
Bulan demi bulan dan siapa sangka jika Theo dan Rosaline menjadi semakin akrab.
Di sekolah ini Theo adalah satu-satunya teman Rosaline sebab semua murid terutama murid perempuan seolah menjauhinya.
Entah dari mana mereka mendengar sederet kelakuan ganjil nan bar-barnya di semua sekolah lamanya.
Berbanding terbalik dengan Rosaline, Theo termasuk siswa populer. Ia memiliki banyak teman.
Selain tampan, sifatnya yang supel dan ramah membuatnya sangat disukai.
Meski demikian, ia senang dekat-dekat Rosaline yang 'terkucilkan'.
Teman-temannya sampai keheranan, namun Theo tak peduli. Ia senang bersahabat dengan Rosaline yang menurutnya unik dan sama gilanya dengannya.
Pemuda itu selalu memenuhi hari-hari Rosaline dengan jokes-jokes garing yang tak jarang berhasil membuat gadis bertatapan tajam itu tertawa lepas.
Ia juga tak segan untuk melindunginya dari para pemuda hidung belang dan para mantannya yang mendendam karena dicampakan.
Ini rahasia!
Leon belum tahu jika Rosaline punya banyak mantan, Ia semacam playgirl di sekolah.
Theo juga tak jarang membelanya di depan semua orang, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.
"Malam ini jangan tidur dulu! Tunggu aku di bawah tiang lampu, di belakang asrama! Aku akan mengajakmu bersenang-senang. Ingat, kau harus datang! Atau aku akan menculikmu!" bisik Theo.
Ia mengedipkan matanya dan tersenyum manis, kemudian pergi meninggalkan Rosaline yang menatap punggungnya dengan hambar.
.
.
.
Theo duduk di hadapan Rosaline. Mereka hanya berdua sebab Theo meminta izin pada bibi Marta untuk bicara 4 mata dengannya.
"Jika yang ku dengar benar bahwa suamimu meninggalkanmu, apa itu artinya aku bisa menculikmu sekarang?" tanyanya entah itu serius atau hanya bercanda.
Rosaline tergelak sinis dan sedikit mencondongkan badannya ke depan.
Ditatapnya wajah kawan lamanya itu dengan santai.
"Sungguh? Kenapa ingin repot-repot menculikku jika dulu kau menghilang saat ku berikan tanganku dengan sukarela, bajing*n?!" Rosaline memberikan tekanan pada kata 'bajingan' dengan tersenyum.
Theo terdiam.
Ingatannya kembali ke masa lalu. Ia masih mengingat alasan kepergiannya malam itu.
Alasan ia menjadi pengecut.
Alasan ia meninggalkan Rosaline membeku sendirian di bawah serpihan salju - di tengah jalan.
.
.
.
Sementara itu, di luar sana di bawah hujan yang tak kunjung mereda, Leon masih mencari dan terus mencari di mana istrinya berada.
"Rosaline.... Rosaline....." teriaknya di jalanan dekat rumah bibi Marta.
.
.
.
Rosaline adalah badai dan Theo adalah hujan. Jika keduanya bersama, semesta akan menari, pepohonan akan tumbang, dedaunan akan gugur dan petaka pasti tiba.
Rosaline adalah lahar dan Theo adalah kawah. Jika keduanya bertemu, makhluk bisa mati, sawah dan ladang akan hangus terbakar dan bencana tak terelakkan.
Namun, tetumbuhan yang gugur membusuk akan jadi humus setelah badai.
__ADS_1
Dan tanah menjadi subur setelah dibanjiri lahar.
Selalu ada hal baik yang muncul setelah kegilaan yang mereka perbuat.
Kita masih akan menyelam ke belasan tahun silam, di mana Rosaline sedang menunggu Theo di tempat yang mereka janjikan pada pukul 11 malam.
.
.
.
Sekitar 30 menit menunggu, sosok yang dinantinya tiba.
"Aish, dasar bajing*n! Kenapa kau lama sekali?!" Rosaline langsung menyambutnya dengan sumpah serapah begitu batang hidung Theo muncul di balik pepohonan.
Seperti biasa, pemuda itu tersenyum dan melempar sebuah helm berbentuk lucu ke arahnya.
Rosaline menangkapnya.
Apa-apaan? pikirnya.
"Jangan bengong! Ayo!" Theo menggandeng Rosaline ke suatu tempat.
"Motor, hah? Memang kita mau ke mana?"
Lagi-lagi Theo tersenyum. Ia mengambil helm dari tangan Rosaline dan memakaikannya ke kepala gadis itu.
"Ku jamin ini akan sangat menyenangkan!" Theo memberikan jaket yang diambilnya dari dalam jok motor.
"Pakai ini! Cuaca sedang dingin!"
Rosaline memakainya dan naik ke atas boncengan.
Mereka kabur lewat jalan rahasia yang mengarah ke pematang sawah lalu tembus ke jalan raya.
Semilir angin dan gemerlap lampu kota terasa menyegarkan.
"Pegangan yang kencang!" teriak Theo.
"Eh..iya...tapi jangan sekencang ini juga!"
"Kenapa wajahmu merah? Kau belum pernah membonceng seorang gadis sebelumnya?"
"Kata siapa? Aku punya banyak mantan!" jawab Theo heboh.
Rosaline tersenyum agak sinis.
"Aku percaya!" ucapnya santai.
Di perjalanan, Rosaline meminta Theo mengebut.
Pemuda itu menurut.
Ia mengegas sekuternya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali salip sana salip sini serta tak lupa mengklakson siapa pun dengan keras dan seenaknya.
Dua murid berandal itu tertawa-tawa menikmati wajah kaget orang saat mendengar bunyi klaksonnya.
Setelah sekitar 1 jam perjalanan, mereka sampai di depan sebuah club malam langganan Theo.
Suara musik bertalu-talu dari dalam dan banyak orang keluar di pintu depan.
"Di sini kita bebas merokok dan tentu saja bersenang-senang!" Theo menyunggingkan senyum sok keren.
Rosaline turun dari motor dan tak henti memandang bangunan yang di sebut club malam itu dengan mata membulat tak percaya.
Ia tak terlalu suka keramaian, tapi jika dia bisa bebas merokok dan jauh dari manusia munafik di sekolah, maka kenapa tidak?
Theo menggandeng tangannya melewati pintu belakang.
Tak perlu KTP, tak perlu membayar, Theo punya kenalan orang dalam.
Mereka turun ke lantai disko dan bertemu 3 teman Theo yang sudah menanti dengan tak sabar.
__ADS_1
Mereka bersorak heboh menyambut kedatangan Rosaline yang luar biasa cantiknya.
Menurut mereka, Rosaline adalah gadis paling cantik yang pernah mereka temui.
"Wah...jadi ini si gadis liar yang selalu kau ceritakan itu?" teriak salah seorang temannya senang.
Terlalu bising untuk bicara dengan nada normal.
Theo mengangguk dan memperkenalkan Rosaline dengan penuh percaya diri.
"Kau mau minum apa?" tanya Theo dengan berteriak.
"Wine!" jawab Rosaline sambil melepaskan jaketnya.
Theo memberi kode OK dan pergi ke meja bartender.
Rosaline duduk sendirian dengan santai, ia menolak ajakan ketiga teman Theo untuk turun menari.
"Ini!" Theo kembali dengan sebotol bir.
"Aku minta wine!"
"Wine? Apa kau gila? Ini club malam bukan restaurat perancis, nona!"
"Aish, kau tidak minum?"
"Jika aku minum lalu siapa yang akan menyetir? Hahaha..."
Rosaline meneguk birnya dan mulai menyakalakan rokoknya. Kepalanya bergoyang-goyang pelan menikmati irama musik.
Theo tiba-tiba merampas rokok yang baru disesap Rosaline dan menghujamkannya ke asbak.
"Yakk...!" Rosaline ingin memaki tapi Theo lebih dulu menggeretnya turun ke tengah lautan manusia. Ia memaksanya menari bersama.
Rosaline yang anti sosial segera berbalik pergi namun Theo menahan lengannya.
"Ayolah! Kita cuma hidup sekali! Bersenang-senanglah sedikit! Siapa tahu besok kita mati?!" bujuknya.
Rosaline terdiam, ia menatap ke sekitar dengan dingin.
Alunan musik semakin keras menghentak.
"Seperti ini! Ayo menari seperti ini!" Theo memeragakan sebuah tarian lucu dan kekesalan Rosaline mendadak luntur.
Ia tersenyum dan perlahan menggerakkan tubuhnya di bawah gemerlap lampu disko dan racikan musik sang DJ.
Untuk pertama kalinya ia bisa tertawa lepas, tergelak riang dan merasa bebas.
Ia menggila!
Benar-benar menggila hingga mabuk tak jelas dan meracau ke mana-mana.
Siapa yang akhirnya menyesal dan kesulitan karenanya?
Tentu saja Theo.
Ia tentu tak bisa membonceng Rosaline pulang naik motor dalam kondisi begini.
"Di mana jaket yang tadi ku pinjamkan? Aish...!"
"Jaket kampungan itu? Aku membuangnya! Hahaha..." jawab Rosaline mabuk.
"Setidaknya jaket itu membuatmu tidak kedinginan! Ckckck...."
Theo terpaksa memakaikan Rosaline jaket hoodie miliknya. Ia menutupi kepalanya dengan tudung lalu memapahnya ke minimarket terdekat untuk disadarkan.
Theo meninggalkan Rosaline di emperan depan minimarket dan masuk ke dalam untuk membeli sebotol air mineral.
Saat Theo selesai membayar, tiba-tiba terdengar bunyi gaduh di luar.
Ada kekacauan apa di luar?
.
__ADS_1
.
.