Dandelion Motel

Dandelion Motel
Bumil Sensitif


__ADS_3

"Rosaline....sayang..." Leon mengetuk pintu kamar Rosaline yang terkunci.


"Jangan menggangguku! Dasar kepa**t sia**n! Aku membencimu!" teriak Rosaline marah.


Terdengar suara benda yang dilempar ke pintu.


Leon menelan ludah dan menurunkan tangannya dengan cepat, tak berani lagi untuk mengetuk.


"A...aku ada di bawah jika kau butuh sesuatu." kata Leon dengan suara bergetar.


"Ku bilang cepat pergi!!!"


Terdengar suara benda dilempar lagi.


"Eh...i..iya...iya..." Leon bergegas menuruni tangga.


Ia pergi ke ruang keluarga di mana Dante sedang asyik menonton tv, sementara William sudah kembali ke kamarnya.


"Dante, apa kau tahu cara menghadapi ibu hamil yang pemarah dan sangat sensitif?" Leon merebahkan tubuhnya dengan frustasi di sofa.


"Jangan tanya padaku! Tanya saja pada kak Daniel atau ayah kak Leon, mereka lebih pengalaman." jawab Dante asyik dengan cemilannya.


Mata Leon langsung berbinar.


Ucapan Dante benar juga!


Ia harus bertanya kepada yang sudah berpengalaman!


.


.


.


Sekitar 1 jam kemudian, Rosaline keluar dari kamarnya dan menanyakan keberadaan Leon pada Dante.


"Kak Leon sedang bertelepon di luar!"


"Menelepon siapa dia malam-malam begini?" Rosaline mengernyit heran.


"Mungkin menelepon kak Daniel atau ayahnya." jawab Dante datar.


"Apa ada yang penting?" tanyanya penasaran.


"Kak Leon ingin bertanya cara menghadapai ibu hamil yang pemarah dan sensitif." ucap Dante polos.


"Aiishhh!!!" Rosaline langsung melotot dan mengacak pinggang.


"Yakk, kenapa kau masih di sini? Cepat pulang dan jaga motel dengan benar! Ckckck...aku perhatikan kau punya banyak waktu luang!"


Kebiasaan Rosaline sudah kembali, ia melampiaskan kekesalannya pada Dante.


Dante yang sadar keberadaannya sudah tak aman segera mematikan TV dan membereskan kantong cemilan yang berantakan.


Ia meraih kunci mobil di dekatnya, "Aku pinjam mobilmu ya, kak!" seraya berlari meninggalkan Rosaline yang masih kesal.


"Aiishhh, dasar bocah tengik!" gerutunya lagi.


Lalu ia beranjak keluar hendak menghampiri suaminya.


Rosaline membuka pintu kemudian menutupnya dengan sangat keras sampai Leon yang sedang bertelepon terperanjat.


.


.


.


"Kau harus memperlakukan dia dengan baik! Itu masalah hormon. Karina dulu lebih menyeramkan saat hamil. Dia bahkan tidak mau tidur seranjang denganku selama 9 bulan. Bayangkan betapa menyeramkannya itu!" kata Daniel di telepon.

__ADS_1


Sekitar 30 menit yang lalu Leon meneleponnya.


"Kau pasti sangat gugup karena akan menjadi seorang ayah, kan?" ucapnya.


Mereka terus asyik mengobrol dan 'curhat' sampai lupa waktu.


"Terima kasih sarannya, kak! Kakak juga boleh menelepon ku saat kakak butuh teman mengobrol." ujar Leon.


"Tidak! Aku tidak mau mengganggumu! Rosaline bisa-bisa mengomeliku!" mereka berdua pun tertawa.


"Leon!" teriak seorang wanita dengan suara menggelegar dari kejauhan.


Rosaline!


Ia mendekat sambil menahan kesal.


"Baru saja kita bicarakan, eh sudah muncul." kata Daniel di telepon.


"Yakk...kenapa keluar tanpa memberitahuku?"


"Bukannya tadi kau bilang tidak mau diganggu? Lagipula aku cuma pergi ke halaman rumah."


"Aisssh, tetap saja kau tidak boleh keluar tanpa sepengetahuan ku. Dasar baji***n!" umpat Rosaline membuat Daniel tertawa di seberang sana.


Sungguh Daniel tidak menyangka adiknya yang Playboy akhirnya ditaklukan oleh seorang wanita yang super bar-bar.


"Oh ya, aku hampir lupa kalau sedang bertelepon dengan kak Daniel. Jangan mengumpatku di depan kakakku! Kau tidak sopan! Cepat, sapalah!" Leon otomatis memencet tombol loudspeaker di ponselnya.


"Halo, Rosaline." sapa Daniel mengawali.


"Halo." jawab Rosaline datar.


"Ku dengar Leon mendapat penghargaan pengusaha muda terbaik, aku ucapkan selamat!"


"Terima kasih." ucapnya lagi dengan datar dan polos.


"Kesuksesan seorang pria tidak terlepas dari dukungan seorang wanita di belakangnya!"


"Leon, perlakukan istrimu dengan baik! Kau tahu mungkin dia memiliki banyak penggemar pria yang menggilainya. Kau harus hati-hati!"


Rosaline tersenyum makin lebar.


"Tentu saja!" jawab Leon.


"Oh ya, sudah akhir pekan. Besok pagi aku akan datang dan membawa William menjenguk Karina"


"Baiklah, kak!" jawab Leon


"Leon, ingat nasehatku! Jangan lengah jika kau tidak mau kehilangan istri sebaik Rosaline! Baiklah sepertinya sudah terlalu malam dan kalian harus beristirahat, aku tutup dulu."


"Itu sudah pasti! Terima kasih, kak!" ucap Leon sebelum menutup teleponnya.


"Kalian pasti membicarakanku! Dante bilang kau ingin bertanya cara menghadapi wanita hamil yang pemarah dan sensitif!" sindir Rosaline.


"Iya, aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku ingin membahagiakanmu dan ingin memperlakukanmu dengan lebih baik, jadi aku bertanya kepada yang lebih berpengalaman." jawab Leon.


Ia mengulurkan tangannya berharap Rosaline sudah mau menggandengnya lagi.


Rosaline terdiam dengan tatapan sebal.


Leon sudah was-was, apa istrinya masih marah?


Ia sudah menuruti saran dari Daniel untuk mengucapkan yang baik-baik dan berusaha menawan hatinya.


Beruntung secarik senyuman muncul di wajah cantik Rosaline.


Wanita itu meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.


Ia bahkan bergelayut mesra di pundak Leon.

__ADS_1


.


.


.


Rosaline membuka mata dan senang karena pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah wajah suaminya.


Kadang ia masih belum percaya kalau mereka sekarang sudah menjadi pasangan suami-istri. Rosaline memegang perutnya di mana bayi mereka tengah terlelap di sana dan ia tersenyum makin lebar.


Bagaimana kebahagian bisa datang bertubi-tubi? Ia kira hanya kesedihan yang seperti itu.


Rosaline bangun perlahan dan duduk menatap cahaya matahari yang menembus jendela kamarnya, menghangatkan pori-pori kulitnya.


Wanita itu diam...hanya diam...untuk merenungi dan mensyukuri segala hal baik yang terjadi di hidupnya saat ini.


Ranjang berdecit pelan, suaminya terbangun.


"Kau sedang apa?" Leon membelai punggung istrinya.


"Tidak ada! Hanya bahagia!" Rosaline menatap ke arahnya dengan tersenyum.


Leon pun tersenyum.


Ia bangun dan memeluk Rosaline dari belakang sambil memejamkan mata.


"Aku juga bahagia, sangat...sangat...bahagia!" ucapnya.


Leon tiba-tiba menunduk dan membelai perut Rosaline.


"Selamat pagi, anak ayah! Kau sedang apa di sana? Kau ingin sarapan apa pagi ini?" tanya Leon perhatian.


Rosaline tergelak kecil dan ikut membelai perutnya.


"Aku ingin sarapan di luar sambil jalan-jalan di pinggir sungai, di taman kota."


"Baiklah! Apapun keinginanmu, istriku!" Leon mengecup kening Rosaline dengan penuh cinta.


.


.


.


Leon sedang memanaskan mobil saat Rosaline masuk dan duduk di sampingnya dengan dandanan sederhana dan sebuah topi.


"Pakai ini!" Rosaline memakaikan topinya pada Leon.


"Aku tidak mau ada semut yang mendekat setelah melihat wajah tampanmu! Kau hanya milikku! Hanya aku yang boleh melihat wajah tampanmu itu!" Rosaline tersenyum puas.


"Baiklah..." Leon mendesah.


Ia sebaiknya menurut saja daripada terjadi peluncuran nuklir sepagi ini.


"Ayo jalan! Aku sudah siap!"


"William tidak ikut?" tanya Leon.


"Kau lupa? Kak Daniel sudah di perjalanan untuk menjemputnya. Ckckck...dasar pikun!" dengus Rosaline.


"Oh iya, aku lupa! Hehe..." Leon hanya membalas omelannya dengan cengengesan


"Kalau begitu kita hanya berdua saja?" tambahnya.


"Bertiga! Kenapa kau selalu lupa?"


"Ah, iya! Jangan marah-marah! Hehe..." Leon terkekeh lalu mengelus perut Rosaline.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2