Dandelion Motel

Dandelion Motel
Kau yang Tercantik


__ADS_3

Leon membuka pintu ruang perawatan Rosaline dengan segurat senyuman.


Terlihat Dante sedang menyuapi Rosaline.


"William bagaimana? Siapa yang akan menemaninya di rumah?" tanya Rosaline saat melihat suaminya masuk.


"Jangan makan sambil bicara, nanti tersedak!" ujar Dante membuat Rosalile cemberut.


"Bersama kak Daniel. Katanya hari ini Karina sudah bisa pulang dari rumah sakit. Mereka bilang akan mengunjungi kita saat sudah pulang ke rumah nanti." Leon membelai lembut kepala istrinya.


"Wah, kakak kelaparan ya? Ckckck...." usil Dante melihat makanan di piringnya tandas membuat Rosaline melotot ke arahnya.


Selagi Dante menaruh piring ke atas meja, Leon membantu istrinya untuk minum.


"Apa masih pusing dan perutmu bagaimana? Masih tak nyaman,hmm?" Leon menyibak helaian rambut yang jatuh ke wajah istrinya dengan penuh perhatian.


"Aku sudah baikan, sayang.."


Leon seketika tersenyum lebar.


Leon bersyukur karena badai telah mereda meski tak sepenuhnya musnah karena Bobby masih mengurus kekacauan di perusahaan yang timbul gara-gara insiden tadi siang.


"Kau pasti sangat cemas ya, tadi?" Rosaline menggenggam tangan suaminya.


"Hmm! Untung aku sudah menyiapkan ambulan. Kau sekarang tahu kan kalau aku tidak bercanda kemarin."


Rosaline tertawa mengingat kejadian kemarin saat ia mengira Leon hanya bercanda soal akan menyiapkan ambulan di lokasi acara.


Perhatian berlebihan suaminya yang ia kira candaan garing ternyata berguna tanpa terduga.


"Aaa...aduh...aduh!" Rosaline meringis memegangi perutnya.


"Kau kenapa?


"Aku tidak bisa tertawa keras- keras, perutku langsung tidak nyaman!"


"Lihat! Anak kita pasti marah karena kau menertawakan ayahnya!"


.


.


.


Dante menatap takjub bercampur penasaran pada layar monitor di depannya.


Mereka sedang melihat perkembangan bayi dalam kandungan Rosaline yang masih berusia 10 minggu atau nyaris 3 bulan.


"Wah...itu calon keponakanku?" Dante manatap layar dengan terpana.


Leon mengangguk dengan senyuman bahagia.


Dokter menjelaskan tahapan-tahapan perkembangan janin dengan bahasa yang mudah mereka mengerti.

__ADS_1


"Karena usia janin sudah mencukupi umur maka sepertinya sudah bisa didengar detak jantungnya." ucap dokter dengan senyuman ramah.


Perawat lalu mengambilkannya alat pendeteksi suara jantung bayi dan menempelkannya pada perut Rosaline.


Terdengar suara menggemuruh yang samar, cepat dan berulang.


"Bisa terdengar lebih jelas kalau usia kandungannya sudah menginjak 3 bulan ke atas." jelas dokter.


"Tapi kondisi janinnya sehat kan, dok?" tanya Leon cemas, mengingat kesehatan Rosaline yang sering drop saat hamil.


"Sehat dan normal sejauh ini, tidak ada yang perlu dicemaskan."


Leon tersenyum lega mendengarnya.


Ia mengusap dan mengecup kening istrinya.


"Apa masih sering pusing dan mual?" tanya dokter.


"Sudah agak berkurang meski masih sering muncul."


"Tidak apa-apa, itu wajar. Trimester pertama memang seperti itu." jelas dokter.


"Tapi kenapa belum terlihat membuncit, dok?" Rosaline melirik perutnya.


"Apa bayi kami kurang gizi?" tanyanya lagi dengan polos campur was-was.


Dokter tersenyum.


"Setiap kehamilan berbeda-beda, tidak bisa disamakan. Ada yang 2 bulan sudah terlihat besar, ada juga yang sudah 5 bulan baru kelihatan, bahkan ada yang sudah berusia 8 bulan hanya dikira gemukan. Bayi anda sehat. Tidak perlu mencemaskan apapun! Tetap jaga pola makan yang sehat, istirahat yang cukup. Dan ingat, jangan stres! Ayahnya harus ikut menjaga ibunya agar tidak stres-stres ya!"


"Anda beruntung memiliki suami yang sangat mencintai anda." kata dokter membuat Rosaline tersenyum lebar dan Leon tersipu malu.


"Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Dante yang sedari tadi bengong memperhatikan gambar di layar.


"Jenis kelaminnya belum terlihat, nanti setelah usia 5 bulan ke atas baru bisa kelihatan." jawab dokter.


"Dante, kau ingin keponakan laki-laki apa perempuan?" tanya Leon.


"Aku mau keponakan perempuan, rambutnya panjang, langsing dan cantik seperti kakak. Dulu!" Dante mulai iseng lagi.


Mulanya Rosaline tersenyum saat mendengar kata 'cantik seperti kakak' tapi mendadak cemberut saat mendengar kata 'dulu'.


"Yakk! Kau bilanag apa? Dulu, hah? Dasar bocah tengik sia**n! Sekarang pun aku masih cantik!" maki Rosaline membuat dokter dan perawat ikut tersentak kaget.


"Wanita hamil dilarang pengumpat! Kakak juga harus belajar sopan santun!" omel Dante.


"Kau yang mengejekku duluan!"


"Aku bicara kenyataan, dulu kakak lebih cantik!" Dante tidak mau mengalah.


"Yakkk, kau!"


Kedua kakak beradik ini benar-benar sesuatu, batin Leon.

__ADS_1


Kalau sudah begini, Leon hanya bisa tersenyum canggung sembari menahan malu di depan dokter dan perawat.


.


.


.


"Dari Bobby?" tanya Rosaline pada Leon yang baru kembali dari luar setelah mengangkat telepon.


"Ya, dia merasa bersalah dan ingin kemari menjengukmu tapi aku tolak! Biar ku beri dia pelajaran dulu! Seharusnya dia bisa mencegah kejadian buruk seperti yang terjadi tadi. Dia bahkan sebelumnya sudah meyakinkanku, dasar tukang omong besar! Aku masih kesal padanya!" gerutu Leon.


"Sudahlah! Jangan marah-marah! Ini bukan salah Bobby, seperti yang kau bilang tadi, kejadian ini tidak terduga dan siapapun tidak bisa mencegahnya. Lagipula tadi kau kan sudah memarahinya sampai gelagapan." bujuk Rosaline.


"Kau melarang ku marah-marah, hah? Lalu tadi apa yang kau lakukan pada Dante? Dasar duo pembuat onar! Aku sampai malu di depan dokter dan perawat." Leon menggeleng geram.


"Salahkan Dante si bocah tengik itu! Dia mengataiku tidak cantik lagi!" Rosaline manyun.


Leon tiba-tiba tergelak merasa gemas sendiri. Kegeraman yang tadi menguasainya mendadak sirna melihat tingkah istrinya yang kekanakan.


Meski dalam kondisi tertentu dia bisa bersikaf normal dan sangat dewasa, tapi tetap saja jiwa kekanakan dan tak mau mengalahnya sering muncul dengan mengejutkan.


"Kenapa kau begitu peduli? Bukankah yang terpenting kau tetap yang tercantik di mataku?"


Rosaline terdiam, wajahnya yang cemberut seketika tersenyum lebar bahkan matanya berbinar.


"Katakan lagi! Katakan lagi! Aku suka mendengarnya!"


"Katakan apa?"


"Bahwa aku yang paling cantik di matamu!"


Leon kembali tergelak dan menggeleng gemas.


Ia mendekat perlahan dan berbisik.


"Kau...yang...paling...cantik...di mataku...Rosaline!"


Bibir mereka saling bertaut dalam hening ruang perawatan yang beraroma obat dan karbol.


Leon 'melahap' bibir istrinya dengan gairah dan Rosaline membalasnya.


Ohh, sungguh! Obat terbaik memang cinta, pikir mereka.


Tidak ada siapapun sebab 30 menit yang lalu mereka sudah menyuruh Dante pulang karena harus kembali ke kampus. Namun tiba-tiba pintu terbuka lebar ayah Sam dan ibu Anna muncul di sana tanpa mereka sadari.


Keduanya mematung merasa canggung dan bingung untuk menyela.


"Ehm...ehm.." ayah Sam akhirnya buka suara membuat Leon mundur seketika.


Leon dan Rosaline menoleh ke arah pintu lalu seketika mati gaya di hadapan orang tuanya yang tanpa sengaja menyaksikan kevulgaran mereka berdua.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2