
Seorang dokter wanita berkacamata yang baru saja tiba dengan segera menutup tirai dan seorang perawat meminta Leon dan William untuk menunggu di luar.
Pria itu mondar-mandir tak tenang di lobi, di sampingnya William tengah duduk di kursi. Bocah itu tidak terlalu paham dengan apa yang sedang terjadi.
Suara ambulan, derit kursi roda dan derap langkah kaki menjelaga di sekitar mereka. Sudah 15 menit namun tirai belum juga terbuka.
Leon mengepalkan tangannya dengan gugup.
"Paman." William memegang tangan pria itu saat melintas di dekatnya.
"Ya?" jawab Leon gugup.
"Ayo duduk!" kata William.
Leon terdiam, kepalanya menoleh ke arah tirai di mana Rosaline sedang mendapat penanganan. Ia terlihat ragu sebelum akhirnya menuruti William untuk duduk di sampingnya.
10 menit berlalu akhirnya tirai dibuka, dokter itu keluar dan dengan cepat Leon berdiri lalu berlari menghampirinya.
Dokter itu terlihat menjelaskan sesuatu kepada Leon, ketegangan telah mengendur dari wajahnya.
.
.
.
Ia memapah Rosaline ke dalam mobil, memastikannya duduk dengan aman dan nyaman.
Leon menyetir perlahan, tidak seperti tadi yang seolah sedang berada di sirkuit balapan.
Selama di perjalanan ia sesekali menoleh ke arah Rosaline yang memejamkan matanya beristirahat.
"Paman, apa bibi dan adik bayi baik-baik saja?" tanya William lugu.
"Ya William, bibi dan adik bayi baik-baik saja." jawab Leon dengan lembut.
Mereka akhirnya sampai rumah. Leon memapah Rosaline masuk dan langsung membawanya ke lantai, William mengikuti mereka ke dalam kamar.
Leon membaringkan Rosaline di atas ranjang.
William mendekati Rosaline lalu mengelus perutnya pelan, "Adik bayi cepat sembuh, ya!"
Mendengar itu, Rosaline tersenyum haru.
"William bermainlah di luar, ya! Biarkan bibi istirahat, oke!" ujar Leon.
"Baiklah paman, aku akan menonton film kartun kesukaanku." ucapnya dengan ekspresi lucu, lalu berlari meninggalkan mereka berdua.
Leon duduk di sisi ranjang, mengusap plembut pipi Rosaline.
"Istirahatlah!" kata Leon.
Ia hendak berdiri namun Rosaline mencegahnya.
"Tidak apa-apa kan? Yang dokter bilang itu benar kan?" tanyanya penuh kecemasan.
"Tidak apa-apa! Kita tidak perlu cemas! Kata dokter, itu hanya hormon dan efek pembesaran rahim yang sedang terjadi demi mempersiapkan tempat tumbuh kembang bayi kita. Selama tidak ada pendarahan, sakit pinggang yang parah dan muntan-muntah yang hebat semuanya baik-baik saja." Leon menenangkan istrinya.
Rosaline terdiam dan menyentuh perutnya.
"Berjanjilah padaku! Jika terjadi sesuatu dan kita harus memilih, pilihlah bayi kita!"
"Kau ini bicara apa? Tidak akan terjadi apapun. Aku akan selalu menjaga kalian dan memastikannya." Leon tersenyum menenangkan.
"Tapi tetap saja, berjanjilah!"
__ADS_1
"Ya, aku berjanji."
"Katakan dengan lengkap!"
"Aku berjanji jika terjadi sesuatu aku akan memilih bayi kita. Kau senang?"
"Hmmm" Rosaline mengangguk senang.
"Aku akan menyiapkan makan malam, mandi lalu menyiapkan air hangat untukmu. Sementara itu, beristirahatlah!"
"Hmmm" Rosaline kembali mengangguk dan tersenyum.
Leon tertawa dan mencubit gemas kedua pipinya.
.
.
.
Sekitar 3 jam kemudian.
Leon melepaskan baju Rosaline lalu memapahnya masuk ke dalam bathtub.
"Dokter bilang, mandi air hangat bisa membantu meredakan kramnya. Selain itu, kau harus banyak minum air putih dan istirahat yang cukup!" kata Leon sambil menggosok pelan punggung Rosaline.
"Dokter juga menyuruhku memijatmu seperti ini. Bagaimana? Kramnya sudah tidak separah tadi kan?" Rosaline tersenyum.
"Hmmm, rasanya lebih baik."
Leon menuangkan sabun ke atas telapak tangannya dan mulai membalurkannya ke atas permukaan kulit Rosaline, ke bahu lalu tangan Rosaline yang menurut seperti bocah.
"Ah, menyenangkan!" seru Rosaline sambil menutup matanya.
"Apa?"
"Ah, senyuman itu. Apa kau sedang menggodaku?" ujar Leon sambil menggelitik pinggang Rosaline.
"Tidak! Kenapa aku menggodamu. Kau saja yang selalu berpikiran mesum!" ujarnya sambil tertawa menahan geli.
"Kau selalu mengataiku mesum, padahal kau juga menyukainya kan? Ah dasar munafik!" ujar Leon sambil tergelak.
"Yakk, kau mengataiku munafik? Bayi kita bisa mendengarnya!" dengus Rosaline.
"Kau juga mengataiku mesum, bayi kita juga bisa mendengarnya!"
Leon meniup busa ke wajah Rosaline sampai wanita itu gelagapan.
"Yakk, dasar bajin***n!" gerutunya sambil meludah-ludahkan busa yang masuk ke mulutnya.
Leon tertawa.
Rosaline akhirnya menyelesaikan mandinya.
Tanpa banyak kata Leon membantu mengeringkan tubuhnya yang mulus seputih susu dengan handuk.
"Kau pasti sangat menahan diri, kan?" celetuk Rosaline percaya diri.
"Kau tahu dari mana?" tanya Leon sambil membantunya memakai handuk kimono lalu kembali ke kamar diikuti Rosaline.
"Tentu saja aku tahu. Rosaline tahu segala hal tentang Leon! Jika kau sudah tak bisa menahannya, katakan saja! Jari-jari ku bisa merapalkan mantranya untukmu." bisik Rosaline menggoda. Ia sudah baikan rupanya.
"Dengar, nak! Sebenarnya siapa yang lebih mesum?" Leon menunduk dan berbisik dekat perut istrinya.
"Yakk, teganya kau membalas kebaikan hatiku seperti itu!" Rosaline merenggut kesal seperti bocah yang tak dibelikan mainan.
__ADS_1
Ya, inilah sisi kepribadiannya yang hanya bisa dilihat oleh seorang Leon.
Ia yang galak, anggun dan dingin namum mempesona bisa berubah menjadi kekanakan, manja dan bego-bego menggemaskan bila sedang berada bersama pria itu, suaminya, ayah dari anaknya.
Leon lagi-lagi hanya tertawa.
"Berhenti tertawa! Kalau tidak.."
"Kalau tidak, apa?" Leon mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
Rosaline tiba-tiba gugup dan tak tahu harus mengatakan apa. Pesona seorang Leon dan wajah tampannya memang tidak main-main.
"Katakan! Kalau tidak apa?" Leon meletakan tangannya di belakang kepala Rosaline.
"Hmmm" ia menyurukan wajahnya semakin dekat, sengaja menantang.
Rosaline terdiam. Semburat merah menghiasi wajahnya.
Leon tersenyum, ia memajukan bibirnya dan hinggap di atas bibir wanita itu.
Leon memulai 'tariannya' memantik romansa di antara mereka, memadamkan kerinduannya akan aroma tubuh sang istri.
Rosaline tersenyum, ia membalas pagutan Leon dengan mata terpejam. Kedua tangannya melingkari leher pria itu.
Bibir keduanya saling menyapu penuh dengan gairah. Meski tak ada rencana untuk bercinta, sebab Leon tahu, ia harus berhati-hati dan menahan diri untuk sementara ini.
Ada janin miliknya, ada Leon kecil di dalam garba istrinya yang harus ia jaga.
Lagipula ada tangan magis Rosaline yang mampu melambungkannya ke angkasa.
Tanpa kata, Rosaline membantu Leon membuka resleting celananya.
Penyihir itu tersenyum melihat bagian tubuh Leon yang sangat disukainya setelah bibir, mata dan wajah Leon tengah meronta di balik celana meminta untuk dibebaskan.
Dengan segera tangannya
meraba perlahan ke bawah sana, jemarinya menerobos masuk ke dalam lipatan celana.
Tak butuh waktu lama, Leon melenguh. Ia membenamkan wajahnya di leher Rosaline yang semulus porselen dari negeri china.
"Rosaline..." lenguhnya.
"Leon...." balasnya.
Leon mengerang menikmati sentuhan Rosaline di daerah terlarangnya. Ia mencengkram bahu Rosaline.
Ia terpelanting ke nirwana, melambung ke angkasa.
"Paman Leon, bibi Rosaline..." suara lain memanggil nama mereka.
Seketika sepasang suami-istri yang tengah asyik sendiri itu menoleh ke arah pintu.
William berdiri di sana mematung bingung dengan tangan memengang buku dan alat gambarnya.
Sial!
Bocah itu lagi!
Sekarang ia menyaksikannya.
Sungguh menyaksikannya?
.
.
__ADS_1
.