
Theo membisikan sesuatu di telinga Leon dan keduanya mulai berpencar.
Mereka menyelinap di balik kerumunan.
Pria sakit jiwa itu luluh dan percaya pada kata-kata Rosaline yang terdengar sangat tulus.
Perlahan ia mau melepaskan pelukannya dan berlutut di samping wanita hamil itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kau mau bicara dengan anakku? Calon anak kita?" bujuk Rosaline lembut seraya mengelus perutnya.
Jason mengangguk.
Ia terpana melihat keramahan dan kecantikan wanita yang dicintainya. Ini pertama kalinya Rosaline bersikap lembut. Tanpa sadar ia meletakkan pisau di tangannya ke lantai.
Dan saat itulah, saat ia hendak menunduk untuk menyapa bayi dalam perut Rosaline, wanita itu menghantam keras kepalanya dengan piring.
Piring itu pecah, salah satu jari Rosaline bahkan ikut robek dan berdarah terkena serpihannya.
Jason langsung terjatuh, ia berguling di tanah sambil mengaduh.
Theo dengan cepat melompat dan memegang kedua tangannya kuat-kuat.
Sementara itu dari arah lain Leon muncul dan membantu Rosaline untuk pergi menjauh.
Ia mengamankannya ke dalam villa.
Theo bergulat dengan Jason. Mereka baku hantam hingga menabrak deretan meja dan kursi.
Beberapa tamu ingin membantu, tapi Jason melempari mereka dengan benda apa pun di dekatnya.
Ia lantas berlari ke salah satu stan makanan dan mengobrak-abriknya dengan kesetanan.
Dilemparkannya sebuah kompor yang masih menyala ke arah para tamu yang langsung berlarian dengan panik.
Kompor itu menghantam sederet meja. Apinya dengan cepat membesar dan melahap barisan pigura di dekatnya, di mana salah satunya berisi foto Rosaline.
Pigura itu terbakar habis bak sebuah pertanda buruk.
Asap mengepul pekat, bau hangusnya meruap dan menyiksa indera penciuman setiap orang.
Meski jarak pandang terbatas, Theo nekat maju demi menangkap Jason.
Namun baru juga beberapa langkah, kepalanya telah dihantam sebuah kursi.
Pria malang itu jatuh mencium tanah.
Ia mencoba bangun, namun punggungnya diinjak berkali-kali. Tubuhnya ditendangi tanpa ampun.
Dua orang tamu ingin menolong, namun niat baik mereka tertahan oleh ulah Jason yang tiba-tiba menodongkan sebilah pisau yang ia ambil dari salah satu stan makanan.
"Jangan berani mendekat!!! Jangan berani mendekat!!!" teriaknya seraya menganyunkan pisau itu dengan membabi-buta hingga mengiris lengan seorang tamu yang terlambat menghindar.
Situasi sungguh kacau-balau.
Para tamu yang jumlahnya tak seberapa dan sebagian besar wanita itu berlarian menyelamatkan diri. Mereka kocar-kacir meninggalkan pesta.
"Yakk... beraninya kau membohongiku, Rosaline!!! Di mana kau?!?" Jason berteriak marah.
Ia bergerak mencari Rosaline ke segala arah.
Ricuh!
Rusuh!
__ADS_1
Acara Theo hancur dalam sekejap mata!
Sementara itu di dalam villa, tepatnya di ruang keluarga dekat kolam renang, Leon sedang menghentikan pendarahan kecil di jemari Rosaline dengan sapu tangan miliknya.
Ia lantas memeluk istrinya, menenangkannya. Detak jantung mereka sama tak terkendalinya.
"Kau baik-baik saja, kan? Apa ada yang terluka lagi? Bayi kita bagaimana? Perutmu baik-baik saja?" Leon menatap cemas seraya memegangi perut istrinya.
Rosaline hendak menjawab, tapi pintu di dekat mereka tiba-tiba terbanting.
Jason berhasil menemukan mereka.
"Rosaline, teganya kau!!!" matanya berkilat merah penuh amarah.
Leon dan Rosaline terenyak mendapati Jason muncul bersama sebilah pisau.
Merasa terancam, Leon langsung berdiri dan menyembunyikan Rosaline di belakang punggungnya dengan waspada.
Mereka terjebak?
Keduanya melirik bingung ke seantero ruangan.
Tak ada yang bisa dijadikan senjata.
"Kau suami yang bodoh dan tak berguna!"
Jason mendekat sambil mengacungkan pisaunya dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Menyingkirlah!!! Hanya aku yang bisa melindunginya!!! Jangan menghalangi cinta kami atau aku akan membunuhmu!"
"Baji***n, aku yang akan membunuhmu lebih dulu jika kau berani menyentuh istriku!!!"
Rosaline mendelik mendengar ucapan Leon dan segera menarik suaminya mundur.
"Apa? Aku akan melindungimu!" balas Leon.
"Kau mau bunuh diri? Dia memegang pisau! Tidak, biarkan aku menurutinya! Biarkan aku pergi bersamanya!"
Keduanya berdebat.
"Membiarkannya membawamu? Aku akan benar-benar gila! Biar kuhadapi kepar*t sinting itu!!!" Leon bersikeras.
Ia melepaskan cengkraman Rosaline dari lengannya dan maju dengan agak sempoyongan karena demam yang semakin parah.
Rosaline menyadari itu, ia kembali menarik lengan suaminya dan menempelkan tangan ke dahinya.
"Kau demam! Kenapa aku baru menyadarinya? Kau sakit, Leon!" pekik Rosaline panik.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja... uhukkk... uhuuuukkk... " Leon menahan batuknya.
"Diamlah!" Rosaline mencengkram baju suaminya dan berjalan maju.
"Jangan bodoh! Turuti aku Rosaline! Melindungimu adalah tugasku sebagai suami! Aku akan melindungi kalian!" Leon menarik istrinya kembali ke belakang.
Jason yang jengah melihat drama mereka langsung berlari sambil menghunuskan pisau ke arah Leon.
Pasangan suami istri itu sungguh tak siap dengan serangan Jason yang mendadak.
Beruntung sesosok tubuh tiba-tiba melemparkan dirinya ke tengah-tengah mereka bak martir.
Ia menangkap mata pisau itu dengan kedua tangannya dan menahannya mati-matian.
Theo lah sang martir itu!
__ADS_1
Leon terbelalak dan cukup terkesiap, namun dengan cepat ia membantunya.
Leon memiting leher Jason dari belakang hingga wajahnya memerah dan megap-megap kehabisan nafas.
Pisau itu pun terlepas.
Begitu si pisau terjatuh, Theo langsung menendangnya masuk ke kolong kursi.
Setelahnya, ia terjatuh lemas ke belakang. Rosaline menangkap bahunya. Lantai di sekitar mereka berubah licin dan merah oleh darah yang mengucur deras dari kedua telapak tangan Theo.
"Theo... " Rosaline memekik bingung bercampur cemas.
Namun, Theo malah tersenyum dengan wajah yang babak belur.
"Akhirnya kau memanggil namaku seperti itu lagi, gadis penyihir! Apa kau sudah memaafkanku sekarang?" bisiknya lemah.
Rosaline menatap geram, ia ingin mengomeli sahabatnya itu karena bersikap seperti ini padahal ia sedang terluka parah.
Sementara itu, Leon sedang berduel sengit dengan Jason di dekat kolam renang.
Ia kesetanan melihat bajin**n itu nyaris melukai istrinya.
Jason yang sudah sangat kelelahan melawan Leon yang sempoyongan karena demam.
Ini membuat perkelahian berjalan cukup seimbang.
Setelah membantu Theo duduk di kursi dan menyumpal pendarahannya dengan handuk, Rosaline pergi ke arah kolam renang mencemaskan suaminya.
Ia ingin membantunya, tapi bingung harus berbuat apa.
Wanita hamil itu pun kembali ke ruang keluarga seraya berharap menemukan sesuatu - apa pun itu untuk menghajar Jason.
Jemarinya membuka setiap laci yang ada, sambil sesekali memaki karena beberapa ternyata terkunci.
Theo yang paham memaksakan dirinya untuk bangun. Ia masuk ke dalam kamar dan kembali dengan tertatih.
"Rosa... ini..." ia mengulurkannya sebotot alkohol yang isinya tinggal separuh dengan tangan gemetar berlumuran darah.
Rosaline merampasnya dan bergegas menyusul suaminya.
Di sana, dilihatnya Leon sedang kewalahan. Jason sedang mencekik dan menahan kepala Leon di dalam kolam.
Rosaline melompat marah, ia mendekat dengan cepat dan nyaris tanpa suara.
Dihantamnya botol di tangannya dengan telak ke belakang kepala Jason sembari berharap tengkoraknya retak atau pecah bersama botol yang kini menjelma serpihan.
Jason memekik kesakitan. Ia jatuh di tepi kolam dengan memegangi kepalanya yang sakit bukan kepalang.
Bola matanya berjengkit tak percaya mendapati wanita yang sangat dicintainya tega melukainya dua kali.
Rosaline buru-buru bersimpuh untuk membantu suaminya bangun, tapi Jason tiba-tiba menarik kakinya hingga terjatuh.
Kepala Rosaline membentur tepian kolam dengan keras, pelipisnya memar meski tak berdarah, beruntung perutnya tak menghantam sesuatu.
Ia meringis kesakitan sambil terus melindungi perutnya.
Rosaline ingin bangun, tapi kepalanya terasa berat. Ia menggapai-gapai tangan Leon yang masih terengah mengumpulkan tenaga.
Untuk sesaat, ia teringat pada kisah Romeo dan Juliet. Akankah mereka mati bersama malam ini?
.
.
__ADS_1
.