
...WARNING!!!...
...21++...
...Buat adek - adek yang masih di bawah umur tolong di'skip saja!...
...Tolong bijak dalam membaca!!!...
Malam harinya Rosaline merasa sedikit gelisah. Dia memikirkan penolakannya tadi siang pada Leon, apa yang dia lakukan pada pria itu terlalu kejam?
'Ya! Bukankah kau menginginkannya juga? Berhenti untuk egois dan ikuti kata hatimu!' bisik iblis pada Rosaline.
'Tidak! Kau harus berpegang teguh, jangan terhasut nafsu semata.Jangan pernah terjerumus pada dosa itu.' bisik malaikat pada Rosaline.
'Heh malaikat, kau jangan sok bijak! Biarkan dia mengikuti kata hatinya. Dia memiliki keinginan dan itu merupakan hasrat terpendamnya' kata iblis pada malaikat.
'Heh iblis, berhentilah menggoda manusia!' kata malaikat pada iblis.
"Aishhhhh....." ucap Rosaline melirik ke kiri dan ke kanan seolah dia bisa melihat keberadaan iblis dan malaikat dalam pikirannya.
"Berhentilah kalian, dasar baji***n!" teriaknya dengan emosi sambil menggebrak meja sampai membuat bartendernya terkejut.
.
.
.
Keesokan harinya Rosaline pergi ke kantor Leon berniat mengajaknya makan siang di luar untuk berbaikan dengan pria itu. Pasalnya kemarin siang saat Leon mengantarnya pulang, raut mukanya masih terlihat kesal.
Rosaline langsung masuk ke ruang kerja Leon dan melihatnya sedang memasukan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya.
"Kau mau pergi?" tanyanya.
"Iya, aku ada meeting sekalian makan siang dengan para investor." jawabnya dengan mata sibuk menatap berkas-berkasnya.
"Kalau begitu aku ikut, kebetulan aku berniat mengajakmu makan siang juga." usul Rosaline dengan mata berbinar.
"Kali ini aku tidak bisa mengajakmu, kita makan siang bersama lain kali saja." tolak Leon.
"Aku ingin minta maaf soal kema...."
"Kita bahas nanti, aku sudah terlambat." ujar Leon sambil berlalu meninggalkan Rosaline yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.
Wanita itu mematung melihat Leon pergi meninggalkan ruangan itu. Dia merasa sedih karena pria itu mengacuhkannya bahkan tak mau menatap wajahnya.
.
.
.
Sesampai di motel pikiran Rosaline benar-benar tidak tenang. Dia lakukan segala cara untuk mengalihkan fokusnya, mulai dari mengerjakan pembukuan administrasi motel, membantu para koki memasak walau akhirnya malah membuat dapur menjadi berantakan karena wanita itu memang sama sekali tidak bisa memasak.
Akhirnya wanita itu menyerah, pikirannya benar-benar tidak bisa beralih dari pria itu.
Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubunginya tapi Leon tidak mengangkat panggilannya. Tidak mau menyerah sampai di situ, Rosaline mencoba mengirim pesan singkat padanya mulai dari,
'Kau di mana?'
'Apa kau masih sibuk?'
'Aku belum makan dari tadi. Ayo makan malam bersama.'
'Hubungi aku jika urusanmu sudah selesai.'
'Yak...Leon baji***n, kenapa terus mengabaikan pesanku?'
'Balas pesanku atau aku akan membunuhmu.'
'Leon...'
'Leon....'
'Leon...., kamu sedang apa?'
'Aku merindukanmu'
Lengkap dengan emot yang mewakili perasaannya, tapi pria itu benar-benar dingin. Dia sama sekali tidak membaca pesan darinya.
Rosaline benar-benar sedih, tubuhnya lemas tak bergairah. Seorang Miss Rose yang selalu berusaha tidak terpengaruh oleh apapun bisa segelisah itu hanya karena seorang Leon.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di tempat lain Leon memang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini jadwalnya sungguh padat. Dia harus membagi waktu antara mengurus perusahaan ayahnya dan perusahaan properti yang tengah dirintisnya bersama beberapa orang temannya saat dia kuliah luar negeri.
Dan saat hendak memeriksa ponselnya, dia baru tersadar kalau ponselnya tertinggal di mobil.
.
.
.
Hari ini sungguh hari yang panjang dan melelahkan bagi Leon, dia bahkan sampai harus pulang larut malam.
Sesampainya di dalan mobil dia langsung mencari ponselnya dan membukanya. Senyumnya mengembang seketika saat melihat layar ponselnya, ada belasan panggilan tak terjawab dan banyak sekali pesan singkat dari Rosaline.
Sebenarnya dia ingin balik menelponnya atau setidaknya membalas pesannya, tapi pria itu mengurungkannya. Hari ini dia ingin memberi sedikit pelajaran pada kekasihnya itu dan mengejutkannya besok dengan mengajaknya berkencan.
.
.
.
Setibanya di apartement Leon dikejutkan dengan kebaradaan Rosaline di sana.
"Kau baru pulang?" tanya Rosaline menghentikan aktifitasnya menonton tv.
"Kau? Kenapa di apartement ku selarut ini?" alih-alih menjawab pertanyaan Rosaline, Leon malah balik bertanya kepadanya.
"Apa lagi kalau bukan sedang menunggumu? Seharian ini kau terus mengabaikanku." jawabnya.
"Ah, karena itu." Leon menanggapinya singkat dan mulai menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di samping Rosaline.
"Apa kau benar-benar sibuk bekerja atau hanya menghindariku?" tanya wanita itu.
"Aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan. Lagipula kenapa aku harus menghindarimu?" ujar Leon sambil membuka kedua kancing kemeja di pergelangan tangannya.
"Mungkin karena kau masih marah soal kemarin." ucap Rosaline ragu-ragu.
"Ah soal itu, aku memang sedikit kesal kemarin tapi setelah ku pikir-pikir aku tidak boleh egois. Aku harus berusaha lebih memahami mu." jawab pria itu membuat perasaan Rosaline terenyuh seketika.
"Itu karena ponselku tertinggal di dalam mobil." jelas Leon.
Tiba-tiba wanita itu tersenyum malu karena telah keliru dan cemas tanpa alasan yang jelas.
"Ini sudah larut. Ayo aku antar kau pulang." ujar Leon.
"Apa kau tidak lelah? Kau kan baru pulang kerja." selidik wanita itu
"Aku lelah, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menyertir sendiri malam-malam begini. Ayo!" Leon berdiri hendak mengambil kunci mobilnya.
"Aku tidak akan pulang, aku ingin tetap di sini malam ini." jawab Rosaline.
"Yak, aku memang sudah memaafkanmu tapi kau tidak boleh seenaknya ingin menginap di sini." Leon salah tingkah menanggapi ucapan kekasihnya.
"Kenapa tidak boleh? bukankah kau yang bilang kalau sebentar lagi kita akan menikah? Anggap saja ini pemanasan" celotehnya santai.
"Kau akan berada dalam bahaya, mungkin saja aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi."
"Jangan menahannya kalau itu memang terlalu sulit." satu kalimat yang membuat Leon membelalakan matanya.
Apa itu berarti wanita itu benar-benar sudah mengijinkannya?
"Apa kau serius? Karena aku tidak berniat berhenti kali ini. Apa kau tidak akan menyesalinya?" tanyanya dengan tatapan lembut namun mengancam.
"Aku juga tidak ada rencana untuk menghentikanmu malam ini." akhirnya jawaban yang dinanti-nantikan Leon keluar juga dari bibir indah Rosaline.
Tanpa menunggu lama Leon langsung menerkam bibir Rosaline dengan ciuman mautnya membuat wanita itu sedikit tersentak lalu memejamkan matanya.
Sangat basah dan hangat, lidah Leon menari menyusupi setiap inchi rongga mulut Rosaline dan bertemu dengan lidahnya.
Pria itu menggigit-gigit kecil bibir kekasihnya itu membuat Rosaline merasa ngilu dan nikmat secara bersamaan.
Rosaline mencoba melepas satu demi satu kancing kemeja Leon hingga memperlihatkan tubuh kekarnya. Ada bekas luka tembak di bahunya.
"Maafkan aku sudah membuat tubuhmu terluka." ucap Rosaline di sela ciumannya.
"Ini hanya luka kecil. Aku akan selalu melindungi mu walau harus mengorbankan nyawa ku kalau perlu."
"Ssttttt.... Berjanjilah untuk jangan pernah membahayakan dirimu seperti itu lagi." Rosaline meletakan telunjuknya di bibir Leon.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu, Rosaline. Sekarang dan untuk selamanya." bisik Leon.
"Aku juga, Leon. Aku menginginkanmu." balasnya.
Dia mulai meraba perut sixpack-nya dan membuat Leon kian bernafsu.
Leon menyandarkannya di sofa dengan perlahan sambil terus memagut bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya.
Leon membuka ikatan kuncir kudanya, membiarkan rambut panjang Rosaline terurai indah.
Kini Leon mendaratkan ciumannya di leher jenjang Rosaline, menurun ke bahu lalu ke dadanya yang masih setengah tertutup dress.
Sejenak pria itu menatap wajah kekasihnya memberi jeda. Rosaline yang terengah-engah menatap Leon dengan tatapan sayu. Tatapan yang membuat gairah Leon semakin memuncak.
"Haruskah kita pindah ke ranjang?" tanya Leon di sela cumbuannya.
"Haruskah? bisik Rosaline dengan tatapan pasrah.
Leon menggendong tubuh mungil kekasihnya itu dan membawanya menuju kamar.
Leon membaringkan Rosaline di atas ranjang dan membuka dress yang melekat ditubuhnya dengan tergesa-gesa. Kini hanya pakaian dalam berwarna merah senada yang membalut tubuh mulus wanita itu.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Leon langsung membuka kaitan bra yang masih terpasang dan melemparnya sembarang. Dia mengendus dan menyesap dadanya membuat wanita itu melenguh manja sambil menggigit bibir bawahnya.
Tangan pria itu meremas dan memainkannya secara ritmis. Tak puas bermain di situ tangannya turun menyusup masuk ke bawah dan merasakan sesuatu yang telah basah di sana.
Jari-jarinya mengusap lembut area sensitif itu membuat nafas Rosaline semakin memburu.
"Kau tahu betapa aku ingin menyentuhmu seperti ini? bisiknya.
Pria itu mencondongkan tubuhnya mengecup, menjilat perut ratanya. Tangannya pergi melepas celana dalam wanita itu. Lalu melepas sendiri sisa pakaian yang masih dia pakai setelah kemejanya yang sudah terhempas lebih dulu saat mereka bermain di ruang tv.
"Leon..."
Leon tahu Rosaline sedang menghadapi ketakutannya saat lidah Leon bermain di bawah sana.
"Relax sayang, aku tidak akan menyakitimu. Kau percaya padaku?" Leon bisa merasakan lutut wanita itu gemetar saat dia mencoba membuka kakinya lebih lebar.
Leon kembali mencium bibir Rosaline dan menenangkannya saat miliknya mencoba untuk masuk. Dan wanita itu terpedaya, dia pasrah bagai seekor musang yang takluk oleh jerat jebakan petani.
Rosaline hanya bisa mengeratkan pelukannya mencoba untuk tidak berteriak saat satu hentakan membuatnya tersentak. Refleks teriakannya menggelegar seisi kamar dan dengan spontan dia memundurkan pinggulnya. Ada genangan air mata yang siap untuk turun di sudut matanya.
"Kau tak apa?" tanya Leon khawatir.
Rosaline hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata menahan rasa sakit dan perih yang sedang menjalar.
"Bukalah matamu, lihat aku, tatap mataku!" lanjutnya.
Dan wanita itu membuka matanya perlahan.
"Tenanglah, aku akan melakukannya perlahan-lahan." bisik Leon.
Leon mencoba memasukannya kembali kali ini dengan lebih berhati-hati dan perlahan tapi pasti akhirnya dia bisa menembus dinding pertahanan Rosaline dan milik Leon sudah terbenam di sana.
Pria itu bergerak perlahan. Bagi Leon desahan Rosaline terdengar seperti simponi dan memabukan. Kini rasa sakitnya sudah terbayarkan dengan candu yang membuatnya ingin lagi, lagi dan lagi.
"Leon..." racaunya.
Leon menyeringai saat sesuatu yang hangat dan basah bercampur di bawah sana.
"Rosaline...." suara Leon mengangkasa.
Bercinta dengan cinta yang Rosaline inginkan kini telah terjadi. Dan untuk pertama kalinya juga Leon memperlakukan wanitanya dengan sabar dan tulus.
.
.
.
Rosaline terkulai lemas dalam pelukan Leon. Pria itu sangat luar biasa, padahal sebelumnya dia merasa sangat lelah karena kesibukannya seharian tadi. Tapi karena Rosaline rasa lelahnya hilang seketika dan dia lupa kalau tubuhnya butuh istirahat.
Leon menyelimuti tubuh polos kekasihnya dengan selimut dan merapatkan tubuh keduanya kemudian tidur bersama sambil memeluknya.
.
.
.
Aku berdosa!
Gak percaya bisa nulis part ini dan jujur agak eungap juga nulisnya.
__ADS_1