar kini jadi begitu impulsif dan tak terkendali saat melihat istrinya berada di antara hidup dan mati.


Cinta telah membutakannya dan mengaburkan logikanya yang telah terasah selama bertahun-tahun.


Anehnya, justru Rosaline lah yang jadi lebih bijak dan berlogika di situasi seperti ini.


Wanita itu sadar, satu tindakan yang salah akan membahayakan nyawa bayinya.


Siapa sangka cinta ternyata telah mengubahnya juga, membuatnya lebih sabar dan tak gegabah.


Ia melakukannya atas nama bayinya. Rosaline telah menjadi seorang ibu bahkan sebelum anaknya terlahir ke dunia.


"Kau mau menyayangi kami? Sungguh?" Rosaline berakting terharu.


"Ya, Aku serius! Aku mencintaimu, Rosaline! Kau tahu, ada orang yang ingin mencelakaimu saat ini? Dia mengirim surat padaku saat di penjara dan memberi alamat tempat ini padaku! Dia bilang akan mencelakaimu jika aku tak bisa membawamu pergi! Aku datang ke sini untuk melindungimu! Aku mencintaimu! Kau tahu kan?"


"Benarkah? Kau pahlawanku! Kau sungguh pahlawanku! Kalau begitu, kemarilah! Tatap aku! Aku ingin melihat pria yang mencintaiku sebesar itu!" rayu Rosaline.


Semua tamu tampak bingung kecuali Leon dan Theo.


Mereka tahu, bagaimana otak Rosaline bekerja.


Wanita itu selalu tahu cara licik untuk lolos dari api tanpa terpercik bara.


Theo membisikkan sesuatu di telinga Leon dan keduanya mulai berpencar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2