
Leon sedang asyik tidur saat William membangunkannya dan minta diantar ke toilet untuk buang air kecil.
Tentu saja ia menolak, ia berniat membangunkan Rosaline. Tapi melihat istrinya tengah tertidur sangat lelap ia jadi tidak tega mengganggu tidurnya.
Dan di sini lah sekarang ia berada, di depan pintu kamar kecil menanti bocah lelaki itu menyelesaikan misinya.
"Cepatlah." Leon menguap lebar lalu mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah sangat berat.
Ia melangkah pergi duluan, namun William mengejarnya dan menggandeng tangannya membuat Leon cukup terkejut.
Ada perasaan asing yang singgah di hatinya. Diliriknya William yang berjalan dengan mata setengah terpejam.
Dengan spontan ia menggenggam erat tangan mungil itu, takut ia tersandung dan jatuh.
Aneh sekali.
Biasanya ia tidak peduli dengan orang lain, apalagi seorang anak kecil yang menurutnya menyebalkan.
Kecuali anaknya nanti, sudah pasti ia akan sangat menyayanginya.
"Apa kau sudah mau tidur sendirian? Aku akan mengantarmu ke kamar tamu, ya!" ujar Leon berharap bocah itu tidak lagi menggangu tidur nyenyaknya dan membawanya menuju kamar tamu.
"Paman, sebenarnya aku sering bermimpi buruk saat tidur sendirian." William tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aishhh...orang tuamu sangat memanjakanmu, ya! Aku bahkan sudah terbiasa tidur sendiri saat seusiamu."
William hanya mendongak ke arah Leon dengan tatapan penuh harap.
Tiba-tiba Leon jadi teringat dirinya sendiri yang juga sering bermimpi buruk saat masih kecil.
Tanpa mengatakan apapun Leon menggandeng William kembali ke kamarnya, menggendongnya naik ke tempat tidur dan mememberikan ruang untuknya lalu segera berbaring di sampingnya.
Bocah itu tersenyum ke arahnya dan memeluknya, membuat Leon bingung harus berbuat apa.
Ia hanya diam membatu seperti patung. Perlahan keduanya terlelap bersama dan Leon membalas pelukan William tanpa sadar. Seperti seorang ayah mengasihi anaknya.
Keesokan paginya Rosaline cukup kaget menyaksikan pemandangan langka itu. Ia tersenyum dan membetulkan selimut mereka setelah itu ia turun dari tempat tidurnya sepelan mungkin.
.
.
.
"Morning.." sapa Rosaline melihat Leon menghampirinya disusul William saat menata roti di atas piring untuk sarapan.
Tanpa basa-basi Leon langsung memeluk Rosaline dari belakang.
"Jangan begini, ada William." bisik Rosaline tak nyaman.
"Kenapa? Dia sudah tahu kita sepasang suami-istri. Iya kan William?"
"Hmmm" William mengangguk mantap.
"Jadi menu sarapan kita hari ini roti? Apa ada yang bisa ku bantu?" Leon mengusap perut Rosaline dengan lembut dan dan hendak turun ke...
Dengan cepat Rosaline menangkapnya, sebelum jari-jari penuh sihir itu sampai ke tempat berbahaya.
"Jangan macam-macam di depan anak kecil!" Rosaline menyingkirkan tangan Leon dengan dingin.
"Tapi kau suka kan?" bisik Leon menggoda.
"Daripada kau mengganguku, sebaiknya kau bantu olesi roti-roti ini dengan selai!"
"Yakk...kau bilang aku mengganggu? Mentang-mentang ada orang lain kau sok jual mahal. Padahal tiap malam hobimu menggoda..."
Rosaline buru-buru membekap mulut Leon dan membawanya menjauh dari William.
" Sudah ku bilang, jaga bicaramu dihadapan anak kecil!" seru Rosaline salah tingkah.
__ADS_1
Leon yang melihat ekspresi Rosaline hanya tersenyum gemas.
"He..he..baiklah, aku minta maaf. Aku salah bicara. Tapi kau juga mengajarkan hal tidak baik kemarin." ucapnya sok polos.
"Aku? Kapan?" tanya Rosaline tidak mengerti.
"Soal sakit perut? Kau bahkan membuat ku ikut berbohong juga." ujar Leon mengolok-olok.
"Itu gara-gara kau." Rosaline mencoba tidak terintimidasi.
"Itu karena kau yang membuatku mengerang." bisik Leon di telinga Rosaline dan membuat wanita itu bergidik.
"Yakk...Leon, hentikan! Cepat mandi sana!" sambil mendorong Leon yang terus menggodanya ke kamar mandi.
.
.
.
Hari ini sesuai rencana Leon pulang dari kantor lebih awal. Siang tadi Rosaline mengirim pesan dan mengajaknya bertemu di toko kue langganannya sepulangnya bekerja.
Mungkin istrinya sedang ngidam ingin cake pikirnya.
Sesampainya di toko kue, Leon menatap kaget William yang duduk berdampingan dengan Rosaline.
"Yakk, kenapa kau mengajaknya?"
Rosaline menatap Leon dan memberi isyarat untuk diam.
"Aishhh" dengusnya.
Ia tak suka anak kecil.
Ia tak suka William!
"Tentu saja, dia menghabiskan masa liburan sekolahnya di rumah kita. Bukannya sudah tugas kita mengajaknya jalan-jalan?" ucap Rosaline sambil mencubit lembut dagu mungil William lengap dengan ekspresi gemas.
Leon hanya bisa menghela nafas dan menatap tak percaya, tanpa bisa berkata-kata.
"Pesankan cake-nya sekarang." pinta Rosaline pada Leon.
Leon beranjak dari duduknya dan hendak memesan.
"Ekhemm...kau mau eskrim?" tanya Rosaline pada William.
Seketika bocah itu mengangguk dengan tatapan berbinar. Lalu dengan tatapan matanya Rosaline mengisyaratkan William untuk pergi mengikuti Leon.
Bocah itu dengan segera turun dari kursi dan bergegas mengejar Leon.
Sementara itu Rosaline bergegas pergi ke butik tujuannya.
"Aku ingin eskrim." ucapnya sambil menggandeng tangan Leon yang belum terbiasa dengan interaksi mereka.
'Dasar penyihir licik!' umpatnya dalam hati.
Ia risih dan ingin melepasnya, tapi bagaimana bisa dia membiarkan anak kecil berjalan sendirian di tempat umum begini.
Akhirnya mau tidak mau Leon balas menggandeng tangan mungil itu.
"Selamat pagi. Selamat datang." sapa pelayan toko dengan senyuman pabriknya.
Memesan beberapa cake kesukaan mereka.
"Anak ini mau eskrim juga" ucap Leon pada sang pelayan.
"Mau eskrim rasa apa, anak manis?" tanya pelayan itu.
"Aku mau eskrim rasa pisang." jawab William.
__ADS_1
"Ini saja, pak?" tanyanya ramah.
"Pak? Apa aku terlihat setua itu?" ucap Leon datar namun mengintimidasi.
"Eh iya...maaf, tuan."
Sikapnya Leon yang dingin dan tak sopan membuat pelayan itu mengelus dada.
"Kau ingin eskrim lagi atau mau yang lain?" tanya Leon.
William menggeleng polos.
"Dasar bodoh, padahal kau bisa memesan apapun sesukamu." maki Leon yang disambut dengan pandangan aneh dari pelayan toko tersebut.
'Ayah macam apa yang memaki anaknya seenteng itu?' pikirnya.
.
.
.
Karena bosan menunggu Rosaline yang belum kunjung kembali, Leon membawa William ke taman bermain yang tak jauh dari toko eskrim tersebut.
William asyik menjilati eskrim kedua yang dibungkusnya sambil berjalan hingga nyaris jatuh tersandung. Beruntung Leon dengan sigap menangkapnya.
"Aishhh...jangan makan sambil berjalan! Kau tidak bisa sabar sedikit, hah?" Leon menariknya ke bangku terdekat.
"Habiskan dulu, baru kau boleh bermain."
William mengangguk dan melahap eskrimnya secepat mungkin.
Leon diam-diam memperhatikannya dan berkhayal kalau-kalau bayinya nanti laki-laki.
Apa iya akan cemburu pada anaknya seperti saat ini?
Ya, ia akui ia sedikit camburu karena Rosaline sekarang jadi lebih sering memperhatikan dan memuja wajah tampan William daripada dirinya.
'Menyebalkan.' dengusnya dalam hati.
Hmm
William memakan eskrimnya dengan belepotan.
Eskrimnya jatuh ke leher dan baju hingga membuat Leon menggeleng geram.
"Aishh...kau jorok sekali, sampai belepotan semua. Ckckck...."
Ia mengambil saputangan dari sakunya dan mulai membersihkan pipi hingga leher William bak seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan anaknya.
Willian tersenyum lebar dan membuat Leon canggung sendiri.
"Ekhem...sapu tangab tidak cukup, sana cuci mukamu!" serunya agak salah tingkah.
William melompat turun dan berlari menuju kran umum yang disediakan bagi para pengunjung taman.
10 menit berlalu, tapi bocah itu belum juga kembali. Leon mulai tak tenang.
Apa mungkin dia menemui Rosaline di butik seberang sana tanpa bilang?
Bisa saja,
Tapi itu artinya dia harus melewati jalan raya dan....
Leon berdiri seketika hendak mencarinya, namun baru juga satu langkah ia mendengar suara jeritan nan familiar.
Suara William!
.
__ADS_1
.
.